KASIH ORANGTUA SEPANJANG JAMAN. KASIH ANAK?

Cover FinalKata orang, kasih orangtua sepanjang jaman. Kalau kasih anak? Tidak begitu. Hmm…

Di usia ibu yang ke-70, ia terkena gagal jantung dan kami nyaris kehilangan dia. Malam itu aku begitu putus asa dan seolah ingin mati saja. Bagaimana tidak. Suasana rumah terasa senyap. Beberapa tahun belakangan memang ayah selalu tidur lebih awal, sekitar pukul 8 malam. Tapi ibu bisa sampai jam 11. Jadi aku masih bisa melihat berkas cahaya lampu ruang keluarga (sekaligus ruang tamu) dari balik jendela kamarku yang berkawat nyamuk. Ibu memang sulit tidur kala itu. Entahlah. Dia lebih suka menghabiskan hari dengan menonton TV yang sebelumnya “dikuasai” ayah. Menonton sinetron. Kegemarannya ini pula yang sering membuat ayah memarahi ibu. Tapi ibuku tak bergeming.

“Daripada nggak bisa tidur,” jawabnya beralasan mengapa sering tidur malam.

Dan ketika ibu harus menginap di ruang ICCU beberapa minggu, ruang tamu selalu gelap lebih awal. Suasananya membuat hati ini tersayat-sayat.

“Hus! Apa sih kamu ini!” balas adikku yang paling kecil ketika aku berkata rasanya pingin mati saja kalau tidak ada ibu.

Berulang kali aku menangis melihat ibuku terbaring sangat lemah di ruang yang menyebalkan itu. Ruang horor.  Ada yang berteriak kesakitan. Ada yang selalu mengeluarkan lendir dan terdengar menjijikkan dan itu tadi. Mengerikan. Ibuku stres selama berada di ICCU. Bukan malah cepat sembuh. Ia ngotot ingin pindah kamar, yang akhirnya disetujui dokter setelah melakukan foto rontgen dan memastikan paru-paru ibu yang penuh air telah menjadi kering. Puji syukur kepada Tuhan, semua terlewati dengan baik. Masa-masa menyesakkan itu.

Namun setelah ibuku sudah baik-baik saja, ayahku terkena “tiroid”.

“Lho, kok lehermu mbendol?” tanya ibuku ke ayah. Ada benjolan yang cukup jelas terlihat di bagian leher sisi kiri. Kakakku yang sekarang jadi kakak pertama mulai melancarkan aksinya mencari dokter yang tepat. Ayah pun didiagnosa terkena kista pada kelenjar tiroid. Harus disedot. Itu kata dokter. Dan setelahnya ayah sempat melewati “penyedotan” sebanyak 2 kali. Tapi rupanya kistanya bandel. Muncul lagi dan lagi.

“Ya nggak tahu deh!” kata kakak ketika kulapori kok benjolannya ada lagi.
“Udah biarin aja!” lanjutnya. Ia agak kesal, karena sudah tidak tahu mau bagaimana lagi.

Tapi entah mengapa, tiba-tiba ayah kembali memeriksakan diri ke dokter di Rumah Sakit lain. Ternyata kali ini dokter mengatakan harus operasi pengangkatan kista. Karena terjadi pengerasan. Jadi harus diangkat, atau akan lebih berbahaya. Itu hari Senin. Ayah tidak terlalu ingin dioperasi. Tapi, pada hari Rabu, ayah kembali memeriksakan diri diantar kakak ke dokter lain. Anjurannya sama. Operasi. Karena terjadi pengerasan, sebelum menjadi tumor ganas lebih baik diangkat. Awalnya ayah tidak ingin operasi dalam waktu dekat.

“Ngapain ditunda-tunda lagi?!” kata kakakku ke ayah.

Jadilah, Sabtu pagi ayah masuk Rumah Sakit untuk dioperasi pada jam 2 siang. Sepulang kantor, aku meluncur ke RS. Sesampainya, hanya ada adikku, David.

