At All Costs

Cover FinalJudul tulisanku kali ini aku ambil dari chatingan adikku yang paling kecil. “Selama orangnya masih kuat, kita harus tolong Mama, at all costs!” tulisnya.

Dia sayang sama Mama. Yang waktu itu terbaring sakit jantung. Dan kita anak-anaknya yang tinggal 4 orang ini, terus berkomunikasi lewat media “chat group” di HP. Membahas perkembangan kondisi sesuai diagnosa dokter, dan bagaimana caranya membiayai semua tindakan yang disarankan dokter.

Seperti yang aku tulis dalam balasan emailku untuk teman-teman yang bertanya mengenai biayanya, aku hanya bisa menjawab, “Uang kami cukup hanya untuk dalam kondisi sehat.” Orang-orang mungkin menyangka kami punya uang banyak. Puji Tuhan untuk sangkaan itu. Mereka hanya melihat bahwa kami “berani” mencari dan memberikan yang terbaik. Dokter yang katanya paling jago di se-antero ibukota. Rumah Sakit yang (bukan) kabarnya paling mahal di seluruh negeri ini. Menjadi bukti bahwa kami sanggup membiayai semuanya. Padahal ini kami lakukan untuk menyelamatkan nyawa orang yang kami cintai, at all costs!

“Kalau perlu aku akan jual mobilku. Aku juga bisa pinjam uang sama temanku. Dia sudah siap untuk aku pinjami,” lanjut adikku. (Masa-masa kritis yang menyesakkan dada ini sudah berlalu. Karena kalau belum, nanti dikira aku minta sumbangan… :P)

Tapi di tengah kesesakan yang luar biasa, tiba-tiba pertolongan Tuhan yang ajaib terjadi. Biaya di RS yang termahal tadi Tuhan cukupkan melalui kemurahan hati dua orang kerabat. Dan sisanya, kami yang menanggung renteng. Mama baik-baik saja sekarang. Walaupun belum bisa sempurna seperti dulu. Tapi melihatnya setiap hari membuatku terharu karena menjadi saksi mata kemurahan Tuhan.

Lain lagi ceritanya dengan kakakku. Kami sempat bergantian berusaha merawatnya di tengah perjuangannya melawan penyakit ganas. At all costs yang kami bisa lakukan untuknya, tidak membuahkan hasil. Nyawanya tak tertolong. Dalam kurang lebih 3 bulan setelah “diagnosa” model abal-abal dari RS milik pemerintah di negeri tetangga, ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Kata “at all costs” ini tiba-tiba terngiang di kepalaku pada saat bangun tidur. Bukankah Yesus datang ke dunia dengan misinya menyelamatkan nyawa manusia, at all costs? Bahkan lebih dari itu. Kalau “cost” yang aku ceritakan di atas adalah mengenai uang, Yesus mengartikannya sebagai “nyawa”! Ya. Dengan nyawaNya, Dia menyelamatkan nyawa kita manusia. Padahal seperti dua kisah yang terjadi dalam keluargaku, belum tentu “cost” yang sudah dikeluarkan membuahkan hasil, begitu juga dengan DIA.

PengorbananNya di kayu salib (setor nyawa), banyak kali dianggap sepi oleh manusia. Bahkan yang sudah menerimaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat pun belum tentu setia sampai akhir hidupnya. Atau banyak juga yang terlihat begitu “rohani” dan “cinta Tuhan”, aktif di gereja, tapi perkataan dan perbuatannya seringkali lebih jahat dibanding para penjahat kelas kakap. Hhh…. Itulah kenyataan.

Tapi toh, Yesus sudah RELA mati dengan motivasi menyelamatkan manusia, at all costs….

Pertanyaannya:
Bagaimana menghargai hidup ketika kita mengerti bahwa nyawa ini sudah diselamatkan dengan pengorbanan yang amat sangat mahal, bahkan termahal?

 Jawabannya…
Butuh pengertian dan pengenalan yang tidak dangkal (akan pribadiNYA) yang biasanya lebih banyak bisa kita dapatkan setelah melalui proses kehidupan.

Masalahnya, tidak semua orang MAU diproses. Atau tidak semua kita mencari TUHAN ketika ada dalam proses. Kita lebih suka/terbiasa mencari manusia lain: orangtua yang kaya raya, kerabat yang jadi petinggi, kenalan yang punya otoritas negara, atau yang lainnya.

Satu yang perlu diingat adalah: satu saat setiap manusia harus berhadapan muka dengan muka dengan PenciptaNya! Dimana sesamanya yang “diandalkan” dan dijadikan “tempat berlindung/bersandar” selama hidup tidak punya kuasa apapun untuk membuat Sang Pencipta merubah keputusan akhirNya atas kita. Hidup kekalkah? Atau mati kekal…

 I Petrus  1:17
Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s