OB Ganteng

Pagi yang “Heboh”

PagiHebohPagi-pagi terjadi kehebohan di kantorku…

“Mbak, Mbak! Mbak Dewi kemana aja sih? Kok datengnya telat hari ini?” tanya Dita, stafku.

“Iya nih. Mobil kudu diservis Ta. Jadi nunggu dulu tadi sampai selesai. Dua jam-an lah!” jawabku.

“Yaahh sayang banget!” sahut Dita.

“Memangnya kenapa? Baru juga telat sekali ini. Ini kan udah akhir tahun,” kataku lagi.

“Iya sih. Tapi bukan gitu maksudku Mbak. Tadi pagi… Bu Hermin keliling bawa OB baru. Biasalah ritual HRD kalau ada staf baru kan dikenalin ke kita-kita.”

“Lah trus kenapa jadi heboh banget? Apa yang luar biasa dari kejadian semacam itu?”

“Yaaa… Mbak Dewi… Kalau nggak luar biasa, nggak heboh Mbak. Satu lantai nih! Jadi trending topic worldwide Mbak si OB-nya! Hahahaha….”

“Oh yah? Kenapa memangnya? Jadi penasaran. Kalau cerita jangan sepotong-sepotong dong. Right to the point jeunk!”

“Iyaaa mau cerita, Mbak potong terus sih… Gini Mbak. Tadi pagi kan keliling tuh Bu Hermin. Aku pikir dia bawa staf ahli Divisi Analis atau IT gitu Mbak. Soalnya penampakannya guanteng polllll. Yaaa walaupun badannya sih ga tinggi-tinggi amat. Cuma putih bersih Mbak! Terus mukanya tuh ramaaah gitu. Duh kaya liat malaikat deh Mbak!”

“Oh… hahahaha… memang kamu sudah pernah lihat malaikat? Hahaha… jadi gara-gara OB baru nih pada heboh? Jadi penasaran nih aku. Tugasnya di mana? Toilet atau ruangan staf? Lantai kita atau lantai atas?” tanyaku menahan geli campur heran sekaligus penasaran.

“Aaaah Mbak Dewi penasaran yaaa… Kasih tahu nggak yaaaa…. “

“Hahahaha… terserah deh. Kamu nggak kasih tahu juga nanti ketemu. Wong cuma dua lantai kan kantor kita di gedung ini. Atau… aku perlu telepon Bu Hermin ya? Bilang kalau satu lantai ini pada heboh nih gara-gara OB baru. Dita sampai pengen kenalan lebih lagi. Begitu?”

“Aduh! Jangan dong Mbak! Eh… tapi boleh juga sih… Eh! Jangan ah! Nanti dikiranya aku cewek apaan. Nyosor banget! Hahaha… Tapi asli Mbak. Nanti kalau Mbak ketemu sosok yang guanteng, putih bersih, keren, tapi ga tinggi-tinggi amat, nah itu dia Mbak. Karena dia hari ini belum pakai seragam. Nggak tahu tuh ada kesalahan di HRD. Masa seragam untuk dia ternyata belum repeat order ke penjahit. Jadi kehabisan. Tapi katanya sih… besok juga sudah bisa pakai seragam. Jadi hari ini cuma dikasih “name tag” gitu Mbak. Wah! Nyaru deh. Makin mirip staf!”

“Hahaha… Dita… Dita. Yowes sanah! Kamu memang paling bisa bikin cerita. Bikin aku penasaran banget nih sekarang… By the way. Thanks loh info hebohnya… Jadi update nih aku!” kataku menutup pembicaraan. Dan Dita pun keluar dari ruanganku.  

 

……

 

Bekerja 10 tahun di kantor ini membuatku mulai merasa bosan. Dengan jabatan manager yang kupegang dan tanggung jawab yang cukup besar membuatku memaksakan diri bertahan. Aku bingung, kalau resign, aku belum punya kandidat untuk menggantikan. Dita? Sepertinya kurang cocok. Terlalu … yah begitulah. Kurang fokus. Walaupun dia sangat berbakat mencari artikel-artikel yang up to date. Tati? Hmm… terlalu pendiam. Atasanku tidak akan suka. Boy? Terlalu pesolek. Sinta? Dia lebih cocok tidak jadi manager, karena sering sekali ijin untuk urusan keluarganya. Dalam sebulan bisa ijin 10 hari. Lagipula, aku belum tahu harus pindah kemana… Antara bosan, tapi juga tidak ingin pindah ke tempat baru. 10 tahun adalah waktu yang membawa kenyamanan tersendiri buatku bekerja di kantor ini. Atasan yang cukup bijaksana dan rekan kerja yang seru menjadi penghiburan yang lumayan ampuh di tengah kejenuhanku yang belakangan makin menyeruak.

 

Kriiinggg! Teleponku berbunyi.

 

Aku harus ke lantai atas untuk rapat dadakan. Aku pun bergegas mengambil buku catatan dan pena. Lalu keluar ruangan dan berjalan ke arah lift. Gedung ini cukup tinggi. Jadi walaupun hanya beda 1 lantai, setiap kami agak malas menggunakan tangga darurat. Kecuali saat-saat seperti ini. Ketika melihat lift bergerak sangat lamban. Aku naik, dan berjalan mendekati pintu besi yang berat itu, mendorongnya dan… mulai menaiki tangga. Tak-tok-tak-tok-tak-tok! Begitu bunyi sol sepatuku ketika mendarat di setiap anak tangga.

 

Sesampainya di lantai 20, ketika kutarik pintu besinya, aku terkejut! Sesosok pria dengan ciri-ciri mirip seperti yang diceritakan Dita berdiri di depanku. Rupanya dia juga shock melihatku berada di balik pintu tangga darurat lantai 20.

 

“Selamat pagi Bu!” sapanya dengan senyuman yang memang ramah setelah ekspresi kekagetannya menghilang dengan cepat.

“Pagi! Eh, sori. Kamu siapa ya? Kok saya belum pernah lihat?” tanyaku spontan.

“Bayu Bu. OB baru di kantor ini,” jawabnya masih dengan senyum yang sama.

“Oh kamu toh!” kata saya.

Aduh!! Keceplosan… Aku pun buru-buru pergi setelah mengucapkan selamat datang dan menyalaminya. Aku melihat sekilas ekspresi kaget. Mungkin dia bingung, kok sepertinya aku sudah pernah mendengar tentang dia. Ah! Jadi malu. Semoga dia tidak terlalu jelas menangkap ucapanku tadi… (menghibur diri).

 

Rapat selesai sudah…

Satu setengah jam hanya untuk membahas 1 rubrik tambahan yang akhirnya diputuskan untuk ditunda pemuatannya karena kekurangan SDM dan halaman. Terlalu dipaksakan. Itu masukanku, yang diterima oleh atasanku. Tapi aku ditugaskan untuk mulai mencari penulis yang tepat karena rubrik ini sarat “pesan sponsor” dari pemilik perusahaan. Sesuai kesepakatan, 3 bulan dari sekarang, rubrik ini akan tayang. Baiklah!

 

Aku kembali ke ruanganku… dan menjelang pukul 12 siang…

 

“Mbak! Makan yuk!” ajak Dita.

“Ayuk!” jawabku.

Dan… seperti yang kuduga, Dita lagi-lagi membahas si OB.

“Mbak! Udah ketemu belum?”

“Kasih tahu nggak yaa…. “

“Iiih Mbak iseng banget sih! Udah beluuum?”

“Udah!”

“Oh yaah?!! Dimana? Gimana-gimana? Guanteng poll kan Mbak?”

“Ehm… iya sih,” jawabku sok “cool”.

“Iiih kok gitu doang responnya. Nggak seru deh!” kata Dita. Biasalah, Dita akan sangat senang kalau cerita dan opininya ditanggapi. Dan sebaliknya akan kecewa kalau tidak.

“Hehehe… iya ganteng! Kamu pinter menggambarkannya. Tepat banget!” kataku.

Barulah Dita sumringah…

“Tuh bener kan Mbak. Apa kubilang. Si OB memang ganteng! Duh, bersyukur deh. Lumayan ada yang seger-seger. Walaupun cuma OB!” kata Dita..

Dan kami pun tertawa-tawa. Ada saja yang dibahas Dita tentang si OB. Termasuk…

“Eh Mbak! Berasa nggak sih, tangannya halus banget yah! Masa sih OB bisa sehalus itu telapak tangannya? Adikku aja tangannya biasa aja lho. Biasa nyuci baju soalnya. Hahaha….” celoteh Dita.

“Hahaha…” aku ikut tertawa, sekaligus tersadar.

 

Betul juga kata Dita. Tangannya seperti belum pernah bekerja kasar. Masih sangat halus. Seperti tangan perempuan. Hmm… jiwa detektif yang kudapat akibat sering membaca novel-novel detektif mulai bangkit. Mungkinkah dia sesungguhnya pangeran kerajaan Surakarta yang sedang menyamar jadi OB…? “Hahaha…. !” aku tertawa geli dalam hati.


Ibuku

IbukuSore itu aku pulang tepat waktu. Dan sesampainya di rumah, seperti biasa Bu Tuti yang membukakan pintu.

 

“Sore Bu Tuti. Mau langsung pulang?” tanyaku melihatnya sudah menenteng tas.

“Iya Wi. Ibu langsung ya. Mau ada acara nanti jam 7.30 di rumah besan,” jawabnya.

Setelah berterima kasih, aku pun masuk ke dalam rumah dan mendekati Ibu.

 

Beliau sudah berusia 70 tahun. Tapi masih sangat ‘lincah’. Hanya saja karena sempat terpeleset di kamar mandi, maka 1 tahun belakangan Ibu membutuhkan orang lain untuk menemaninya. Jadilah Ibu Tuti, tetangga sebelah rumah yang 15 tahun lebih muda sering main ke rumah setiap kali Ibu membutuhkannya. Sementara aku, anak semata wayang Ibu, yang harus bekerja mencari nafkah tidak bisa melakukan itu. Biasalah. Terikat jam kerja, istilah kerennya. Hhh…. Padahal aku sangat ingin bisa menemani Ibu. Tapi apa daya.

 

“Wi… kamu ini kan cantik. Pintar. Rajin. Masa sih nggak ada teman pria yang mendekati?” begitu kata Ibu kalau isengnya kambuh.

“Bu…Bu… aku ini memang cantik, pintar, rajin. Tapi kalau aku menikah. Siapa yang nanti ngurusin Ibu?” balasku mencari alasan.

“Ah kamu Wi! Kamu pikir aku ini selemah apa. Aku masih sehat lho Wi. Masih bisa mandiri kok. Lagipula, kalau kamu menikah, kan bisa bilang sama suami untuk tinggal saja di rumah ini. Kan warisan Ayahmu ini juga patut dirawat toh Wi…” kata Ibu.

 

“Ah… itu dia Bu masalahnya,” kataku dalam hati.

Ibu tidak akan percaya kalau aku bilang terus terang bahwa pria-pria yang pernah dekat denganku itu seperti tikus melihat kucing kalau aku ajak ke rumah dan berkenalan dengan Ibu. Mereka lebih suka mengajakku keluar rumah dan mengobrol di tempat lain. Padahal, rumah ini cukup besar. Ibu juga jarang keluar kamar kalau ada teman priaku yang bertamu. Tapi sudahlah. Dari situ saja aku sudah paham. Mereka tidak akan mau tinggal bersama Ibu. Jadi… buat apa diperpanjang…

 

“Dewi mandi dulu ya Bu,” kataku, lalu masuk ke dalam kamar.

15 menit kemudian…

“Yuk makan Bu!” kataku ke Ibu yang sedang duduk di ruang tamu.

 

Di meja makan aku menceritakan kejadian heboh di kantor hari ini. Ibu tertawa-tawa mendengarnya.

Lalu hening beberapa detik. Tiba-tiba…

“Siapa tahu itu jodohmu Wi,” kata Ibu.

“Hah?! Siapa Bu? Si OB itu?” tanyaku.

“Iya,” jawab Ibu santai tapi serius.

“Hahaha… Ibu..Ibu.. kok jadi nyambungnya ke ‘jodoh’ sih!” sahutku.

“Ya, kan Ibu bilang siapa tahu…” katanya.

“Aduh jangan iseng dong Bu. Aku kan cuma cerita… jangan dibawa serius ah!”

“Ibu juga cuma bercanda kok Wi….”

“Aaah Ibu nih!”

“Tapi kan… siapa tahu…” kata Ibu mengulangi lagi.

Ah! Aku jadi kepikiran. Hmm… 

 

Selagi mencuci piring, memoriku pun terlempar ke kejadian pagi tadi. Waktu aku menarik pintu besi yang berat itu dan melihat ekspresi kaget seorang pria ganteng yang belum pernah kulihat berkeliaran di kantor. Ya, ya, ya. Benar kata Dita. Dia memang ganteng. Putih, bersih. Walaupun tidak terlalu tinggi. Tanpa seragam terlihat seperti staf dengan badge ID bertali merah sama dengan yang kupakai. Senyumnya … Duh! Sudah ah! Kok aku jadi mengagumi si OB! Hahaha…. Jadi geli sendiri.

 

“Sini Wi! Temani Ibu nonton TV. Nih acaranya lucu nih!” kata Ibu membuatku tersadar kalau kali ini aku butuh waktu beberapa menit lebih lama hanya untuk mencuci piring saja… Hhh… Hebat sekali pesona si OB. Membuat rasa penasaranku makin besar.


Parsel

ParcelHari ini kantor tidak cuma repot mengurusi artikel-artikel untuk 2 bulan ke depan, tetapi juga kiriman-kiriman parsel untuk para relasi. Kantor juga mengadakan Undian Berhadiah yang sudah dipaketkan dengan pengiriman sekaligus foto penerima undian bersama pemimpin redaksi, yaitu aku. Nantinya liputan acara akan ditulis oleh Boy dan akan dimuat pada edisi Januari beserta dengan gambar si pemenang. Kerja, kerja, dan kerja! Memang cukup menghibur. Membuatku melupakan pergolakan batinku. Dan ini…

 

“Pagi Bu Dewi!” sapa Bayu.

“Oh! Pagi Bayu!” balasku. Dia sudah mengenakan seragam OB. Tapi tetap saja …

“Ibu mau pesan makan siang apa Bu?” tanyanya, membuyarkan lamunan kilatku.

“Lho! Budi kemana Bay?”

“Dia hari ini ijin Bu. Katanya istrinya melahirkan.”

“Oh iya! Aku lupa.”

Setelah memesan makanan, dan Bayu keluar dari ruangan, teleponku berbunyi. Kriiingg!!

 

“Dewi. Minggu depan kamu antar parselnya ke tempat pemenang undian ya! Ajak Bayu untuk nanti membawa parselnya. Biar Udin yang tugas di lantai 19!” kata Bu Ida, kepala Tim Kreatif.

“Ok Bu. Tapi di lantai 20 bagaimana?”

“Gampanglah. Kamu lebih penting. Parselnya berukuran besar dan kayanya kamu sih nggak bakal deh kuat bawa!”

“Oh gitu. Ok Bu. Minggu depan ya. Jam berapa?”

“Nanti kukonfirmasi lagi. Tergantung lokasi pemenang. Sudah ada beberapa nama yang kita pilih dari undian, nanti aku yang tarik lagi 1 nama dan info kamu.”

“Ok. Ok. Saya catat dan laksanakan!”

 

Hmm… kenapa jadi kepikiran Bayu terus ya? Dari Dita. Lalu ketemu di tangga darurat. Dari Ibu. Lalu Bu Ida. Haduh… OB, OB, Bayu, Bayu. Itu saja yang terngiang di kepalaku.

 

Menjelang sore, aku sudah mendapatkan informasi dari Bu Ida soal nama dan lokasi pemenang. Tim kreatif sudah menyiapkan semua acara. Pemenang juga sudah dihubungi dan bersedia diliput. Beres! Aku lalu melanjutkan pekerjaan dan menutup pintu. Kebiasaanku kalau sedang suntuk dan tidak mau diganggu.

 

45 menit kemudian… Tok! Tok! Tok!

 

“Duh. Siapa sih…” kataku dalam hati.

Masuk!” aku menyahut agak keras.

“Permisi Bu Dewi…”

“Oh. Kamu Bay. Pantesan biasa kalau pintu saya tertutup nggak ada yang berani ngetuk. Biasanya telepon dulu..” kataku terus terang.

“Maaf Bu. Saya tidak tahu.”

“Iya nggak apa-apa. Kenapa Bay? Ada yang penting?”

“Ehm… begini Bu. Saya sudah dikonfirmasi oleh HRD untuk minggu depan akan mengantarkan Ibu ke tempat pemenang undian…”

“Oh iya betul, betul! Lalu?”

“Saya hanya ingin bertanya-tanya saja, kebetulan sudah tidak terlalu repot pekerjaan saya. Tanya soal teknisnya nanti bagaimana?”

“Ohh… hahaha… Bay…Bay… Serius amat sih?! Teknis apaan. Biasa ajalah. Kan nanti di hari-H jam 2 siang kita meluncur ke ‘TKP’. Nah stand-by saja di… ehm… enaknya dimana ya? Ehm… begini deh. Kamu punya nomor HP?”

“Ada Bu. 08168868341”

“Ok. Aku miskol ya…. Nah! Itu nomor HP-ku. Begini saja. Kamu kerja saja seperti biasa. Toh HRD sudah tahu akan ada acara ini, jadi kemungkinan besar tugas kamu tidak akan terlalu banyak hari itu. Tapi karena kamu enggak bisa diam di satu tempat, nanti aku telepon kalau sudah harus stand-by. Mungkin 10-15 menit sebelumnya. Sekaligus aku kasih tahu harus stand-by dimana. Gimana?”

“Baik Bu. Jadi saya cukup tunggu telepon Ibu saja ya. Terima kasih Bu.”

 

Ah Bayu… OB tapi kok cerdas juga yah. Pilihan katanya juga canggih. Ada kata “konfirmasi”, “teknis”. Aku jadi makin penasaran. Rasanya ingin sekali melihat CV yang dia kirimkan ke HRD. Tapi mana mungkin. Nanti langsung terjadi penyebaran gosip. Hmm… nanti saja deh aku interogasi dia waktu mengantar parsel…. Eh! Tapi kan ada Pak Mamat… Hmm…


22 Desember 

22DesHari ini hari Ibu. Hari yang tidak pernah aku lupakan. Padahal aku termasuk sulit mengingat tanggal kelahiran siapapun. Kecuali tanggal lahir Ayah dan Ibu.

