Lentera Jiwa

Cover FinalKemarin aku bertemu 2 orang teman, untuk membicarakan rencana perjalanan kami. Entah mengapa, tiba-tiba judul film India “The Three Idiots” disebut-sebut.

“Yuk! Cari filmnya yuk!”

Tapi sampai kami meninggalkan mall satu itu, DVDnya belum sempat kami cari, alias kelupaan. x_x

Ehm.. Sepertinya nyambung antara judul tulisanku di atas, dengan film tadi. 2-2nya adalah seputar pencarian “passion” pribadi, dimana ketika itu dituruti, maka si manusia akan mengalami kepuasan dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Lentera Jiwa adalah judul lagu yang diciptakan oleh Nugi dan untuk pertama kalinya kudengar ketika melihat tayangan “Kick Andy-8 tahun”. Si pengarang lagu rupanya kepingin jadi penyanyi, tapi (dulu) dilarang oleh orangtuanya. Nah kalau di 3 Idiots, film ini mengisahkan perjuangan 3 sahabat dalam mewujudkan mimpi untuk bisa hidup memenuhi “passion” masing-masing. Dalam film ini, di tengah kemasan humor yang kental, banyak juga nilai hidup yang dibagikan. Dengan beberapa tokoh yang dimainkan didalamnya seperti si dosen yang sangat “killer”, dan para mahasiswa universitas yang dipimpin oleh si dosen, yang sekaligus pemilik sekolah, membuat film ini jadi salah satu film favoritku. Sarat makna!

Dikisahkan bagaimana seorang mahasiswa (gara-gara dosen yang “super killer”) akhirnya nekat meloncat dari lantai atas asrama untuk percobaan bunuh diri. Si dosen yang akhirnya menyadari bahwa perbuatannya memaksakan kehendak kepada seorang anak laki-lakinya membuat si anak bunuh diri. Salah satu dari 3 sahabat tadi yang setelah lulus sebagai mahasiswa terbaik lalu menghilang entah kemana, ditemukan ternyata mengabdikan hidupnya untuk sekelompok masyarakat terpencil. Dan masih banyak kisah menarik lain yang dirangkai dalam film berdurasi 3 jam ini. (Maklum ya… kan film India. Kalau nggak panjang durasinya, mungkin belum bisa disebut sebagai “film”).

Aku jadi teringat, puluhan tahun lalu, ketika kakak pertamaku memberitahu Papa bahwa dia lulus tes, diterima menjadi seorang pramugari maskapai penerbangan nomor satu di negeri ini. Dengan emosional Papa memarahi dan melarangnya untuk menerima pekerjaan yang memang dia sukai setelah menyelesaikan kuliahnya. Aku pun berandai-andai… Seandainya dulu Papa memberi ijin, tentu hidupnya akan jauh berbeda. Tapi sudahlah… aku harus menerima semuanya.

Papa memang otoriter. Entah mengapa, dia tidak pernah mendukung keputusan yang dipilih anak-anaknya. Adik saya paling kecil pernah dipaksanya untuk bekerja dengan salah satu kerabatnya. Tapi adik saya menolak. Dia memilih untuk menekuni bidang di luar gelar “Insinyur” yang ia dapatkan. Aku sempat memberitahu Papa supaya mendukung apapun yang anaknya sukai dan pilih. Toh itu bukan dosa. Itu bukan kesalahan. Ya harus didukung. Simpel. Adikku akhirnya meneruskan keinginannya berkecimpung dalam bidang peralatan dan perlengkapan sound system. (you may open www.davesoundpro.com).

Sampai ketika kakakku meninggal di negara tetangga, barulah aku mendengar Papa berkata, “Sori ya nak. Papa dulu paksa kamu untuk bekerja di sini.” Suaranya bergetar menahan emosi. Papa sedih, karena ternyata negara ini memberi kenangan paling buruk untuknya. Aku juga terharu mendengar itu. Di tengah kesedihan karena kehilangan kakak, aku harus mendengar Papa minta maaf untuk pertama kalinya.

Belasan tahun lalu, ketika kakak memutuskan untuk menikah dan menetap di negeri itu, Papa terus memaksaku untuk pindah dan bekerja juga di sana. Sampai detik ketika kakakku sakit, Papa masih memaksa… walaupun tidak terlalu frontal seperti waktu awal. Padahal aku sudah lelah berkata “tidak mau”. Papa tidak peduli, sampai momen itu terjadi. Papa melihat dan mendengar, bagaimana perlakuan para dokter “ecek2” yang masih praktek kerja-kuliah terhadap kakakku. Mereka saling berdiskusi penyakit ganas yang diidap kakakku, PERSIS di depannya. Biadab… dokter yang tidak punya hati. Lebih cocok jadi tukang jagal. Siapa pasien yang mentalnya tidak drop ketika mendengar diagnosa dokter bahwa penyakitnya ganas, dan sulit disembuhkan? Kakakku dijadikan “kelinci percobaan”. Mereka memberikan obat A, B, C, D, dan menganalisa bagaimana efek dari obat itu. Infus yang mengandung NaCl terus ditancapkan, padahal tubuh kakakku sudah kepenuhan air. Bahkan ketika kakakku akhirnya dipenuhi keinginannya untuk pulang, RS aneh itu masih saja memberikan obat-obatan, yang padahal tidak mungkin lagi dikonsumsi. (Aku masih saja emosional mengenang “mimpi buruk” ini).

Ah! Let’s back to topic!

Kadang aku berpikir dan ingin tahu, bagaimana latar belakang keluarga dari orang-orang yang sukses. Yang artinya adalah orang yang hidup dengan sangat mencintai apa yang ia kerjakan. Apakah orangtua mereka tipe yang memaksakan kehendak, atau membebaskan mereka mengikuti “lentera jiwa”nya?

Yang jelas, aku mau bilang bahwa:

  1. Tontonlah film favoritku di atas.  :) 
  2. Ikuti “lentera jiwa” kita.
  3. Jangan biarkan orang lain mengikat dan membawa kita kemana mereka suka. Karena setiap kita dicipta Tuhan sebagai pribadi yang unik dan punya tujuan hidup masing-masing. Hidupilah hidup dengan gairah dan semangat yang cuma bisa didapat ketika kita menghidupi apa yang kita pilih!
  4. Live happily. 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s