HARUS PINTAR SENDIRI

Cover FinalMendengar dan melihat media TV tanah air belakangan membuatku tersadar bahwa MEMANG BENAR kalau media itu SUKA MENYEBAR KEBOHONGAN. Jadi wajar kalau seiring pesatnya perkembangan teknologi, orang semakin kritis dan tidak begitu saja memercayai media elektronik melalui televisi.

Berita di internet memang tidak kalah hebat kebohongannya, karena justru lebih banyak orang yang tidak perlu bertanggung jawab kepada siapapun, bisa meng-upload berita apapun yang ingin ia siarkan. Tapi di satu sisi, internet juga membuat banyak penggunanya semakin pintar. Berita yang beredar di sana, terkadang atau bahkan seringkali, berupa kebenaran, hanya saja tidak dipublikasikan oleh media TV. Nah dari latar belakang itulah, kepercayaan orang terhadap media berita di televisi, semakin luntur.

Aku jadi ingat peristiwa mengesalkan beberapa tahun lalu, tepatnya di tahun 1998…. Kerusuhan Mei di tahun yang sama membuat Negara Indonesia lumpuh beberapa saat. Pemerintahan gonjang-ganjing. Bahkan ketika pecah kerusuhan lagi pada bulan November di tahun yang sama, walaupun tidak terlalu parah seperti Mei, trauma yang masih membekas kuat timbul lagi dan mencekam hati sedemikian rupa sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaan di negara tetangga. Berbekal ijazah Universitas swasta yang kurang terlalu dikenal di sana (walaupun disini termasuk favorit, pada jamanku dulu), aku terbang bersama kakak yang memang sudah menjadi Permanent Resident.

Aku pun melewati beberapa wawancara kerja, sampai satu kali kejadian mengesalkan ini muncul…

“Is it really that scarry?” begitu si pewawancara dengan ekspresi agak merendahkan menanyaiku.
“Yes, it is,” jawabku.

Dia meragukan berita yang dibacanya di koran atau dilihatnya di televisi. Padahal aku sempat melihat foto pembantaian seorang laki-laki “menghiasi” halaman muka sebuah surat kabar di sana. Kejadian itu adalah di Indonesia.

Tentu saja aku kesal. Dalam hatiku, “Kalau lo kagak percaya, lo tinggal aja di Indonesia. Muka putih, mata sipit kaya elo, bakal jadi sasaran kalau lo berkeliaran di jalanan waktu “the riot” yang lo ragukan kebenarannya bahwa memang mengerikan itu terjadi. Sigh…!

Aku sebal dan kesal. Tapi sudahlah, toh aku tidak bisa bercerita banyak, karena memang konteksnya adalah wawancara kerja, bukan wawancara dengan organisasi HAM.

Tahun-tahun berlalu, dan tibalah tahun ini, 2014. Dan aku pun baru mengerti alasan orang tadi meragukan kebenaran berita tentang kerusuhan SARA yang meletus bulan Mei 1998 lalu di Indonesia. Ternyata karena memang media elektronik dan cetak TIDAK DAPAT DIPERCAYA…

Jadi apa yang sebaiknya aku lakukan? Menjadi pintar sendiri dengan cara bertanya kepada teman yang bisa dipercaya, belajar latar belakang satu peristiwa/kejadian lewat media lain seperti internet atau buku, dll. Yang jelas jangan cepat percaya dengan apa yang diberitakan lewat media…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s