Buta, Bisu, Tuli = BAD ATTITUDE

Cover FinalSatu hari kantorku membutuhkan web programmer untuk membuat website. Seorang teman yang pernah menjadi programmer/web developer di kantor lama merekomendasikan mantan rekan kerjanya yang juga programmer. Dia sudah tidak ada waktu untuk jadi web developer, katanya. Setelah bertemu untuk makan siang, dan ngobrol tentang struktur web yang akan dia buat, sebetulnya aku menangkap ada sesuatu yang aneh. Attitudenya kurang sopan. Itu yang kutangkap “at a glance” saja. Ah, tapi mungkin aku salah. Don’t judge a book by its cover kan kalau kata orang. Jadi aku menyerahkan “proyek website” kantor ke orang tersebut. Sebut saja A.

Setelah berjalan beberapa bulan, dia meleset alias tidak menepati janjinya. Beberapa kali kuhubungi seperti berbicara dengan orang bisu, tuli, dan buta. Tidak ada respon sama sekali. WA tidak dibalas. BBM sama sekali tidak dibaca. Kadang sudah dibaca, tetap tidak dibalas. Telepon juga tidak diangkat. Sampai satu ketika, aku mengajaknya lagi ketemuan, sekaligus dengan atasanku. Setelah beberapa pesanku tidak dibalas, kali itu dia balas, dan datang memenuhi janji untuk bertemu.

Setelah itu kupikir semua akan beres. Ternyata… sama saja. Aku berpikir untuk membayar sebagian biaya, kalau memang itu alasannya mendadak “bisu, tuli, dan buta”. Tapi kutanyai nomor rekening, tetap tidak membalas. Kutelepon, tetap tidak diangkat.

Akhirnya aku sudah tidak lagi bisa tolerir, karena bagaimana bisa selesai kalau untuk diajak komunikasi saja sangat sulit. Dan dengan sangat terpaksa, aku memutuskan hubungan kerja dengannya melalui BBM, karena teleponku tidak diangkat. Seperti biasa, tidak dibaca. Ya sudah.

Sampai sekarang, dia masih “bisu, tuli, dan buta”. Dia masih sempat mengganti PP BBM-nya berkali-kali, setelah kukirimi pesan apakah bisa kuhubungi, karena ada kode yang ingin kutanyakan.

Padahal bisa saja dia berterus terang kalau sedang sibuk, atau mungkin ada masalah keluarga, atau apapun. Setidaknya ada kejelasan, dan tidak menghilang begitu saja. Atau mungkin memang dia manusia bayangan….?

Kesalahanku yang tidak perlu kuulang adalah ini:
JANGAN PERNAH berhubungan kerja dengan seseorang yang tidak kenal sama sekali. Yang tidak jelas identitasnya, bekerja dimana, tinggal dimana, dan siapa temannya. Atau: JANGAN PERNAH memercayakan proyek penting dengan seseorang yang sama sekali asing.

Kesalahannya yang penting untuk kupelajari adalah ini:
Kalau mau jadi besar, mulailah dari kecil. Kalau mau dipercaya proyek besar, selesaikan dulu proyek kecil yang dipercayakan orang lain kepada kita. Bertanggungjawablah dengan apa yang orang lain percayakan kepada kita.

Satu cerita lagi…
Ada staf baru berkantor di kantorku. Anaknya baik (sepertinya). Tampak luar sopan, manis. Tutur katanya juga halus. Lokasi tempat tinggalnya memang jauh dari kantor. Tapi semua berjalan baik-baik saja, sampai setelah 1,5 bulan tiba-tiba dia ijin sakit. Flu katanya, dan batuk. Imun tubuhnya memang lemah, katanya, jadi gampang terserang penyakit. Itu hari Selasa pagi setelah aku ada di kantor baru kuterima pesannya. Karena HPku agak eror. Kalau hanya flu dan batuk, besok juga sudah baik. Itu pikirku.