Pagi pukul 5, aku masuk ke kamar Ibu. Biasanya Ibu sudah bangun. Tapi kalau kurang pulas tidur, Ibu bisa bangun agak siang sekitar pukul 5.30 atau 6. Aku membaringkan diri di sebelahnya. Mendekatkan tubuhku ke tubuhnya yang memang langsing.

 Beberapa menit kemudian…

“Dewi… tumben kamu Nak?” Ibu terbangun dan memanggilku dengan suara lirih.

“Ibu…” kataku.

Aku memeluknya.

“Selamat Hari Ibu ya…” kataku dengan suara pelan.

“Oh iya Wi. Makasih ya…” sahut Ibu sambil tersenyum lalu duduk di tempat tidurnya.

“Sini Ibu peluk. Masa meluknya begitu…” lanjutnya.

Aku pun bangkit dan memeluk Ibu dari belakang. Lalu berjongkok di depan Ibu dan memeluknya sekali lagi. Erat-erat!

“Ibu… Dewi sayaaang banget sama Ibu!” kataku dengan mata berkaca-kaca.

“Ibu juga sayang sama kamu Wi. Anak semata wayang Ibu yang paling cantik, paling pintar, paling rajin!” sahut Ibu dengan tenang dan sangat menyejukkan hatiku seperti embun di pagi hari… Segar rasanya! Tangannya menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.

“Ah Ibu! Ya terang aja aku paling dan paling. Wong anak Ibu cuma satu!” kataku menatap Ibu.

Hahaha… kami pun tertawa berbarengan.

“Ibu doakan kamu dapat jodoh yang sayang kamu seperti Ibu dan Ayah sayang kamu ya Nak…” kata Ibu lalu memelukku lagi dengan erat tapi lembut.

 

Ibuku wanita yang sangat kuat, tegar sekaligus lembut. Perjuangannya masa muda menemani Ayah dulu tidaklah mudah. Ibu berasal dari keluarga kaya dan suku yang berbeda dari Ayahku. Orangtuanya nyaris tidak mau datang pada pesta pernikahan mereka. Tapi entah kenapa, 1 minggu sebelum hari-H, seperti cerita Ibu, kedua orangtuanya tiba-tiba menghubunginya dan menyatakan akan hadir dalam pesta pernikahan Ibu dengan Ayah.

 

Sejak kuliah di Bandung, Ibu harus kos. Tapi Ibuku berhasil menjaga kepercayaan orangtuanya. Sementara banyak teman kuliahnya yang hamil di luar nikah, Ibuku memfokuskan dirinya pada pelajaran-pelajaran kuliah. Beliau lulus Cum Laude! Sampai Ibu bertemu dengan sosok pria idamannya. Seorang pria pekerja keras. Pendiam. Tapi tulus dan jujur. Tidak neko-neko. Ibu melihat Ayah sebagai pria yang sangat baik. Ayah juga pekerja keras. Walaupun berlatar belakang dari keluarga ekonomi rendah, Ayah berjuang terus untuk bisa sekolah. Ayah memang hanyalah lulusan SMA. Karena pada tahun kedua, ia memutuskan untuk bekerja saja dan tidak meneruskan kuliah karena kondisi keluarga. Sebagai anak pertama, Ayah harus membantu orangtuanya membiayai sekolah dua orang adiknya.

 

Aku bersyukur kepada Tuhan karena memiliki orangtua yang hebat seperti mereka. Walaupun ada saja kekurangannya. Yah… namanya juga manusia. Aku pun punya kekurangan…

 

“Ya sudah sana siap-siap! Nanti kamu terlambat ke kantor!” kata Ibu.

Sepertinya malas ke kantor kalau sudah begini. Nyaman berada di samping Ibu. Apalagi ini kan hari Ibu. Harusnya aku cuti saja ya… Eh!! Yak ampuuun! Mana bisa cutiii!! Hari ini aku punya acara khusus juga! Ah! Nyaris lupa! Aku bergegas ke kamar dan memilih pakaian yang paling ‘oke’. Lalu mandi, berdandan agak tebal, dan meluncur ke kantor menggunakan taksi. Hari ini mobil mungilku kuijinkan beristirahat.

 

Jalanan agak lancar. Mungkin banyak yang sudah mulai cuti. Kan akhir tahun. Tapi aku mana bisa. Selalu sibuk dan sibuk. Kesibukan yang kadang menyelipkan kejenuhan…

 

Sesampainya di kantor…

 

Aku bertemu Bayu di depan lift.

“Pagi Bay. Darimana?” tanyaku.

“Pagi Bu. Dari bawah Bu, mengecek mobil.”

“Oooh.. Lho! Memangnya Pak Mamat mana?”

“Sakit Bu kata HRD. Jadi nanti saya yang akan bawa mobilnya.”

“Owalah… kok bisa-bisanya pas sakit di hari repot gini…”

Dalam hati aku berkata, “Untung ada kamu Bay. Coooba kalau si Udin. Bisa-bisa aku disuruh naik taksi atau ikut mobil tim kreatif yang pastinya selalu penuh barang! Fiuhhh…. Luar biasa nih OB satu ini. Multitalenta!

 

Mendekati jam 2 siang, aku menelepon Bayu dan dia pun stand by di lobi. Parsel rupanya sudah dia masukkan dari pagi tadi. Excellent sekali cara kerjanya! Penuh inisiatif!

 

Aku melihat mobil kantor mendekat, lalu kubuka pintu dan naik ke dalamnya.

“Halo Bay!” sapaku. “Yuk jalan!”

“Baik Bu.”

Aku terpaksa duduk di sebelah Bayu. Karena jok belakang penuh titipan barang tim kreatif. Dan yang di tengah? Sudah diduduki oleh si parsel cantik!

Otakku pun mulai berputar didorong oleh rasa penasaran yang sangat besar… bahkan terlalu besar…

 

“Kamu sudah berkeluarga Bay?” tanyaku membuka pembicaraan.

Duh! Tiba-tiba saja pipiku panas.

“Kenapa juga pertama-tama aku sudah tanya statusnya?” kataku dalam hati…

 

“Belum Bu…” jawabnya.

Fiuhh! Eh! Kok aku lega ya mendengar jawabannya?

“Kamu di Jakarta kos atau tinggal sama orangtua?”

“Saya kos Bu. Orangtua saya ada di Tuban.”

“Oh! Tuban! Kota kecil tapi enak sepertinya ya?”

“Oh. Ibu tahu? Biasanya kalau saya menyebut Tuban, kebanyakan orang tidak tahu.”

“Tahu dong! Kan orangtuaku asli Surabaya…”

“Jadi Ibu bisa bahasa Jawa?”

“Nah itu dia! Cuma sedikit-sedikit Bay. Aku lahir di sini. Jadi Jawa jadi-jadian. Orangtuaku juga tidak terlalu mengajakku berbahasa Jawa. Mungkin supaya aku lebih gampang berbaur dengan teman-teman di sini.”

Hening sejenak…

“Eh Bay. Sori ya kalau saya nanya ini. Kamu lulusan apa ya Bay?”

“Oh, enggak apa-apa Bu. Saya lulusan Universitas Negeri Pertama Bu..”

“Haaah?! Jurusan apa?”

“Jurnalistik Bu.”

“Owalaaahh… terus kenapa jadi OB?”

Aku melihat Bayu tersenyum.

“Enggak apa-apa Bu. Yang penting kan halal. Perusahaan lama bangkrut. Jadi saya otomatis kehilangan pekerjaan. Makanya ada pekerjaan apapun, itu saya kerjakan lebih dulu. Yang penting saya tidak sampai harus berhutang atau meminta-minta belas kasihan orang lain. Lagipula dengan jadi OB, saya juga tetap bisa belajar banyak.”

 

Wow! Kagum aku mendengar jawaban Bayu.

 

“Wah! Kalau kamu jurusan jurnalistik… ehm… “

“Kenapa Bu?”

“Nanti deh. Nanti kalau sudah pasti saya kasih tahu…”

 

Percakapan singkat tadi cukup menjawab rasa penasaranku terhadap Bayu. Ternyata oh ternyata….

 

Acara hari ini berjalan lancar. Selesainya, aku diantar Bayu pulang ke rumah dengan mobil kantor.

 

“Trims ya Bay. Kapan-kapan ajari aku bahasa Jawa ya. Dan jurnalistik! Hahaha… sepertinya kamu lebih jago Bay! Aku ini kan cuma lulusan Manajemen sebetulnya. Hanya saja memang suka dunia tulis menulis!”

Bayu hanya tersenyum-senyum mendengar celoteh perpisahanku malam itu, lalu berkata, “Iya Bu. Ibu bisa hubungi saya kapan saja kalau mau belajar. Saya siap membantu.”

Ckckck… excellent!

 

“Dewi! Pulang naik apa kau Nak?” tanya Ibu dari ruang makan.

“Ibuuuu!!!” jawabku sambil menghampiri Ibu lalu mendekapnya erat-erat, seperti tadi pagi. Bu Tuti sudah pulang jam 6 tadi. Sekarang sudah 6.30 malam.

“Hehehe… Dewi…Dewi… ada apa sama kamu hari ini?” tanya Ibu lagi, seperti orang bingung.

Aku tersenyum sumringah.

“Hari ini kerjaanku lancar Bu.”

“Oh! Bagus kalau begitu. Nah, kamu pulang naik apa?”

“Oh itu Bu! Diantar sama Bayu, OB baru yang pernah aku certain itu lho!”

“Ooo yang ganteng itu?” kata Ibu tersenyum mencurigakan.

“Iiiih Ibu masih ingat aja deh!” kataku. Pipiku agak memanas…

“Lho ya ingat lah. Baru juga minggu lalu. Ibu belum pikun lho Wi. Ingat itu!” kata Ibu sambil mengangkat telunjuk dan menggoyang-goyangkannya ke arahku, persis seperti sedang memarahi anak kecil.

“Hahaha… iya Bu. Percaya kok,” kataku sambil menangkap telunjuk Ibu.

“Tadi kamu berdua saja sama Bayu?” lanjut Ibu. Pertanyaannya penuh selidik.

“Iya. Dan aku sempat tanya-tanya sama dia. Ternyata dia itu lulusan Jurnalistik Bu. Universitas lho! S1!”

“Oh yah? Terus? Kok jadi OB?” Ibu terkejut, sama seperti aku waktu tadi mendengar jawaban Bayu.

Aku pun lalu menceritakan pembicaraanku bersama Bayu. Dan karena cukup seru, kami sampai duduk dulu di ruang tamu, berbincang sebentar tentang si OB.

 

Tiba-tiba Ibuku menceritakan sesuatu yang membuatku terdiam beberapa saat.

“Dulu ayahmu juga sempat bekerja sebagai OB di sebuah perusahaan asing Wi.”

“Oh yah?! Masa sih Bu?” sahutku sambil mengernyitkan alis.

“Iya. Kan dulu ayahmu kuliah cuma sampai tahun kedua. Lalu berhenti dan itu tadi. Bekerja jadi OB, supaya bisa membiayai sekolah adik-adiknya…” kata Ibu yang lalu menerawang ke luar jendela. Seolah mengingat masa-masa kesulitan yang dialami Ayah waktu itu.

 

“Tapi, karena ayahmu rajin bekerja dan pernah kuliah, dia terlihat menonjol dibandingkan OB yang lain di kantor itu. Dan ayahmu cukup fasih berbahasa Inggris waktu itu. Jadilah atasannya memercayainya menjadi kurir dokumen penting. Terus sampai akhirnya ayahmu jadi salah satu pemegang saham di kantor itu Wi,” kata Ibu memandangi aku sambil tersenyum. Terlihat ekspresi bahagia dan lega ketika Ibu menceritakan kondisi ayah yang mulai jauh berubah lebih baik.

 

“Oooh begitu Bu. Kenapa Ibu nggak pernah cerita sama Dewi kalau Ayah pernah jadi OB?” tanyaku sambil memandangi Ibu lekat-lekat.

“Bukan tidak mau Wi. Tapi memang tidak terlalu penting kan. Toh itu sebagian dari perjalanan hidup yang harus dilalui ayahmu. Yang jauh lebih penting adalah, ayahmu bekerja secara luar biasa baik. Sampai akhirnya ia dipercaya menduduki jabatan yang tidak pernah ia bayangkan ketika pertama kali bekerja sebagai OB di situ,” kata Ibu sambil menata poni rambutku yang mulai panjang dan menutupi ujung mata.

“Itu sebabnya, Ibu tidak pernah memandang rendah pekerjaan apapun. Asalkan orang itu bekerja memberikan yang terbaik. Dan itu juga yang membuat Ibu ini kurang senang dengan pacar-pacarmu yang dulu. Mereka seperti anak kecil. Ibu tidak suka melihat gaya mereka yang necis-necis. Mobilnya saja pasti mobil orangtua..” kata Ibu mendadak serius.

“Lhooo kok jadi ke situ sih Bu…” kataku sambil menyenggol badan Ibu. Aku tersenyum geli. Kok Ibu jadi ngelantur gini…

“Iya Wi. Itu kenyataan. Makanya Ibu lega kalau kamu akhirnya putus. Cuma… kamu harus tetap buka hati ya Wi… siapa tahu sebentar lagi jodohmu ketemu,” kata Ibu sambil tersenyum dan menepuk-nepuk pipiku.

“Ah Ibu… serius amat sih. Iya deh Bu. Dewi amin-in deh. Doa Ibu kan khasiatnya luar biasa yaaa…” kataku tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolku.

“Hahaha…” kami pun tertawa-tawa.

 

Hmm… rupanya Ibuku orang yang sangat serius. Ibu memerhatikan semua detil, tanpa kusangka dan kuduga. Aku pikir Ibu orang yang cuek. Mungkin karena pusat perhatiannya sekarang kan cuma aku, anak semata wayangnya yang masih ‘single’ ini… Status yang seringkali dipandang sebelah mata. Padahal aku sudah jaga hidupku tidak neko-neko. Tetap saja kurang, hanya gara-gara status lajang. Hhh…

 

“Oooh!! Makanya Ibu selalu di kamar ya kalau ada pacarku. Mantan maksudku,” kataku dengan nada serius karena mendadak teringat masa-masa dulu.

“Sudah ah! Yuk makan malam!” kata Ibu tidak mau menjawab, dan langsung menepuk telapak tanganku lalu melangkah menuju ruang makan.

 

Aaahhh badan terasa pegal-pegal… acara yang hanya beberapa menit hari ini membutuhkan persiapan yang sangat melelahkan. Aku pun makan malam, mandi, dan tidur di kamar Ibu. Kan Hari Ibu…. Aku ingin lebih lama bersama Ibuku…


Makan Malam

MakanMalamSetelah “menginterogasi” Bayu hari itu, dan tahu kalau dia lulusan S1 Jurnalistik, aku beberapa kali mencoba menanyakan pendapatnya tentang hal-hal yang aku hadapi dalam pekerjaanku sebagai Pemimpin Redaksi. Tentu saja dalam waktu yang sangat singkat. Yaitu ketika ia kebetulan masuk ke ruanganku menawari makan siang, atau ketika bertemu di lift dan hanya berdua saja. Jawabannya menurutku sih cukup logis dan tepat sasaran. Sedikit demi sedikit aku mulai percaya bahwa Bayu memang lulusan Jurnalistik. Ya, aku tidak mudah memercayai orang lain. Kan tidak mungkin aku bertanya ke Bu Hermin apa latar pendidikan Bayu. Nanti gosipnya menyebar kemana-mana. Aku juga tidak punya alasan kuat untuk bisa dijadikan “alibi” ke Bu Hermin.

 

Hmm… Mungkin karena aku anak tunggal. Jadi lebih senang menyendiri dan tidak terlalu membutuhkan orang lain. Sekaligus itu tadi, karena aku tidak mudah percaya. Ditambah beberapa kali berpacaran dengan pria-pria yang ternyata lebih suka “omong besar” dibandingkan kenyataannya. Bahkan ada yang berbohong kepadaku setelah 3 bulan menjalin hubungan denganku. Hal kecil sih. Dia tidak mau mengaku kalau ia perokok. Sampai akhirnya aku mencium bau rokok yang cukup tajam, dan setelah kutanya-tanya, baru mengaku. Tapi itu pun katanya dia adalah perokok “jarang”. Hanya kalau sedang stres atau dalam situasi tertentu saja. Entahlah. Apapun itu. Buatku, kebohongan adalah kebohongan. Sampai akhirnya aku harus menyudahi hubungan secara tidak baik, karena ternyata kebohongannya makin menjadi. Aku tidak tahan lagi. Sakit memang. Tapi mau bagaimana lagi kalau sudah tidak bisa diperbaiki dan dilanjutkan. Selain itu, mereka juga seperti anak kecil. Bahkan hanya untuk berbasa-basi dengan Ibuku saja tidak mau.

 

Sementara, Ayahku orang yang sangat dapat dipercaya. Tidak pernah satu kali pun Ayah kedapatan membohongi Ibu. Seperti yang Ibu ceritakan waktu itu… dan aku sangat percaya cerita Ibu. Aku juga tidak pernah melihat Ayah melakukan hal yang membuat kepercayaanku kepadanya luntur… Mungkin itu sebabnya, mengapa aku sangat menjunjung tinggi nilai dari sebuah kejujuran… Hmm…

 

“Ibu tahu darimana kalau Ayah tidak pernah bohong sama Ibu?” tanyaku di satu sore ketika Ibu sedang mengenang dan membanggakan Ayah di depanku.

“Dewi… Ibumu ini wanita tulen lho. Dan wanita itu kan perasaannya tajam Wi. Kalau ia dibohongi, pasti bisa merasakan ada yang tidak beres. Lagipula, orang yang berbohong itu cerita-ceritanya tidak akan konsisten satu sama lain. Jadi sepintar apapun ia berbohong. Pasti akan ketahuan. Ibu sudah dekat dengan Ayahmu sejak kuliah Wi. Sampai menikah dan punya anak. Waktu yang cukup lama untuk seseorang bisa menyimpan kebohongan,” begitu kata Ibu sambil menatapku lekat-lekat. Ibu sangat serius ketika berkata itu.

“Kamu pasti mengerti maksud Ibu. Kan kamu juga wanita tulen toh…?” lanjut Ibu.

“Ya iya dong Bu. Tulen. 100%!” kataku sambil tersenyum lebar dan menepuk lengan Ibu.

