“HOME STAY” TRIP TO MAKASSAR

Sesampainya di Bandara Sultan Hasanudin Makassar, aku sudah dijemput oleh Yun dan kedua orangtuanya. Tentu saja aku kaget.

“Waduh Yun, nggak enak hati nih. Ngerepotin banget dijemput ortu!” kataku.
“Enggak apa-apa lagi,” sahut Yun.

Aku merasa seperti sedang “homestay” di Makassar. Bagaimana tidak, ketika tiba dijemput oleh Yun bersama kedua orangtuanya. Tinggal sekamar dengan Yun, dan bisa mengikuti kegiatan keseharian yang sangat alami. Tidak dibuat-buat atau hasil rekayasa. Semua mengalir lancar, setiap detil terlihat tanpa tedeng aling-aling. Kegiatan rumah tangga di rumah orangtua Yun dengan budaya yang pastinya tidak sama dengan budaya keluargaku. Unik dan menarik. Menjadikan liburan kali ini sangat memorable.

Di sini tidak ada asisten rumah tangga dengan alasan tertentu. Jadi ibu Yun selalu sibuk dengan rutinitas harian seperti memasak, berbelanja ke pasar, mencuci baju, bermain dengan anak kecil tetangga dan berkirim makanan (Baca “Mama Nathan”). Sesekali ibu Yun juga ikut menonton TV. Tapi sepertinya kurang suka. Beliau lebih suka ngobrol. “Dia paling aktif, nggak bisa diam,” kata Yun. Memang beda sekali dengan anak-anaknya. Dua lelaki, 1 perempuan, semuanya setipe. Pendiam. Itu kata Yun. Dan aku pun melihatnya seperti itu. Sering aku senyum-senyum sendiri atau membalas senyuman geli Yun.

“Lucu ya nyokap gua,” katanya.
“Iya,” jawabku.

Kebaikan yang aku terima lebih dari cukup. They are all very nice and kind. Aku tidak enak hati…

“Yun, nanti gua naik taksi aja deh pas ke bandara mau pulang hari Senin-nya,” kataku.
“Jangan! Memang kau anggap apa kami ini?” kata Yun setengah bergurau tapi serius.

Aku benar-benar merasa diistimewakan. Setiap pagi selalu ada sarapan tersedia dalam berbagai macam rupa. Kata Yun, begitulah mamanya. Sangat “happy” kalau anaknya datang.

Makanan di rumah pun selalu hasil olahan sendiri, kecuali hari pertama, ada selingan bakso babi yang memang nikmat rasanya.

Jadi aku menikmati saja hari-hari di sana. Dibuatkan tumis sayur ubi jalar yang baik untuk mata, seperti kata ibu Yun. Sayur singkong. Sayur Daun Kelor (yang kalau di rumahku daun ini berwujud kering dan hanya bisa diseduh lalu diminum airnya). Pisang epe “homemade” dengan saus gula merah dan parutan kelapa. Rasanya maknyus. Khas buatan rumah. Proses pembuatannya pun selalu aku amati. Inginnya meniru, tapi apa daya, aku tidak sanggup menghafal semuanya.

IMG_20140725_083918

Pisang Epe

IMG_20140726_105538

Sayur Daun Kelor

Aneka kue di pagi hari

IMG_20140728_093947

Pisgor for breakfast+teh manis hangat

IMG_20140728_093935

Kripik pisang homemade “maknyus”

Aku juga ikut pergi ke kebun sayur keluarga dan sempat “selfie” walaupun tidak ikutan memotong sayur singkong, karena memang tidak bisa dan tidak ahli memilih daun mana yang masih layak makan dan mana yang sudah tua.

“Ini sebetulnya tanah kantor papaku. Tapi karena kosong, jadi dipakai orang-orang sini untuk bertanam sayuran,” kata Yun.

