Only God Can Do

Cover FinalMinggu lalu aku pergi ke sebuah gereja. Tempatnya nyaman. Jemaat seolah dimanjakan dengan kursi empuk, layar lebar yang jernih terpampang di depan, sound system yang menggelegarrrr, dan semua yang terbaik. Hmm.. Kalau berada di tempat seperti ini, pakaian yang dikenakan sejauh mata memandang juga yang terbaik, termasuk aku yang memilih pakaian ternyaman dan terbaik. Make up, hair do, dan ini: sikap yang baik. Everything seemed very fine. Ya perilaku orang-orang yang ada di situ, dan juga benda-benda yang kasat mata. Waktu sesi pujian pun, ada yang mengangkat tangan, dan berekspresi “syahdu”. Seperti apa itu, yang jelas serius dan fokus menyimak setiap susunan acara.

Semua memang baik. Tapi, kalau kupikir lebih lanjut, apa yang baik itu seringkali berhenti CUMA di situ. Begitu kaki ini melangkah keluar, dan tiba-tiba di jalanan mobil yang kita kendarai disalip mobil lain, apa yang baik itu mulai pudar. That is very human. Sangat manusiawi. Ya, namanya manusia, aku pun begitu. Tapi ini yang seharusnya kusadari, yaitu bahwa kehidupan yang sesungguhnya itu harus kujalani bukan dalam waktu 2 jam ibadah di gereja. Tetapi dalam keseharian.

Aku jadi ingat, ketika berada di sebuah kota di negara tetangga. Aku semprot tukang taksi yang mencoba “memeras” kami. Ternyata argo yang terpasang didalam taksi sengaja tidak difungsikan. Dan dengan seenaknya dia memasang tarif 3x lipat dari tarif normal begitu kami tiba di tempat tujuan. That was crazy! Aku begitu marah dan emosional. Buatku, cukup sudah kami ditipu oleh tukang taksi yang menarik 2x lipat dari tarif yang seharusnya pada saat kami tiba di kota itu, dan guide lokal yang begitu licik mempermainkan kepolosan kami. Kemarahan ini kusimpan, sampai pagi itu. Kekesalanku memuncak. Aku pun mengeluarkan jurus “semprotan”. “How can we ask the girl?! We are here now!! You cheated at us! I don’t care about the girl or you!” semprotku. Dan aku menarik koperku menjauhinya.

(Dia bilang supaya kita bertanya ke gadis resepsionis yang baik hati di hotel dimana kami menginap soal tarif yang dia minta. Katanya sudah ‘deal’ dengan si gadis bahwa kami harus membayar segitu. Aku marah sangat, dan itu jawabanku).

Hal-hal kecil seperti itu membuatku lupa, betapa manisnya sikapku ketika berada di dalam gedung gereja yang nyaman. Dan betapa seharusnya aku bertahan dengan sikap yang tetap baik. Bisa saja aku berdebat dengan si tukang taksi licik tadi tanpa nada tinggi dan tidak emosional. Tapi… tidak bisa. Spontan begitu. Aku lalu terdiam karena terkejut sendiri menjalani insiden emosional itu. Dan malas berbincang dengan dua temanku setelah itu. (Thank God untuk salah seorang temanku yang cukup lihai. Dia mengeluarkan sejumlah uang yang sama ketika kami “ditipu” tukang taksi pertama. Angka yang tertulis di argo+biaya tol, sejumlah 2x lipat dari informasi biaya taksi, itu yang dikeluarkannya dan berkata baik-baik: “But the girl didn’t tell us anything about it”. Mencoba berargumentasi dengan lebih sopan. Tapi aku sudah tidak sabar. Orang model begitu lebih cocok kalau disemprot saja. Supaya lebih cepat beres…dan tidak berpikir kalau kami takut menghadapinya).

Itu baru hal kecil. Padahal di dunia nyata yang harus kuhadapi sehari-hari, hidup ini lebih keras. Selalu saja ada masalah, dalam berbagai rupa.

Pertanyaannya? Apakah gereja dan liturginya bisa membuatku berubah? Tidak. Kecuali Tuhan yang membuatku sadar akan sekeliling, dan menyadarkanku bahwa adalah penting untuk selalu bergantung penuh kepada-Nya. Dalam segala hal.

Only God can change man. Melalui setiap masalah yang kutemui, pelajaran demi pelajaran Dia berikan. DIA mengajarku untuk “berperang”. DIA memberiku hikmat untuk mengambil tindakan yang paling sesuai dengan kebenaranNya.

Jadi, sekolah kehidupan yang sebenarnya adalah keseharian, dan bukan hanya 2 jam waktu nyaman di dalam gedung gereja. Ingat itu! (#mengingatkan diri sendiri)

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s