Metromini

Cover FinalSore ini, dalam perjalanan pulang sama Papa, aku melihat angkutan umum berupa metromini warna orens. Sedang berputar balik karena memang di situlah akhir trayeknya. Memang agak aneh, karena dia harus berputar di lapangan parkir sebuah mini market. Dan karena jalanan tidak terlalu lebar, maka mobil-mobil yang lain pun harus berhenti untuk menunggu metromini itu selesai putar balik.

Dari nomornya, aku tahu bahwa bis itu menghubungkan daerah Grogol sampai Kebun Jeruk. Jadi harusnya aku bisa naik bis yang sama dulu, kalau mau ke rumah kerabatku. Tapi… 

Tiba-tiba aku terhenyak.

Dulu.. jaman itu aku belum punya kendaraan sendiri. Lalu, kalau sekarang aku harus naik bis itu ke rumah kerabat, dari rumah di Jakarta Utara sampai ke Jakarta Barat, apakah aku bersedia? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dalam hati. Agak lemas rasanya. Karena jawabannya kemungkinan besar adalah: tidak bersedia. Sudah terlalu nyaman punya kendaraan sendiri. Jadi mungkin aku tidak mau lagi bersusah payah naik turun kendaraan umum. 

Tapi… aku terhenyak lagi.

Aku teringat, kemarin kan Papaku naik kendaraan umum TJ untuk menempuh jarak yang sama pulang ke rumah. Ah! Tiba-tiba aku jadi terharu. Kalau Papaku saja bersedia hidup dalam level apapun, masakan aku tidak? 

Tapi memang sulit kenyataannya untuk orang bisa kembali ke kondisi yang sebelumnya, apabila kondisi yang sekarang jauh lebih nyaman. Jika memang itu yang terjadi, akankah hati ini tetap berkata Tuhan itu baik? 

Tidak tahu. Aku belum berani menjawabnya…

Gaya hidup dan kondisi nyaman memang seharusnya tetap membuat aku ingat bahwa kedua hal itu adalah patut diwaspadai. Mungkin ini juga yang menyebabkan banyak orang rela terjerat hutang, demi terlihat tetap kaya. Padahal uangnya sudah tidak ada lagi. Atau membuat banyak orang rela berbohong sana-sini agar dianggap “seseorang”, padahal sudah tidak lagi seperti dulu.

Idealnya, ketika keadaan hidup manusia itu semakin baik, biarlah keadaan itu berubah sedikit demi sedikit, dan melalui proses yang tidak gampang. Supaya ketika kondisi “kaya”, “terkenal”, “berada di puncak”, “emas”, tidak pernah akan sanggup merubah kondisi hati yang masih tetap sama. Tetap rendah hati. Tetap ingat bahwa semuanya milik Tuhan. Tetap ingat bahwa Tuhan itu baik, dalam segala kondisi… 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s