Emotionally Shut Down

Cover FinalBuatku, ingin punya rambut panjang saja susah. Kenapa? Semua orang rumah selalu berkomentar dan mencampuri keputusan sepele ini (dulu. Sekarang sudah amat sangat jauh berkurang🙂 ). “Jangan! Jelek. Bagusan pendek!” Atau “Potong tuh rambut, udah kepanjangan! Nggak cocok!” Dll. Dll.

Aku hidup di tengah keluarga yang menurutku terlalu dominan. Sampai ketika aku sudah mulai bekerja, dan beberapa tahun setelah itu, aku akhirnya berhasil mewujudkan “cita-citaku” punya rambut panjang. Yang akhirnya aku potong sendiri jadi pendek juga sekarang. Tapi setidaknya, semuanya bukan atas “campur tangan” orang lain, melainkan keputusanku sendiri.

Sejak kecil, aku seperti dipingit. Tidak boleh bermain bersama teman sekolah. Menyeberang jalan sendiri pun dilarang. Sampai pernah aku begitu marah karena satu peristiwa, dan aku nekat menyeberang jalan sendiri lalu bersembunyi di rumah sepupuku. Kedua kakakku bebas saja bermain bersama teman mereka, tapi tidak denganku. Jadilah aku berteman hanya dengan kedua adik laki-lakiku. Sampai sekarang pun, setiap kali aku pergi keluar bersama teman, Mama selalu saja menelepon. Memintaku cepat pulang, atau bertanya mau pulang jam berapa. Sometimes it is annoying. Tapi kata sahabatku, nanti kalau kamu punya anak, baru mengerti kenapa Mama bisa seperti itu. Benar juga…

Aku bertumbuh menjadi pribadi yang introvert. Tertutup. Aku sesungguhnya tidak suka dengan “otoriterisasi” yang kudapat di rumah. Tapi aku juga terbiasa untuk membiarkannya saja. Kekesalanku seringkali kutumpahkan dalam diam. Dan ini semakin membenamkanku dalam “kegaguan”. Tidak berani mengungkapkan pendapat di depan orang lain. Pemalu. Tidak berani berkata “tidak” walaupun aku tidak mau/tidak suka. Biar saja aku sendiri yang tanggung semuanya, asalkan sekelilingku “damai sentosa”. Emotionally shut down.

But, thank God, karena kebaikanNya, aku dikelilingi orang-orang hebat. Adik-adikku. Mama yang sudah beda dengan Mama yang dulu. Sahabatku “Olin” (nama samaran yang kita sepakati bersama). My coach Mister E. Dan masih banyak lagi lainnya.

Dan beberapa hari lalu akhirnya aku berani memutuskan untuk mengikuti sebuah workshop tentang “behaviour”. Setelah itu? Semua terbuka lebar… aku jadi lebih mengerti temperamen, karakter dan kepribadian sendiri. Begitu banyak “eureka” pop-up di kepala selama workshop. Tidak cuma itu, aku juga diajar untuk berespon dengan benar. Maksudnya? Kalau selama ini aku bingung menghadapi diri sendiri, mengapa begini, mengapa begitu, dan bagaimana mengendalikan emosi dan suasana hati yang kadang berubah tanpa alasan, atau dengan sangat mudah “down” mendengar komentar berbau “otoriter” dari orang di sekelilingku. Sekarang aku jauh lebih tenang…. setidaknya aku sudah bisa mengendalikan diri sendiri. Mengerti pribadi sendiri. Dan mengerti bagaimana berespon dengan benar. Tidak cuma dalam diam.

Kenyataan 1: aku tidak bisa mengontrol sikap orang lain harus sesuai dengan yang kuinginkan.

Kenyataan 2: aku bisa mengontrol diri untuk berespon dengan lebih baik. Setidaknya dengan tidak membiarkan diriku mendengar dan memercayai hal negatif yang dikatakan orang lain kepadaku. 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s