Hari Rabu…
Begitu aku tiba di kantor, dan sudah sekitar pukul 9 lewat, aku membuka BBM untuk mengiriminya pesan. “Hari ini masuk ngga?” tanyaku. Jawabannya agak mengesalkan. Dia ijin lagi, karena masih sakit. Dan katanya sori lupa ijin semalam. Kok bisa lupa? Mungkin imun tubuh yang buruk membuat memori juga memudar….

Hari Kamis…
Begitu HP-ku ON pagi, aku spontan membuka BBM, dan masuklah pesan darinya. Ijin lagi, katanya. Karena waktu mau berangkat kantor, ibunya tidak mengijinkan. Alasannya? “Suaraku belum pulih,” katanya. Waduuuh…. aku langsung berpikir, ini kan bukan cafe yang punya live music, dimana dia bekerja jadi penyanyi? Pekerjaan di kantor tidak membutuhkan suara… tapi kerja.
Setelah berpikir tentang “imun tubuhnya yang katanya memang buruk”, “suara belum pulih”, “flu+batuk”, dan daripada besok pagi aku harus bete lagi, karena setiap kali ijin seperti seenaknya saja, aku memberinya ijin untuk istirahat sampai Senin saja sekalian, biar pulih betul. Tapi kalau masih sakit hari Senin, aku minta tolong agar mengirimkan kunci ruangan ke kantor pakai jasa pengiriman apa saja. Pikirku, kalau memang sakit-sakitan nggak masalah, tapi biar kunci aku yang pegang.
………
Dia mendadak “bisu, buta, tuli”. BBM-ku cuma dibaca.

Hari Senin (minggu depan)…
Aku BBM: Hari ini ngantor ngga? Tidak ada jawaban sama sekali. (Aku juga menelepon sekitar pukul 10, dan tidak diangkat). Tapi dia sempat mengganti PP di BBMnya lebih dari 1 kali. Mengganti statusnya, lebih dari 1 kali. Fine, pikirku. Kalau memang mau mengundurkan diri. Tapi sangat disayangkan, kenapa attitudenya begitu. Kok jadi staf bayangan… sebentar ada sebentar hilang tanpa info.

Hari Kamis…
Masuklah email “staf bayangan” tadi. Meminta maaf karena Senin pagi waktu akan berangkat ke kantor, tas-nya dicuri orang, jadi tidak sempat menghubungi, dan hari itu dia baru bisa konek internet, jadi baru bisa kirim email. Hmm…. alasannya tidak masuk akal.

Pagi itu begitu terima emailnya, buru-buru aku periksa BBM-nya, ternyata sudah hilang dari contact list-ku. Aku cek WA-nya, PP-nya mendadak kosong. Skenario yang buatku bertanya-tanya, “Masa sih dicuri orang Senin pagi?”

Aku masih sempat mengecek beberapa kali BBM-nya, karena masih berharap ada balasan. Dari situ aku bisa tahu dia mengganti PP dan statusnya lebih dari 1x.

Kalau memang dicuri orang sejak Senin, kenapa PP-nya bisa berganti? Ok, mungkin PPnya sengaja diganti oleh si pencuri dengan fotonya yang tersimpan di database HP-nya. Tapi… PP yang dia ganti itu karakter kartun yang sama dengan PP lamanya. Berarti pencurinya punya selera yang sama dengannya. Sama-sama menyukai kartun Marsha and Bear.

Lalu bagaimana dengan WA-nya? Sampai Rabu malam, aku juga masih melihat PP di WA-nya. Masih tetap ada. Sampai kuterima email Kamis pagi dan PP di WA-nya mendadak kosong. Ok, mungkin semuanya kebetulan. Pencurinya kebetulan saja men-delete PIN-ku dan PP di WA staf tersebut, pada saat bersamaan yaitu malam hari ketika si staf mengirimkan email.

Pelajarannya adalah:
Lagi-lagi gagal komunikasi. Orang normal, tapi berlaku seolah bisu, buta dan tuli. Attitude sangat buruk yang tidak perlu ditiru.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s