“Everything is just fine…?”

KejutanAku sedang bingung akan pengamatanku sendiri terhadap beberapa orang.

Ayat-ayat Alkitab selalu mengalir lancar dari mereka. Tapi aku melihat ada yang aneh. Kelakuan dan perkataan sehari-harinya tidak menunjukkan ada kecocokan dengan “tingkat kerohanian” yang muncul dan terlihat dari kegemarannya akan Firman Tuhan. 

Hmm… mungkin ayat itu hanya muncul sebagai tameng saja. Atau bahkan untuk kamuflase supaya orang tidak “menghakimi”nya sebagai “kafir”. Tapi sayang mereka lupa, bahwa orang lain akan menyebutnya “munafik”. Sebutan yang adalah penghinaan tertinggi atas apa yang dihidupi sehari-hari hanyalah tipuan dan kamuflase belaka. Menyakitkan seharusnya dilihat orang sebagai hypocrite. 

Dan satu lagi yang aku herani.

Orang-orang dengan “model” sama seringkali selalu menggunakan ayat-ayat Firman Tuhan ketika masalah dalam hidup mereka bermunculan. Padahal:

  1. Mereka sendiri yang menciptakan masalahnya.
  2. Masalah itu seharusnya tidak disikapi dengan hanya “iman” dan “percaya” akan Firman Tuhan. Mereka seolah menunggu sebuah pintu yang sudah tertutup rapat-rapat dan tidak dapat dibuka, sampai-sampai tidak dapat melihat bahwa ada jendela di atas pintu itu yang masih terbuka. Mereka tidak mengerti bagaimana menyelesaikan masalah mereka, kecuali hanya dengan bergantung pada “ayat-ayat Alkitab” yang mereka paksakan cocok untuk masalah mereka. 

Mungkin mereka lebih sesuai jika diilustrasikan sebagai orang yang terperosok dalam lubang, tapi tidak terus jatuh semakin dalam karena berhasil memegang erat akar pepohonan. Mereka hanya cukup melihat ke bawah ketika matahari mulai muncul menerangi jurang dan mengerti bahwa jarak tanah dengan kakinya yang menggelantung hanyalah 1 meter saja. Jadi mereka bisa selamat hanya dengan melepaskan pegangannya dari akar pohon. Tapi mereka memilih untuk terus berdoa, berdoa dan mengingat ayat-ayat Firman Tuhan untuk menguatkan diri sendiri. Sampai akhirnya mati lemas, karena kelelahan.

Menyedihkan.

Bukan Firman Tuhan atau ayat Alkitab yang salah, apalagi Tuhan.

Tapi sayangnya, banyak orang-orang “munafik” yang kegiatannya terlalu banyak di dalam lingkungan “bertopeng” sehingga sulit menampilkan keaslian dan mengakui bahwa dirinya juga manusia biasa. Yang bisa salah, dan bersedia mengambil jalan manusiawi yang Tuhan sediakan.

Mereka memilih untuk menimbun kesalahan yang lama, dengan kesalahan yang baru, lalu berakting seolah-olah “everything is just fine”.

Mereka giat membela Tuhan. Rajin untuk berkeinginan menampilkan sosok Tuhan yang dahsyat, hebat, Maha Kuasa, Maha Kasih, sehingga anti untuk menjalani cara manusiawi sesimpel mengunjungi konselor pernikahan ketika hubungan pernikahannya sudah berantakan. Atau sesimpel memilih panti rehabilitasi narkoba ketika memang itu yang dibutuhkan. Atau sesimpel membayar hutang dan membenahi gaya hidup, ketika orang lain sudah mulai muak berhubungan bisnis dengannya.

So sad… 

(Sedang mencoba mengingatkan diriku sendiri, bahwa aku juga manusia biasa… bukan Tuhan).

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s