Sumanto di 360

cropped-cropped-cover-final.jpgMalam itu aku menonton tayangan MetroTV, 360. Narasumbernya sebuah panti sederhana yang merawat orang-orang dengan gangguan jiwa. Awalnya aku tidak terlalu tertarik, sampai mendengar kata yang cukup familiar belasan tahun lalu. “Sumanto”.

Seseorang yang dianggap ‘monster mengerikan’ karena doyan mengonsumsi daging manusia. Dia juga memakan mayat. Ngeri pastinya. Dan baru kali itu aku melihat wajahnya. Kurus. Sudah terlihat tua. Kamarnya di panti tidak terlalu layak. Seadanya dan berkesan kotor.

“Dengar-dengar Pak Sumanto kepingin menikah?” tanya si wartawan.
“Enggak! Sudah tua. Nggak berani saya (berharap untuk bisa menikah dan ada yang mau menikah dengannya).” Itu jawabnya malu-malu.
“Pak Sumanto ingin kembali ke rumah?”
“Ya ingin. Tapi saya masih menunggu…”

Rupanya pemilik panti sudah sempat mengembalikan Sumanto ke rumahnya sebanyak 5 kali. Tapi sebanyak itu pula, Sumanto dikembalikan lagi ke panti. Pasalnya, kebanyakan orang-orang di desanya tidak mau menerimanya. Alasannya simpel. Takut. Nanti harus put extra effort untuk menjagai anak-anak mereka kalau ada Sumanto di situ.

Tapi yang mengharukan adalah… ketika Sumanto kembali diajak oleh MetroTV untuk berkunjung ke rumah dan desanya.

Terlihat seorang ibu tua berbadan kurus berkulit gelap memeluk erat Sumanto sambil menyebut-nyebut namanya begitu melihat Sumanto memasuki halaman rumahnya.

“Kamu kok lama nggak pulang-pulang Nak?” kata si ibu sambil terus memeluk Sumanto. Kira-kira begitu kalimatnya kalau diterjemahkan, karena si ibu memakai bahasa daerah.

Ah! Aku terharu…

Lalu Sumanto diajak masuk ke dalam rumah, dan terlihat juga seorang wanita muda mencium kedua pipinya. Mungkin adiknya.

Pemandangan kehangatan itu tidak terlihat ketika Sumanto melewati para tetangganya yang berdiri di pinggir jalan. Ekspresi mereka seperti ketakutan dan heran.
“Ngapain nih si Sumanto datang lagi ke sini?” Sepertinya begitu yang bisa aku terjemahkan dari wajah-wajah melongo orang-orang desa, tetangga Sumanto.

Tapi ketika seorang ibu tua memeluknya. Aku terharu… Tebakanku tepat. Itu ibunya. Ibu kandung yang sudah membawa-bawa Sumanto selama 9 bulan dalam perut. Mulai dari janin, sampai jadi bayi yang siap untuk dilahirkan setelah waktunya genap.

Yang lebih mengharukan lagi, Sumanto tidak berhasil ketemu ayahnya. Karena masih sedang bekerja.

Kunjungannya ke situ cuma sebentar. Hanya karena acara 360 saja, Sumanto bisa kembali bertemu keluarganya, sekaligus menerima kenyataan bahwa tetangganya masih tidak mau menerima dia.

Manusia… sisi gelapnya yang terungkap, itu saja yang diingat manusia lain. Karena memang itu yang terlihat secara kasat mata. Tapi apakah kita pernah tahu dan mengerti apa yang tersimpan rapat dalam hati setiap manusia, sebutlah Sumanto? Tidak. Kecuali Sumanto dan Tuhan. Dia juga ingin kembali ke rumah. Punya kehidupan normal seperti dulu. Kepingin menikah. Kepingin bekerja jadi kuli, katanya.

Manusia… di satu sisi sangat rentan, di sisi lain sangat kejam. Sulit untuk bisa mengampuni kesalahan yang pernah manusia lain lakukan, termasuk kekejaman bentuk samar.

Mungkin Sumanto memang masih belum waras benar. Tapi “hukuman” yang ia terima dari sesamanya, menurutku terlalu berat…

Manusia memang seringkali melebihi Tuhan, menghakimi dan menjelekkan manusia lain tanpa alasan, menghukum sesamanya lebih berat dari yang selayaknya…

Aku yakin, Tuhan tidak tinggal diam…

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

2 Responses to Sumanto di 360

  1. Etto says:

    Terima kasih untuk tulisan tentang Sumanto.

    Terus terang, saya belum pernah mendengar tentang Sumanto, karena saya mungkin lama tidak tinggal di Indonesia.

    Membaca tulisan penulis tentang Sumanto menyadarkan saya bahwa apa yang Sumanto rasakan ada di diri saya. Dan apa yang tetangga-tetangga rasakan ada juga dalam diri saya, dan tentu dalam hal dan konteks yang berbeda.

    Penulis yang berhasil adalah yang bisa membuat pembaca masuk dan hanyut dalam cerita.

    Terima kasih penulis, anda memberkati jiwa saya pagi ini.

  2. Inspirations says:

    Iya sih yah…
    Kadang aku memperlakukan sesama sekejam itu. Cuma sisi negatifnya aja yg kusimpan dalam memori. padahal kalau saja aku tahu isi hati mereka, mungkin aku baru bisa mengerti dan paham sehingga “kekejaman”ku melenyap.

    Kata orang bijak, kalau kita bisa menyelami pikiran sesama, mungkin di bumi ini tidak akan ada konflik yang tdk bisa diselesaikan.

    Yang tahu hati manusia cuma Tuhan. Itu sebabnya seringkali aku bingung. Kenapa Tuhan diam saja? Kenapa Tuhan begitu sabar terhadap seseorang yang di mataku sudah seharusnya “diadili dengan lebih tegas”, dsb.

    Bersyukur kepada Tuhan yg sudah begitu baik memberikan kesempatan kedua. He is indeed the God of the second chance…
    Dan jangan pernah menyia-nyiakan kasih karuniaNYA yang ajaib.
    Itu satu.

    Dan belajar untuk tidak gampang menghakimi sesama. Dua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s