INDONESIA TANAH AIR SIAPA?

KejutanIndonesia. Adalah nama sebuah Negara kepulauan yang cukup besar. Ibukotanya bernama Jakarta. Sebelum tahun 1998, sepertinya Negara ini tidak terlalu dikenal oleh dunia. Bahkan ketika saya berkunjung ke Negara tetangga, mereka tidak terlalu mengerti, dimanakah dan apakah itu “Jakarta”. Ketika orang menyebut kata “Indonesia”, tidak banyak yang tahu, sehingga harus menggantinya dengan kata “Bali”. Ya. Belasan tahun lalu, Bali memang lebih terkenal dibanding Indonesia dan Jakarta. Padahal Bali hanyalah bagian dari Negara Indonesia. 

Sampai ketika bulan Mei 1998, sebuah kerusuhan rasial kembali meletus di Indonesia, Negara ini pun mulai dikenal dunia. Banyak WNI, yang generasi cucu-cicitnya sampai sekarang masih disebut “warga keturunan”, walaupun buyut-buyutnya sudah menetap puluhan tahun dan melahirkan ratusan generasi di negeri ini, berbondong-bondong keluar dari Indonesia. Pemerkosaan dan penjarahan harta benda si “warga keturunan” terjadi terlalu keji. Walaupun beberapa tahun lalu sejarah juga mencatat kekejian yang sama, tapi mungkin karena dunia sudah berkembang dengan begitu rupa, kali ini berita kerusuhan rasialis yang sekali lagi terjadi di Indonesia lebih mudah tersebar ke luar negeri. Tidak sedikit “warga keturunan” memilih nekat untuk meminta suaka ke luar negeri.

Indonesia. Harapan saya akan kemajuan negeri ini bisa terwujud seolah sirna tak berbekas. Pemerintahan yang korup masih terlalu mengakar, seolah tidak ada satu pun pejabat yang belajar dari kesalahan pemerintahan orde lama. Selepas kerusuhan 1998, bau rasialisme masih tercium sangat pekat di udara bumi Indonesia. Mulai dari pengurusan surat yang seharusnya tidak membutuhkan kerepotan luar biasa, yang ternyata diterapkan hanya bagi “warga keturunan”, mungkin masih banyak diterapkan dalam hal lain.

Kaum minoritas “warga keturunan”, sepertinya dianggap terlalu berbahaya sehingga harus terus ditekan. Padahal tidak ada satu pun dari “warga keturunan” kedapatan terlibat dalam pemberontakan terhadap Negara, atau aksi-aksi terorisme yang terus bergerilya di negeri ini. Anehnya, rasa nasionalisme dalam diri banyak “warga keturunan” tidak mudah begitu saja dimatikan seiring dengan tekanan pembedaan dari pemerintah yang sedang berkuasa.

Sampai akhirnya, sesosok pemimpin berhati mulia Tuhan ijinkan untuk menduduki kursi Presiden. Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Beliau adalah satu-satunya dari sekian banyak warga Indonesia yang sangat berpihak kepada kaum minoritas, termasuk “warga keturunan”. Kegigihannya membela kaum yang tertindas dilakukannya secara terus terang. Walaupun hanya berkuasa tidak genap 5 tahun, beliau telah meninggalkan banyak nilai-nilai berharga untuk bisa dijunjung tinggi di Negara ini, dan juga Negara lain yang memiliki atmosfer rasialisme yang sama. Berkat jasanya, perayaan Imlek diresmikan menjadi hari libur nasional, dan larangan untuk merayakannya secara terbuka telah dihapusnya. Dan beberapa hal “anti-rasialisme” lain telah beliau resmikan menjadi peraturan Negara.

Indonesia. Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit dalam perjalanan yang sangat tertatih, mulai mengalami perubahan yang baik. Dari kondisi memalukan karena dianggap Negara lain tidak becus mengurus urusan dalam negerinya sendiri, perlahan mulai membaik.

Di tengah isu rasialisme yang masih berhembus, seorang “warga minoritas” yang jujur dan tulus, menduduki jabatan sebagai pemimpin Ibukota. Di tengah krisis kepercayaan terhadap pemimpin yang korup dan lebih berpihak kepada penguasa, seorang “rakyat jelata” yang jujur dan tulus, berhasil duduk sebagai Presiden negeri ini.

Pembaharuan demi pembaharuan terus terjadi, walaupun banyak dihadang oleh para (oknum) pejabat yang masih menginginkan negeri ini terpuruk seperti periode lalu supaya bisa mengambil keuntungan dari kekisruhan yang ada.

Indonesia. Sesungguhnya negeri makmur. Jadi ketika semua rakyatnya makmur, seharusnya menjadi hal biasa. Yang luar biasa adalah, ketika rakyat negeri sebesar ini masih banyak yang kekurangan, sementara “wakil rakyat” hidup mewah dan merasa digaji kurang lalu melakukan praktik korupsi. Itu luar biasa!

Indonesia. Seharusnya memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan, termasuk mentalitas para pejabatnya!

Indonesia. Tanah air siapa? Ketika warga negaranya dibedakan menjadi “asli” dan “keturunan”, sementara yang “asli” sibuk memperkaya diri, bergelimang uang korupsi dan yang “keturunan” (walau lebih nasionalis) namun terus ditindas lewat bermacam ragam bentuk diskriminalisasi ras.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s