Main Hakim Sendiri

Cover FinalHari itu aku membuka akun FB, dan melihat foto seseorang yang sekarang jadi pembicara di gereja. Pertama kali aku mendengar kotbahnya, ia bercerita tentang bagaimana kehidupannya dulu yang free-sex, dll. Setelah bertobat, dia meninggalkan semua kebiasaan lamanya itu. Dan dia sungguh-sungguh ikut Tuhan bahkan dipanggil untuk memberikan kesaksian di banyak gereja. Sekarang, sudah banyak yang mengenalnya sebagai “Pendeta”. Semuanya tentu baik.

Meninggalkan dosa, itulah kasih karunia Tuhan. Sebab dengan kekuatan sendiri, pasti manusia tidak akan sanggup. Kenapa? Sebab yang namanya dosa itu sebuah kenikmatan yang “mengikat” pembuatnya. Kalau bukan kenikmatan, tidak mungkin manusia bisa terus dan terus melakukannya. Walaupun konsekuensi dan dampaknya yang pasti buruk bisa berlangsung seumur hidup.

Tapi, makin ke sini (hari-hari belakangan), si pembicara jadi sering berkata-kata yang sangat keras tentang teman-teman atau orang yang berkonseling kepadanya. Ia menceritakan di mimbar, bagaimana si A terikat dengan dosa dan begitu keras kepala ketika diberitahu. Kesan yang kutangkap… “Bukankah ia dulu juga pendosa? Bahkan mungkin lebih buruk. Tapi… mengapa sekarang dia berkata seolah temannya jauh lebih buruk? Bukankah ia bertobat juga karena Tuhan dan bukan kekuatannya sendiri? Tapi mengapa ia seolah menceritakan betapa bodohnya si teman/si konseli karena tidak mau meninggalkan dosanya?

Di Alkitab pernah tertulis, kira-kira begini: siapa yang mengangkatmu jadi hakim atas sesamamu? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Sebab… bukan sebuah pertanyaan yang sebenarnya. Melainkan lebih ke sebuah “sindiran”. Karena manusia ini memang sulit untuk tidak menghakimi sesamanya. (Termasuk aku…).

Malam itu aku menerima pesan dari seseorang. Ia bercerita temannya yang dulu “bandel” lalu bertobat. Sekarang jadi pembicara di gereja. Diundang sampai ke luar negeri. Isi pembicaraannya ketika bertemu lagi dengannya adalah seputar “penghakiman” terhadap sesamanya yang masih terikat dosa. Hmm… dejavu! Mungkin memang begitulah “nature”-nya manusia. Main hakim sendiri.

Padahal, ketika seseorang bertobat, teman-teman sepermainan yang masih “tertinggal”, masih belum bisa menghargai pertobatannya. “Dulu gua pernah tidur sama dia”. “Dulu dia suka nipu. Duit gua dia makan.” “Dulu dia begini, begitu….” Dll. Itu kenyataan. Dosa punya konsekuensi dan efek, salah satunya merusak nama baik. Jadi janganlah menambahnya dengan “main hakim sendiri” terhadap sesama, seolah diri ini paling suci, kudus, tak bercela, dan menganggap teman-teman lain “sampah”. Mereka hanya belum bertemu Tuhan dan mengenal kasih karuniaNya. Itu saja bedanya. Tidak ada yang perlu disombongkan. Tidak ada yang perlu dijadikan dasar untuk main hakim sendiri.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s