“Ooo…”

Waktu hari Minggu, aku menunggu saja di rumah sampai mereka kembali dari gereja yang dimulai ibadah pertamanya pukul 7 pagi. Tapi selama mereka ke gereja, di depan kamar sudah tersedia teh manis hangat, yang tidak langsung kuminum, karena takutnya bukan untukku. Dan ada snack di sampingnya. Ckckck…

Pagi hari, aku diajak Yun “nongkrong” di depan kolam ikannya. Sejuk dan bersih udaranya. Sangat berbeda dengan ibukota yang sudah sangat polusif.

20140726_084727

Kolam ikan depan rumah

Mama Nathan!

Di tengah panasnya perselisihan antara Hamas dan Israel, Yun memberiku ide untuk menyimpan memori persahabatan. Maka aku pun menuliskan ini…

“Mama Nathan! Mama Nathan!” teriak tante yang terdengar jelas dari dalam kamar tidur Yun.

Awalnya aku heran, kenapa si tante cukup sering memanggil tetangga sebelah. Tapi keheranan ini kusimpan dalam hati, sampai akhirnya semua terkuak. Yun memberikan informasi berkenaan dengan teriakan berlogat khas Toraja itu.

Ooohh…. Rupanya, seringkali terjadi pertukaran makanan di tembok pemisah antara rumah orangtua Yun dan tetangganya. Disebut Mama Nathan, karena itu panggilan sopan dan hormat untuk orangtua yang sudah memiliki anak. Dan nama anak pertamalah yang dijadikan sebutan di belakang kata “Papa”, atau “Mama”.

Contoh, kalau dulu masih belum memiliki anak, tante tetangga sebelah mungkin dipanggil namanya saja, Elsye, or something else. Tapi setelah lahir anak pertamanya dan laki-laki, bernama Nathan, maka setiap orang akan memanggil dia dengan nama kehormatan “Mama Nathan”, atau “Papa Nathan”. Begitu.

Jadi setiap kali ibu Yun berteriak “Mama Nathan!”, maka aku sudah tahu sekarang bahwa itulah tanda akan ada masakan dari rumah Yun yang DIBAGIKAN ke tetangga sebelah. Caranya? Cukup menyodorkan piring berisi makanan melewati bagian atas tembok pembatas rumah. (Lihat foto).

Thank God, pada hari terakhir, Yun berhasil mengabadikan peristiwa bersejarah ini. Yang semoga dapat menjadi pelajaran bagi setiap orang yang bermusuhan, bahwa tembok perbatasan tidak selamanya dapat membatasi persahabatan….🙂

20140728_132045

Tembok Persahabatan

 

Senin, 21 JULI 2014

Pukul 7.30 pagi ayah mengajakku berangkat ke seberang rumah. Aku pun mengiyakan dan menarik koporku lalu menaruhnya ke dalam mobil. Ayah lupa mendoakan seperti biasanya. Tapi sudahlah tidak apa.

Sesampainya…

Tuh bisnya”! Kataku bersemangat. Sampai-sampai aku memaksa ayah melawan arus. Pertama aku takut ditinggal bis Damri karena pernah mengalaminya. Kedua, tidak ada 1 mobilpun melintas di jalan lebar yang memang diatur untuk satu arah.

Satpamnya belagu! Soalnya agak memarahi ayah yang memang menuruti kataku untuk lawan arah dan berhenti dekat depan bis itu. Eh, atau aku yang belagu?

Setelah yakin bisa naik sampai ke bandara Soetta, aku pun mengambil koperku dan berpamitan ke ayah. Huh! Satpam menyebalkan! Belagu! Begitu aku mengumpat dalam hati. Memangnya kalau aku ketinggalan, dia mau menjamin? Pasti enggak. Aku mengomel dalam hati.

Pukul 8 pagi tepat, bis berangkat meninggalkan lokasi menuju Bandara Soetta. Pesawatku pukul 10.00. Harap-harap cemas takut ketinggalan. Tapi ternyata dua hal: supir bis ngebut kalap sampai aku harus berdoa minta Tuhan melindungi dan tidak terjadi masalah di tengah jalan atau aku akan terlambat tiba di terminal 1B. Kedua: ternyata pesawat yang kutumpangi delay 30 menit.

