Elek-elek yo dulurmu….

cropped-cropped-cover-final.jpgPagi ini aku berurusan dengan percetakan. Thank God, semua selesai tanpa harus antri lama. Pelayanan cukup profesional yang aku dapatkan, lumayan membuat mood-ku tetap stabil. Aku lalu mengarah ke kantor seorang teman di daerah utara Jakarta. Udara sangat panas. Kacamata hitam yang kupakai sepertinya harus mengalah karena teriknya matahari menjelang pukul 12 siang.

Setibanya di kantor teman, sebut saja si A….

“Duh! Gua laper nih! Ada makanan nggak? Tadi nggak keburu sarapan..” kataku ke si A.
“Ada nih! Gua bikinin ini… “ jawabnya sigap, seperti biasa. Kalau soal “kampung tengah”, si A ini jagonya. Pasti beres punya!

Setelah itu kami meluncur ke tempat yang dijanjikan untuk makan siang bersama 2 orang teman lain. Dalam perjalanan seorang rekan dari kantor lama menelepon. Bagaikan hujan turun di padang gurun. Pasalnya, dia tidak pernah menghubungiku sejak tidak lagi bekerja di situ. Dia menanyakan kabar, lalu menanyakan sesuatu yang menurutku sudah tidak perlu lagi ditanyakan. Yaitu kenapa aku memilih untuk resign.

“Kalau gua ngomong alasannya, gua akan mendiskreditkan orang lain. Jadi mending gua nggak cerita deh..” jawabku malas menceritakan masa lalu.

Tapi kami sempat ngobrol beberapa lama, terputus sebentar, lalu ngobrol lagi, dan akhirnya dia berkata, “Ok deh. Sukses ya!” katanya.

Sepertinya berita negatif sedang kembali berhembus. Tapi temanku tadi memilih untuk menanyakan langsung kepadaku. Dan aku berharap apa yang kuceritakan walaupun tidak sepenuhnya gamblang, karena akan mendiskreditkan orang tertentu di kantor lama, membuatnya mengerti. Seiring dengan kalimatnya, “Ooohhh begitu….” dan diakhiri dengan “salam semoga sukses” tadi. I think dia sudah menerima penjelasan yang cukup akurat.

Hmm… kalau dipikir-pikir, menjelekkan orang lain itu hal yang amat sangat mudah. Terlebih jika ada rasa benci yang terus berkobar, ditambah rasa gengsi yang setinggi langit, plus kondisi dan situasi serta posisi yang lebih tinggi di atas orang yang dijelekkan. Amat sangat mudah menyebarkan berita buruk tentang orang lain ketika kita berada di atas angin. Biasa. Manusia memang begitu hobinya. Menghakimi, menjelekkan. Padahal Alkitab sudah mengajarkan bahwa manusia itu tidak boleh menghakimi sesamanya. Tidak boleh. “Bahkan diriku sendiri pun tidak kuhakimi,” begitu kata salah satu Rasul dalam Alkitab, demi menjalankan perintah Tuhan yang satu ini: “Jangan Menghakimi”.

Aku pun membayangkan tentang Tuhan.

“Duh Tuhan…. “ kataku dalam hati.
“Tuhan baik banget sih… “ lanjutku membatin.

Kalau melihat tingkah polah manusia, memang gampang banget seharusnya mengeluarkan penilaian, terlebih penilaian yang negatif. Orang yang benar saja bisa difitnah kok. Apalagi yang tidak benar. Ya kan… Jadi beginilah naturenya manusia. Suka menilai, menghakimi, menjelekkan sesamanya.

Tapi Tuhan enggak lho! Padahal Dia yang jauh lebih tahu mana yang benar, dan mana yang tidak benar.

Aku jadi ingat ayahku. Yang kalau anak-anaknya saling bertengkar, lalu menjelekkan satu sama lain, ayahku selalu akan berkata begini, “Elek-elek yo dulurmu Nak… “ (Artinya: jelek-jelek ya saudaramu sendiri Nak)…

Kalimat ayah ini selalu kuingat sejak kecil sampai sekarang. Efeknya luar biasa… lebih mengerem keinginan, ketika emosi tinggi, untuk menjelekkan saudara sekandungku. Karena bagaimanapun, aku dan mereka sedarah dan sedaging. Ayahku tentu lebih tahu, mana yang salah, dan mana yang benar. Tapi dia sangat jarang membela salah satu dari anaknya kalau ada pertengkaran. Semua dianggap salah. Dan itu sebabnya, tidak boleh saling menjelekkan.

Apalah manusia ini di mata Tuhan. Cuma debu. Enggak lebih dari debu malah. Jadi pastinya semua tidak sempurna, tidak ada yang dibanggakan, tidak ada yang paling suci, tidak ada yang paling benar. Sama-sama rentan berbuat kesalahan. Jadi tidak boleh saling menghakimi.

Sejelek apapun, biarkan TUHAN yang menjadi paling berhak untuk menghakimi, nanti setelah nafas ini berhenti.

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

3 Responses to Elek-elek yo dulurmu….

  1. Etto says:

    Hi,

    Thank you for a short writing. It’s so rich with characters, your life, your friendship, work
    your sibling and fathers, yet God play His part on the background.
    Simple lesson to learn in a short reading.

    Great writing. God bless you.

    • Inspirations says:

      Dear Etto,

      Thank you for your comment. It is such an encouraging for me to keep writing.
      The more effective way to share my heart with others, is writing🙂 since I don’t speak much.
      I will be waiting for your “tulisan” Etto😀
      God bless you too!

  2. Good writing, Ms. Liem🙂
    Love it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s