Polisi oh Polisi!

Hari itu tanggal 24 Januari 2015. Saya semobil dengan seorang teman sedang dalam perjalanan pulang ke rumah si teman. Di daerah Kelapa Gading, di tengah jalan yang memang cukup sempit, walaupun sebelah kanannya cukup luas karena merupakan area parkir, teman saya tiba-tiba berkata, “Ini satu jalur apa dua jalur ya?”

“Waduh! Nggak tahu deh. Jadi gimana nih?”

Selagi saya berkata begitu, terlihatlah mobil polisi dari arah depan. Saya yang masih bertanya-tanya dalam hati, apakah memang diperbolehkan melewati jalan tersebut, mobil polisi yang di depan melajukan jalannya. Lalu berhenti sedekat mungkin dengan mobil saya. Jadi mobil kami berhadapan. Saya terdiam. Karena bingung, apa maksudnya.

Tiba-tiba, mobil polisi yang mendekat dengan cepat lalu berhenti cukup dekat (sangat dekat) di depan mobil saya, kembali melajukan mobilnya! Tapi kali ini melaju untuk menghindar dan mengambil jalan di sebelah kanan saya. Wus-wus-wus! Begitu bunyi mesin mobil si polisi.

Spontan saya berkata, “Polisi kok gayanya kampungan begitu yah Lin?”

“Iya, kampungan banget ya?!” sahut teman saya.

Kejadian cepat tadi membuat saya “wondering” alias tidak habis pikir. Sampai saya pulang ke rumah dan sampai hari ini….

Tanggal 29 Januari 2015!

Seperti biasa, sore itu, 4 jalur yang seharusnya bisa digunakan untuk pengendara mengarah lurus ke depan, atau kanan-menunggu lampu lalu lintas merah-kuning-hijau berfungsi dengan baik, dan juga berbelok langsung ke arah kiri ke Pasar Baru Metro, penuh!

Karenanya, sudah biasa kalau yang akan lurus harus mengambil jalur paling kiri, karena 3 jalur selebihnya dipakai oleh pengendara yang akan berbelok ke kanan.

Dan yang mengesalkan hari ini adalah ini….

Ketika saya memacu kendaraan untuk mengarah ke depan, tiba-tiba lampu kuning menyala. Padahal hanya sisa 1 mobil di depan saya.

Saya berada di paling kiri. Jadi mau tidak mau saya membelokkan badan mobil ke kanan, yang kebetulan kosong untuk berhenti. Walaupun mobil memang tidak lurus posisinya, tapi pengendara yang akan berbelok ke kiri arah Pasar Baru masih bisa bebas berseliweran.

Ketika lampu hijau menyala, tentu saja saya melaju ke depan alias lurus. Tiba-tiba, seorang polisi dari arah kanan berjalan agak cepat dan lalu memalangkan tubuh besarnya di depan mobil mungil yang saya kendarai. Dengan wajah yang seram dia mungkin mencoba mengintimidasi saya yang sama sekali tidak merasa bersalah.

Saya sudah memikirkan argumentasi yang amat sangat gamblang. Betapa jalur untuk lurus memang sudah “dimakan” semua (3 jalur) oleh para pengendara yang akan mengarah ke kanan. Sementara jalur paling kiri hanya untuk mobil yang akan mengarah ke kiri. Lalu logika saya berkata kencang: “Jalur saya mana?! Kalau mau lurus terus, saya harus pakai jalur mana?”

Antara ingin mendengar jawaban si polisi, dan malas berargumentasi karena pasti tetap saja saya akan dipersalahkan dan ujung-ujungnya … you all know… maka selanjutnya adalah ini…

Kembali ke detik dimana polisi memalangkan tubuhnya di depan mobil saya.

Dengan pongahnya dia menunjuk-nunjukkan tongkat yang dipegang tangan kanannya. Menyuruh saya berhenti/minggir.

Sejujurnya saya amat sangat kesal. “Kebiasaan mencari-cari kesalahan orang” adalah persepsi yang langsung muncul di kepala. Dengan mata tidak gentar saya sengaja menatap mata si polisi (bahkan sampai sekarang saya masih ingat seperti apa wajahnya). Tapi dia juga tidak mau melepaskan saya. Jadi ketika saya membelokkan setir ke kiri, badannya ikut bergeser ke kiri. Saya makin kesal diperlakukan seperti itu padahal sama sekali tidak bersalah. Akhirnya… saya sengaja memutar setir ke kiri, supaya bisa melewati tubuhnya yang cukup besar dalam kecepatan yang saya tingkatkan.

Tanpa disangka, tiba-tiba terdengar bunyi sangat kencang! Rupanya polisi tadi melemparkan tongkatnya ke arah kaca mobil saya. Jeleduarrrr!! (kira-kira begitu bunyinya). Saya kaget luar biasa. Saya berpikir, kalau saya laki-laki, setelah kejadian pelemparan tongkat si polisi, saya pasti akan berhenti, lalu … you know what I mean. Yah! Akan saya ajak adu jotos. Karena kelakuannya sudah bukan kelakuan polisi lalu lintas melainkan kriminal! Dia sudah melakukan percobaan merusak harta benda orang lain.

Tapi saya harus melajukan kendaraan lurus ke depan, sebab saya bukan laki-laki.

Tanpa disangka lagi, tiba-tiba seorang pria pengendara motor melaju dari sebelah kanan mobil mendahului saya, lalu ketika sudah berada tepat di depan mobil saya, dia memperlambat laju motornya. Apa yang dia lakukan? Dia membengkokkan tubuhnya ke belakang, tersenyum ke arah saya sambil mengacungkan jempolnya!! Maknyessss… saya mendadak merasa bak seorang pahlawan! Setelah itu dia kembali melaju lurus. Secara khusus dia mengapresiasi apa yang saya lakukan.

Antara senang dan juga kesal. Antara happy dan juga sedih.

Saya senang karena sudah melakukan yang benar (membela diri sendiri dari dipersalahkan oleh polisi lalu lintas), tapi saya sangat kesal dengan si polisi karena memang “sangat mencari-cari kesalahan” dan bukan mengatur lalu lintas dengan baik.

Saya happy, sebab ada seseorang yang mengapresiasi apa yang saya lakukan. Tapi saya juga sedih, melihat tingkah polah polisi negeri ini! (dibuktikan dengan jempol si pengendara tadi untuk saya. Bukan untuk si polisi!). Image yang amat sangat buruk sudah amat sangat melekat dengan begitu kuat. Dan makin diperburuk dengan kelakuan-kelakuan yang sangat memalukan dari aparat negara yang seharusnya memberikan rasa aman. Melindungi bukan merusak. Mengatur yang tidak benar, bukan mencari-cari kesalahan!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s