Setibanya di terminal 1B, dan melewati pintu penjagaan, aku mencium bau pesing. Waduh..! Ini bandara internasional atau wc umum ya? Bau tak sedap itu makin tajam ketika aku melewati x-ray. Ckckck…. no comment.

Ketika check in, aku lupa meminta duduk di isle. Tapi petugasnya ternyata berinisiatif sesuai keinginanku. Klop.

Setelah selesai, aku membayar airport tax sebesar Rp 40.000,- tepat sebelum masuk ke Gate tertera. B7.

Pesawat akhirnya terbang juga setelah meleset 30 menit dari jadwal. Penuh. Penumpang membawa cukup banyak tentengan. Mungkin karena berkenaan dengan libur hari raya. Jadi banyak membawa oleh-oleh. Beruntunglah kursi tengah kosong. Padahal pesawat penuh. Aku tidur meringkuk karena kedinginan.

 

2 jam 10 menit pesawat mendarat di kota Makasar!! Sahabatku Yun sudah menunggu bersama kedua orangtuanya. Setelah itu kami makan mi titi. Maknyus. Kenyang luar biasa. Padahal hanya 1 porsi dibagi 2. Mirip ifumie, tapi ini dengan daging babi biasa dan babi merah, bakso babi dan sayurnya itu…. segar dan renyah. Kriuk! Pokoknya maknyus. Rumah makan Ramayana namanya. Kata Yun paling laris. Kalau sudah jam 5 ke atas, antriannya panjang.

Mie Titi Jl. Lompobattang

Setelah itu aku diajak berkeliling ke area baru yang dulunya laut, dan sekarang sudah diuruk menjadi daratan. Ada perumahan bagus, mall Transstudio dan Rumah Sakit Siloam di sana. Lalu pulang ke rumah melewati pelabuhan, Pantai Losari, perkampungan (sori) kumuh milik penduduk asli yang sempit.

“Area ini tidak boleh direnovasi. Dari dulu ya begini saja, tidak ada perubahan,” kata ayah Yun. Orang luar juga tidak boleh tinggal di situ. Jadi hanya ditempati penduduk asli Makassar turun temurun saja.

Setelah itu kami pulang ke rumah untuk beristirahat.

Selasa, 22 Juli 2014

Pagi pertama, ibu Yun menyajikan sarapan heboh. Ada sambal maknyus. Pisang goreng. Teh manis. Tape. Dan gorengan yang isinya parutan kelapa rasa manis. Ruar biasah! Oh! Satu lagi… Markisa Malino. Aku mencicip sedikit. Sangat tajam rasa “markisa”nya, tapi sayang, aku tidak bisa makan, karena asam…. x_x

Sarapan “heboh”

Hari ini penjagaan pengumuman KPU di Jakarta sangat heboh, seperti yang diberitakan di TV. Melihat berita, dengan kabar mundurnya capres nomor 1 membuat keadaan seperti gamang. Ibu Yun terpaksa melarang kami keluar. Tunggu nanti saja sore. Jadilah kami ‘ngetem’ di dalam rumah. Sinyal HP agak susah di sana. Provider 3 agaknya kurang jago. Ya sudahlah, tidak masalah. Aku membaca buku, “I kissed dating goodbye”, diselingi nonton berita di TV, menantikan pengumuman KPU, yang katanya akan diumumkan pukul 4 sore, atau 5 sore waktu Makassar. Selepas kemenangan capres nomor dua, tanpa ucapan selamat dari capres nomor 1 yang masih tidak terima, bahkan “mundur”, yang entah apa maksudnya, kami pun berangkat ke sebuah rumah makan. New Dinar, namanya. Karena hanya berdua, kami memutuskan memesan lauk tanpa nasi. Cumi goreng tepung, ikan bakar manis, dan udang. Kenyang! Kami abadikan momen di sini dengan judul foto “Merayakan Kemenangan Jokowi!”