 

Hanya saja aku tidak menceritakan apa yang pernah kualami dengan para mantanku dulu. Aku sepertinya punya kepekaan yang sama dengan Ibu. Tapi bedanya, aku belum seberuntung Ibu yang menemukan Ayah, jadi tidak perlu merasakan sakitnya dibohongi atau dikhianati. Sampai saat ini, aku kesulitan menemukan sosok pria seperti Ayah. Entahlah… sampai kapan aku bisa ketemu jodohku. Yang pasti aku berdoa kepada Tuhan supaya jodohku itu punya prinsip hidup yang sama dalam hal integritas.

 

Hari Minggu sore itu…

“Bu… Minggu depan aku mau undang Bayu ke rumah ya,” kataku ke Ibu yang sedang duduk di ruang tamu sedang menonton acara Talkshow kesukaannya.

“Oh gitu? Boleh Wi. Undang saja. Ibu kan bisa baca buku di kamar kalau dia datang nanti,” kata Ibu.

“Lho… kok gitu. Jangan dong Bu. Ibu boleh kok ikutan ngobrol sama Dewi dan dia. Enggak ada yang penting atau rahasia Bu. Dewi undang dia ke rumah, karena mau tanya-tanya soal kerjaan. Kan dia Jurnalistik. Dewi lagi bingung sama rencana rubrik baru. Mau coba tanya Bayu. Beberapa kali Dewi sempat tanya. Tapi kan nggak bisa lama-lama. Dia sibuk dengan kerjaannya sebagai OB di kantor. Nah kalau Minggu kan libur. Dan Dewi pikir lebih baik dia ke rumah saja. Karena Dewi malas ngobrol di luar, atau cuma lewat telepon. Nanti kalau di luar ketemu teman kantor… aduuhh malas deh. Pasti pada heboh ngegosip yang enggak-enggak. Gitu Bu…”

“Ya, kalau kamu ngobrol kerjaan, masa Ibu juga ikutan nimbrung toh Wi, Wi. Kamu ini ada-ada saja.”

“Iya juga sih. Tapi Dewi nggak mau kalau Ibu jadi seperti sungkan di rumah sendiri kalau Dewi ada tamu. Kan ini rumah kita Bu. Ibu bebas mau duduk dimana. Nanti Dewi saja yang cari tempat. Kalau Ibu di ruang tamu nonton TV, ya Dewi di teras rumah saja. Nggak masalah.”

“Banyak nyamuk dong Wi! Sudahlah gampang. Oh! Atau begini saja. Undang dia pas jam makan malam. Biar dia makan di rumah sini saja. Ibu bisa ajak ngobrol waktu makan.”

“Haaah?!”

“Kenapa? Kok kamu kaget begitu?”

“Ya iya lah kaget. Moso makan malam di sini?”

“Hahaha… enggak apa-apa toh Wi. Sekalian Ibu mau tahu seperti apa orangnya kalau di meja makan!”

“Ih! Ibu! Ada-ada aja deh! Nggak mau ah!”

“Sudah! Ikut kata Ibu deh Wi. Undang dia sekalian makan malam dulu. Baru kalian boleh ngobrol soal kerjaan!”

Aduh Ibu… aya-aya wae! Gimana ngomongnya nih ke Bayu? Aduuhh… ampun deh.

 

Itulah Ibu. Kalau sudah punya mau. Aneh juga sih. Kenapa Ibu kok seperti penasaran sekali sama Bayu. Sampai diundang makan malam! Jaman dulu mantan-mantanku dicuekin. Ah Ibu…

 

Aku lalu mengirimkan SMS ke Bayu. Malu kalau telepon. Tidak tahu mau bicara apa.

“Bay. Minggu depan ada waktu ngga?”

“Sore Bu Dewi. Minggu depan saya belum ada kegiatan Bu.”

“Aku mau minta tolong nih Bay. Mau tanya-tanya soal kerjaan. Kalau boleh, kita ngobrolnya di rumahku aja? Jam 7 ya?”

“Baik Bu.”

“Thanks Bay!”

“Sama-sama Bu.”

 

Beres! Fiuh!! Hatiku dag-dig-dug cuma untuk kirim SMS seperti itu. Tapi Bayu tidak boleh tahu… kalau dia diundang makan malam sama Ibu. Aku sebutkan saja jamnya. Dia juga tidak akan berani tanya kan. Hmm… strategi yang bagus! (memuji diri sendiri…).

 

Minggu depan…

 

“Bu, saya sudah di depan rumah Ibu.” Itu SMS yang kuterima dari Bayu. Aku melihat jam. Tujuh kurang 10 menit!

Bergegas aku membuka pintu luar dan melihat Bayu tersenyum sambil menyapaku.

“Malam Bu Dewi.”

“Halo Bay! Yuk masuk! Buka aja itu nggak digembok kok!”

Bayu pun meraih palang besi kecil di pintu gerbang rendah rumahku. Membukanya dan masuk. Lalu menutupnya kembali.

Dia menyalamiku. Seperti masih di kantor saja. Resmi sekali si Bayu.

“Hehehe… pakai salaman segala Bay. Kaya di kantor aja!”

Bayu tersenyum malu. Mukanya memerah. Hihihi… kasihan. Aku beberapa kali mengisenginya kalau sikapnya sangat formal dan kaku. Tapi dia tidak berani membalas. Kan aku manajer di kantor. Mana berani dia macam-macam sama aku. Bisa kulaporkan ke Bu Hermin! Hahaha… just kidding!

 

“Yuk Bay masuk!” ajakku.

 

“Malam Bu!” kata Bayu.

Rupanya Ibuku sudah duduk manis di ruang tamu. Padahal tadi masih di kamar.

“Malam Nak,” balas Ibu sambil tersenyum lalu mematikan TV dengan remote control.

“Bu, ini Bayu. Bay itu Ibuku yang paling kece dan keren seluruh dunia!” kataku tersenyum iseng ke arah Ibu.

Aku sebetulnya tegang. Tapi mencoba mencairkan keteganganku dengan cengengesan seperti itu…

Setelah mereka bersalaman, Ibuku langsung berkata, “Yuk makan dulu. Pas jam makan malam kan. Ayuk! Nggak usah sungkan!”

 

Aku terperangah melihat sikap Ibu. Ramah sekali lho… Kok bisa sih? Duh Ibu… jangan sampai itu karena ngebet kepingin aku cepat ketemu jodoh. Duh! Enggak banget deh… Tapi… terselip rasa lega dan senang di hatiku. Sikap Ibu sangat hangat ke Bayu. Dulu Ibu tidak seperti itu. Sedikit banyak jadi beban pikiranku setiap kali mengajak teman pria ke rumah. Tapi ini beda… Hmm…

 

Selama makan malam, Ibu banyak mengajak ngobrol Bayu. Sikapnya yang lembut dan santai membuat urat tegang di tubuhku mulai mengendur. Bayu pun begitu. Dia terlihat jauh lebih santai ketimbang tadi kulihat di pintu gerbang. Ah! Ibu memang pintar!

 

Malam itu berlalu dengan sangat baik. Aku berterima kasih banyak kepada Bayu atas masukan-masukannya. Dia membuatku terheran-heran, seorang Office Boy di kantor, ternyata lebih pintar dari seorang Manajer!

 

“Bay. Thanks banget yah! Besok aku coba bicara deh sama bos apa yang kamu bilang ke aku.”

“Iya Bu. Sama-sama. Senang bisa membantu.”

Bayu mulai kembali formal.

“Duh Bay… jangan formal-formal deh! Hahaha… Santai aja Bay. Formalnya pas di kantor ajah!” kataku. Isengku mendadak kumat.

“Tapi beneran lho. Aku thank you banget kamu mau datang ke rumah. Aku nggak sanggup bayar jasa konsultasimu Bay! Hahaha….”

“Ibu bisa aja… Kapan-kapan kalau butuh bantuan, saya siap membantu. Kan saya juga bisa belajar dari Ibu walaupun sepertinya Ibu yang banyak tanya.”

Jawaban yang pintar dari seorang Office Boy! Ah! Aku tambah kagum.

“Ok Bay! Sekali lagi thanks ya!”

Bayu pun berpamitan ke Ibu dan aku. Kali ini tanpa bersalaman. Mungkin dia takut aku menertawainya lagi seperti tadi.

“Mari Bu…”

“Ya Bay. Hati-hati di jalan ya!” kata Ibuku.

Bayu membuka sendiri gerbang rumah dan menutupnya dari luar.

“Enggak apa-apa Bay! Tinggalin aja begitu. Nanti aku gembok!” kataku. Aku berdiri di teras rumah di sebelah Ibu. Dan Bayu pun melambaikan tangan, lalu berjalan menjauh dari gerbang.

 

“Wi! Boleh tuh!” tiba-tiba Ibu menyenggolku dengan sikunya.

“Hah?! Apanya Bu?”

“Bayu! Kok apanya? Ibu lihat dia sepertinya suka sama kamu lho,” kata Ibu melirik ke arahku sambil tersenyum-senyum.

“Hahahaha… Ibu… Ibu… dia tuh cuma OB di kantor Bu. Kalau aku sampai ketahuan jalan sama dia. Bisa geger kantorku!”

“Ya kalau jalan jangan sampai ketahuan kan bisa…” kata Ibu tapi kali ini dengan ekspresi serius.

“Haahh?! Ibu serius?”

“Ya iya serius. Ibu yakin dia bisa jadi suami yang baik.”

“Haaah?! Suami??”

“Kamu ini lho! Kok hah, hah, terus! Ibu serius ini. Sudahlah, kamu buka hati saja Wi. Percaya sama Ibu. Soal teman-teman kantor kalau kamu takut digosipkan, toh gosip mereka tidak lebih penting dari hidup kamu sendiri kan Wi… Lagipula, ya jangan sampai ketahuan. Bisa kok…”

 

Aduuuhhh Ibuku kok jadi begini ya… Tapi… Ibu memang sangat bisa dipercaya. Buktinya? Dia mau menikahi Ayah yang kerjaannya dulu serabutan, karena dia yakin Ayah orang yang baik, dan bisa jadi kepala rumah tangga yang baik. Dan pilihan Ibu terbukti tidak salah.

 

Hmm… Bayu… Office Boy di kantor. Duh! Dia memang pintar, baik, dan ganteng. Tapi aku ngeri membayangkan apa kata teman-teman kalau sampai ketahuan Bayu suka denganku atau sebaliknya. Apalagi kalau sampai ketahuan aku benar-benar menjalin hubungan serius dengan Bayu. Bisa gawat! Mengundangnya datang ke rumah saja hari ini butuh nyali yang besar. Tapi aku benar-benar ingin ada solusi di kerjaanku. Dan aku melihat Bayu orang yang paling pas. Tapi ya itu tadi, aku jadi was-was, takut tiba-tiba ada teman kantor yang main ke rumah tadi. Walaupun memang jarang sekali. Tapi kan mungkin saja. Parno deh… Hhh…. Aku menarik nafas panjang.


Solusi

SolusiPagi ini aku dipanggil meeting lagi.

“Bagaimana Wi, sudah dapat solusinya?” tanya Bu Sari, atasanku.

Aku mencoba menjelaskan seperti nasihat yang kudapat dari Bayu.

“Wah! Bagus sekali idemu! Kalau begitu sebentar lagi kita sudah bisa ya punya rubrik baru sesuai permintaan Pak Harjo. Bagus, bagus! Brilian! Jadi, minggu depan sudah bisa mulai bahas konsep dan penulisnya siapa. Begitu kan?”

“Nah, kalau SDM-nya itu yang saya belum tahu Bu. Tapi saya sudah minta HRD untuk pasang iklan lowongan kerja dari 10 hari lalu. Ada beberapa kandidat yang sempat saya interview, tapi masih belum ketemu yang pas. Selesai meeting saya akan langsung cek lagi ke Bu Hermin, meminta kandidat baru. Semoga ada banyak lagi yang masuk.”

“Ya sudah. Langsung dijalankan saja ya Wi. Saya serahin ke kamu saja. Nanti begitu rapat konsep, harus sudah ada orangnya ya!”

“Baik Bu Sari. Dewi usahakan. Doain ya Bu…” kataku tersenyum menutup pembicaraan dalam rapat dengan Bu Sari pagi itu.

Dalam hati aku deg-degan. Ampun… Mana mungkin dalam seminggu sudah bisa ada orang baru!

Sebetulnya Bayu capable untuk posisi yang dicari. Tapi bagaimana caranya ya? Nanti Bu Sari kaget, kok aku bisa tahu latar belakang pendidikan Bayu dan begitu yakin kalau Bayu cocok menjadi penanggung jawab rubrik baru? Oh!! Aku tahu!!

Tok, tok, tok! Aku mengetuk pintu kepala HRD kantorku, Bu Hermin.

“Masuk!” sahut Bu Hermin dari dalam.

“Pagi Bu.”

“Pagi Dew. Duduk!”

“Makasih Bu Hermin. Ibu pasti tahu maksud kedatanganku ke sini kan..” kataku senyum-senyum.

“Tahu dong! Ini pas banget. Memang aku mau kasih kamu beberapa kandidat lagi. Ada beberapa yang bagus nih! Kamu pilih lagi boleh. Atau mau interview semua juga boleh. Infokan saja siapa-siapa, nanti langsung aku minta Andi menghubungi mereka untuk dijadwal interview. Supaya cepat, satu hari langsung saja beberapa orang. Kan hanya interview.”

“Wah! Bagus, bagus! Thank you banget Bu Hermin. Tapi Bu, begini. Ini kan aku kepepet waktu ya. Semisal tidak ada kandidat yang cocok, kira-kira di dua lantai ini ada nggak sih yang lulusan jurnalistik? Seingatku dulu sepertinya ada di bagian Administrasi atau Marketing gitu?”

“Oh! Sinta? Anak marketing? Iya dia memang jurnalistik. Tapi jangan deh. Aku nggak rekomen Wi.”

“Oh gitu? Ehm… ada lagi nggak Bu?”

“Hmm… sebentar Ibu ingat-ingat. Eko, sudah resign bulan lalu. Adi masih dibutuhkan di Administrasi… Sepertinya sih masih ada, tapi siapa ya? Kok aku lupa…”

 

Waduh! Strategiku gagal sepertinya.

 

“Nggak apa-apa deh Bu. Aku minta tolong saja mungkin bisa dicek semua CV yang ada? Siapa tahu ada yang lulusan jurnalistik di divisi lain, kan lebih bagus. Jadi tidak perlu interview, karena sudah tahu sedikit banyak bagaimana cara kerjanya selama di sini.”

“Iya deh. Gitu aja ya Dew. Sori lho. Aku bener-bener lupa nih! Aku minta tolong Andi bantu bongkar file pagi ini deh.”

“Ok deh Bu. Dewi pamit dulu balik ke ruangan ya…”

Tiba-tiba…ketika aku sudah membuka pintu ruangan Bu Hermin untuk keluar…

“Oh Dew! Tunggu Dew. Aku baru ingat. Bayu! Bayu Dew! Dia lulusan jurnalistik lho!! Anaknya sih baik. Dan pintar. Tapi sekarang jadi OB tuh. Gimana?”

“Oh yah?!” kataku berpura-pura tidak tahu.

“Boleh aku lihat CV-nya?” tanyaku.

Bu Hermin pun mencari file di lemarinya, dan memberikan kepadaku.

“CV-BAYU RAGIL LAKSONO”, begitu tulisan di depan map yang ada di tanganku.

“Hmm… nama yang bagus,” gumamku dalam hati. Terlalu bagus untuk seorang OB.

“Sudah bawa saja dulu. Kalau mau diinterview langsung info aku ya Dew.”

“Ok Bu. Aku pinjam sebentar ya. Paling siang ini aku interview. Makasih Bu Hermin!”

“Sama-sama Dew. Sukses yah!” kata Bu Hermin menutup pembicaraan denganku.

Wow!! Akhirnya aku menerima CV Bayu secara legal! Tidak sabar rasanya ingin tiba di ruanganku dan menyimak CV ini. Aku pun memilih tangga darurat demi meneliti apa isi dari map yang kubawa… khususnya milik Bayu.

Sesampainya di ruanganku, aku menutup pintu. Duduk. Lalu membuka map itu dan membaca dengan seksama.

Ah… ternyata.. Bayu anak bungsu dari 7 bersaudara, sesuai namanya, Ragil. Yang artinya anak paling kecil. Dan tahun kelahirannya sama denganku! Waah! Aku pikir lebih muda paling tidak 5 tahun. Awet muda juga… Hmm… Dia satu-satunya anak dalam keluarga yang berhasil meraih jenjang S1, di sebuah Universitas negeri! Luar biasa ternyata. Aku seperti menemukan berlian pagi ini. Aku lalu meneliti CV-CV lainnya. Hmm… hatiku tetap condong memilih Bayu. Aku sudah beberapa kali mendengar masukannya, dan semuanya OK. Bayu paling cocok untuk jadi penanggung jawab rubrik baru. 45 menit kemudian, aku menelepon Bu Hermin.

“Bu Hermin. Aku mau interview Bayu ya. Kalau bisa sekarang saja di ruanganku. Makasih Bu.”

“Ok Dew. Siap. Laksanakan!” kata Bu Hermin.

“Hahahaha, Bu Hermin kaya tentara aja!”

Kami tertawa bersama-sama.

Tidak lama… pintu ruanganku diketuk orang.

“Masuk!” kataku.

“Pagi Bu Dewi. Saya ditelepon HRD…”

“Duduk Bay!” kataku memotong kalimat Bayu.

Setelah duduk, aku melanjutkan…

“Tadi Bu Hermin sudah sedikit banyak info kamu kan, kenapa kamu diinterview ulang. Jangan bingung ya Bay. Begini ceritanya. Pemegang saham utama di kantor ini menginginkan rubrik baru. Kurang lebih isinya tentang artikel-artikel seputaran partai pimpinan Pak Harjo, atau perkembangan politik di Negara kita ini. Nantinya rubrik ini akan berkembang sendiri alias menjadi majalah sendiri di bawah divisi yang pastinya terpisah. Bukan lagi di bawahku. Nah… aku pilih kamu untuk jadi penanggung jawab rubrik baru ini. Untuk itu aku minta CV kamu dari Bu Hermin dan menginterview kamu.”

“Iya Bu, tadi Bu Hermin sudah kasih gambaran sedikit. Dengan senang hati saya akan bekerja sebaik-baiknya kalau memang diterima jadi penanggung jawab rubrik baru.”

