MEMILIHLAH PAKAI LOGIKA!

BooksAku pikir Indonesia sedang memasuki babak baru dalam dunia politik dan berbangsa. Kalau jaman dulu, tidak perlu pakai pilih memilih, karena si presiden yang kukira tidak bisa lengser tidak pernah mengajarkan apapun tentang yang namanya Demokrasi. Gara-gara pemerintahannya, baru kusadar sekarang kalau negara ini “rusak” parah. Mau buat KTP saja susah. SIM susah. Paspor juga. Semua harus ada “uang di bawah tangan”, terlebih untuk ras tertentu yang memang dibedakan.

Ayahku tidak pernah mau mengajarkan anak-anaknya untuk menuruti sistem pemerintahan “sogokan”. Jadi aku pernah “dikerjain” kantor imigrasi, sampai naik-turun gedungnya beberapa kali. Dan terakhir waktu wawancara, gara-gara surat kewarganegaraan yang walaupun sudah dilegalisir tetapi tetap dimintai aslinya, aku harus pulang dan kembali lagi hari lain. Padahal aku bukan pengangguran, melainkan terikat jam kerja. Tapi ya sudahlah. Mau bagaimana lagi.

Aku kesal karena harus menunggu sangat lama dibanding seorang pria yang baru muncul, duduk di sebelahku, tiba-tiba sudah dipanggil foto, dan pamitan pulang. Kacau. Teman kantorku setelah kuceritai bilang begini, “Elu harus selipin uang Na, di setiap berkas yang elu bawa. Misal elu disuruh ke lantai 2 kasih dokumen, selipin tuh!” Aku sengaja memang, tidak menyelipkan uang apapun. Kepingin tahu juga bagaimana rasanya jadi orang jujur dan taat prosedur. Ternyata memang dipersulit.

Semua juga tahu, yang rasis memang pemerintahnya (jaman itu), bukan rakyatnya. Terbukti dari segudang aturan aneh yang sengaja dibuat untuk menghadang ras tertentu tadi. Mau minta kewarganegaraan pun dipersulit. Bahkan seorang juara bulutangkis pada akhirnya baru bisa menerima kewarganegaraannya setelah menjadi juara dan bertemu dengan Presiden baru yang waktu itu berjenis kelamin wanita. Memalukan dan menyedihkan.

Sampai tiba tahun 98. Sebuah kerusuhan rasial yang sangat mengerikan terjadi. Ras yang sama dijadikan kambing hitam untuk membuat kejahatan yang dilakukan oleh sekelompok orang jahat di negeri ini, terlihat sah-sah saja. Kata ayahku, “Di dunia ini, orang jahat itu jumlahnya sedikit. Jangan takut!” Tapi aku tetap saja takut. Bagaimana tidak. Kampus dimana aku pernah studi tiba-tiba diserang. Katanya banyak yang mati di dalamnya. Bahkan banyak juga yang hilang, dan tidak ketemu sampai sekarang. Lalu kerusuhan mengerikan itu menjalar kemana-mana dengan keanehan. Ya, aneh, karena yang jadi sasaran bukan lagi mahasiswa, melainkan etnis Tionghoa. Toko-tokonya dibakar (termasuk sebuah toko emas kecil milik kerabat), barang-barangnya dijarah, bahkan rumah-rumahnya pun dimasuki bagaikan tidak ada hukum di negara ini. Dan yang menyedihkan, wanitanya diperkosa. Biadab.

Misteri apa yang terjadi sesungguhnya di balik semuanya, aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Dunia politik memang serba kamuflase. Jadi percuma kalau tahu banyak. Sebentar bermusuhan, sebentar berbaikan. Sebentar ngomong kasar, sebentar memeluk lawannya. Sebentar bilang “gantung saja orang itu”, sebentar sudah ada di kubu yang sama dengan yang mau “digantung”. Aku tidak terlalu peduli. Banyak berita beredar, tapi toh tidak ada solusinya. Jadi buat apa dipikirkan. Sampai si Presiden “nyaris seumur hidup tadi” akhirnya lengser dan waktu terus bergulir. Tiba di Dua Ribu Empat Belas ini.

Ada sosok sederhana, yang tidak pintar bicara. Bahkan menurutku cenderung “gagap” (beberapa kali terlihat grogi pada saat debat terbuka). Kalau ditanya jawabannya singkat, membuat yang menanya (dan yang mendengar) tertegun lalu tertawa, dan berpikir, “Bener juga!” Dia berbeda dengan politikus lain. Yang bisanya “nampang” di depan TV. Kelihatan jelas arogannya. Kalau diwawancara dan ditanya soal program seolah sudah paling hebat. Padahal eksekusinya nol besar. Yang kalau masa kampanye paling terlihat ‘menjanjikan’, tapi begitu sudah jadi bagian dari kekuasaan, diam seribu bahasa. Terlena dengan fasilitas, gaji utama, dan (mungkin) gaji sampingan yang pastinya sangat besar? Mungkin…wong yang di kantor saja bisa korupsi dari tender yang diterima kok, apalagi yang punya kekuasaan dan bisa memainkan kekuasaannya. Yah, walaupun tidak semua begitu, tapi seperti istilah nila setitik merusak susu sebelanga, maka tingkah laku memalukan dan menyebalkan seperti itu menodai politikus lain yang memang ada di kursi kekuasaan dan bekerja memberi yang terbaik untuk bangsa ini. Salah satunya Joko Widodo (salah duanya Basuki Tjahaja Purnama), dan mungkin masih banyak lain yang mulai bermunculan, walikota Surabaya, gubernur Jawa Tengah, dll.

