Stop Being Racist

Cover FinalHari Minggu, seorang kerabat mengundang ke rumah orangtuanya untuk perayaan satu bulanan bayinya. Aku datang ke sana bersama pamanku. Setibanya, ternyata sudah banyak kerabat lain terlihat menyantap makanan di piring masing-masing (bukan dari piring orang lain…). Di situ juga terlihat seorang kerabat yang tinggal di negeri tetangga, sebut saja A. Ia datang bersama istri dan kedua anaknya. Sudah sangat lama aku tidak berjumpa. Jaman dulu juga tidak terlalu akrab. Jadi aku hanya menyapa lalu mencari piring kosong untuk mengisi perut. Lapar… Sudah pukul 1.30 lewat.

Setelah ngobrol sana-sini, haha-hihi membahas pemilihan presiden yang memang sangat seru. Tiba saat untuk pulang. Tapi sebelum berpamitan, si A mendekat dan mengajak bicara.

“What are you doing now?” tanyanya.
“Working at travel company,” jawabku. 
Dan dia pun membahas soal negaranya, dimana ada kasino.

“Atur perjalanan juga ke sana?” tanyanya. Dan cerita soal kasino pun berjalan.
“Siapa aja kebanyakan pengunjungnya? Orang dari negara mana aja?” tanyaku.
“Indonesia banyak. Malaysia nggak terlalu banyak. Kan sudah punya Genting,” katanya. Dia juga menyebut satu negara lagi tapi aku lupa. Itu sih tidak penting, sampai dia mengatakan ini….
“Dari Indonesia, kebanyakan orang Medan,” katanya.
“Oh iya Medan,” jawabku. Lalu…. 

Tiba-tiba hatiku seperti beku seperempat detik. Setelah berkata itu, aku melihat kerabat lain, sebut saja B, yang berasal dari kota Medan. Padahal aku menyebut kota itu, karena sering mendengar bahwa orang Tionghoa dari situ suka berjudi. Tapi penglihatanku tadi membuatku sadar akan sesuatu…

Yaitu bahwa B itu orangnya baik, dan jauuuh dari “generalisasi negatif” seperti yang sering kudengar untuk mengolok-olok “suku” itu.

Kejadian beberapa detik tadi seperti sebuah ‘turning point’ buatku. Hati nuraniku tersadar.

“Mereka tidak bisa memilih mau dilahirkan menjadi orang apa… ” begitu suara lembut yang kutangkap.

Aku mendadak sedih. Ternyata aku ini rasis walaupun kecil-kecilan.

Aku sering menyebut orang A, orang B, orang C memang begitu. “Oh.. pantes, orang Z memang rata-rata begitu!” kataku waktu tahu asal-usul dari seseorang yang punya tingkah tidak menyenangkan. 

Kesukuan itu rasis. Tapi aku menganggapnya biasa saja. Everybody does it, bukan? Setiap orang melakukannya. Bahkan dalam ras Tionghoa saja, terbagi menjadi berbagai asal kota, yang melahirkan sekelompok suku yang berbeda secara sifat dan tingkah laku. Banyak juga dari sesama suku Tionghoa yang saling menjelekkan satu sama lain. Contoh: Orang jawa tidak suka dengan orang Medan. Orang Medan tidak suka dengan orang Palembang-Bangka-Belitung. Orang Palembang tidak suka dengan orang Medan. Dst. Dll.

Padahal… mereka tidak bisa memilih mau lahir jadi orang apa. Kalau aku dilahirkan kembali, mungkin mau jadi orang kulit putih Amerika, supaya tidak perlu melewati peristiwa Mei 1998 dalam ketakutan karena bisa terbang ke negara asal waktu kejadian. Dst. Dst. Tapi kan tidak bisa. Dan yang menyedihkan adalah, sifat kesukuan atau rasisme itu tidak pernah membuat orang sadar bahwa kelahiran tidak bisa dipilih. 

Jadi… stop being racist. Bangga terhadap suku sendiri boleh-boleh saja. Tapi jangan sampai merendahkan suku lain, karena mereka (dan juga kita) tidak bisa memilih mau dilahirkan menjadi orang apa….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s