“Papa tekanan darahnya tinggi, tapi tadi sudah dikasih obat menurunkan tensi,” kata adikku.

Tidak lama, dua adik ayah datang.

“Udah makan belum?” tanya ayah kepadaku.
“Belum!” jawabku.
“Ya sudah sana makan berdua!” katanya setelah melihat adik-adiknya datang.

Setelah hampir 1 jam kami makan (akibat terlalu lama menunggu makanannya disajikan. Ternyata sempat ada kesalahan. Menu yang kami pesan diantarkan ke meja orang lain. Hhh….), tergesa aku dan adikku kembali ke kamar ayah. Passsss saja. Seorang suster pria sudah membawa kursi roda untuk menjemput ayah dan mengantarnya ke ruang bedah di lantai 2.

Jadilah kami kemudian bersama ke lantai 2 dan menemani ayah sampai dibawa masuk ke ruang operasi.

“Berapa lama Pak operasinya?” tanyaku ke suster itu. Saya tidak memanggilnya ‘sus’, karena dia pria….
“2 jam!” jawabnya.

Jadi aku menunggu dan mengira-ira, sepertinya pukul 4 sudah bisa bertemu kembali dengan ayah. Tapi ternyata ayah keluar dari ruang bedah sekitar pukul 7 malam!

Operasi berjalan lancar. Puji syukur kepada Tuhan. Sebelumnya, aku yang menunggui di luar kamar operasi bersama kakak, was-was.

“Kok belum keluar-keluar juga? Lama banget…” kata kakakku.
“Mungkin tunggu sampai sadar. Seperti Mama kan waktu itu juga sadarnya jam 7 malam. Tapi kan Mama langsung dibawa ke ruang ICCU, jadi bisa lebih cepat kita jenguk. Nah, ini kan dibawa ke kamar biasa, jadi mungkin tunggu sampai benar-benar sadar,” jawabku mencoba memakai logika.

Ya, ibuku waktu itu operasi bypass jantung di RS yang sama, hampir 1 tahun lalu. Dan sekarang giliran ayah. Jadi kami sudah cukup familiar dengan “lantai dua”. Yaitu lantai dimana ruang bedah dan ICCU-ICU berada.

Sekitar pukul 5.30, terdengar suara panggilan…

“Keluarga Bapak Liem….!” kata suster dari “kompleks ruang bedah”.

Bergegas aku dan kakak menghampiri dan masuk ke dalam. Ternyata ruang kecil seperti ruang praktek dokter, hanya saja kosong. Cuma ada meja dan 2 kursi yang saling berhadapan. Di dalam, kami terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan dokter.

“Operasinya lancar. Ini tumornya. Dll. Dll….Nanti kita bawa ke lab untuk diperiksa,” kata dokter. Aku yang tidak pernah mengantar ayah untuk periksa ke dokter kurang mengerti apa maksudnya.
“Besar banget ya Dok!” kataku, masih dalam suasana ‘shock’ melihat sebongkah tumor seukuran telur bebek berwarna merah campur warna daging. Bulat utuh!
“Kalau mau difoto, boleh!” kata dokter dan susternya.

IMG_20141018_160816Maksud hati memang ingin mengabadikan. Tapi jadi bingung sendiri. Karena itu tadi. Shock! Setelah mengambil gambar beberapa kali, perbincangan pun selesai. Hanya beberapa menit. Tidak lama. Dokter juga seperti buru-buru masuk kembali. Mungkin masih ada pasien berikutnya di dalam.

“Itu jaringannya nanti dicek lagi. Biopsi namanya. Supaya tahu, tumornya ganas atau enggak,” jelas kakakku.
“Oooohh!” kataku dalam hati. Jadi masih belum selesai nih prosesnya ayah? Aku pun meminta lagi teman-teman mendoakan agar hasil lab baik-baik saja. Hmm… itulah gunanya sahabat. Jadi partner doa ketika aku sudah tidak tahu lagi ingin bercerita apa. Sahabat-sahabatku langsung berdoa. Puji syukur kepada Tuhan yang memberikanku para sahabat seperti mereka.

