CCTV Masa Depan

Cover FinalSeandainya hidup ini bisa kuprediksi apa yang akan kejadian di depan, mungkin aku tidak sebahagia sekarang…

Hmm… Aku mencoba berkhayal ketika terjebak kemacetan ibukota sore ini.

Di Jakarta, pengendara mobil dipaksa untuk jadi opotunis. Artinya kalau ada jalur kosong, ya masuklah ke jalur itu. Jadi walaupun akan berbelok ke kanan, tapi jalur kiri lebih lancar, maka meng-kiri-lah. Dan lalu-lintas pun semakin semrawut.  Tapi itulah ibukota, dengan gaya mengemudi yang “tertib2” saja, maka aku akan tiba di rumah paling akhir. Karena seringkali, jalanan di depanku melebar, sehingga memang harus ikut aturan main seperti itu. Jadi kalau sudah lolos dari kemacetan, barulah aku mengarah ke kanan. Dan… terbukti berhasil, tanpa merugikan siapapun. Yang penting itu. Jangan jadi biang kemacetan.

Begitu juga dengan memasuki jalur TJ, yang lebih sering kosong melompong mubazir ketimbang terisi bis milik Pemprov DKI. Akibatnya? Jalanan yang semakin macet tidak tersolusi dengan adanya jalur Busway. But thank God, banyak polisi yang berjaga menjadi bijaksana. Kalau sudah “stuck”, maka mobil-mobil diperbolehkan melintas di jalur TJ. Karena justru dapat mengurangi kemacetan.

Tapi yang sering terjadi adalah, jarak pandang manusia ini kan terbatas. Jadi paling-paling cuma 10 meter yang terjauh. Kalau sudah macet, mungkin hanya 1-1,5 meter ke depan. Dan kalau sudah begini, ingin rasanya pindah jalur. Tapi begitu sudah berhasil pindah jalur, ternyata baru terlihat bahwa jalur baru justru beberapa meter di depan jauh lebih macet. Sementara jalur yang kutinggalkan hanya merayap 10 meter-an. Haduh… itu makanya aku berkhayal bisa memiliki semacam CCTV yang bisa membantu memperpanjang jarak pandangku 10-20 meter ke depan, supaya aku tidak perlu pindah jalur yang ternyata lebih macet!

Seandainya hidup bisa dipasangi CCTV untuk melihat masa depan….mungkin tidak akan menakutkan. Hati tidak perlu gelisah atau kuatir, karena aku sudah tahu apa yang akan menjadi hasil akhirnya.

Tapi…

Bukankah ketika takut, aku akan menjadi orang yang berharap lebih kepada Tuhan? Bekerja lebih giat untuk meminimalisir ketakutanku? Mencari teman yang pernah mengalami ketakutan sama/mirip, dan bisa saling berbagi?

Bukankah kegelisahan dan kekuatiranku juga berefek sama? Dan ketika aku sudah berhasil melewati masa-masa “ketakutan” itu, aku bisa bersyukur dan bergirang jauh lebih girang ketimbang ketika semuanya sudah aku ketahui apa yang akan terjadi?

Iya kalau yang akan terjadi lebih baik, kalau lebih buruk? Bukankah aku akan semakin stres, dan memperpendek usia karena diisi melulu oleh stres?

Dan akhirnya aku pun memilih untuk bersyukur karena keterbatasanku dalam melihat masa depan. Karena dengan begitu aku bisa berharap lebih lagi kepada TUHAN. Bisa berdoa kepada Sang Pencipta yang punya kuasa penuh atas kehidupan ciptaanNya. Aku juga belajar untuk berbagi kisah dengan manusia lain, sekaligus belajar menjalin hubungan lebih baik. Semua ini justru membuatku jauh lebih berbahagia…

Bukankah hidup itu SENI, yang menjadi indah ketika kekuatiran, kesedihan, kegembiraan serta kebahagiaan bercampur dan bergiliran kurasakan?

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Mazmur 42:6)

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s