Di Sebuah Panti Jompo…

cropped-cover-final.jpgDi siang hari yang terik itu, aku turun dari bus kota dan memasuki sebuah gedung. “Nightingale Nursery House”. Itu tulisan yang tertera di depan gedung. Aku lalu melangkahkan kaki memasuki gedung dan diajak terus berjalan sampai kami berhenti di sebuah kamar yang isinya tidak hanya untuk 1 orang.

Aku melihat sesosok pria tua berbadan kecil dan kurus terbaring di tempat tidur. Tangan dan kakinya diikatkan ke sisi-sisi tempat tidurnya.

Hari itu kakakku memang sedang bekerja. Jadilah aku yang menemani kakak ipar untuk menjenguk ayahnya. Ekspresi senyumnya yang khas langsung melemparkan memoriku ke beberapa tahun lalu. Lekat dalam ingatanku ketika dulu kakakku menikah, ia hadir di sana. Tapi aku tidak pernah tahu bahwa rupanya sekarang beliau dititipkan oleh anak-anaknya di sebuah panti jompo.

Tepat waktu makan siang kami menjenguk dan masuk ke dalam kamarnya. Ia lalu dibangunkan oleh seorang suster yang sudah membawa nampan berisi piring makanan dengan gelas dan sendok garpu. Sebut saja Pak Ahmad. Beliau bangun dari tempat tidurnya, lalu dibantu oleh si suster untuk duduk. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, sampai melihat sesuatu yang membuat hatiku sangat sedih.

Suster yang berwajah dingin meletakkan papan lebar dan berat di atas pangkuan Pak Ahmad yang memang sudah uzur dan badannya kecil kurus. Tebal papan itu sekitar 2cm. Aku terperangah melihat itu, namun berusaha menyembunyikan ekspresi kagetku. Setelah itu suster mengikat papan dengan tali yang memang sudah menempel di bagian kiri dan kanan lubang papan ke bagian kiri dan kanan besi kursi yang diduduki Pak Ahmad. Lalu meletakkan piring dan gelas di atasnya. Kemudian suster pergi begitu saja. Aku pikir akan ditemani makan atau disuapi. Senyum Pak Ahmad tetap berkembang. Walau menurutku perlakuan sebuah panti jompo di sebuah negara maju seperti Singapura adalah tidak sewajarnya.

Setiap orang berhak mendapatkan kasih sayang lebih dari keluarganya, di masa tuanya. Ketika ia sudah tidak lagi berdaya untuk menjadi tulang punggung keluarga. Dan bukan dititipkan ke sebuah panti jompo yang sama sekali tidak memberikan apa yang para orangtua butuhkan dari anak-anaknya.

Sepulang dari situ, pikiranku berkecamuk. Aku berpikir, tentu kalau kakakku sudah tua renta nanti, ia juga akan mengalami nasib yang sama. Berakhir di panti jompo dengan perawatan yang sama sekali jauh dari “hati yang mengasihi”. Tapi kakakku berniat untuk pulang ke Indonesia dan menjalani masa pensiun di negeri kelahirannya, ketika ia tua nanti. Mungkin ia berpikir yang sama dan mengalami kekuatiran yang kupikirkan… Hhh… aku menghela nafas panjang dan berat. Hatiku sedih bukan kepalang.

Sebuah negara yang begitu tertata rapi, bersih, dan terkenal aman, ternyata menyimpan lukisan miris dari para warganya yang mulai menua.

Aku pun mengingat lagi kekagetanku ketika mencari kamar kecil di sebuah mall yang besar dan ternama di negeri yang sama, dan mendapati orang-orang berusia lanjut menjagai ‘toilet’ yang akan kumasuki. Ibuku berulang kali berkata, “Kasihan ya. Orang tua kok disuruh jaga WC!”

“Tadi aku kasih uang!” kata ibuku waktu itu. Jumlah yang disebutkannya bukan jumlah kecil sekedar tips. Tapi cukup besar. Terdorong dari belas kasihan yang mendadak timbul dalam hatinya.

Hhh… lagi-lagi aku harus menghela nafas berat dan panjang mengingat dan merenungkan kejadian yang kulihat di negara tersebut. Aku juga lebih terheran-heran, mendengar seorang tokoh sepuh di sana yang menyatakan pendapatnya mengapa ia menyetujui (bahkan terdengar agak membanggakan) aturan yang membolehkan untuk memekerjakan orang-orang tua.

“Iya, tapi bukan pekerjaan untuk menjaga kamar kecil kali!” protesku dalam hati.

Sudah begitu kejamkah dunia ini, sehingga tidak bisa lagi memberikan apa yang layak untuk diterima penghuninya? Bukankah manusia adalah ciptaan Allah yang paling tinggi? Manusia tidak dicipta Allah seperti Allah menciptakan binatang/hewan. Tidak.

Kalau Allah saja menghargai manusia begitu tinggi, mengapa manusia tidak bisa menghargai sesamanya yang sudah uzur? Apakah karena sudah tidak berdaya? Tidak lagi bisa melakukan apa yang produktif sehingga wajar saja untuk duduk-duduk di depan WC dan menjagai serta membersihkan toilet atau sampah-sampah makanan di food court, atau diabaikan untuk tinggal dalam sebuah panti jompo yang dingin dan kaku…

Maaf. Aku gagal paham…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s