BANJIR JAKARTA 2015

sunset.jpgHari itu Minggu. 8 Februari 2015.

Malam hari, perasaanku aneh. Gelisah dan was-was.

“Kalau abis minum kopi biasanya memang kayak gini deh,” kataku ke seorang teman baik.
“Kalau gitu tadi jangan pesen kopi dong…” sahutnya.
“Gua nggak tahu kalau itu kopi…” kataku.

Ya. Sejak siang kami makan bersama, lalu “nongkrong” di sebuah warung kopi nyaman (tidak hanya menjual kopi) di bilangan Kelapa Gading. Sampai sekitar pukul 7. Tidak langsung pulang, karena mengantarkan seorang teman lain ke MKG. Sampai di rumah, hujan mulai turun. Teman baik saya yang tadi, turun di depan komplek.

Tidak lama, hujan semakin deras. Perasaanku yang aneh tadi masih belum hilang. Membuatku tidak bisa tidur semalaman. Ditambah suara hujan deras yang turun menimpa atap plastik teras lantai dua.

Pagi hari, hujan deras tetap tidak berhenti. Tapi aku harus tetap ke kantor. Jadi dalam kondisi ngantuk, aku mandi, dan meluncur. Jalanan agak lengang. Tidak biasanya.

“Mungkin sudah mulai banjir di daerah Sunter dan Kelapa Gading,” pikirku. Beberapa hari lalu, daerah tersebut memang terendam banjir. Jalanan lengang di pagi hari. Jadi mungkin kondisinya terulang lagi hari ini. Tapi ternyata…

Ketika aku hendak berbelok ke kanan, entah mengapa, lalu lintas mendadak berhenti total. Kendaraan makin bertumpuk di jalanan. Makin padat. Hanya bisa maju sangat perlahan.

Aku berpikir, “Jangan-jangan daerah situ sudah mulai banjir…” (Kejadian yang sama sudah kualami juga beberapa hari lalu).

Akhirnya aku putuskan berbelok ke kiri, menuju rumah. Aku pulang. Tanpa kusangka, jalanan yang kulalui sudah tergenang cukup tinggi. Hujan juga makin deras. Aku agak takut. Perasaanku masih saja aneh. Tapi thank God, aku tiba di rumah. Masih kering jalanan di komplekku. Aku memarkir mobil. Masuk ke dalam rumah. Naik ke lantai dua. Menyalakan laptop, dan mulai bekerja dari rumah. Tapi tiba-tiba, adikku turun dan mengajakku mengungsikan mobil. Rupanya jalanan di depan rumah mendadak tergenang cukup tinggi.

“Iya sana! Kamu aja. Mobilku biar aku parkir di dalam rumah!” kataku. Dan adikku pun bergegas pergi dengan mobilnya. Ternyata genangan sudah sangat tinggi. Kalau saja aku ikut. Mobilku belum tentu bisa lewat. Mengerikan. Dalam hitungan menit, air makin tinggi. Dan… menyerbu ke dalam rumah. Aku stress. Banjir besar rupanya. Bahkan jauh lebih besar dibanding tahun-tahun lalu. Sampai setengah betis di dalam rumah!

Aku menyuruh adikku lekas pulang, karena membutuhkan tenaganya untuk angkat-angkat barang berat yang harus diselamatkan dari serbuan air kotor. Salah duanya adalah mesin genset yang walaupun tidak besar, tapi beratnya minta ampun. Dan juga kulkas! Padahal sudah “nangkring” di atas bangku plastik jongkok. Tapi karena banjirnya lebih tinggi dari tahun lalu, kami bersepakat menaikkan si kulkas lebih tinggi. 2 laki-laki dan 4 perempuan di dalam rumah bersatu padu mengerahkan tenaga mengangkat kulkas dan menaruhnya di atas bangku makan!! (Malamnya aku baru berpikir, “Bagaimana caranya menurunkan si kulkas kalau banjir sudah surut nanti?”).

Thank God listrik sama sekali tidak padam. Tapi kami buru-buru mencabut semua sumber listrik di lantai 1. Ngeri kalau terjadi apa-apa.

Banjir besar tahun ini membawa banyak perubahan di rumah kami.

Barang bekas yang kami simpan bertahun-tahun bermunculan dari setiap kolong yang ada di lantai 1. Ckckck… Aku bertekat membuangnya semua selepas surut nanti. Karena kejadian banjir sekarang sudah jadi agenda tahunan di IBUKOTA Negara besar sebesar INDONESIA! Jadi kalau menyimpan banyak barang, “kesengsaraan” yang harus ditanggung lebih besar selepas banjir. Bersih-bersihnya itu bisa memakan waktu berhari-hari.