“Bagus Bay! Rasanya aku nggak perlu banyak-banyak interview ya. Kita sudah cukup sering tukar pikiran. Dan aku yakin kamu pasti bisa. Ehm… setelah ini mungkin kamu bakal diinterview sama Bu Sari atau mungkin juga Pak Harjo sendiri akan interview kalau memang ingin interview. Pede aja yah Bay. Kamu pasti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Begitu diinfo OK, aku akan info lagi pekerjaan selanjutnya yang memang sudah harus mulai dikerjakan. Kamu bakal sangat sibuk Bay, melebihi kesibukanmu yang sekarang. Bagaimana?”

“Tidak apa-apa Bu. Saya merasa sangat terhormat sudah Ibu beri kepercayaan sebesar ini. Saya kan baru beberapa minggu, belum genap 3 bulan bahkan. Dan kesibukan yang baru pastinya tantangan buat saya untuk bekerja lebih baik lagi.”

“Iya Bay. Kan lebih sesuai juga dengan pendidikan kamu. Masalah penyesuaian remunerasi nanti pasti dibicarakan oleh HRD ke kamu langsung.”

“Betul Bu Dewi. Lebih sesuai dengan pendidikan saya.” Bayu tersenyum lebar. Terlihat ekspresi yang beda dari biasanya. Bayu terlihat sangat happy hari ini.

“Ok Bay. Segitu dulu yah. Habis ini prosesnya aku kembalikan ke atasan dan HRD. Jadi kamu langsung ketemu sama Bu Hermin setelah ini ya. Untuk dijadwal interview entah sama Bu Sari atau Pak Harjo langsung. Sukses ya Bay!” kataku.

“Baik Bu. Terima kasih banyak Bu,” katanya. Bayu menyodorkan tangannya secara spontan.

Aku pun membalas dan bersalaman. Pegangannya lebih erat kali ini.

Sekitar pukul 3 sore…

Kriing…Kringg..! Teleponku berbunyi.

 

“Mbak Dewi…. Aku boleh masuk nggak?” Dita ternyata.

“Boleh, boleh. Sini Ta. Langsung masuk aja,” Jawabku.

 

Beberapa detik kemudian…

 

“Mbak! Bayu tadi kenapa? Tumben lama di ruangan Mbak Dewi?”

“Walaaah kirain penting Ta… hahaha… “

“Hahahaha… iya Mbak. Penting kan.. seorang OB ganteng berada di ruangan manajer cantik, dan lama pula!”

“Hahahaha… Dita…Dita… dasar iseng!”

“Mbak Dewiii! Cerita dong!”

“Iiiihh… mau tauuuk ajah. Hahaha… “

“Mbak… ayolah… please..please…please… kenapa Mbak. Jadian yah?”

“Haahh?? Kok kamu bisa nebak begitu? Ampun deh. Gosip, gosip, gosip! Awas kamu Ta kalau sampai ada gosip yang enggak-enggak di kantor ini.”

“Ya makanya Mbak, kasih tahu dong… “

“Dita… Dita… Bayu tadi itu aku interview ulang. Karena kan kamu sendiri tahu, akan ada tambahan rubrik baru. Pak Harjo kalau sudah mau kan harus kita realisasikan. Jadilah beberapa kali aku meeting sama Bu Sari itu ya karena rubrik ini. Sempat tertunda karena Bu Sari menerima masukanku. Tapi tetap saja dalam waktu 3 bulan harus sudah terbit edisi dengan rubrik baru ini. Nah, aku diinfo Ibu Hermin kalau Bayu itu lulusan jurnalistik Ta…”

“Haaahhhh?! Kenapa jadi OB yah?”

“Ya enggak apa-apa lah Ta. Yang penting halal kan. Mungkin itu yang dia pikir. Dan sekarang dia sedang dalam proses interview dengan bos-bos Ta. Dan HRD. Untuk dinaikkan jabatannya sebagai penanggung jawab rubrik itu.”

“Oh yaaahhh?!! Waah!! Ajaib Mbaaak!! Eh Mbak, nanti dia duduk di sebelahku saja ya? Ya? Ya? Please…”

“Hus! Belum-belum sudah nyosor aja kamu! Tunggu dulu hasil interview. Kalau bos-bos OK, besok juga sudah duduk di lantai ini. Tapi sepertinya enggak di sebelah kamu Ta. Nanti dia pusing!”

“Iiihhh kok pusing sih Mbak? Maksudnya?”

“Hahaha… kamu terlalu bawel buat dia yang pendiam. Bisa-bisa dia minta resign!”

“Idih Mbak Dewi jahat ih! Emang aku separah itu Mbak?” tanya Dita mendadak serius.

“Hahaha… enggak Ta… Enggak separah itu, cuma selevel lebih rendah aja…” jawabku masih bercanda.

Dita memang bawel. Kalau sudah senggang sedikit, dia bisa tiba-tiba nyelonong masuk ke ruanganku kalau pintunya sedang terbuka. Langsung duduk. Dan langsung ngegosip. Entahlah, mungkin gosip itu semacam hobi atau apa buat Dita. Sudah terkenal di kantor ini. Tapi untungnya Dita baik dengan semua orang. Jadi emosi orang-orang itu mungkin tertahan saja. Tidak diungkapkan ke Dita. Hihihi….

Sejam kemudian, menjelang pulang kantor, Bu Hermin meneleponku. Ia mengabarkan bahwa proses sudah selesai. Bayu diterima. Dan besok sudah bisa bekerja. Sementara aku akan mendudukkan dia di sebelah Dita. Karena yang kosong memang di situ. Nanti aku pikirkan lagi.

“Bu Hermin bantu aku yah. Tempat duduk yang cocok untuk Bayu. Sementara yang kosong hanya di sebelah Dita. Tapi untuk rubrik seserius itu mungkin Bayu butuh privasi atau kubikal baru.”

“Ok Dew. Besok pagi aku ke lantaimu ya.”

“Thank you Bu.”

“You are welcome, Dew!”

Itu pembicaraanku dengan Bu Hermin setelah diinfokan mengenai Bayu.

“Bay. Selamat ya! Kamu naik jabatan!” Itu SMS-ku ke Bayu setelah menutup telepon Bu Hermin.

“Terima kasih banyak Bu Dewi.” Balas Bayu.

Ah… selesai sudah masalahku. Legaaaa rasanya. Dan aku tidak pernah menyangka kalau ternyata OB baru bisa dipercaya oleh big bos di kantor ini. Luar biasa! Pesona si Bayu memang dahsyat. Hahaha….!


SMS Misterius

SMSKeesokan pagi…

“Eh! Dita! Sampai nggak ngenalin lho aku! Cantik deh!” kataku yang kaget ketemu Dita di depan lift.

“Makasih…! Iya dong Mbak… biar seger diliatnya!” katanya sambil senyum-senyum sumringah.

“Kan mulai hari ini di sebelah Dita ada cowok ganteng!” lanjutnya.

“Hahaha… Dita…Dita. Sampai segitunya deh!” kataku menyenggolnya.

“Harus dong Mbak Dewi… ada kesempatan jangan dilewatkan!!” jawabnya.

 

Pembicaraan kami selesai di situ. Karena lift kemudian terbuka.

“Duluan ya Mbak! Ada yang penting nih!” kata Dita lenggang kangkung meninggalkanku tanpa sungkan sambil tersenyum lebar. Ia bukan masuk ke ruangan, tapi ke kamar kecil!

“Iya deh! Sana!” kataku.

Aku masih harus naik 1 lantai. Mau ketemu Bu Hermin. Memintanya untuk mampir ke ruanganku sekalian ngobrol sebentar. Bayu sudah duduk di depan Bu Hermin. Setelah melihatku datang, mereka lalu berdiri dan bersama-sama turun ke bawah melalui tangga darurat.

“Yuk! Langsung turun aja ya Dew!” kata Bu Hermin begitu melihatku.

Sesampainya di bawah…

“Pagi semua…! Apa kabarnya?” sapa Bu Hermin begitu masuk ke area divisiku.

“Pagi Buuu…. “ jawab Dita paling bersemangat. Yang lain hanya menyapa biasa saja.

“Kalian sudah tahu ya, bahwa mulai hari ini ada rekan kerja “baru”!” kata Bu Hermin sambil menggerakkan keempat jarinya, dua kiri telunjuk+tengah dan dua kanan.

Kami pun tertawa melihatnya.

Ya, kami semua mengerti bahwa Bayu memang staf baru. Tapi bukan berarti kami benar-benar baru mengenalnya. Itu sebabnya kami tertawa. Bayu kulihat agak memerah mukanya. Sepertinya malu jadi pusat perhatian.

Setelah Bu Hermin memperkenalkan Bayu, termasuk latar belakang pendidikannya sehingga dia disetujui oleh atasan untuk naik jabatan, Bu Hermin pun mengatakan bahwa tempat duduk Bayu adalah di sebelah Dita. Aku melihat Dita. Mukanya kemerahan. Hihihi…. Yang lain masih terperangah, karena tidak tahu kalau Bayu yang adalah OB itu ternyata lulusan S1 Jurnalistik.

“Tapi hanya sebulan ya Bayu,” kata Bu Hermin melihat ke arah Bayu.

“Lho, kenapa Bu?” Dita spontan menyahut.

Dan yang lain spontan heboh menimpali kalimat Dita. Aku hanya tertawa-tawa saja. Karena yang seharusnya bertanya kan Bayu. Dita terlihat malu setengah mateng. Mukanya merah dan langsung menunduk.

Bu Hermin juga tertawa, lalu berkata, “Karena memang seharusnya Bayu memiliki kubikal khusus yang lebih menyendiri. Pekerjaannya butuh konsentrasi. Itu saja. Bukan saya mau memisahkan dia dari kalian kok. Tenang saja. Ya Dita. Tenang ya,” kata Bu Hermin tersenyum iseng melihat ke arah Dita.

Hahahaha…. Kami lagi-lagi menertawakan Dita. Dan lagi-lagi Dita memerah. Aku melirik ke arah Bayu. Dia hanya tersenyum kecil. Matanya melihat ke bawah, tidak berani menatap kami-kami. Dia juga malu rupanya.

 

Perkenalan hari itu akhirnya selesai dalam waktu kurang lebih 20 menit. Bu Hermin pamitan. Dan Bayu kuantar ke meja barunya. Tati, Boy, Sinta, Dita, menyalaminya. Kami pun kembali bekerja.

 

Tiga bulan berlalu…

Sejak Bayu diangkat jadi staf, terasa perbedaan di kantor. Hmm… entahlah. Apakah kekagumanku yang mulai bergeser dari sekedar kagum atau apa. Yang jelas terlihat mungkin cuma perubahan penampilan Dita. Dia makin cantik. Dandanannya makin terlihat kinclong. Sekarang dia pakai eyeliner dan blush-on di pipinya lebih jelas terlihat. Bibirnya juga. Lebih berwarna, dibanding dulu yang lebih suka memakai warna-warna tua. Walaupun Bayu tidak lagi duduk di sebelahnya, melainkan lebih dekat ke ruanganku dengan kubikal baru yang agak terpisah, Dita tetap saja paling kinclong. Hihihi…

Pak Harjo menyukai cara kerja Bayu. Bu Sari juga. Tepat seperti dugaanku. Karena Bayu memang cerdas dan cekatan. Inisiatifnya tinggi. Jadi tidak perlu harus disuruh baru bekerja. Ada saja yang ia kerjakan. Dan semuanya tepat sesuai yang diinginkan atasan. Hmm… Staf baru satu ini memang spesial.

Sore itu, hari Sabtu, aku menemani Ibu ke supermarket. Rupanya HP-ku tertinggal di rumah. Sekitar 3 jam kemudian aku kembali tiba di rumah, dan 30 menit membantu Ibu berberes belanjaan dan memanaskan menu yang kami beli tadi. Lalu aku masuk ke kamar untuk melihat HP. Ada SMS.

“Tumben,” pikirku. Ya, di jaman sekarang ini, sudah jarang orang menggunakan SMS. Karena sudah banyak media “chating” tidak berbayar kalau HP terkoneksi dengan wifi atau paket-paket internet. Jauh lebih hemat, dan bisa berbalas-balasan panjang lebar, tanpa perlu bertelepon ria.

“Bu Dewi, saya ingin beritahukan bahwa saya harus pulang bulan depan dan mungkin tidak kembali lagi ke Jakarta.” Begitu isi SMS-nya. Tanpa nama. Hanya nomor. Wah! Aku bingung. Siapa ya? Hmm… yang memanggilku Bu Dewi memang hanya beberapa. Ada Tati, Boy, Sinta, dan… Bayu. Nah, kalau yang tinggal di luar Jakarta sih semuanya. Nomornya kok tidak aku kenal ya?

“Sori nih sebelumnya. Ini siapa ya?” saya membalas SMS itu dan menunggu….

Lima menit kemudian ada SMS masuk lagi.

Tapi Ah! Bukan balasan dari orang yang sama. SMS penipuan abal-abal seperti yang biasa masuk. Membuatku semakin tidak terlalu memperhatikan kalau ada SMS. Hanya saja, kan tadi HP-ku tertinggal. Jadi aku mengecek semua yang masuk. Termasuk SMS misterius tadi.

Selagi berpikir dan berpikir… SMS berikutnya masuk lagi.

“Maaf Bu Dewi. Ini Bayu. Dan ini nomor HP yang biasa saya pakai untuk kontak Pak Harjo.” Begitu balasannya.

“Oh! Kamu Bay! Lho kenapa kok mendadak Bay?” balasku.

“Sebetulnya bukan mendadak Bu. Kalau Ibu ada waktu, bisa saya bicarakan hal ini, apakah bisa hari ini?” SMS Bayu.

“Bisa Bay. Ke rumah saja ya. Aku di rumah kok. Jam berapa mau datang?”

“Satu jam lagi kurang lebih bisa Bu?”

“Bisa Bay. Aku tunggu di rumah ya. Nanti langsung saja tekan bel di pagar tembok kiri ya.”

“Iya Bu. Terima kasih.”

Setelah SMS terakhir, entah kenapa aku gelisah. Bayu akan pulang kampung dan tidak lagi kembali ke Jakarta. Ada rasa kehilangan yang cukup besar dalam hatiku. Sedih. Kecewa. Bingung. Campur aduk. Aku bakal kehilangan rekan kerja yang brilian di kantor. Dan nanti yang akan menggantikan dia siapa ya? Waduuuh aku bingung.

“Wi! Ayo makan!” Ibu memanggilku.

“Ehm… iya Bu…” aku kaget. Ternyata Ibu sudah berdiri di depan kamarku.

“Kenapa Wi? Kok sepertinya bingung begitu…?” tanya Ibu melihat ekspresiku.

“Ini Bu… aku baru terima SMS Bayu. Katanya dia mau pulang kampung dan nggak balik lagi ke Jakarta…”

“Lho! Kok mendadak gitu? Kenapa Wi?”

“Enggak tahu Bu. Dia mau ke rumah sejam lagi. Mungkin mau cerita.”

Aku berjalan ke arah pintu mendekati Ibu sambil masih membawa HP dengan SMS terakhir Bayu terlihat di layar.

“Oh gitu… ya sudah. Ayo makan dulu.” Ibu menggenggam tanganku. Seolah tahu kegundahan hatiku yang paling dalam karena …. Hatiku galau. Lebih dari sekedar akan kehilangan rekan kerja sepertinya… Ah!

Kurang lebih sejam kemudian… Bel rumah berbunyi. Bayu datang. Aku membukakan gerbang dan menyuruhnya masuk.

“Malam Bu. Maaf kalau mengganggu.” Itu kalimat pertama yang diucapkan Bayu begitu melihatku.

“Enggak kok Bay. Yuk masuk!” kataku.

Bayu pun melangkah masuk setelah kubukakan pintu gerbang, lalu menungguku menutupnya kembali. Kami lalu bersama ke arah pintu. Aku masuk lebih dulu. Ibu di ruang tamu menonton TV. Bayu menyapanya.

“Malam Bu.”

“Eh Nak Bayu. Malam Nak. Masuk, masuk. Mau ngobrol penting ya…” kata Ibu.

“Iya Bu. Makanya Bayu ke rumah.” Aku yang membalas kalimat Ibu, karena Bayu terlihat bingung menjawabnya. Dia tersenyum-senyum saja.

“Yuk Bay, di ruang makan saja ya. Nggak apa-apa. Soalnya di luar atau di teras belakang kan banyak nyamuk.”

Dan kami pun ngobrol kurang lebih 1 jam. Ternyata, Ayah Bayu memanggilnya pulang. Tapi entah kenapa. Bayu juga tidak begitu tahu. Yang jelas, Bayu diminta ayahnya untuk bekerja di kampung saja. Ternyata sejak kecil Bayu tidak terlalu diperhitungkan oleh ayahnya. Kakak-kakaknya berjumlah 6 orang, dan semua laki-laki.

“Ayah menginginkan anak perempuan Bu. Jadi saya kurang diharapkan waktu lahir.”

Bayu memilih untuk pergi jauh mencari pengalaman dengan beksekolah dan bekerja di kota besar.

“Saya ingin mandiri saja. Kasihan ayah harus terus bekerja untuk anak-anaknya.”

Semua kakaknya tidak ada yang lulus kuliah. Hanya Bayu. Hidup mereka serba nyaman. Ya, Bayu rupanya anak orang kaya di kampung. Walaupun tidak sekaya dulu karena harta Ayahnya mulai banyak berkurang dihabiskan oleh kakak-kakaknya. Gajinya tiap bulan ia sisihkan untuk dikirim ke ibunya. Walaupun tidak seberapa.

“Saya hanya ingin balas budi. Betapapun perlakuan mereka, semua toh mendatangkan kebaikan buat saya sekarang. Bisa mandiri, kuliah dengan biaya sendiri, sudah bekerja. Jadi saatnya saya balas budi. Ayah Ibu yang membesarkan saya, dan kalau dihitung biayanya dengan kondisi sekarang, belum tentu bisa saya kembalikan semua.” Begitu cerita Bayu.

“Saya bukan tipe yang terbuka Bu. Tapi kalau sama Bu Dewi tidak tahu kenapa, saya nyaman saja bercerita.” Tiba-tiba Bayu berkata begitu.

Saya tersenyum mendengar itu.

“Terima kasih lho Bay. Udah percaya sama aku untuk bisa terbuka,” kataku.

