Memenuhi ekspektasi orang lain

Cover FinalHidup ini mungkin jauh lebih sederhana, seandainya kita tidak terlalu dikenal orang sebagai si A atau si B dengan image atau ‘cap’ yang terlalu muluk, yang sudah diberikan untuk kita dari orang-orang yang mulai mengenal kita.

Contoh: Paimin, tukang sapu jalanan di sekitar Taman Suropati, Menteng, tidak terlalu dikenal orang. Kalau ada yang kebetulan mengajak dia ngobrol, mungkin baru tahu dan mulai bisa menilai atau memberi cap. Misalnya si B yang mengajak Paimin bertukar sapa, lalu bertukar cerita. Si B akan mulai tahu, ternyata Paimin orang yang rajin dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya sebagai tukang sapu. Dia ingin Jakarta bersih dan sedap dipandang. Apalagi daerah taman dan sekitarnya kan seharusnya memang wajib bersih. Si Paimin lebih dikenal, karena prinsip hidupnya yang bersahaja tadi. Bahwa Jakarta harus bersih. Si B pun mengirimkan SMS kepada Gubernur Jakarta, dan diangkatlah Paimin menjadi penanggung jawab kebersihan kantor Gubernur.

Contoh kedua: Pak Harjo. Dulu sebelum aktif di gereja, Pak Harjo hanyalah jemaat biasa, yang karena melihat keramah-tamahan dari para aktivis gereja merasa tertarik untuk ikut bergabung di dalam kegiatan gereja. Pelayanan, maksudnya. Pak Harjo pun mulai aktif. Rajin ikut aktivitas ini dan itu. Banyak orang mulai mengenal dia. Sikapnya yang santun, tata bahasanya yang halus, dsb. Dan muncullah seorang Pak Harjo yang dikenal orang dan sedikit banyak mulai diharapkan untuk menjadi “jelmaan malaikat”. Tapi selidik punya selidik, ternyata sikap santun tadi hanya bisa ditemukan ketika Pak Harjo berada dalam kegiatan gereja. Sesampainya di rumah, Pak Harjo sering mengeluarkan sumpah serapah kepada para asisten rumah tangganya. Bahkan istri dan anak-anaknya pun tidak luput dari sumpah serapahnya.

Contoh ketiga: Pak Sudi. Sebelum mulai dikenal banyak orang, dia hanyalah karyawan sebuah perusahaan jasa, dengan penghasilan yang tidak terlalu besar. Tapi karena rajin ke gereja, dan mulai diminta untuk ikut kegiatan pelayanan, Pak Sudi mulai dikenal banyak orang, termasuk pekerjaannya. Jasa yang dijual oleh kantornya pun mulai banyak dikenal orang. Pak Sudi menerima banyak orderan, dan mendadak kaya raya. Gaya hidupnya pun mengikuti teman-teman sepelayanannya yang sebagian besar memang kaya raya. Walaupun kalau dibandingkan dengan mereka, tentu saja kekayaan Pak Sudi masih jauh di bawah teman-temannya. Tapi pergaulan dan keinginan untuk menunjukkan bahwa dirinya juga diberkati Tuhan, membuat Pak Sudi memilih untuk punya gaya hidup sama. Sandang-pangan harus selevel dengan teman-teman. Dan akhirnya Pak Sudi pun terjerat hutang. Besar pasak daripada tiang, rupanya. Tapi apa mau dikata, kalau dia jujur dan mengatakan uangnya habis, tidak bisa membeli lagi barang-barang bermerk, tentu akan sangat memalukan. Itu pikirnya. Jadilah Pak Sudi tetap memenuhi “harapan” teman-temannya, padahal sudah terjerat hutang puluhan juta.