“Dosa-dosa pemerintah masa lalu” yang membuat penghuni kota ini semakin menderita. Ditambah kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan, terutama di sungai/kali. Luar biasa! Masih ditambah dengan tindakan konyol lain dari aparat pemerintah yang amat sangat konyol.

Anyway, banjir kali ini membawa banyak hikmah.

Kali ini, aku tidak membiarkan jiwa dan tubuhku melemah dan menyerah lalu idle. Aku sibuk membantu our beloved Mbak Ti yang memang selalu jadi yang paling sibuk kalau sudah ada musibah banjir. Kubiarkan kakiku berkali-kali tercelup air comberan. Bahkan kumatikan perasaan jijikku ketika melihat “mas kambang” alias kotoran, kecoa yang banyak mati karena kusemprot obat serangga sewaktu mulai keluar ketika banjir mulai menerjang masuk, air yang warnanya coklat tua, semua yang menjijikkan, demi membantu sekaligus mengalihkan pikiranku yang super duper kalut. Dan… berhasil!

Seperti ada rasa puas dan tenang. Dan thank God, tahun ini listrik tidak mati. Jadi kami masih bisa beraktivitas sangat normal. Menyedot air PAM ke tampungan atas, walaupun airnya sudah terpolusi air comberan (haduh!), menonton TV, walaupun tanpa selera, bersih-bersih dalam terang-walaupun masih banjir, dan lain-lain kegiatan berguna yang tidak bisa kami lakukan kalau listrik padam!

Pikiran stress memang. Memikirkan Mbak Ti, salah satunya. Kasihan kalau sendirian. Lalu mobilku!! Thank God, air berhenti naik persis di batas besi bodi mobil bagian bawah. Ban terendam setengah! Aku begitu takut kalau harus merogoh kocek berjuta-juta seperti 2 tahun lalu… mengerikan dan stressful!

Senin sore hujan berhenti sebentar. Malam hari, hujan turun lagi, tapi genangan menyurut kurang lebih 10 cm, dan air tidak naik, karena air laut sudah surut. Berita di TV semakin menggila. Menakut-nakuti semua yang mendengarnya. Katanya hujan makin deraslah, banjir bakal makin tinggi lah, dll. Dll. That was crazy! Belum lagi BMKG, prakiraannya yang selalu menakutkan itu tidak pernah kejadian memang. Hanya saja, selalu menakutkan. Aku lalu mencari dan menemukan www.pasanglaut.com. Di situ informasinya lebih jelas. Yaitu jam berapa air laut akan pasang dan akan surut setiap harinya. Seharusnya laut mengalami pasang surut pukul 18.20 hari ini. Jadi logikaku mengatakan, genangan akan turun, walaupun hujan masih awet. Dan benar!

Selasa pagi, hujan turun dengan deras. Terus dan terus. Air kembali naik kira-kira 2 Cm. Tapi Thank God Selasa siang, hujan berhenti dan berangsur air makin surut. Aku dan Mbak Ti berkolaborasi mendorong lumpur yang masih menggenang dalam rumah setinggi 15 cm. Sore hari genangan sudah surut, walaupun jalanan depan rumah masih selutut pria dewasa! Sudah dipel dan bersih. Siang ini, matahari bersinar. Cerah! Jadi bisa melihat genangan di luar yang masih awet.

Rabu pagi, genangan di luar rumah masih ada. Surut hanya sedikit. Malam hari masih tersisa 15 cm di depan rumah.

Kamis pagi, jalanan sudah kering, menyisakan lumpur. Mulai terdengar suara sapu lidi membersihkan jalanan. Para satpam komplek did that.

Thank God sudah sejak beberapa tahun lalu Tuhan mengirimkan petugas sampah yang sangat excellent kerjanya. Dan terasa sangat memberkati para penghuni komplek dengan kerajinannya membuangi sampah-sampah dari tiap rumah. Terlebih paska banjir, dimana setiap rumah berlomba membuang barangnya yang rusak. Dalam hitungan waktu yang singkat, semua bersih! Thank God for everything!

Gotong royong memang membuat semua jadi jauh lebih baik.

Andai saja seluruh jajaran aparat pemerintah dari berbagai lini seperti itu… bisa bergotong-royong menyelesaikan masalah di Negara ini, dan bukan malah bikin masalah!

 

 

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s