Setelah menjawab semua pertanyaanku soal “mengapa harus mendadak pulang, dan tidak mau kembali lagi ke Jakarta, padahal pekerjaannya sedang bagus”, kami membahas pekerjaan di kantor. Dan selesai sejam kemudian. Bayu pun pamitan. Tinggal aku seorang diri, eh, dengan Ibu maksudku. Besok pagi aku harus menemui Bu Hermin dulu. Menceritakan kalau Bayu akan mengundurkan diri, dan meminta file-file yang waktu itu pernah masuk. Kandidat-kandidat yang ada harus kuwawancarai. Harus gerak cepat! Life goes on anyway… Aku tidak punya waktu untuk bersedih. Walaupun menyelinap rasa tidak nyaman dalam hatiku, yang semakin membesar setelah mendengar cerita Bayu bahwa dia tidak akan kembali lagi ke Jakarta. Aku masih berharap dia tidak jadi pulang kampung. Tapi… sudahlah. Apa mau dikata. Aku tidak bisa menahan, kalau sudah urusan dengan orangtua.


Kejutan Akhir Tahun

KejutanTanpa terasa, sudah akhir tahun lagi. Setahun penuh aku berjuang mengalahkan kejenuhanku. Diselingi dengan kehadiran seorang OB ganteng yang lalu jadi staf dan bisa terbuka menceritakan banyak hal tentang dirinya kepadaku. Orang yang disukai Dita habis-habisan, tapi sepertinya bertepuk sebelah tangan. Bayu tidak terlalu menanggapi Dita. Itu cerita yang dia sampaikan sendiri ke aku. Dita-nya sih tidak pernah putus asa. Ada saja taktiknya. Entahkah memberi Bayu kue. Memberinya kado ulang tahun. Atau sekedar memberikan alat tulis kantor seperti pena, pensil, penghapus. Dan bahkan frame foto! Ada-ada saja Dita ini. Hihihi…

 

Aku mengenang kejadian yang kulewati selama satu tahun terakhir. Ah… seharusnya aku bersyukur. Masih punya pekerjaan. Walaupun sudah begitu jenuh. Tapi dibandingkan banyak orang yang ingin bekerja saja kesulitan, karena lamarannya tidak diterima di manapun. Aku jauh lebih beruntung. Dan seharusnya tidak punya alasan untuk mengeluh. Aku juga harus bersyukur, ketika di tengah kejenuhanku ada seorang Bayu yang menjadi selingan tersendiri sehingga aku bisa melupakan bahwa ada rasa jenuh itu. Walau hanya sebentar…

 

Sejak kepulangannya ke kampung halamannya, tidak pernah lagi dia mengontakku lewat SMS. Aku juga tidak tahu mau mengirimkan SMS apa untuknya. Kan hubunganku dengannya hanya sekedar pekerjaan. Tidak lebih dari itu. Dia memang baik, tapi rasanya kepada semua orang juga begitu. Tidak ada tanda-tanda istimewa selain keterbukaannya yang katanya sih hanya bisa ditujukan kepadaku. Sebentar lagi sudah berganti tahun. Sang Waktu seolah tidak mau berjalan santai. Semua terjadi begitu cepat. Bagaikan kilat.

 

Dan akhirnya setelah merenung beberapa lama, aku berucap, “Terima kasih Tuhan untuk semua yang sudah terjadi selama satu tahun ini…” Dengan tulus kalimat itu keluar dari hatiku. Dan tanpa terasa, pipiku basah. Air mata mengalir. Bukan karena sedih. Tapi karena Tuhan membuatku berhasil melewati semuanya. Ya. Semuanya, selama satu tahun penuh!

 

“Wi… Ada tamu!” kata Ibuku tiba-tiba. Aku buru-buru menghapus air mataku. Karena larut dalam haru, aku sampai tidak mendengar Ibu membuka pintu kamar.

“Kenapa Wi? Kamu menangis?” tanya Ibu melihatku.

“Tidak ada apa-apa Bu. Aku cuma tiba-tiba terharu karena merasa bersyukur. Satu tahun sudah berlalu dengan baik.” Itu jawabku sambil tersenyum.

“Oh… iya Nak. Kita ini harus selalu berterima kasih sama Tuhan. Dengan begitu hidup juga terasa lebih indah dan menyenangkan.”

Ibu mendekatiku yang masih duduk di kursi depan meja kecil tempat aku mengerjakan pekerjaan kantor kalau ada yang belum selesai. Beliau memegang pundakku dengan lembut.

“Itu ada tamu Wi. Cari kamu.”

“Oh! Siapa Bu?”

“Sahabatmu dari Amerika, Wi.”

“Oh! Santi!!” Bergegas aku keluar dan melihat Santi duduk manis di depan TV.

“Santiiii!!” Aku berteriak memanggilnya.

“Halo Deeew!!”

Kami berpelukan. Aku sangat senang melihat Santi tiba-tiba muncul dan berdiri di ruang tamu rumah!

“Kok nggak bilang-bilang sih kalau datang? Kapan datangnya nih?”

“Hahaha… biar seru dong Dew. Kalau aku kasih tahu kan enggak seru lagi…”

“Iya sih!”

Kami langsung ngobrol di ruang makan sampai larut. Ibu melanjutkan menonton TV di ruang tamu. Pukul 11 malam Santi baru pulang.

“Nginep sini saja Nak Santi!” kata Ibu.

“Oh terima kasih Tante. Santi pulang aja. Deket ini kan. Lagipula, ini Santi baru datang di rumah, taruh koper, terus langsung deh ke sini. Papa Mama aja langsung Santi tinggalin tadi… Kangen sama ini nih Tan!” jawab Santi sambil merangkulku.

Setelah itu Santi memeluk Ibu dan pamitan. Dia pulang ke rumahnya yang hanya berjarak 10-an meter dari sini. Masih dalam komplek yang sama.

 

“Besok pagi Santi ke sini lagi. Jangan bosan ya Tan…” kata Santi ketika sampai di pintu gerbang rumahku. Lalu melambaikan tangannya. Hahahaha… Santi… Santi…

 

Teman mainku sejak kecil karena kami bertetangga, dan bersekolah selalu di sekolah yang sama. Sampai kuliah. Setelah itu Santi melanjutkan studi ke Amerika. Bekerja di sana. Dan 12 tahun kemudian baru kami bertemu kembali malam ini. Kebayang kan, betapa kangennya aku sama dia. Santi sempat menikahi warga Negara Amerika. Tapi pernikahan itu hanya bertahan 5 tahun. Suaminya kedapatan berselingkuh dengan pria lain. Berkali-kali. Ya. Suaminya seorang gay ternyata. Santi baru tahu pada saat pernikahan berjalan 4 tahun. Tapi Santi memang hebat. Mengetahui itu dia mencoba untuk tetap mempertahankan pernikahannya, masih berharap bisa menolong suaminya. Tapi terapi yang ia rekomendasikan untuk suaminya, ternyata tidak membuahkan hasil. Beberapa psikiater dan psikolog sudah mereka datangi. Pada akhirnya Santi hanya bisa pasrah. Sampai satu hari, suaminya meminta cerai. Alasannya kasihan sama Santi. Karena dia sudah tidak sanggup lagi memperjuangkan pernikahan mereka. Santi pun mengiyakan. Kesedihan itu katanya baru bisa ia lewati setelah 4 tahun. Ah Santi… Seandainya aku ada di sampingnya di masa-masa itu. Mungkin dia tidak akan selama itu memendam kepiluan. Cerita sedihnya itu memberikan kekuatan tersendiri buatku. Aku jadi merasa sangat cengeng dan manja. Hanya karena jenuh di kantor aku keseringan menangis diam-diam. Padahal dibandingkan Santi? Masalahku tidak ada apa-apanya. Hhh…. Aku harus kembali bersemangat!!

 

Malam itu aku bercerita ke Ibu tentang Santi. Ibu pun sama. Kagum dengan Santi yang bisa bangkit dari kesedihan yang sangat dalam.

 

“Besok kamu beli makanan kesukaan Santi Wi di pasar. Buat sarapan.”

“Pasti Bu. Besok Dewi belikan lontong sayur buat Santi.”

Hmm… sekali lagi aku bersyukur kepada Tuhan. Hari ini benar-benar hari yang penuh kejutan!

Terima kasih Tuhan….

 

Keesokan pagi…

Jam 9 bel berbunyi. Ting-tong! Santi benar-benar tepat waktu!

“Masuk San! Nggak digembok kok. Udah gua buka dari tadi. Kan gua udah ke pasar. Ada sesuatu buat elu!” kataku berdiri di depan pintu rumah melihat Santi sudah berdiri di luar gerbang.

“Wah! Apaan tuuuu? Penasaran deh!” jawab Santi dengan ekspresi sumringah.

 “Wooww lontong sayur!! Kesukaan Santi nih Tan!” katanya begitu melihat semangkok lontong sayur di atas meja makan.

“Makan Nak. Sarapan dulu. Dewi yang beli tadi di pasar,” kata ibuku tersenyum melihat tingkah Santi yang heboh, padahal hanya melihat lontong sayur.

“Di sana nggak ada yang seenak ini Tan! Makan yuk!” ajak Santi ke Ibu.

“Udah makan aja duluan sama Dewi. Ibu nanti saja.”

Dan kami pun makan. Aku melihat Santi begitu lahap menghabiskan si lontong sayur.

“Ini yang jualan masih yang dulu Dew?”

“Sudah diturunkan resepnya ke anaknya Ti. Ibunya sih masih suka jaga di warung. Tapi sudah tua Ti. Jadi yang masak ya anaknya.”

Obrolan pagi itu mengalir begitu saja. Dari topik satu ke topik lain tidak berhenti. Dari yang remeh-temeh, sampai yang penting dan sangat penting! Ya. Santi mengungkapkan niatnya untuk merekrut aku menjadi Content Manager di perusahaannya.

“Elu nggak perlu pindah negara dan ninggalin nyokap elu Dew. Bisa kerja di rumah dulu. Kalau memang elu rasa udah butuh kantor khusus, cari aja sewaan kantor dan kalau butuh staf, rekrut aja. Elu bakal jadi pimpinan cabang perusahaan gua di Jakarta Dew. Gimana? Mau kan ya… please… “

“Hmm… tawaran menggiurkan!” kataku dalam hati.

Sounds exciting!

“Soal gaji, elu nggak perlu kuatir Dew. Berapa yang elu minta, gua OK. Bisnis ini gua yakin bakal sukses di Indonesia!”

“Hehe… bukan soal gaji Ti. Tapi gua kan harus cari pengganti untuk kerjaan yang sekarang masih gua jalanin. Elu tahu kan gua juga manager di situ…Jadi enggak gampang bisa keluar kecuali ada pengganti.”

“Ya udah, pikirin ya! Jangan lama-lama. Paling enggak 2 bulan udah bisa jalan!”

“Ok!”

Aku menjawab OK, padahal dalam hati bingung. Dalam waktu 2 bulan, aku harus mencari pengganti. Tidak gampang. Tapi aku bersemangat menerima pekerjaan dari Santi. Jadi harus aku coba!

 

Selama 10 hari di Jakarta, Santi banyak bercerita tentang kehidupannya di sana. Setelah 4 tahun bercerai, Santi memang tidak terlalu sedih lagi dan sama sekali tidak menyalahkan dirinya. Tapi Santi masih punya sedikit ketakutan. Takut salah pilih lagi. Sampai satu ketika, ia bertemu dengan seseorang. Warga Negara Amerika juga. Tapi Indonesia tulen. Orangnya sangat baik. Mereka berkenalan di sebuah acara komunitas orang Indonesia yang tinggal di Amerika. Hubungan berlanjut. Mereka sudah berpacaran selama 1 tahun belakangan.

 

“Pertengahan tahun depan gua akan nikah. Doain ya. Gua takut salah pilih… Tapi kayanya enggak sih. Ini gua ke sini mau ketemu sama orangtuanya Dew. Besok dia baru datang. Besok ikutan aja Dew. As best friend!”

“Hah?! Masa ketemu camer gua ikutan?”

“Lho enggak resmi-resmi amat kok! Cuma diundang makan aja. Sekalian minta tolong Dew… elu liatin yah boy friend gua yang ini, dan orangtuanya. Hehehe… Terus kasih komen selesai makan-makan!”

“Idiiih salah orang deh! Gua juga belum nikah! Nggak jago ah liat orang!”

“Udah pokoknya ikut ya! Gua abis ini SMS ke dia. Kasih tahu kalau gua bakal datang bersama sahabat gua. Sekalian biar gua nggak grogi Dew. Please.. yah! Tolongin gua…”

Melihat muka Santi yang sangat serius membuatku mengangguk. Padahal aku malas. Aduh ada-ada saja nih Santi….

 

Keesokan hari. Makan siang berlangsung lancar. Aku diperkenalkan Santi sebagai sahabat baiknya. Ikut datang karena mengantarkan Santi yang sudah lama tidak tinggal di Jakarta.

“Agak bingung sama jalanan yang banyak berubah Tante. Jadi Santi ajak Dewi,” begitu kata Santi ke ‘camer’nya.

1,5 jam kemudian acara selesai. Kami berpisah. Aku dan Santi berpamitan. Kedua camer sudah berjalan lebih dulu ke arah mobil mereka.

“Saya nemenin Dewi pulang ya James,” kata Santi ke pacarnya.

“Iya. Dewi thank you so much ya. Sori banget ngerepotin kamu. Boy friend kamu OK?” tanya James ke Dewi.

“Ehm… maksudnya bagaimana James?” tanyaku agak bingung.

“Eh, maksudnya boy friend kamu nggak keberatan kamu nemenin Santi?”

“Oooh.. hehe… enggak James. Tenang aja.”

Mendengarku menjawab itu Santi langsung memelototi aku.

“Kenapa Ti?” tanya James.

“Eh enggak apa-apa James,” jawab Santi.

Boy friend Dewi mah baik James. Kaya kamu lah….!” lanjut Santi mengalihkan pertanyaan James.

“Haha… bisa aja kamu Ti. Ya sudah. Hati-hati di jalan ya! Sampai besok ya Ti. Saya telepon nanti malam,” kata James sambil berjalan menjauhi kami.

 

Setelah hanya berdua saja….

“Calon mertua elu baik banget Dew. Calon suami elu juga! Udah. Nggak salah pilih deh!”

“Hah?! Bener yah? Serius?” tanya Santi dengan mata berbinar-binar.

“Bener! Tapi kan elu sendiri yang lebih kenal. Harusnya lebih tahu sih… “

“Iya, gua merasa nyaman banget tadi. Thanks ya Dew!” kata Santi tersenyum lebar, lalu memelukku.

Hari itu selesai makan siang, aku dan Santi berjalan-jalan di mall, lalu kuajak Santi ke Monas sorenya. Berkeliling sebentar, melihat-lihat tempat yang dulu waktu kecil jadi tempat favorit kami. Lalu pulang ke rumah. Malam itu kami makan malam di rumah bersama Ibuku tercinta. Dan setelah makan malam, Santi pamitan pulang.

 

“Mau ditelepon sang kekasih Bu….” kataku ke Ibu, karena Ibu bertanya, kenapa cepat pulang.

“Hahaha… iya nih Tan, kan dia baru datang kemarin malam. Terus tadi ngajak makan siang sama orangtuanya. Santi ajak Dewi biar ada teman, supaya enggak grogi. Hehehe… Tadi abis makan siang langsung sama Dewi lagi. Jadi belum sempat ngobrol-ngobrol sama dia.”

“Oh gitu. Ya sudah sana cepetan pulang,” kata Ibu.

 

Santi pun pulang. Ah! Senangnya mendengar dia akhirnya akan menikahi orang yang tepat! Happy for her!


Back to Work!

BackToWorkSemangat! Ya. Aku harus semangat. Ini sudah tahun baru. Kemarin Santi terbang kembali ke San Francisco. Meninggalkan aku dengan “PR” yaitu mencari penggantiku. Dia akan pulang pertengahan tahun ini untuk merayakan pernikahannya.

 

“Waktu gua pulang nanti, gua mau kunjungan ke kantor kita yang baru ya Dew!” katanya selesai kami berpelukan untuk berpisah sebelum Dewi masuk ke dalam Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta.

“Iya! Doain ya, supaya semua lancar!” kataku.

“Pasti! Salam buat Tante ya! Ingat janji kita yah Dew!” katanya sambil berjalan ke arah pintu kaca dengan menyeret 1 koper besar dan 1 cabin bag yang akan terbang bersamanya.

“Janji apaan sih?” kataku.

“Ih! Pura-pura lupa deh! Awas lo ya!”

“Hahaha….  Hati-hati ya Ti. Save flight! Info-info kalau sudah sampai ya. Sampai ketemu lagi!“ Aku melambaikan tangan ke arahnya.

“Iyaaa… Sampai ketemu yaaa…” Santi membalas lambaianku.

Dia pulang sendirian, karena James masih ada urusan di Jakarta. Sedih juga aku kehilangan sahabat seperti Santi. Jarak yang jauh membuat kami tidak bisa dengan gampang bertemu. Padahal dulu kami sering bertukar cerita, termasuk yang pribadi. Mimpi-mimpi kami. Ah… betapa waktu begitu cepat berlalu. 10 hari bertemu Santi cuma terasa 3 hari.

 

Back to work

 

Pagi itu sesampainya di kantor, aku langsung naik ke lantai 20. Bertemu Bu Hermin. Aku meminta berkas-berkas calon staf yang pernah masuk. Seingatku ada yang cukup potensial, sebelum aku memberikan lowongan itu ke Bayu. Untunglah Bu Hermin tidak terlalu “sadar” mengapa aku meminta file-file mereka. Setelah mendapatkannya, aku turun dan berjalan ke ruanganku.

Di tempat Bayu sudah ada staf pengganti. Aku menyapa teman-teman, lalu masuk. Pintu kututup. Tidak mau diganggu orang lain dulu.

 

“Hmm… sudah lebih dari 6 bulan. Apa iya mereka masih mau kerja di sini? Apa iya mereka belum mendapatkan pekerjaan?” pikirku melihat berkas-berkas itu.

Selagi serius, tiba-tiba handphone-ku berbunyi.

“Halo…”

“Bu Dewi. Selamat pagi. Selamat tahun baru ya Bu!” kata suara di seberang sana. Laki-laki.

“Pagi. Selamat tahun baru juga…. Ehm… maaf, ini dengan siapa?” tanyaku sambil menerka-nerka.