Contoh keempat: Pak Doni. Awalnya Pak Doni memang sering mendoakan para pasien di Rumah Sakit. Karena ketulusan hati dan ketekunannya untuk selalu hadir setiap jam yang sama setiap hari, banyak orang di RS mulai mengenalnya, sebagai seorang pendoa, yang gemar mendoakan orang sakit. Bahkan oleh kerajinannya melayani orang sakit, Pak Doni mulai semakin dikenal karena “doanya yang manjur”. Ia pun mulai dipanggil sana-sini untuk mendoakan siapapun yang sedang sakit yang ingin didoakan. Pak Doni mulai diundang kotbah juga dalam Ibadah Khusus Kesembuhan, dan setiap kali selesai kotbah, Pak Doni pasti akan meminta setiap yang sakit maju ke depan. Jadi sudah seperti “liturgi” paten dalam setiap pelayanan Pak Doni di gereja. Orang masih saja terus mengharapkan Pak Doni. Lama-kelamaan, motivasinya yang tulus mulai goncang. Karena tidak sedikit yang memintanya berdoa, memberinya uang. Dari yang hanya puluhan ribu, sampai ada yang jutaan. Pak Doni, tanpa sadar mulai memilah jadwal pelayanannya dengan alasan harus menjaga kesehatan dan waktu untuk keluarga. Padahal nyatanya adalah, dia hanya memilih orang kaya saja. Hanya mau mendoakan si kaya, sebab pasti akan membawa pulang banyak uang selesai itu.

Hidup dalam ekspektasi orang lain, bukan hal yang menyenangkan sebetulnya. Karena kita akan menghidupi kepalsuan. Supaya orang lain tetap mengira kita baik hati, tulus, suka berdoa, dll.

Pertanyaannya? Paimin VS Pak Harjo VS Pak Sudi VS Pak Doni, siapa yang akan tetap menjadi orang dengan kepribadian yang sama walaupun kondisi yang mereka hidupi jauh berbeda, alias jauh lebih baik? Lebih dikenal orang?

Jawaban saya cuma 1 orang. Yaitu Paimin.

Kenapa?

Sederhana saja. Paimin dikenal orang karena aslinya memang begitu. Bahkan kalau saja si B mau mendatangi rumah Paimin, si B akan terkagum-kagum, sebab rumahnya walaupun sangat sederhana, jauh dari kata ‘kotor dan berantakan’. Memang begitulah adanya si Paimin.

Tapi berbeda dengan ke-3 “tokoh khayalan” lain. Mereka dikenal orang, bukan karena keasliannya, melainkan karena apa yang mereka tampilkan, dan lalu dianggap dan diharapkan orang lain untuk TETAP dan TERUS tampil seperti itu.

Padahal, manusia itu mana ada yang sempurna? Tentu tidak ada. Yang baik bisa berubah jadi tidak baik, sebaliknya yang tidak baik juga sangat mungkin berubah jadi baik. Bahkan seorang sahabat baik yang mungkin dulunya dekat dan sering berkomunikasi dengan kita, bisa saja dan amat sangat mungkin meninggalkan sahabatnya karena kesibukan atau memiliki teman-teman yang baru.

Di dunia ini, tidak ada yang kekal. Nothing is eternal. Jadi jangan pernah menggenggam terlalu erat apa yang kita punya, semuanya punya waktunya masing-masing. Kapan ada dalam genggaman kita, dan kapan terlepas tanpa bekas. Itu pelajaran pertama.

Dua, jangan ingin dikenal orang karena apa yang tampak luar dari kita. Karena semua itu palsu. Dan kita akan semakin terjerumus menghidupi kepalsuan. It’s really a very bad choice. Pilihan sangat buruk dalam hidup.

Jadi….

Hidup ini mungkin jauh lebih sederhana, seandainya kita tidak terlalu dikenal orang sebagai si A atau si B dengan image atau ‘cap’ yang terlalu muluk, yang sudah diberikan untuk kita dari orang-orang yang mulai mengenal kita. Kecuali Paimin. Apa yang orang lain harapkan darinya, adalah diri dan prinsip hidupnya sendiri yang ia hidupi dan bukan kepalsuan.

Tidak perlu menghidupi ekspektasi orang, ketika itu hanya membuat kita hidup dalam kepalsuan dan kebohongan. Tapi biarlah keaslian hidup kita memang punya nilai tinggi, supaya banyak orang bisa melihat apa yang kita lakukan dan katakan, bukan cuma pura-pura.

 Akhir kata, semua tokoh yang saya tulis di atas itu fiktif. Bila ada kesamaan, mohon dimaafkeun….😀

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

2 Responses to Memenuhi ekspektasi orang lain

  1. Etto says:

    Another great writing that help me to see Paimin, Pak Doni, Pak Sudi represent many characters which are within me.
    Through your writing, you gave your reader a space to think and re examine each individual to check up their heart and beautifully without sound judgment, encourage, invite, guide to change.

    Thank you for wrote it.

  2. Inspirations says:

    Aaaa.. Jd terharu de…🙂 i thought the writing is just another writing until I read ur comment
    Thanks a lot To!! God blesss u in alll u do🙂 Amen!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s