Biar Tuhan yang balas…

Cover FinalMalam itu aku menonton film Korea di salah satu stasiun TV. Ceritanya unik, tapi mendekati kenyataan. 
 
Tapi, karena cukup pelik, aku sebutkan dulu tokoh-tokoh yang bermain di dalamnya:
A = ahli forensik yang sangat pintar dan dipercaya serta diandalkan banyak orang terutama yang menjalani persidangan kasus pidana. Karena lewat hasil yang ia keluarkan, hukuman bisa jatuh kepada terdakwa, atau sebaliknya, terdakwa menang mutlak atau bebas tanpa syarat. Sudah berkeluarga dengan 1 anak perempuan yang mengidap penyakit kronis. Ia ditinggalkan istrinya karena tidak kuat merawat si anak.
 
B = detektif wanita yang masih sangat muda, tapi sangat pintar dan jeli dalam membuat analisa.
 
C = seorang pria pincang yang memiliki 2 orang adik laki-laki dan perempuan. Dia dari kalangan menengah ke bawah.
 
Nah, ceritanya….
 
Terjadilah pembunuhan terhadap seorang pria kaya, sebut saja si Won Ketika kasusnya muncul ke permukaan, polisi pun sibuk menurunkan tim investigasinya. Salah duanya adalah si B dan A. Dengan data yang terkumpul, dan fakta di lapangan, tertangkaplah si C. 
 
C pun ditahan dengan bukti yang ada. Tapi karena masih dalam masa tunda sebelum menunggu persidangan dan bukti yang lain mulai dikumpulkan, C terus diinterogasi dan B semakin yakin bahwa C-lah pembunuh utamanya. 
 
Tapi aneh, tiba-tiba ketika hasil forensik diajukan ke persidangan, C justru dibebaskan. Mengapa? Karena A menyatakan bahwa hasilnya bertolak belakang. Pembunuhnya bukanlah si C.
 
B yang tidak terima dengan pembebasan si C pun menyelidiki sendiri. Ada udang di balik batu, yakinnya. Darah yang terdapat di benda tajam untuk membunuh dilaporkan oleh A sebagai darah binatang. Dan C mendapati anjing si A kakinya pincang, dibebat dengan bekas darah pada bebatannya. Rupanya A sengaja mematahkan kaki anjingnya sendiri, dan mengoleskannya pada pisau yang dipakai untuk membunuh, setelah mencuci darah manusia yang telah kering dan membekas di pisau yg sama.
 
B juga menemukan bahwa korban pembunuhan, si Won ini ternyata pernah menghadapi tuduhan pemerkosaan, tapi dibebaskan, karena keterangan forensik dari A. Siapakah si korban pemerkosaan? Hmm… sudah mulai jelas ceritanya. Yaitu adik dari si C, yang kemudian mati bunuh diri, karena tidak kuat menanggung malu. Pria tadi dibebaskan atas keterangan forensik dari A bahwa si pria tidak melakukan pemerkosaan. Semuanya atas dasar suka sama suka, dan tidak ditemukan hasil ilmiah apapun yang menyatakan bahwa pria tadi telah memerkosa adik C.
 
Mengapa orang yang sangat dipercaya seperti A mau-maunya memberitakan kebohongan hasil forensiknya? Ternyata….karena si A terdesak ingin mengobati anak perempuannya yang sakit kronis, tapi tidak punya uang. Dan pucuk dicinta ulam tiba, si A ditawari janji berupa uang dan biaya pengobatan si anak, sampai sembuh oleh ayah dari pria pemerkosa, Won, yang dibunuh oleh C tadi. Asalkan… A memberikan hasil forensik yang sesuai pesanan!
 
Jadi dengan latar belakang kejadian masa lalu itulah C membalaskan dendamnya dengan membunuh Won, dan menekan A untuk memberikan hasil forensik palsu supaya dia bebas, karena kalau tidak, maka anaknya si A bakal dibunuh. Jadi A tertekan lagi, kali ini dia harus membuat hasil palsu demi menyelamatkan anaknya.
 
Tapi nyatanya, setelah si C bebas, anak perempuan si A sudah jadi mayat. Si A pun marah, dan menembak mati si C, lalu A bunuh diri karena tidak kuat menahan pertempuran hati nuraninya dan kesedihan atas kematian anaknya. Selama ini usahanya sia-sia. Kebohongannya tidak berbuah manis. Kira-kira begitu hikmah dari film ini.
 
Aaaahhh jadi mirip sama situasi politik di negaraku….
 
Ada begitu banyak orang yang punya uang dan kekuasaan, serta gemar memutarbalikkan fakta dengan uang dan kekuasaannya tadi. Uang bisa membeli, menyalahgunakan, membohongi dan menggoyahkan keyakinan publik terhadap sesuatu kebenaran.
 
Aku juga ingat, jaman dulu ada psikolog ternama yang memberikan kesaksian bahwa seseorang telah melakukan sodomi. Entahlah, aku lupa persisnya, tapi kata ayahku, psikolog itu berbohong. Dan… aku lebih percaya kepada ayahku. Dia analis kebohongan, karena ayahku orangnya lurus dan tidak suka menipu.
 
Aku juga ingat, pembunuhan WNI bernama David di negeri Singapura, negeri yang penuh intrik pemerintahannya. Mereka bersatu padu memberikan keterangan palsu yang pada akhirnya justru menyalahkan David yang adalah ‘gay’, dsb, dsb. Kasus pembunuhan ini tentu saja dimenangkan oleh si pembunuh dan pemerintah Singapura. Sementara David? Dia sudah tidak lagi bisa melakukan pembelaan atas perkaranya. Tidak juga dengan orang-orang yang masih hidup yang habis-habisan memberikan bukti forensik, yang ternyata dilenyapkan lewat prosedur kremasi. Habis perkara.
 
Tapi ingat, masih ada Tuhan. Darah orang yang tidak bersalah akan terus berteriak memohon keadilan kepada PenciptaNya. Tunggu saja balasan Tuhan….. 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s