“Bayu Bu…. “

……..

Mendadak aku seperti tercekat! Lalu pikiranku berputar cepat. Bayu? Kok bisa? Mendadak telepon? Selama ini kemana?

 

“Oh… halo Bay! Sori nama kamu nggak muncul di HP-ku tadi. Apa kabar Bay? Sudah lama nggak kontak, kemana aja?”

“Oh, iya Bu. Ini nomor baru saya. HP saya hilang Bu waktu pulang kampung. Mungkin dicuri orang dalam bis… Jadi saya kehilangan semua kontak teman-teman di Jakarta…”

“Oooh gitu. Lho, terus kok bisa telepon aku Bay?”

“Ehm… tadi saya mampir ke rumah Bu. Titip oleh-oleh dari kampung. Tapi Bu Dewi sudah berangkat kerja. Dan Ibunya Bu Dewi memberitahu saya nomor HP Ibu…”

“Oooh gitu… Ok, Ok. Ehm.. Sori Bay. Boleh nanti kita ngobrol lagi? Aku lagi agak repot…”

“Oh baik Bu. Maaf mengganggu…”

“Oh enggak kok. Sama sekali nggak mengganggu. Aku thank you banget lho dikasih oleh-oleh. Diantar ke rumah lagi! Repot-repot amat Bay….”

“Enggak repot kok Bu Dewi. Kan cuma antar. Saya ada titip juga untuk teman-teman. Nggak seberapa Bu. Kalau sudah sempat saya mampir ke kantor, ketemu sama mereka.”

“Ok, ok. Aku sih masih pingin ngobrol. Tapi nanti ya Bay… Sori.”

“Iya. Nggak apa-apa Bu. Terima kasih.”

“Saya dong yang terima kasih Bay! Hahaha… sampai nanti ya!” kataku menutup pembicaraan.

 

Setelah itu… aku terdiam.

 

Bayu… Tiba-tiba berjejalan pertanyaan pop-up di otakku. Rasanya ingin langsung kutanyakan tadi. Tapi aku harus menyeleksi file-file di depanku ini. Ah! Sudahlah. Nanti aku hubungi…

 

Sore itu aku pulang agak telat. Banyak rapat diadakan. Membahas kinerja tahun lalu, dan ide-ide baru untuk 1 tahun ke depan. Rapat dengan tim besar, dan tim kecil. Koordinasi dengan Majalah-majalah lain juga. Agak terlambat memang, tapi kami harus menunggu Pak Harjo selesai liburan. Setibanya di rumah, sudah pukul 8 malam. Aku membuka gembok pagar dengan kunci duplikat yang memang “jatah”-ku, lalu membuka pintu rumah. Masih ada Bu Tuti yang duduk nonton TV bersama Ibu di ruang tamu.

 

“Malam Bu Tuti. Maaf ya Bu saya pulang malam hari ini. Ibu jadi kelamaan deh…”

“Oh enggak apa-apa Wi. Itulah gunanya tetangga!” kata Bu Tuti tersenyum.

“Tanggung juga nih sinetronnya. Setengah jam lagi baru selesai!” lanjutnya sambil langsung kembali menghadap ke TV.

“Sudah makan Nak?” tanya Ibu.

“Sudah Bu. Tadi jam 5 dibelikan nasi kotak di kantor. Semua yang rapat mendapatkan nasi kotak. Kenyang banget Bu.”

“Ya sudah sana langsung mandi.”

“Iya. Mari Bu Tuti. Dewi beres-beres dulu ya…”

“Mari, mari Wi…. “ balas Bu Tuti tanpa menengok ke arahku.

Aku tersenyum melihatnya. Sinetron yang sudah lebih dari 250 episode ini memang kegemaran Bu Tuti dan Ibuku. Masih lumayanlah ceritanya. Seputar kisah keseharian yang dikemas dalam alur yang mengalir alami, layaknya kehidupan sehari-hari. Tidak seperti sinetron lain yang sudah aneh-aneh. Ada yang jadi siluman-lah, yang balas dendam lah, dll.

 

“Oh iya Wi! Tadi ada Bayu pagi-pagi datang ke rumah. Dia bawakan oleh-oleh dari kampungnya. Ada titipan juga buat teman yang lain katanya. Lalu Ibu kasih saja nomor HP-mu, biar bicara langsung… “

“Oh iya Bu. Tadi sudah telepon Dewi…Makasih Bu.”

 

Aku lalu berjalan ke ruang makan. Ada kardus indomie bertalikan rafia. Pasti itu oleh-olehnya. Ketika kuangkat. Duh! Berat banget…! Aku penasaran apa isinya. Tapi, ah… badan terasa letih hari ini. Baru hari pertama bekerja di tahun yang baru. Aku mau mandi dulu biar lebih segar…

 

Setelahnya, aku kembali ke tempat dimana kardus tadi berada. Mengambil gunting, dan memotong talinya. Lalu membuka selotip yang menutupi kardus itu. Ooohh… isinya buah mangga! Dan beberapa bungkus penganan kecil. Sudah ada namanya. Lengkap untuk anak-anak kantor! Luar biasa sih Bayu. Masih ingat saja sama teman-temannya.

 

Hmm… Bayu tahu aku suka buah Mangga. Baunya harum. Pasti lezat! Tapi besok saja aku memakannya. Aku ingin cepat beristirahat.

Tidak lama, Bu Tuti pamitan pulang. Aku mengantarnya sampai ke gerbang. Lalu menggembok pagar dan mengunci pintu rumah.

 

“Ibu kaget tadi Wi melihat Bayu yang datang. Pagi-pagi. Kira-kira 30 menit setelah kamu berangkat kerja. Ibu sempat ngobrol-ngobrol sama dia cukup lama…”

“Oh gitu Bu? Bayu cerita apa aja sama Ibu?”

“Banyak Wi. Tapi kalau Ibu ceritakan nanti kamu nggak ada bahan obrolan sama dia…”

“Idih Ibu kok gitu sih?”

Ibu tersenyum-senyum.

“Ibu nih. Sok misterius deh! Ya sudah, Dewi memang mau telepon Bayu. Karena tadi pagi Dewi sibuk banget di kantor…jadi hanya ngobrol sebentar.”

“Iya. Sudah sana istirahat! Ibu juga mau tidur…”

 

Aku pun masuk ke dalam kamarku. Lalu mengambil HP. Aku agak ragu ingin menghubungi Bayu. Karena sudah malam. Mungkin besok lebih tepat waktunya. Jadi setelah kupertimbangkan, aku hanya mengirimkan SMS.

“Halo Bay. Thanks ya oleh-olehnya. Mangganya harum banget. Pasti enak deh! Thank you banget! Yang untuk teman-teman, besok aku sampaikan. Sori nggak jadi telepon ya. Sudah kemalaman. Aku ada rapat dan pulang agak telat hari ini.”

Tidak sampai 1 menit, SMS-ku dibalas.

“Malam Bu Dewi. Sama-sama Bu. Terima kasih mau menyampaikan ke teman-teman. Titip salam juga ke mereka ya Bu. Terima kasih. Selamat beristirahat.”

 

Zzzzz… tidak lama aku langsung tertidur. Benar-benar letih….


Oleh-oleh

ManggaKeesokan harinya aku menenteng titipan oleh-oleh dari Bayu untuk Dita, Tati, Boy dan Sinta.  Semua mengucapkan terima kasih, kecuali…

“Habis darimana Mbak? Kok bawa oleh-oleh?” tanya Dita.

“Oh bukan. Itu dari Bayu,” jawabku singkat.

“Haaaah?! Bayu?? Kok bisa? Kapan dia ke Jakarta? Ketemu dimana Mbak? Liburan kemarin Mbak kemana?” Dita langsung memberondong dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dengan ekspresi sumringah.

“Udah… dimakan aja. Nanti ceritanya pas makan siang ya. Oh iya, itu dari Bayu ya. Bukan dari aku…” kataku ke yang lain selain Dita.

“Oooo Bayu….” serentak mereka menyahut.

“Iya. Dia ke Jakarta. Mungkin sedang ada urusan. Dan itu oleh-olehnya. Oh iya, dia juga titip salam sama kalian semua!” lanjutku.

“Salam balik ya Mbak!” sahut semuanya. Kecuali Dita…

Dengan muka penuh keheranan, dia memandangi seplastik kecil kripik  singkong yang dipegangnya.

“Eh, iya Mbak. Nanti siang makan siang bareng!” Seolah baru sadar dari lamunan, Dita baru menjawabi kalimatku yang tadi.

 

Beres sudah! Oleh-oleh sudah tersampaikan. Aku mengirim SMS ke Bayu.

“Bay. Sudah kusampaikan oleh-oleh dan salammu ya. Kata mereka salam balik dan terima kasih.”

Kurang semenit kemudian…

“Terima kasih banyak Bu Dewi.”

“Sama-sama Bay. Sampai nanti ya…”

“Ya Bu. Terima kasih sekali lagi. J”

Dan lalu aku tenggelam dengan pekerjaanku sampai jam makan siang.

 

Tok, tok, tok. Pintuku diketuk orang.

“Masuk!”

Dita rupanya.

“Mbak. Yuk makan siang!” ajaknya. Dia hanya mengintip dari balik pintu yang hanya dibuka separuh.

“Oh! Yuk!” jawabku.

Kami lalu turun ke kantin. Karena di lift banyak orang, Dita tidak berani bertanya-tanya. Tapi sesampainya di meja makan kantin, mulailah Dita berlaku seperti seorang polisi menginterogasi kriminal! Hahaha… Ampun deh Dita…

“Dita… aku sendiri belum tahu, kenapa dia balik ke Jakarta. Yang jelas dia memang balik. Dan titip oleh-oleh ke rumahku. Jadi aku tidak pergi kemanapun selama liburan. Kan harus jaga Ibuku. Masa iya kutinggal-tinggal. Gitu ceritanya. Puas?”

“Ah! Enggak puas lah. Nggak seru ih Mbak Dewi!”

“Hahaha… memangnya apaan pakai seru-seruan segala?”

“Terus kapan dia titipnya? Kok bisa belum ketemu?”

Aku terpaksa menjelaskan kronologisnya…

“Dita pikir Mbak udah ketemu sama dia. Trus ngobrol banyak kenapa dia pulang kampung mendadak, terus kenapa mendadak juga dia balik ke Jakarta… Duh… penasaran!”

“Waduh Ta… nanti aja tanya sendiri ya!”

“Hah?! Tanya sendiri? Maksudnya bagaimana Mbak?”

“Iya. Katanya sih kalau sudah sempat dia mau ke kantor.”

“Lha! Kok Mbak tahu?”

“Ya tahu dong Ta. Kan sudah sempat ngobrol sebentar lewat telepon…”

“Oooo berapa nomor HP dia Mbak? Aku boleh tahu ngga?”

“Ehm… nanti deh minta sendiri ya Ta kalau ketemu dia…”

“Oh gitu Mbak… Jadi nggak mau kasih tahu ke Dita nih…”

“Hehehe… bukan gitu. Aku nggak enak aja. Karena itu nomor HP yang baru. Nanti dia bingung, kok sudah banyak yang tahu. Salah satu privasi orang itu Ta… “

“Ooo… bener juga sih. Ya sudah nanti Dita minta sendiri deh Mbak. Thank you lho oleh-olehnya.”

“Iya. Udah aku sampaikan tadi via SMS, terima kasihnya. Udah makan sana! Nggak abis-abis tuh makanan!”

“Hahaha… iya nih Mbak. Terlalu bersemangat! Duuhhh Dita nanti grogi nggak ya ketemu Bayu lagi… “ kata Dita. Ekspresinya sumringah sekali. Aku jadi geli sendiri melihat tingkahnya. Mungkin ini yang disebut “cinta mati”… Dita… Dita….

 

Sore itu aku pulang on time. Untunglah. Badanku masih terasa pegal. Mungkin karena sudah mau ketemu siklus bulanan…

 

Setibanya di rumah, seperti biasa, aku dibukakan pintu oleh Bu Tuti, dan beliau langsung pulang ke rumahnya yang berjarak beberapa langkah kaki saja.  Setelah mandi, aku dan ibu makan malam. Selesainya, aku mencuci piring. Ibu menonton TV. Setelah itu aku masuk ke kamar dan mengambil HP-ku, menelepon Bayu.

 

Ngobrol cukup lama. Kurang lebih 30 menit. Bayu bercerita bahwa ibunya meninggal bulan Oktober tahun lalu. Kemudian disusul ayahnya satu bulan kemudian. Selama Desember Bayu membereskan urusan rumah tangga orangtuanya. Termasuk berbagi harta warisan sesuai surat wasiat Ayahnya.

Rupanya sang ayah memberikan kepada Bayu 50% dari semua harta yang ia miliki. Selebihnya dibagi 6 untuk kakak-kakaknya. Pembagian ini membawa masalah tersendiri. Kakak-kakaknya marah besar kepada Bayu. Ia dianggap penjilat. Baru berapa bulan dekat dengan Ayah sudah bisa meraup 50% harta keluarga. “Dasar penjilat!” begitu kata kakak-kakaknya ke Bayu. Tapi hebatnya, Bayu tidak sakit hati. Ia meminta bantuan notaris yang sama untuk menghibahkan bagian yang ia dapatkan untuk kakak-kakaknya. Bayu hanya menerima 10% saja. Lalu Bayu memutuskan untuk tinggal di Jakarta.

 

Aku terdiam mendengarkan ceritanya. Antara percaya dan tidak. Kok bisa ada orang sebaik Bayu. Seperti malaikat!

 

“Saya harus cari pekerjaan di Jakarta Bu,” kata Bayu.

“Iya Bay. Ehm… sebetulnya kantor ada lowongan sih.”

“Oh ya Bu? Sebagai apa?”

“Ehm… aku lagi cari pengganti…”

“Oh! Ibu mau pindah kerja?”

“Iya Bay. Ada teman baikku sejak kecil yang menawari pekerjaan. Tapi aku masih ragu, karena itu tadi… belum ketemu penggantinya…”

“Oooh…”

“Begini saja. Besok aku coba bicara sama Bu Hermin dulu, soal rencana pengunduran diriku… Setelah itu… ehm… aku masih bingung sebetulnya bagaimana ya. Aku kan udah 11 tahun Bay. Jenuh aja. Pas kok ada tawaran. Aku nggak harus kerja di kantor. Jadi bisa jaga Ibu. Karena nggak enak juga sama Bu Tuti yang tiap hari harus menemani Ibu sejak kondisi fisiknya menurun akibat jatuh. Semuanya seperti tepat waktu. Tapi aku masih ragu… Takut menyesal kalau resign. Tapi takut juga kalau jadi “berjamur” di kantor ini…”

“Mungkin memang sudah jalan Tuhan Bu. Kalau boleh kasih masukan, Ibu selesaikan saja satu per satu. Misalnya, bicara dulu dengan Bu Hermin soal rencana resign. Tukar pikiran saja. Nanti selanjutnya mungkin lebih jelas harus bagaimana. Biasanya kalau sudah berani melangkah, step by step ke depan akan lebih jelas. Daripada hanya diam saja.”

“Iya sih Bay. Kamu bener banget… Besok pagi coba aku bicara sama Bu Hermin…. Ok deh. Thanks ya Bay. Udahan dulu ya. Mau nemenin Ibu.”

“Iya Bu. Sama-sama. Selamat malam.”


Resign?

ResignPagi itu aku sudah tegang. Gelisah rasanya. Bagaimana tidak. Sudah 10 tahun lebih aku bekerja di kantor ini. Rasa jenuhku seolah berlomba dalam pertarungan melawan kenyamananku. Siapa pemenangnya, aku belum tahu…

 

Ah! Bu Hermin tidak masuk hari ini. Dia sakit kata Andi. Ya sudah. Besok saja.

 

Keesokannya…

 

“Bu Hermin masih belum masuk?” tanyaku ke Andi ketika melihat pintu ruangannya tertutup.

“Belum Bu Dewi. Sepertinya masuk Rumah Sakit.”

“Hah? RS mana?”

“Ehm… Andi lupa Bu. Hehe… nanti yah Andi infokan lagi. Maaf Bu.”

“Oh ok, ok. Jangan lupa ya Ndi. Aku ada urusan penting banget sama Bu Hermin.”

“Ok Bu. Pasti ingat!”

 

Ternyata Bu Hermin terkena DB. Dia harus istirahat di RS selama mungkin 1 minggu.

 

Duh! Aku bingung. Berarti waktu kerjaku harus diperpanjang lagi. Paling tidak 10 hari ke depan aku baru bisa mengajaknya ngobrol soal niat resignku.

 

Dua minggu kemudian….

Pagi itu aku melangkahkan kaki ke lantai 20. Bu Hermin sudah mulai bekerja sejak 2 hari lalu. Masih saja aku merasa tegang.

“Pagi Bu Hermin!” sapaku di depan ruangannya dengan tersenyum.

“Eeeh Pagi Wi! Masuk, masuk!” katanya.

“Apa kabar Bu Hermin. Wah! Udah seger banget nih! Kemarin itu di RS sampai sedih lihatnya lho Bu…”

“Iya Wi. Lemas banget waktu itu Wi. Bagaimana, ada kabar apa Wi?”

 

Aku menceritakan keinginanku…

 

“Hah?! Resign?!” Bu Hermin kaget mendengar kata itu kusebut setelah agak lama berputar-putar dulu ceritanya.

“Aku pikir kamu kepingin pindah divisi Wi…. Resign? Kamu yakin? Coba dipikir-pikir dulu Wi… kalau bosan memang kan susah ya. Tapi biasanya solusinya tidak hanya resign lho Wi…” lanjut Bu Hermin mencoba menyadarkanku.

“Ehm… bagaimana kalau nanti kita makan siang bareng? Tapi jangan di kantin bawah ya. Agak jauh aja dari kantor. Biar lebih relaks ngobrolnya..” lanjutnya.

“Boleh Bu Hermin. Good idea…” sahutku.

“Nanti aku telepon ya Wi…!”

“Ok Bu. Dewi turun dulu yah… Thank you Bu!”

Aku pun turun dan masuk ke ruanganku. Entah kenapa. Ajakan Bu Hermin untuk makan siang di kantor cukup menenangkan keteganganku. Tapi… rasanya tetap saja aku keukeuh dengan niatku.

 

Tidak lama… Kriiinnggg…Kriiingg…Kriiing… (ring tone klasik) HP-ku berbunyi.