@New Dinar

Sambal aneka macam utk menu yang kami pesan

Rabu, 23 Juli 2014

Hari ini kami mengunjungi Fort Rotterdam. Di dalamnya terdapat Museum La Galigo. Banyak foto kami abadikan. Tiket masuk sebetulnya tidak perlu bayar. Tapi petugas di pintu depan meminta “serelanya”. Dan kami memberikan sepuluh ribu.

Fort Rotterdam RES

Pelataran luar sebelum pintu masuk

Pemandangan dari atas tembok benteng Rotterdam

Pintu Raksasa @Fort Rotterdam

Jendela Raksasa @Fort Rotterdam

Memandang keindahan Fort Rotterdam

Dulu gedung ini berfungsi sebagai gereja

Masuk museum Rp 5.000 per orang. Yun sangat teliti dan terlihat ‘happy’ di dalam museum. Aku baru tahu dia sangat mencintai sejarah budayanya. Tapi aku tidak begitu. Cukup cepat aku melewati miniature/benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya. Dan mungkin karena kelaparan, aku merasa tidak enak badan. Mual. Dan tiba-tiba kangen Mama… aku kepingin pulang… hadeh… homesick menyerang.

Bagian dalam museum

Tiket masuk

Setelah puas di sini, kami makan siang Coto Ranggong. Rumah makannya kecil. Dan panas. Kami memilih makan di dekat jendela.

“Aduh! Perih banget mata gua!” kataku.

Asap dari dua tungku besar di depan menyerbu ke dalam ruangan. Luar biasa sensasinya. Perih sangat mata ini dibuatnya… Aku jadi kurang menikmati. Hanya yang unik kuah daging dimakan dengan lontong berukuran kecil2. Harganya cukup mahal, tapi dagingnya banyak. Sebetulnya lumayan, hanya asapnya itu… sangat tidak nyaman. Foto harus beberapa kali diulang, karena tidak kuat menahan asap yang memenuhi mata.

 

Kami lalu mengunjungi daerah laut yang di hari pertama hanya kami lewati. Mampir sampai masuk jauh ke dalam. Ada sekolah DH di sana, lalu nyaris mampir ke pantai berpasir hitam. Tapi ketika mobil hendak masuk ke area pantai, tiba-tiba seorang anak perempuan berlari dan bergegas menghalangi jalanan dengan bambu. Fine! Kami pun berputar arah. Penduduk asli setempat memang terkenal tidak rajin, jadi mereka mencari uang dengan cara-cara seperti itu (Baca: menghalalkan segala cara, asal tidak perlu keluar tenaga). Yaitu setiap kendaraan bermotor tidak akan bisa lewat kecuali memberikan sejumlah uang sebagai tanda masuk. Kami pun berputar arah. No problem. Bisa melihat pasir hitam di pantai lain, begitu kata Yun.

Setelah ini, kami mengunjungi Transstudio mall. Di dalamnya banyak barang bermerk yang harganya mahal. Ini mall paling besar dan termahal, kata Yun. Kami hanya sebentar, mencari buku, tapi tidak jadi membeli. Malahan aku yang membeli ring untuk menjilid buku tulis, sebuah kerajinan tangan yang kugemari.

“Sebentar aja ya Na, soalnya takut nanti udah gelap malah nggak bisa foto di Pantai Losari,” kata Yun memberikan komando sementara kami menapakkan kaki di pintu masuk mall.

Catatan: Pantai ini mendapat perhatian khusus sejak Gubernur yang baru, kata Yun. Jadi tempat wisata yang cukup menarik di tengah kota Makassar yang mulai kehilangan warisan budayanya. Termasuk Fort Rotterdam juga dirawat dengan sangat baik oleh pemerintah setempat yang baru.

Dan benar saja, sesampainya di pantai, kami harus berlomba dengan waktu dimana sang surya harus tenggelam. Pengunjung juga sudah mulai berjejal. Jadi kurang bagus hasil fotonya. Tapi tidak mengapa.

“Nanti foto lagi deh!” kata Yun.

