Holyland, The Promised Land…

Cover FinalKetika pesawat mendarat, aku seperti bermimpi. Dan memoriku pun terlempar ke beberapa tahun lalu. Waktu itu seorang pembicara di gereja mengundang setiap jemaat yang hadir untuk berdiri bila ingin didoakan agar dapat pergi ke Tanah Perjanjian. Salah satunya adalah aku. Hmm… dream comes true rupanya. Tuhan menjawab doa. Tuhan menggenapi mimpi.

Hari itu, bersama rombongan, aku terburu-buru menaiki bis yang tersedia di depan pintu keluar bandara sebuah kota di Timur Tengah. Wajahku diterpa dinginnya udara bulan Februari. Syal merah pun kukenakan untuk menutupi bagian kepala, hidung serta mulut. Dan lalu kubuka ketika telah duduk di dalam bis. Lelah sudah pasti. Tapi masih seperti bermimpi. Aneh rasanya.

Bis pun meluncur ke sebuah daerah dimana terdapat Pohon Ara yang dipercaya pernah dinaiki oleh Zakeus (bukan Lazarus) si pemungut cukai, ketika ia sangat ingin melihat sosok Yesus. Ukuran tubuh yang pendek tidak membuatnya menyerah. Keingintahuannya membuat ia memanjat sebuah pohon ara, dan membuahkan hasil.

“Turunlah. Aku ingin menumpang di rumahmu,” kata Yesus melihat Zakeus yang berada di atas pohon.

Dan di saat yang sama, dia sudah tidak lagi perlu memandang dari jauh, sebab Yesus bahkan bersedia untuk makan di rumahnya! Dia yang merasa sangat tidak pantas menerima Yesus karena dosanya yang besar, kejahatannya memeras rakyat Israel dengan beban cukai yang ia minta, justru pada akhirnya bisa makan bersama Yesus, DI DALAM RUMAHNYA sendiri! Kisah yang luar biasa… ia pun bertobat dan berjanji mengembalikan apa yang pernah ia ambil secara paksa sebanyak 4 kali lipat.

Setelah itu kami pergi ke sebuah daerah yang tidak kalah dingin udaranya. Aku hanya keluar sebentar memandangi lembah yang begitu luas sambil menahan angin kencang yang menerpa. Hanya beberapa detik, aku kembali masuk ke dalam bis. Hasil foto ternyata sangat buram. Ya sudahlah. Waktu kan tidak mungkin diulang lagi. Hanya saja, bukan tidak mungkin kalau aku kembali berkunjung ke tempat yang sama, satu saat nanti…

Al Aqsa2 Ada beberapa hal yang ingin kukenang. Daerahnya unik. Aku tidak pernah menyangka akan melihat dengan mata kepala sendiri tempat-tempat bersejarah yang selama ini hanya kubaca melalui Alkitab. Sepanjang perjalanan yang kulihat hanyalah rumah dengan tembok-tembok batu cadas. Bukan bentuk rumah yang normal, pikirku. Karena selama ini rumah di negaraku seperti rumah kebanyakan. Bertembok putih, berbentuk mirip, selalu dengan atap, atau lantai paling atas yang terbuka. Tapi ini? Bagaikan membaca dongeng Aladin. Aku terheran-heran, bagaimana mungkin manusia yang sama sepertiku bisa tinggal di tempat seperti itu. Tapi itulah Israel. Unik dan sangat bersejarah. Meninggalkan kenangan yang tidak bisa kulupakan.

Salah satunya adalah ketika aku berada di ruang terbuka dekat Danau Galilea…

Bersama rombongan, kami duduk di sebuah tempat seperti mini amphitheatre. Aku sengaja duduk paling atas. Sampai tiba waktu berdoa, tiba-tiba aku melihat sebuah gambar. Ikan dalam jumlah besar terperangkap di dalam sebuah jaring besar dan kuat. Aku melihat tangan-tangan yang memegang jaring itu. Kemudian…. Sepasang tangan melepaskan genggamannya dari jejaring yang penuh ikan. Itulah Petrus. Ia berlari menghampiri Yesus. Buatnya, ikan berlimpah tidak lagi berarti dibandingkan Yesus. Air mataku keluar membasahi pipi. Visualisasi seperti itu membuatku terharu.

Tujuan hidupnya cuma Yesus, sementara banyak orang lain kehilangan akal sehat dan lupa kepada PEMBERI BERKAT, si Empunya Kehidupan, pada saat mereka terkesima dengan materi yang berlimpah. Buat Petrus, ikan yang banyak bisa dicari kalau hilang atau terlepas lagi ke dalam lautan. Tapi Yesus tidak. DIA jauh lebih berarti…

Dan satu lagi. Ketika tiba waktunya untuk kembali terbang ke Tanah Air esok hari, aku begitu gembira. Semua barang juga sudah kurapikan ke dalam koper. Hari terakhir perjalanan kemanapun, memang selalu menjadi hari yang paling menyenangkan buatku. Aroma “home sweet home” sangat kental tercium di udara. Sampai keesokan pagi….

Aku yang dibangunkan oleh bunyi alarm HP-ku lalu mengambil posisi duduk dan hendak berdoa. Tapi… tiba-tiba aku diserang rasa yang tidak nyaman. Kesedihan mulai menyusup dalam hati. Mendadak aku sedih, karena harus meninggalkan Tanah Perjanjian. Kota terakhir yang kami kunjungi waktu itu adalah Betlehem, kota yang sama dimana Yesus lahir. Entahlah. Belum pernah aku seperti itu. Mungkin suatu saat aku akan kembali lagi…

Diawali dengan doa, lalu aku lupakan saja sebab berpikir tidak akan pernah terjadi. Sampai akhirnya aku benar-benar menginjak Tanah yang Dijanjikan itu. Menyusuri tempat-tempat peziarahan yang sudah banyak direnovasi dan dibangun gereja-gereja untuk mengadakan Misa bagi Umat Katolik. Mendengarkan penjelasan dari Tour Guide local yang menceritakan beberapa kontroversial atau perbedaan persepsi antara mana tempat bersejarah yang asli dalam berbagai versi. Sempat membuatku berpikir bahwa perjalanan ke sana ternyata biasa saja. Aku yang berharap melihat ke-otentik-an situs bersejarah tepat seperti yang kubaca selama ini melalui Alkitab, tidak kesampaian.

Tapi di luar semua itu, aku tetap mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Yang hanya aku dan Tuhan yang dapat mengerti seperti apa sensasi momen demi momen yang kulewati selama di sana.

MemoryCardBUKOS 090

Kebun Pisang

Holyland. The Promised Land. Israel. Negara yang kontroversial dengan sepak terjangnya. Kebijakan-kebijakan pemerintahnya, permusuhan yang ia alami dari negara-negara sekelilingnya, kepintaran para tenaga ahlinya sehingga bisa terus bertahan dari serangan musuh di sekeliling, kekuatan ekonominya walaupun menjadi bangsa yang tertindas, kemajuan teknologinya yang dapat menghijaukan padang pasir, keunikan budayanya yang masih saja terjaga aman dari serangan budaya Barat dengan modernisasi dan berbagai keterbukaan dalam setiap aspek, entahkah itu keterbukaan dalam kehidupan seksual, dalam berpakaian, dalam berorasi, menyampaikan lirik nyanyian, dll, tidak satu pun dapat mengguncang kegigihan bangsa ini dalam beribadah kepada Tuhan dengan cara mereka.

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Bisa menjadi saksi sejarah dari apa yang pernah terjadi secara nyata ribuan tahun lalu… Thank God for being one of the pilgrims dari seluruh mancanegara!

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s