Bayu rupanya.

“Halo Bay. Apa kabar?”

“Halo Bu Dewi. Baik Bu.”

“Sudah mulai melamar pekerjaan Bay?”

“Belum Bu.”

“Oh! Kenapa?”

“Ehm… saya belum dapat pinjaman komputer dan printer.”

“Ooohh pinjam punyaku saja di rumah Bay. Main saja ke rumah.”

“Ehm… terima kasih banyak Bu Dewi. Tapi saya masih tunggu kabar dari teman saya dulu. Kalau dia tidak bisa juga, saya baru pinjam ya.”

“Oh gitu… Ok, ok, Bay. Nggak usah sungkan sama aku. Kalau untuk nolong orang, masa sih aku nggak rela. Hehehe…”

“Iya Bu. Makasih sekali lagi…”

“Oh iya. Ngomong-ngomong, tumben telepon ada yang mau diobrolin Bay?”

“Ehm… iya Bu. Tapi sepertinya tidak lewat telepon…”

“Oh gitu. Penting pasti ya. Mau ngobrol hari ini? Bisa saja. Paling di rumah Bay. Atau dekat-dekat rumah saja yah… ?”

“Iya Bu… Kalau Bu Dewi nggak bisa hari ini, besok juga nggak apa-apa Bu.”

“Oh, nggak apa-apa. Bisa kok. Sore jam 6 sih biasa aku udah di rumah. Mungkin bisa datang jam 6.30.”

“Ehm… Jam 7.30 boleh Bu?”

“Boleh, boleh!”

“Makasih Bu. Sampai nanti…”

“Ya Bay. Sampai nanti ya.”

Telepon kututup. Lalu aku menelepon Ibu memberitahu bahwa Bayu akan ke rumah sekitar jam 7.30 malam. Ibuku berkata, “OK. Kalau mau makan di sini juga nggak apa-apa.”

“Iya Bu. Nanti saja Dewi tawari makan malam pas sudah di rumah.”

 

Siang itu….

Bu Hermin cukup pintar memilih tempat makan. Aku yang jarang keluar kantor karena malas terkena macet dan seperti membuang waktu terlalu lama hanya untuk makan siang baru tahu kalau ada tempat makan baru yang sangat nyaman di dekat kantor.

Obrolan siang itu intinya memintaku untuk berpikir ulang. Bu Hermin mengusulkan untuk berpindah divisi saja.

“Dalam 2 minggu ini, Dewi akan pikirkan tawaran Bu Hermin ya.”

“OK Wi. Kalau memang sudah mantap di hati mau pilih mana, ya jalanin aja. Aku dukung kamu 100%. Yang penting kamu happy Wi,” Bu Hermin tersenyum.

Ah! Bijaksana sekali ibu ini. Aku jadi sedih juga mau meninggalkan kantor ini… karena somehow obrolan siang ini sudah memberikan skor kemenangan untuk keinginan resignku… Aku sudah semakin tahu mau memilih yang mana…

 

Malam itu Bayu datang agak terlambat. Macet katanya. Dari kosnya ke rumahku, dia naik bis kota lalu menyambung angkot merah. Biasalah, ngetemnya pasti lama kalau naik angkot merah itu…

“Iya Bu, lama tadi berhenti cari penumpang. Sampai penuh baru jalan angkotnya. Maaf Bu Dewi.”

“Oooh… nggak apa-apa kok Bay! Yuk masuk!”

Rupanya Bayu berniat untuk kembali bekerja di kantorku… tapi dia merasa sungkan memasukkan CV lagi, karena dulu pernah bekerja hanya beberapa bulan.

 

“Lho! Enggak apa-apa Bay. Namanya juga urusan keluarga. Bukan salah kamu kok.”

“Begitu ya Bu?”

“Iya. Udah gini aja. Besok aku info Bu Hermin ya, kalau kamu balik ke Jakarta dan berniat melamar lagi pekerjaan di kantor. Setelah itu, kamu telepon Bu Hermin ke kantor ya. Gimana?”

“Ok Bu.”

“Jadi jelas, kan langsung ke kepala HRD-nya. Kalau memang Bu Hermin minta CV baru ya kamu baru buat lagi. Gitu aja…”

“Ok Bu.”

Obrolan kami tidak lama. Hanya 45 menit. Karena memang sudah malam juga. Bayu lalu pamitan ke Ibu. Dan aku pun menggembok pagar, lalu masuk ke dalam rumah.

Ibu yang kuceritai niatan Bayu entah mengapa seperti ikut sumringah.

 

“Kok ibu kayanya bahagia banget dengar cerita Dewi?” tanyaku curiga.

“Enggak apa-apa. Ibu senang saja, karena Bayu kan anak yang baik. Dia pantas mendapatkan yang baik juga. Semoga besok semua lancar ya Wi.”

“Aaah ibu… segitunya deh perhatian sama Bayu…” kataku sambil menyenggol lengan Ibu.

Ibu hanya tersenyum. Lalu bangkit berdiri. Mengoper remote control TV ke aku dan berkata, “Ya sudah, Ibu tidur dulu ya Wi. Ini kalau kamu masih mau nonton…”

“Iya Bu… Dewi mau nonton berita dulu sebentar…”

 

Setengah jam kemudian aku matikan TV dan lampu di ruang tamu, menyalakan lampu kamar mandi, lalu masuk ke kamar dan tidur….


Kesempatan Emas

KesempatanEmasPagi ini, lagi-lagi aku mampir dulu ke ruang Bu Hermin. Bercerita soal Bayu yang ingin bekerja kembali.

“Dia akan telepon Ibu Hermin. Bicara langsung.”

“Ok Wi. Aku tunggu ya.”

“Ya Bu. Thanks yah! Aku kasih tahu dia.”

 

Hari ini cepat sekali berlalu. Bayu sudah menghubungi Bu Hermin. Lalu mengirimkan SMS ke HP-ku. “Siang Bu Dewi, minggu depan Bu Hermin akan mengabari untuk interview. CV sudah tidak perlu dibuat sepertinya, tapi nanti akan dikonfirmasi lagi.”

 

Dari cerita Bu Hermin sih, kemungkinan besar kantor ini masih sangat menerima Bayu. Bu Hermin akan menginformasikan ke Pak Harjo dan Bu Sari dulu. Butuh waktu beberapa hari, karena Pak Harjo sedang ke luar kota, urusan keluarga. Bu Sari sedang ke luar negeri, urusan kantor. Bayu memang staf yang sangat produktif. Etos kerjanya sangat baik. Hasil kerjanya juga memuaskan atasan tertinggi. Tidak berlebihan kalau kantor ini masih mau menerimanya. Aku lega mendengar semua berita baik dari Bayu maupun Bu Hermin, hari ini.

 

Tiba-tiba…

Oooh!! Aku seperti mendapatkan ide brilian! Kalau begitu, dalam minggu ini aku punya kesempatan emas! Ya! Kesempatan emas yang harus kumanfaatkan dengan sangat baik!

Sekitar pukul 3 sore, aku masuk ke ruang Bu Hermin. Dan membicarakan ini…

“Wah! Semakin mantap saja kamu Wi!”

“Iya Bu. Sepertinya semua sudah disusun dengan rapi… Dewi yakin banget Pak Harjo dan Bu Sari pasti OK!”

Bu Hermin tersenyum lebar mendengar kalimatku barusan.

Aku memastikan niatku untuk berhenti bekerja. Dan… mengajukan nama Bayu sebagai penggantiku!

 

Pulang ke rumah, aku bercerita ke Ibu. Ibu sangat setuju dengan ideku. Aku juga sudah mengabari Santi lewat whatsapp. Santi kegirangan!

“Gitu dong Dew! Asyiiikkk!!! Hepi3x! Info-info terus ya Dew! Gua doain semua lancarrrrr!” ketiknya di WA.

 

3 hari kemudian aku menghadap ke Pak Harjo dan Bu Sari. Menceritakan niatanku untuk berhenti. Sebelumnya Bu Hermin sudah menginformasikan ke mereka pastinya. Jadi entah mengapa, mereka menerima niatku tanpa mencoba menahan. Bahkan dengan bijaksana mereka mendukung keputusanku.

 

“Kalau memang kamu lebih berkembang dengan usaha sendiri, Bapak tidak bisa tahan kamu Wi. Kalau sudah besar, jangan lupa sama saya ya. Ajak jadi partner, saya OK lho!” kata Pak Harjo sambil tersenyum. Aku melihat Bu Sari mengangguk-angguk dan tersenyum juga.

“Iya Wi,” kata Bu Sari.

 

Ah… lega rasanya… semua berlalu tanpa hambatan…

 

Minggu depannya, Bu Hermin memanggil Bayu ke kantor. Interview memang baru akan diadakan pukul 11 siang. Tapi Bayu sudah tiba di kantor pukul 9.45 pagi. Dia menyempatkan diri bersilaturahmi dengan rekan-rekannya dulu selama 25 menitan, lalu masuk ke ruanganku dan ngobrol.

Pukul 11 siang, Bayu naik ke ruang Bu Hermin. Setelah itu makan siang di kantin dengan aku, Dita, Tati, Boy dan Sinta. Pukul 13.30 Bayu akan diinterview oleh Pak Harjo dan Bu Sari, sekaligus. Kalau Bayu sudah tahu bahwa posisinya nanti adalah untuk menggantikan aku. Tapi yang lain belum tahu. Nanti saja setelah ada info dari Bayu selesai interview.

 

Tiba-tiba pukul 14.30-an aku dipanggil naik ke ruang meeting kecil. Ternyata di dalam sudah duduk Bu Sari, Pak Harjo, Bu Hermin dan Bayu. Aku diminta untuk mulai serah terima pekerjaan minggu depan ke Bayu.

“Baik Pak,” kataku.

 “Kamu pasti sudah harus mulai sibuk menata pekerjaan baru kan. Jadi lebih cepat lebih baik untuk semua pihak…” kata Bu Sari sambil tersenyum.

“Iya Bu. Benar. Terima kasih sekali lagi sudah mendukung saya untuk memulai usaha sendiri..” kataku tersenyum.

Mereka juga tersenyum.

 

“Kami sangat kehilangan kamu Dewi. Kamu sudah jadi kepercayaan kantor ini. Tapi memang kalau sudah jalannya Tuhan mau bagaimana lagi. Buktinya ini kok tiba-tiba bisa ada Bayu kembali lagi ke Jakarta dan berniat mencari kerja. Semua sudah diatur. Jadi kita ikut saja skenario Yang Maha Kuasa,” kata Pak Harjo sambil menggerakkan jarinya menunjuk ke atas.

Ah.. bijaksana sekali beliau…

 

Aku tidak pernah menyangka, semua terjadi begitu lancar dan cepat. Minggu depan aku sudah harus serah terima, dan sebulan kemudian, aku sudah mulai bekerja di rumah!

 

Selesai dari ruang meeting, aku bergegas turun ke bawah. Dan…

Memanggil semua tim untuk masuk ke ruanganku.

“Temen-temen, ada yang penting banget yang mau aku sampaikan…”

Aku menceritakan semuanya…

“Yaaa… Mbak Dewi kok jahat sih?! Terus yang gantiin siapa Mbak?” tanya Dita spontan selesai aku bicara.

“Nah! Ini yang mau aku omongin juga… Yang gantiin adalah… Bayu…” kataku.

“Haaahh?!! Yang bener Mbak? Kok bisa? Terus kapan dia mulai kerja?” kata Dita, lagi-lagi.

Yang lain hanya terpana mendengar ceritaku.

Mungkin terdiam karena pertanyaan mereka sudah diwakilkan oleh Dita. Mereka kalah cepat respon verbalnya…

 

Akhirnya hari itu selesai juga… interview Bayu. Dan informasi kapan dia harus masuk, dan aku harus serah terima. Semua tim juga sudah kuberitahu. Lancar jaya!


“Kantor Baru”

Moving Office DoormatSebulan penuh aku terus berkomunikasi intens dengan Bayu. Soal pekerjaan yang pasti. Tidak lebih dari itu. Sampai akhirnya aku tiba di hari terakhir bekerja di kantor Mahakarya Group.

Aku melihat Dita menangis. Matanya sembab. Kasihan dia…

 

“Dita… aku kan masih di Jakarta. Kapan pun kamu mau main ke rumah silakan. Jangan nangis dong… “ kataku ke Dita. Aku memeluknya erat-erat. Dia makin sesenggukan. Aku jadi ikutan menangis.

“Iya Mbak… sedih aja, Dita nggak punya teman ngobrol kaya Mbak Dewi… “

“Hehehe… pasti ada nanti… tenang aja.”

 

Tati, Boy dan Sinta juga merah matanya. Terdengar bunyi “srat-srut” di ruanganku. Hanya Bayu yang kelihatan tenang. Dia hanya tersenyum. Mungkin dalam hatinya geli melihat tingkah laku teman-teman kerjanya yang bertangisan seolah sedang kehilangan besar.

 

“Minggu depan kita makan siang bareng ya! Seminggu sekali deh, aku sempetin ketemu kalian. Tapi nggak janji yaaa…. Yang jelas, aku masih ada di Jakarta. Jangan lupa calling-calling kalau kangen,” kataku tersenyum ke mereka.

 

Perpisahan hari itu selesai sudah. Ada rasa bahagia, sekaligus sedih di hatiku. Tapi aku harus terus menatap ke depan. Santi beberapa bulan lagi akan datang ke Jakarta. Aku harus menyiapkan semua keperluan kantor baru… Hari-hariku ke depan pasti tidak mudah. Tapi yang jelas, aku sudah berani melangkah, sesuai saran Santi… dan Bayu.

 

Keesokan hari, aku sudah mulai memindahkan laptopku ke ruangan kosong di sebelah kamarku. Tadinya sempat dipakai untuk menyimpan barang-barang Ayah. Tapi sejak Ayah meninggal, sedikit demi sedikit barangnya sudah kami berikan ke orang lain. Jadi ruangan itu kosong cukup lama. Kemarin sudah sempat kusapu dan pel. Jadi sudah bersih. Hanya penerangannya saja yang kurang baik. Tapi masih bisa dipakai untuk bekerja sampai sekitar pukul 6 sore. Meja kerja di kamarku juga kupindahkan ke situ. Alat tulisku. Dan kebutuhan perlengkapan lain.

 

Hmm… Aku puas melihat ruangan kecil “kantor baru”-ku. Hasil kerja tanganku sendiri yang semakin kupandangi, semakin membuatku tidak sabar untuk mulai bekerja. Besok aku mau ke pasar membeli lampu baru. Hari ini bersantai dulu setelah “latihan otot”.

 

Bu Tuti hari ini hanya main ke rumah selama setengah jam. Melihat-lihat kantor baruku, ngobrol sebentar sama Ibu, lalu pulang.

 

Sekitar pukul 5 sore, HP-ku berbunyi. “Kriiinnggg!”

Ternyata Bayu. Dia mau main ke rumah Sabtu ini, katanya.

“Ingin lihat kantor baru Bu Dewi. Boleh?”

“Ooo… haha… boleh dong! Datang aja. Sama siapa aja?”

“Oh. Ehm… sendirian aja Bu…”

Tiba-tiba suaranya mengecil…

“Apa? Sama siapa? Kok suaranya tiba-tiba kecil Bay?”

“Oh! Maaf Bu. Sendirian Bu. Saya datang sendiri…”

“Ooohh oke, oke. Datang aja ya Bay!”

“Iya. Sampai nanti ya Bu.”

“Oke, oke. Sampai nanti Bay. Bye…”

“Sampai nanti Bu Dewi….”

Hmm… setelah telepon ditutup, aku agak heran. Yang lain saja belum ada yang bilang akan mampir ke rumah lihat kantor baru. Tumben-tumbenan si Bayu…


Makan Siang Hari Sabtu

SatePadangSabtu itu… sekitar pukul 10.30 pagi bel di rumah berbunyi.

Bayu rupanya.

“Halo Bay! Masuk, masuk! Nggak digembok kok. Geser aja slotnya.”

“Iya Bu. Makasih.”

“Duduk dulu Bay. Ibu lagi di teras belakang, teleponan sama Bu Tuti.”

Aku mempersilakan Bayu duduk di ruang tamu dalam.

“Mau minum apa Bay?”

“Air putih aja Bu Dewi. Makasih.”

Aku lalu ke dalam untuk mengambil segelas air putih dan membawanya ke ruang tamu. Ibu masih berbicara di telepon.

“Tumben Bay..”

Bayu hanya menanggapi dengan tersenyum.

“Kantornya dimana Bu Dewi?”

“Di situ Bay. Yuk! Eh! Sori Bay, boleh nggak jangan manggil aku pakai ‘Bu’ lagi? Hehe… kan aku udah bukan manajermu Bay.. please deh…

“Oh… hahaha… iya Bu. Eh Wi… aduh canggung rasanya. Udah biasa pakai ‘Bu’…”

“Hehehe… nggak apa-apa Bay. Lama-lama juga biasa. Tuh ruanganku.”

Aku menunjuk ke ruang kecil di sebelah kamarku, dan berjalan ke arah pintunya.

“Yuk, sini masuk lihat dalamnya. Masih berantakan sih. Maklum baru beberapa hari. “Nguli” sendirian. Hehehe….”

“Ooohh bagus kok Wi. Nggak berantakan kok. Rapi. Dan bersih.”

Bayu berkomentar setelah melihat bagian dalam ruang kerjaku.

“Hahaha… thanks Bay! Hasil ngepel seharian nih Bay..”

“Hehe… gitu ya. Hebat kamu Wi. Rajin!” kata Bayu sambil mengacungkan jempolnya.

 

Bayu terlihat lebih “santai” ketika tidak lagi memanggilku dengan panggilan “Bu”. Hihihi….

“Kalau butuh bantuan bilang saja Wi, aku pasti bantu,” lanjutnya tersenyum.

“Iya deh Bay. Bener ya… nanti aku akan sering telepon kamu lho, minta bantuan… hehehe…”

“Iya bener. Telepon aja. Aku akan bantu semaksimal yang aku bisa.”

“Ah! Bayu… kenapa baru ketemu sekarang sama pria model begini… “ aku melamun beberapa detik.

Lalu…

 

“Lho! Ada tamu toh… !” Tiba-tiba Ibu muncul dari balik pintu teras samping.

“Iya Bu, tadi Ibu lagi seru di telepon kan…” kataku.

“Oh. Iya Bu. Maaf. Apa kabar Bu?” kata Bayu.