@Pantai Losari

Sunset @Pantai Losari

Sebelum pulang kami membeli Pisang Epe, dengan toping keju+coklat dan siraman kuah gula merah rasa durian. Dua macam. Dibungkus. Makan di rumah lebih nikmat, karena bebas gangguan para pengamen.

Pisang Epe topping keju+coklat dan kuah gula merah rasa durian

Kamis, 24 Juli 2014

Pagi hari kami diajak ke Pantai Bayang oleh kedua orangtua Yun. Ah! Akhirnya aku tahu seperti apa pantai yang berpasir hitam. Eksotik!

Bilik penginapan di Pantai Bayang

Kagum sama Pasir Hitam-nya Pantai Bayang

Pasir hitam-nya menempel di jari kakiku…

Kemudian kembali ke rumah untuk mandi-mandi, lalu keluar lagi bersama Yun.

Menu hari ini adalah nasgor merah daging babi. Merah karena saos tomat. Rasanya biasa saja menurutku, mungkin karena porsinya terlalu besar. Melihatnya saja begah. Ditambah dengan gusi kanan belakang yang agak bengkak, aku mengunyah daging babi yang diiris kecil2 bersamaan dengan butiran nasi goreng merahnya dengan agak kesusahan. Pesan satu kami makan 2/3. 1/3-nya dibungkus. Ketika kuunggah foto nasgor merah ini ke akun medsosku, beberapa teman mengatakan, “Di Jakarta juga ada!” Hmm… baiklah😀

Nasi Goreng Merah Babi (selalu ada jeruk)

Kami lalu jalan-jalan di mall Panakukkang. Dan membeli kacamata hitam “Polarized”. Yun satu. Aku satu. Lumayan, untuk menangkal silaunya matahari. 

Kacamata Hitam

Kacamata baru🙂

Jumat, 25 Juli 2014

Pagi sekitar pukul 6 kami sudah dibangunkan untuk meluncur ke Bantimurung. Setibanya di sana, aku sangat terkejut. Aku pernah bermimpi menyeberangi sungai dengan menginjak bebatuan di tengah sungai. Pemandangan yang sangat mirip dalam mimpi itu kulihat ketika berjalan memasuki kawasan Taman Nasional Bantimurung dan melewati sungai besar di dalamnya.

Sudah 2 mimpiku terjadi. Pertama ketika aku harus menyeret koper memasuki sebuah gedung sekolah, dimana pada kenyataannya aku pernah bekerja di sebuah sekolah dan memang harus membawa koper karena pindah tempat tinggal selama hari kerja. Dan kedua mimpiku yang ini. Ingin rasanya menyeberangi bebatuan itu. Tapi tidak sempat… Tidak apa, yang penting aku tahu mimpiku jadi kenyataan, bahwa memang ada tempat seperti itu.

Gerbang masuk Bantimurung

Air terjun pendek di ujung sungai sangat menggoda. Airnya dingin. Mantap. Sayang aku tidak bisa ‘nyemplung’ karena siklus bulanan. Jadi hanya sempat menaiki tangga dan melihat keindahan alam dari gunung batu di sana. Itu juga tidak sampai ujung, karena dilarang oleh Ibu Yun. Katanya di ujung ada gua, dengan stalaktit dan stalakmit seperti yang diceritakan dalam gambar sebelum menaiki tangga tadi. Dan kabarnya banyak kupu-kupu. Tapi itu dulu. Sekarang sudah jarang. Sayang aku tidak ke sana…

20140725_132048

Tangga menuju gua

Air terjun Bantimurung

Bantimurung resize

Happy-happy with the family

Foto dulu dalam perjalanan keluar

 

Sabtu, 26 Juli 2014

Kami membeli oleh-oleh, lalu makan mi babi. Maknyus.

Mi babi maknyus!

Lalu ke Pantai Losari, mengulang foto-foto disana, dan…lagi-lagi meluncur ke mall Transstudio. Membeli celana jeans termahal yang pernah kubeli. Yun juga membeli sepatu termahal yang pernah dia beli…. Ckckck….

