Si Jawa “Kowek”

Cover FinalHari itu ternyata tidak semenyenangkan seperti yang kukira. Rasa bangga dan senang mendadak berubah. Aku muntah berkali-kali dalam perjalanan menuju Ibukota. Mengendarai mobil mungil tanpa AC bersama dengan setumpuk barang di bagian belakang, ditambah jarangnya aku mengendarai mobil, membuat penderitaanku semakin lengkap selama 15 jam perjalanan darat. Aroma di dalam mobil terasa menyengat dan mencekat. 

Setibanya, tubuhku lunglai. Bagaikan kertas yang sudah diremas sampai tidak lagi berbentuk dan siap dilempar ke pembuangan alias tong sampah. Haduh… Mulutku sampai pahit dan nafsu makanku menurun drastis. Thank God aku bisa cepat pulih.

Senin aku sudah harus bersekolah di tempat baru. Dan menerima “bully” di hari pertama masuk, dari beberapa teman. Salah satunya seorang teman bernama Kristin. Beberapa teman lain juga menyebutku “Jawa Koek”. Aku tidak mengerti apa istilah yang mereka tujukan ke aku. Rupanya seperti penghinaan, karena aku datang dari kampung dengan bahasa Jawa yang akrab dengan kata “Kowe” yang artinya “Kamu”. Yang kuherani, “Memangnya Jakarta bukan  di pulau Jawa? Kalau bukan, ada di planet mana dong yah?” Ah! Biarlah, aku tidak peduli. Yang penting sekolahku selesai dengan baik. Dan aku yakin, nasibku jauh lebih baik. Karena orang yang bisanya hanya mem-“bully” biasanya pecundang…

Seiring berjalannya waktu, aku merenung masa lalu. “Seandainya saja, ayahku tidak membawa kami sekeluarga pindah ke Ibukota, tentu aku tidak ada sebagaimana aku ada seperti saat ini. Walaupun kata orang ibukota tetap lebih kejam dari ibu tiri, aku bersyukur telah melewati “bullying” selama masa SD dan SMP dengan baik di kota dengan teman-teman sekolah yang “kejam” tadi. Setidaknya, aku sudah memilih yang terbaik. Dan semua berkat keputusan ayahku.

Tidak banyak orang di kampung halaman punya kesempatan sama. Walaupun ada juga yang berani mengambil kesempatan yang jauh lebih besar dengan yang kuhidupi sekarang. Ada dari mereka yang tinggal di luar negeri dan sukses di sana. Tapi tidak sedikit juga yang masih tinggal di kampung dengan segala permasalahan yang ada, entahkah itu ekonomi, kehancuran rumah tangga, narkoba, digosipkan tetangga, atau yang lain-lain.

Yang jelas, hari ini, lewat tulisan ini, aku ingin menyatakan bahwa ayahku sudah membuat keputusan yang terbaik. Dan bersyukur kepada Tuhan untuk semuanya!

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

2 Responses to Si Jawa “Kowek”

  1. Mona says:

    the things that don’t kill you will make you stronger. tuhan punya jalan untuk kita masing2 toh….jadi masih medok toh sekarang?🙂

    • Inspirations says:

      Hahahaha… tau ajeh kl masih medok! Thanks for comment Mona. Misssss you and all your jokes!😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s