Jakun Muhradin

Cover Final

Pekerjaannya hanya menganyam rotan menjadi keranjang untuk dijual, demi menghidupi istri dan 2 anaknya. Supaya anaknya bisa tetap bersekolah. Luar biasa.

Anaknya juga hebat. Harus bangun pagi pukul 4 setiap hari. Lalu berangkat keluar dari rumah pukul 5 pagi, ketika kegelapan masih pekat, menuju sekolah yang ditempuh dengan berjalan kaki selama 1,5 jam! Kadang bertemu babi, ular, beruang, dll. Namanya juga tinggal di dusun terpencil dengan fasilitas amat sangat minim. Sepulang sekolah masih terkadang membantu ayahnya mencari rotan di hutan, dan membantu ibunya. Sampai ayahnya meminta si anak untuk beristirahat saja dulu. 

Pak Jakun adalah seorang transmigran dari Pulau Jawa. Dia pindah ke Sumatera pada 1961, sejak dia masih kecil, katanya. Sejak itu dia tinggal dan berkeluarga di dusun itu. Kegemarannya bernyanyi dan bermain suling. Katanya hidup ini sudah berat. Jadi jangan makin diperberat. Harus bisa menghibur diri sendiri. Supaya tidak lekas tua. Begitu nasihatnya.

Anaknya yang sulung cukup berprestasi. Sebuah pencapaian luar biasa dalam kondisi yang amat sangat mengenaskan. Dia masih menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Berkat dukungan dari ayahnya. Namun sayang, ketika kepala sekolahnya berkunjung ke rumah dan menanyakan ke ayahnya, sampai berapa jauh ayahnya mau menyekolahkan dirinya, ayahnya hanya menjawab ini. “Tidak muluk-muluk…” Pasti karena biaya.

Bagaimana mungkin banyak orang di kota besar berlomba mendonasikan uang mereka dalam jumlah sangat besar, hanya untuk menyelenggarakan sebuah “event”, padahal ada begitu banyak yang kekurangan uang, hanya untuk membiayai sekolah anaknya?

Bagaimana mungkin banyak orang begitu berani dan tidak malu untuk korupsi lalu menghamburkan uang untuk narkoba, bermain wanita, atau pesta seks, sementara ada banyak orang di negeri yang sama yang kondisinya seperti Pak Jakun?

Andai saja nurani manusia tidak menjadi terlalu bebal untuk bisa sadar bahwa hidup ini tidak hanya melulu bahagia ketika diisi dengan kemewahan, foya-foya, kejahatan dan kepuasan diri yang lain. Lalu tergerak untuk berhenti korupsi, atau membuang uang hanya untuk menyelamatkan “harga diri” lewat “event besar”, lalu membuka mata lebar-lebar dan mengerti bahwa masih banyak yang berkekurangan serta membutuhkan bantuan.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s