Pantai Losari (again)

Selesai dari mall, kami pun menyantap Konro Bakar Karebosi. Nikmat. Tapi sayang kakiku jadi “bertato” karena gigitan nyamuk di rumah makan ini…

Konro bakar Karebosi

IMG-20140728-WA0002

Bekas gigitan nyamuk setelah dari Konro Karebosi

 

Minggu, 27 Juli 2014

Setelah menunggu Yun dan orangtuanya kembali dari gereja pukul 7 pagi, aku diajak Yun membeli bakso babi. Besok aku sudah harus pulang ke Jakarta, dan pastinya tidak akan sempat. Bukan karena jadwal pesawat, tapi karena libur hari raya. Jalanan sangat macet, padahal kami hanya membeli bakso dan dibungkus. Tidak jadi makan di tempat karena terlalu ramai pengunjungnya.

Bakso Babi

Sore hari, kami ke gereja lagi.

IMG_20140727_184013

Senin, 28 Juli 2014

Hari ini aku ke kebun. Ikut Yun dan Eci mengambil sayur singkong.

20140728_090410

Berteduh di kebun sayur

Sesampainya di rumah, sayur ditumbuk, lalu dimasak dengan daging babi. Nikmat. Tapi aku tidak memakan babinya. Tidak terlalu suka. Hanya sayurnya saja.

Sayur singkong tumbuk+babi

Sayur kulit ‘kluwek’ (buah utk membuat rawon)

Lalu Yun mengajakku ke Makam Raja-raja Tallo. Tapi sayang tutup. Jadi hanya bisa mengambil foto melalui jeruji gerbang.

Di depan Kompleks Makam Raja2 Tallo

Foto pelataran dalam lewat jeruji gerbang

Pohon eksotik di pelataran Makam

Kemudian sore hari pukul 4, kami berangkat ke bandara. Ayah Yun yang berdoa. Mengingatkanku kepada Papa yang memang selalu berdoa sebelum ada yang berangkat ke luar kota. Such a nice family. Thank God I have them.

Sesampainya di bandara, aku terburu-buru masuk. Setelah mengucapkan perpisahan dan berterima kasih, aku memeluk ibu Yun, Yun dan bersalaman dengan ayahnya. Kuseret koperku memasuki ruang dalam.

Airport tax lebih mahal daripada Bandara Soetta Rp 50.000,-, karena ternyata memang terminal keberangkatan di sini jauh lebih bagus.

“Mungkin karena fasilitasnya beda. Di Juanda malah lebih mahal lagi. Tujuh puluh lima ribu!” kata petugas counter pesawat yang akan kunaiki.

Setelah check in dan membayar airport tax di situ, aku bergegas masuk ke ruang tunggu. Tapi harus mengisi perut dulu dengan memakan bakso Lapangan Tembak Senayan. Dan…. Aku lupa membayarnya! Haduh! Aku ingat ketika sudah dalam pesawat.

Kursi begitu penuh dan aku kebagian di tengah. Tapi thank God, bapak bersama anak kecil yang dipangkunya di sebelah jendela permisi ke kamar kecil, lalu pindah tempat duduk yang kosong 2 baris di depan. Lega. Nyaman. Aku bisa beristirahat dengan baik.

Setibanya, aku dijemput Papa dan adikku. Lalu makan malam, berbagi oleh-oleh lalu pulang ke rumah. Home sweet home…. Kangenku akan Mama terobati.. Thank God for everything!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

2 Responses to “HOME STAY” TRIP TO MAKASSAR

  1. wiyun philipus tangkin says:

    Diary yang sangat hidup, bahasanya sangat mendeskripsikan ceritanya dan tanpa polesan kata-kata yang dibuat-buat…
    Really like the writer… who is she???

    You are a good writer…

    • Inspirations says:

      Thank you atas pujiannya Wiyun Philipus Tangkin. Dan thank you sudah mendapatkan priviledge menginap di rumah dan diajak berputar-putar kota Makassar setiap hari🙂 God bless you and your family! Kalau ke sana lagi, kita ke Toraja dan pantai2 yg belum sempat kita jelajahi yah!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s