Cerita kelam demokrasi bangsa ini sudah banyak. Kantor sebuah partai yang tidak aku pilih karena berpikir partai kelir kuning jauh lebih bagus waktu itu, sempat diserang. Sampai hancur. Dimana hukum Negara ini? Tidak ada.

Sebuah sekolah Alkitab diserang atas nama agama. Penghuninya dibantai secara mengerikan. Dimana hukum Negara ini? Tidak ada.

Banyak gereja ditutup dengan alasan tidak punya ijin, secara anarkis. Brutal. Gedung dan properti di dalamnya dirusak, sengaja meninggalkan teror sangat besar untuk jemaat gereja itu. Dimana hukum Negara ini? Tidak ada.

Banyak tempat pelacuran, tempat hiburan malam yang terus berlomba dan makin kreatif dalam cara-cara berdagang seks untuk memuaskan pengunjungnya, selalu buka tiap malam. Aman. Ijinnya pun gampang. Tidak terusik. Berbeda sekali dengan nasib Sekolah Alkitab tadi. “Delivery sushi” bertebaran di jalanan sebuah area malam daerah Kota, menjelang pukul 5 sampai seterusnya. Pemandangan yang sangat tidak sehat untuk generasi muda bangsa ini. Tapi toh dibiarkan. Padahal disitulah perdagangan amoral terus berjalan. Bahkan katanya orang-orang yang akrab dengan dunia malam, Negara ini jauh lebih hebat bin inovatif dalam hal bisnis seksnya dibanding Negara barat. “Luar biasa”! Dimana hukum Negara ini? Menyedihkan, karena aku harus berkata lagi: Tidak ada.

Pemerintahan yang baru harus beda. Bukan pemerintahan yang korup, yang menyukai uang bawah tangan, yang mendukung premanisme dan didukung premanisme, yang tidak mau bertanggung jawab dengan kesalahan yang dilakukan, yang cuma “omdo” tapi tidak melakukan apapun, yang tidak pernah membela rakyatnya, yang menjual kekayaan alam negeri sendiri kepada asing, yang arogan tidak mau mendengar dari bawah, yang tidak jujur, yang rasis, yang jahat, yang memrioritaskan koalisi dan suka bagi-bagi kursi tanpa mempertimbangkan prestasi.

Tapi yang mau membela rakyat. Yang peduli ketika rakyatnya harus kalah di pengadilan dan membayar 1 M, hanya karena menyuarakan keberatan hati atas pelayanan sebuah Rumah Sakit. Yang peduli ketika rakyatnya terus dijadikan bulan-bulanan dunia medis karena hukum tidak pernah berpihak kepada pasien. Yang peduli ketika rakyatnya tertindas oleh kekuasaan karena lebih membela yang “berduit”. Yang peduli kepada “kriminal rekayasa polisi” untuk dihukum menggantikan kriminal yang sebenarnya. Yang peduli untuk membersihkan “tikus-tikus korupsi” di lembaga-lembaga hukum. Yang bisa membuat mental dan pola pikir rakyatnya berubah menjadi unggul dan sehat!

Tulisanku bukan untuk kampanye. Cuma curhatan hati karena kesal membaca status teman-teman yang mengejek sosok sederhana tadi. Pakailah logika. Jangan memilih dengan membabi buta. Toh kita sama-sama tidak kenal. Aku tidak kenal sama yang nomor satu, kecuali cerita buruknya di masa lalu, yang kata temanku dia sudah jauh berubah sekarang. Aku juga tidak kenal dengan yang nomor dua, kecuali merasakan fenomena kepemimpinan dan melihat kepribadiannya yang santun dan rendah hati.

Tapi lihat saja hasil kerjanya. Setidaknya ada sosok yang lebih layak untuk dipilih karena dia sungguh-sungguh BEKERJA dan memberikan yang terbaik selama berkuasa. Beri kesempatan, tapi jangan terlalu berharap, karena kerusakan mental dan infrastruktur Negara ini sudah mengakar. Kita harus sadar bahwa untuk membangunnya kembali membutuhkan waktu panjang dan manusia-manusia hebat yang tampil untuk berani membangun bersama menjadi bangsa dan Negara yang jauh lebih baik!

Rasanya terlalu berat untuk mengulang 5 tahun ke depan tanpa perubahan berarti. Oleh karenanya, memilihlah pakai logika!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s