BELAJAR DARI ROBIN WILLIAMS

In MemoriamPagi itu aku mendapatkan tawaran upgrade beberapa aplikasi di HP. Salah satunya adalah Yahoo Mail. Setelah meng-klik “upgrade”, dan menunggu prosesnya sampai selesai, entah kenapa aku iseng melihat halaman aplikasi itu. Dan muncullah 3 “button” yang ketika aku klik salah satunya … terpampang foto aktor Robin Williams, dengan judul berita: meninggal bunuh diri…

Cukup sedih dan kaget membacanya. Kasihan. Dia pernah teradiksi heroin, tapi kemudian berhenti setelah seorang temannya tewas akibat overdosis. Dia juga pernah teradiksi alkohol, dan sempat direhab untuk bisa pulih dari kecanduannya akan minuman ini. Hmm… menyedihkan sekali hidupnya. Aktor jenius yang aktingnya sangat natural dalam berbagai peran di cerita yang berbeda-beda, membuatku mengaguminya. Dia juga terlihat periang karena cukup sering membintangi film-film bertema humor. Salah satunya adalah serial TV “Mork and Mindy”, dan “Mrs Doubtfire”. I did like him. Tapi tidak kusangka dia hidup dalam keseharian yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk gantung diri. So sad.

Lalu seseorang mengirimiku kalimat bijak dari sang aktor yang artinya cukup “luas, lebar dan dalam” seperti yang kujadikan “foto utama” di tulisanku kali ini menggantikan foto cover bukuku. Bunyinya:

I used to think that the worst thing in life was to end up all alone. It’s not. The worst thing in life is to end up with people who make you feel all alone.- Robin Williams

Terjemahan bebasku:

Dulu aku pikir dalam hidup ini hal paling buruk adalah ketika kita sendirian. Ternyata bukan. Hal terburuk dalam hidup adalah ketika kita hidup dengan orang-orang yang membuat kita merasa sendirian.

Dan ulasan bebasku adalah:

Mungkin Robin sedang mengajar dirinya sendiri untuk tidak sampai salah bergaul. Karena percuma berteman seasyik apapun dengan sesama pecandu entahkah itu drugs addict, alcoholic, atau pecandu lainnya, toh pada akhirnya pertemanan ini hanya akan membuatnya merasa kesepian/sendirian. Jadi hati-hatilah dalam memilih teman kehidupan.

Atau mungkin juga Robin sedang mengajar orang lain untuk bisa menjadi teman yang sejati. Bukan yang suka menghakimi dan menjauh ketika dirinya jatuh lagi dan lagi dalam kecanduan alkohol, masuk lagi dan lagi dalam pusat rehabilitasi, padahal dia merasa masih mampu dan brilian dalam berkarya. Mungkin ada tangisan dalam dirinya untuk diterima dan dimengerti apa adanya. Atau mungkin masih ingin dihargai sebagai aktor jenius walaupun sudah uzur. Atau alasan lain. Dia cuma butuh teman sejati. Yang tetap ada di sisinya meskipun sekarang dia sudah tidak “laku” lagi di industri film Holywood. Mungkin.

Tapi ini yang ingin kutambahkan, yaitu bahwa at the end of our life, there will only be ourselves and God.

Tidak ada manusia sempurna, SEMUA bisa mengecewakan. Jadi pada akhirnya nanti, urusannya ya cuma antara diri sendiri dan Tuhan Sang Pencipta. Jangan terlalu mengandalkan manusia, jangan terlalu berharap, jangan terlalu muluk, jangan terlalu ingin semua berjalan sesuai yang kita harapkan, karena pada akhirnya akan kembali kepada diri kita sendiri. Ya. SENDIRI. Dengan Tuhan.

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s