“Baik Nak Bayu… habis lihat kantor barunya Dewi ya…?”

“Iya Bu. Bagus. Rapi dan bersih. Dewi hebat…” Lagi-lagi Bayu mengacungkan jempolnya ke aku sambil tersenyum.

“Ah! Lebay kamu Bay… biasa aja lah! Hahaha….!” kataku.

Aku melihat Ibu juga tersenyum. Tatapannya seperti hanya untuk Bayu. Jangan-jangan Ibu jatuh cinta sama berondong. Hahahaha….

“Sudah sana ngobrol deh. Ibu mau nonton TV. Ajak ke teras saja Wi, pas lagi sejuk udaranya.”

 

Aku pun mengajak Bayu ke teras dan ngobrol disana. Suasananya sangat santai. Mungkin karena aku kan sudah tidak lagi jadi atasan Bayu. Dan panggilan “BU” itu sudah kuhilangkan tadi… Bayu banyak bercerita soal pekerjaannya yang baru sebagai penggantiku. Setiap hari dia mengajak semua timnya makan siang.

 

“Paling tidak sampai minggu ini Wi. Jadi kami lebih santai membahas tidak hanya pekerjaan sambil makan siang. Aku berharap tim ini jadi lebih solid.”

“Iya Bay. Aku setuju tuh. Bagus juga. Karena kan kamu baru ya. Benar-benar baru dan langsung diangkat jadi atasan mereka. Supaya mereka nggak canggung. Kalau aku dulu kan sudah sekantor cukup lama bareng-bareng. Jadi mereka memang kenal aku sebagai “staf senior”. Dita apa kabarnya Bay?”

“Hahaha…”

“Lho! Kok ketawa? Apa yang lucu?”

“Dita lucu Wi.”

“Lucunya bagaimana?”

“Dia sering sekali salah bicara sama aku. Sampai kadang aku bingung dia mau menyampaikan apa sebetulnya.”

“Oooh hahaha… Dita… Dita… Dia suka sama kamu kayanya Bay. Makanya grogi gitu… hehehe…”

 

Kami pun terus ngobrol sampai jam 11.30-an. Sebentar lagi waktunya makan siang. Bayu mengajakku makan keluar. Dia juga mengajak Ibu.

“Ajak Ibu juga Wi. Kita bertiga makan di luar. Aku yang traktir!” katanya sambil tersenyum.

“Iya deee yang sudah gajiaaannn…” kataku meledeknya.

“Hahahaha… bagi-bagi kebahagiaan Wi. Aku ingin berterima kasih karena kamu sudah begitu baik sama aku…”

“Aahhh biasa aja Bay. Kamu memang pantas untuk pekerjaan itu. Kan keputusan bukan di aku. Tapi bos-bos itu! Mereka suka, ya mereka rekrut. Langsung dipercaya pula! Hehehe… itu karena kamu sendiri Bay. Bukan aku…”

“Iya, tapi kamu juga ikut andil merekomendasikanku. Bu Hermin yang memberitahu, bahwa interview yang terakhir itu atas rekomen kamu Wi…”

“Ooohh hahaha… jadi ketahuan deh… Oke, oke. Sama-sama Bay. Tapi beneran lho, kamu sendiri juga pantas untuk dipercaya jadi manajer menggantikan aku kok.”

“Iya Wi. Terima kasih sekali lagi…”

“Oke, oke. Sama-sama. Yuk masuk yuk!”

Aku mengajak Bayu masuk ke dalam.

 

“Bu! Hari ini makan di luar yuk!” kataku ke Ibu, setelah kami berada di ruang tamu. Ibu sedang menonton film seri India.

“Wah! Ibu nggak bisa Wi. Tadi sudah janjian sama Bu Tuti. Dia mau bawa sayur asem ke rumah siang ini, lalu makan bersama di sini. Kamu mau keluar makan sama Bayu? Keluar saja berdua. Nggak apa-apa. Ibu sudah ada Bu Tuti kok.”

“Hmm… gitu ya Bu. Beneran nih nggak mau ikut?”

“Iya Bu, ikut saja,” ajak Bayu.

 “Enggak Wi. Makasih Nak Bayu, Pergi saja berdua. Beneran kok.”

“Ya sudah kalau gitu. Ehm… Bay, aku ganti baju dulu ya! Nanti tunggu Bu Tuti datang baru kita keluar…”

“Iya Wi. Aku tunggu di luar…”

“Eh jangan Nak Bayu. Sini saja duduk di ruang tamu,” kata Ibu sambil menepuk-nepukkan tangan kanannya di atas area kosong sofa di sisi kanannya.

“Oh. Baik Bu…”

Bayu lalu duduk di sebelah kanan Ibu. Aku tersenyum melihat Ibu. Sikapnya itu lho! Ramah sekali… Belum pernah deh Ibu seperti itu… hihihi….

Aku lalu berbalik badan, menuju kamarku. Aku mengambil kaos bergaris hitam putih kesukaanku dan celana jeans warna biru tua. Berkaca sebentar, memerahi pipi dan memakai lipstik, sisiran, memakai anting mutiara warna hitam, mengambil tas selempang kecil, lalu keluar kamar, dan duduk di sebelah kiri Ibu.

 

Tidak berapa lama aku mendengar suara Bu Tuti. Bergegas aku keluar dan membukakan gerbang untuknya. Mempersilakannya masuk dan mengambil panci yang dibawanya.

“Hmm… baunya enak banget nih Bu Tuti! Masakan Bu Tuti sih jaminan mutu deh!!”

“Hehehe… Terima kasih lho aku dipuji-puji.”

Sesampainya di ruang tamu, Ibu memperkenalkan Bayu ke Bu Tuti.

“Ini teman kantor lamanya Dewi. Bayu namanya.”

“Siang Bu Tuti,” kata Bayu yang memang sudah berdiri dan lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Bu Tuti.

“Ooo temannya Dewi ya… Yuk makan bareng!”

“Terima kasih Bu…” kata Bayu.

Dan Ibuku langsung menyahut, “Mereka mau makan di luar Tut.”

“Iya Bu Tuti, kita mau makan di luar ya. Nanti Dewi makan lagi deh sore. Sisain ya…” kataku.

“Oh gitu, ya sudah. Ibu ke dapur dulu ya.”

“Iya Bu Tuti. Kami pamitan dulu ya…” kataku.

“Mari Bu Tini, Bu Tuti…” kata Bayu.

 

Dan kami makan siang berdua. Bayu mengendarai mobilku. Rumah makan dengan menu Sate Padang-nya yang memang lezat, yang kupilih. Sengaja, karena Bayu katanya ingin memakan makanan yang belum pernah ia makan selama di Jakarta.

“Gimana Bay? Enak nggak?”

“Ehm… awalnya agak aneh. Karena dagingnya ternyata sapi. Dan bumbunya bukan bumbu kacang… Tapi enak kok. Aku suka!”

“Hahaha… iya. Pertama kali makan juga aku bingung. Kok sate tapi daging sapi? Biasa kan kambing atau ayam kan… dan bumbunya itu unik! Ternyata rasanya enak banget!! Ini tempat makan langgananku Bay. Tempatnya bersih, dan masakannya lezat! Terutama satenya! Kadang aku ke sini membeli makanan untuk di rumah.”

 

Kami pun menikmati menu yang sudah kami pesan, sambil melanjutkan obrolan.

 

Hmm… Siang itu benar-benar siang yang sangat memorable. Bisa ngobrol banyak dengan Bayu dalam suasana yang sangat santai. Tidak canggung lagi, karena sudah tidak ada batasan jabatan. Dan hari itu aku seperti mengenal Bayu yang lebih “asli”. Sepertinya dia jauh lebih baik daripada dugaanku…

 

Sekitar satu jam kemudian, kami pulang ke rumah.

 

Tidak lama, Bayu juga pamit pulang ke Ibu.

Sampai di pintu depan…

“Aku pulang ya Wi. Kamu kan harus menemani Ibu…”

Bayu lalu pamitan ke Ibu.

“Ehm…Kapan-kapan aku boleh main lagi?” kata Bayu ketika sudah sampai di gerbang.

“Boleh dong Bay… Lumayan Ibu jadi ada temennya kan… hahaha!” kataku meledek Bayu.

Tadi kan dia diajak ngobrol Ibu selama aku ganti pakaian dan dandan.

“Hehehe… iya. Makasih Wi.”

“Oke Bay. Hati-hati ya…”

Aku lalu masuk ke rumah.

 

“Cocok Wi!” kata Bu Tuti yang sedang sendirian di ruang tamu.

“Apanya Bu?” tanyaku kaget, lalu duduk di sebelahnya.

“Cocok kamu sama temanmu itu. Anaknya kelihatannya baik..”

“Aaah Bu Tuti bisa aja deh! Hahaha… Baik atau enggak kan buktinya belum kelihatan Bu. Cocok atau enggak juga Dewi nggak tahu…”

“Cocok kok! Ibu juga bilang cocok!” tiba-tiba aku mendengar suara Ibuku. Dia sudah ada di ruang tamu rupanya.

“Orangtua lebih pintar melihat orang Wi… Percaya deh,” lanjut Ibuku.

Hmm… aku terdiam dua detik. Lalu berkata, “Iya deh Bu. Percaya. Tapi kan baru berteman. Jadi jangan berkata apa-apa dulu ya… Dewi juga belum tahu kan apakah Bayu juga berpikiran yang sama dengan Ibu…”

“Iya. Jalani saja dulu. Ibu doakan.”

“Iya, Bu Tuti juga doain deh Wi…”

“Hehe… makasih ya atas doa-doanya… Dewi ke kamar dulu ya ganti pakaian.”

 

Aku lalu beranjak dari ruang tamu dan masuk ke kamar, membersihkan muka, berganti pakaian, lalu keluar lagi.

 

Aku masuk ke dalam kantorku, dan mulai bekerja lagi…. Tapi kali ini cukup lama kutatap komputerku, tanpa menggerakkan jari jemariku di atas keyboardnya. Pikiranku hanya mengingat kejadian dari pagi sampai siang ini. Hmm… senyumku mengembang. Kok jadi seperti … ehm… seperti ada rasa ‘suka’ mulai menyelip di hatiku. Makin kuingat detil hari ini, aku makin suka sama Bayu…. Rasa sukanya lebih dari waktu di kantor dulu… dan… jenisnya berbeda… Hihihihi… Sudah lama aku tidak merasakan yang sama… Hmm… mungkin benar bahwa aku mulai jatuh cinta… Atau mungkin terpengaruh “hasutan” Ibu dan Bu Tuti ya…? Hmm….


Sabtu Lagi dan Lagi

LavaCakeSudah sebulan ini, setiap Sabtu Bayu selalu datang ke rumah. Dan Sabtu itu ada kejadian yang harus kuingat dan kucatat….

“Wi… Ehm… Boleh aku bicara sesuatu?” tanya Bayu tiba-tiba ketika sedang makan bakmi di rumah makan dekat rumah.

“Boleh dong Bay. Daritadi bukannya kita sudah bicara-bicara ya?”

“Hehehe… iya sih. Tapi yang ini lain. Ehm… setelah makan kita mampir dulu ke toko buku ya…”

“Oooo. Oke, oke. Mau cari buku apa?”

“Ehm… ada yang mau aku kasih lihat ke kamu. Bukunya bagus banget…”

“Oh gitu. Oke, oke…”

 

30 menit kemudian kami sudah sampai di toko buku. Bayu mengajakku ke café di dalam toko buku itu.

“Lho kok ke café?”

“Iya sebentar. Tunggu di sini dulu Wi.”

Waduuuhh ada apa sih? Aneh banget si Bayu hari ini. Aku jadi bingung.

Tidak lama dia kembali lagi, membawa 1 nampan dengan 1 gelas kecil berisi air dingin, 1 gelas berisi ice chocolatte dan sepiring “lava cake”.

Aku mulai menatap Bayu dengan curiga.

“Ada apa sih Bay? Bukunya mana? Buku apa ya?”

“Enggak ada apa-apa Wi. Lagi pingin menikmati minuman saja. Makan kuenya Wi. Kan kesukaan kamu. Bukunya tadi aku cari, belum ketemu, nanti kalau udah ketemu akan diantar ke sini.”

“Oooo gitu… ok lah!”

Dalam kebingungan aku mulai memakan kuenya. Favoritku memang. Coklatnya sangat lezat. Aku mulai menikmati sesendok demi sesendok. Coklatnya keluar meleleh seperti lava dari dalam cake-nya. Kulihat Bayu sedang meminum es coklatnya. Lalu tiba-tiba…

 

“Apaan nih Bay? Aduuuhh ada apanya tuuuu???” kataku melihat seperti ada sesuatu di dalam cake-nya.

“Eh, sebentar Wi. Itu bukunya. Makasih Mas!” kata Bayu seperti tidak peduli dengan jeritanku.

Dia berdiri dan menerima buku dari staf toko buku.

“Sama-sama Pak,” kata si Mas sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan kami berdua saja di café ini.

 

Bayu menyodorkan buku itu ke aku.

“Ini bukunya Wi…”

Will you marry me?

Itu judul dari buku yang Bayu sodorkan ke aku. Pengarangnya “John Doe”.

Bayu dengan santai berkata, “Itu buat kamu Wi…”

“Haaahh?! Apaan??” tanyaku tambah bingung.

 

Bayu diam saja. Lalu mengambil kueku, dan menarik ‘benda’ dari dalamnya. Ternyata Liontin kecil yang terbuat dari emas putih berbentuk huruf ‘D’. Bayu mengelapnya dengan tissue basah, yang dia keluarkan dari tasnya. Setelah itu dia juga mengambil kotak kecil berwarna hitam, membukanya, mengeluarkan kalung berbahan sama.

“Ooo…..” kataku lirih. Tiba-tiba kakiku lemas…

Bayu memberikanku sebuah kalung lengkap dengan liontin berbentuk huruf D.

“Aku pakaikan boleh?” tanyanya kemudian.

“Ehm… boleh…”

Setelah memakaikan, Bayu kembali duduk.

“Aku mau kamu jadi istriku Wi…” kata Bayu.

Waduuuhhh!! Kakiku makin lemas… tiba-tiba aku seperti patung. Tidak bergeming sama sekali. Mukaku merah sepertinya, karena terasa panasssss….

“Wi… “

“Eh… Oh… Ehm… iya Bay…” Aku malu luar biasa. Aduuhhh…. Tidak pernah kusangka, aku bakal dilamar sama Bayu… Anehnya, aku langsung bilang “iya”… Haduuhh…. Dunia serasa berhenti berputar beberapa detik. Aku masih gamang. Mungkin ini cuma mimpi… sampai akhirnya…

“Aku sudah suka dari pertama kali ketemu kamu di depan tangga darurat…” kata Bayu.

“Oh… gitu ya Bay…“ sahutku seperti orang linglung.

“Iya Wi. Aku simpan perasaanku cukup lama. Karena aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Aku hanya seorang OB dan bawahanmu waktu itu.”

Ah! Bayu…

 

Kami lalu pulang ke rumah. Bayu menyampaikan niatnya ke Ibu. Dan seperti dugaanku, Ibu langsung setuju. Setelah berbincang 1 jam, Bayu pamitan pulang. Aku menyampaikan berita “aneh bin ajaib” ini ke Santi. Seperti dugaanku, Santi riang gembira bukan kepalang.

“Waaahh! Congrats yah Dew! Trus kapan kawin? Hahaha….!”

 

Ya! Setelah hari ini, pembicaraanku dan Bayu lebih terarah. Tidak hanya soal pekerjaan, tapi juga masa depan bersama. Dan sesuai kesepakatan, bulan Agustus, tepat pada hari ulangtahunku, kami akan menikah.

 

Bulan Juni, Santi pulang ke Jakarta merayakan pernikahannya. Aku hadir bersama Ibu dan tentu saja Bayu.

Thanks  ya Wi… You are my best!” katanya.

“Sama-sama Ti. Kamu juga sahabat terbaikku.”

“Tuhan sudah memberimu yang terbaik, di sebelahmu tu…” lanjutku berbisik.

“Sama! Tuh di sebelahmu juga!” kata Santi.

Dan kami tertawa bersama-sama.

 

Waktu terasa berjalan semakin cepat. Bulan Agustus pun tiba. Santi hadir dalam pernikahanku. Dia datang bersama suaminya, James.

“Selamat ya Dew. Thanks udah nepatin janji!” katanya lalu memelukku erat-erat.

“Hahaha…. Thanks ya Ti!” balasku.

 

Sebelum kembali ke Amerika waktu itu, Santi memintaku berjanji untuk membuka hati kepada siapa saja yang mendekatiku, termasuk sama Bayu. Bahkan Santi menyuruhku berjanji untuk menelepon Bayu, sekedar menanyakan kabar. Tapi aku belum sempat melaksanakan “janjiku”, Bayu yang menghubungiku lebih dulu. Lagipula, kan nomornya baru. Jadi kalau saja aku telepon, pasti tidak akan nyambung.

 

Setelah menikah, Bayu akan tinggal di rumah. Dia makin dipercaya di kantornya, yang dulu adalah kantorku. Bayu menerima fasilitas mobil kantor. Kami mulai merenovasi rumah. Membuat kamar baru untuk kami tempati. Sementara Bayu dan aku tidur di kamarku.

 

Ah… semua terjadi begitu cepat. Tak kusangka aku sekarang menjadi istri seseorang, yang semakin hari, ternyata makin kelihatan aslinya. Asli baik! Puji syukur aku panjatkan kepada Tuhan yang telah membuat semuanya menjadi indah.

 

5 tahun kemudian, Bayu bergabung dengan Santi. Kami berbisnis bersama. Dan berkat kegigihan serta keuletannya, perusahaan ini semakin berkembang. Dia mempekerjakan semua kakak-kakaknya. Ternyata harta warisan mereka habis digunakan untuk berfoya-foya. Besar pasak daripada tiang. Beruntunglah mereka punya adik seperti Bayu. Aku bisa mengerti seandainya Bayu membenci mereka. Tapi kenyataannya tidak. Bukan cuma memaafkan. Bayu bahkan memberi mereka penghasilan untuk kelangsungan hidup keluarga mereka. Sebagai istrinya, aku rela-rela saja berbagi kebaikan, karena Bayu sudah banyak mengajarkanku untuk menjadi bijaksana dalam menjalani hidup.

 

Terima kasih Tuhan…

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Fiksi/Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s