Selepas operasi, ayah agak rewel dan manja. Ingin dimanjakan dengan pelayanan dan makanan yang lezat. Sabtu operasi, Minggu istirahat di RS, Senin malam kami berhasil membawanya pulang. Dokter bedah yang sama, belum pernah melakukan visitasi ke ayah semenjak operasi. Biar sajalah. Yang penting ayah sudah dalam tahap pemulihan, dan dibolehkan pulang. Rupanya ia dokter yang berpraktek di RS lain. Di sini, dia hanya “cabutan”, dan tidak punya tim yang bisa menggantikan.

“Papa saya minta pulang Dok, di sini nggak bisa tidur,” kata kakakku melalui telepon. Ya, pembicaraan “minta pulang” hanya dilakukan jarak jauh. Dokter tidak bisa datang baik hari Minggu maupun Senin ini, karena katanya harus ‘standby’ di RS tempat ia praktek. Siaga 1. Berjaga-jaga untuk acara pelantikan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla. Aku tidak tahu, apa hubungannya sampai tidak bisa visitasi ke pasien-pasiennya gara-gara “pelantikan”.

“Dokter bedah onkologi cuma satu di sini,” jelas suster. Itu sebabnya, pasca operasi, ayah sama sekali tidak dikunjungi oleh dokter bedah onkologi lain. Tidak seperti ibu. Setelah operasi jantung, setiap hari ada saja dokter yang visitasi untuk sekedar mengecek kondisi ibu. Mereka 1 tim.

Hari Jumat-nya ayah kontrol dengan dokter lain. Jahitan dibuka, selang darah yang tertancap di leher juga sudah dicabut. Perban leher sudah diganti baru. Ayah sudah lebih bebas bergerak. Tapi masih dalam tahap pemulihan. Ada saja keinginannya. Tidak mau makan makanan rumah. Jadilah hari Sabtu keesokannya aku sibuk. Pagi-pagi membeli makanan. Siomay, pangsit rebus dan bakmi untuknya. Tapi ayah hanya memakan siomaynya saja. Sore, aku juga keluar membelikannya beef teriyaki, baso tahu, dan shrimp ball. Ayah happy. Ia makan banyak dengan bubur hasil olahan ‘chef’ rumah, Mbak Karti.

Ayah dan ibuku memang orang sederhana. Cukup mudah menyenangkan ayah. Belikan saja makanan yang ia suka. Harganya pun tidak perlu terlalu mahal. Yang penting dia suka.

Dalam kondisi keuangan di tabungan yang mulai menipis, sementara masih harus membayar biaya operasi ayah, aku pun berpikir…

Dulu waktu masih kecil, orangtuaku juga berusaha keras memenuhi semua kebutuhan, bahkan keinginan anak-anaknya. At all costs! Mereka juga tidak pernah mengeluh ketika dimintai perhatian oleh anak-anaknya, walaupun itu berarti mengorbankan atau mengurangi waktu mereka yang hendak digunakan menyenangkan diri sendiri. Uang, tenaga, perhatian, waktu, semua tercurah untuk anak. Itulah orangtua. Kasihnya kepada anak sepanjang jaman.

“Kamu ini sudah memenuhi syarat jadi anak,” kata ayah. Aku terdiam. Sepertinya masih kurang. Aku tidak bisa membalas orangtuaku. Mungkin ini saat yang tepat berperan sebagai “orangtua”, sewaktu orangtuaku mulai “berperan” seperti anak-anak…. Kiranya kasihku sebagai anak bisa diukur mendekati “sepanjang jaman”…. Walaupun aku hanya bisa membalas sebagian keciiilll dari apa yang sudah orangtuaku lakukan.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life, Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s