Welcome to the Jungle of Man

sunset.jpgPagi ini aku membaca kisah tentang Menara Babel.

Jaman dahulu kala, bahasa manusia di dunia ini hanya 1, sehingga dengan gampang manusia bersatu dan punya niatan membangun sebuah menara yang puncaknya menjulang sampai ke langit. Tapi sayang, Sang Pencipta mengerti motif negatif di balik pembangunan, sehingga mendadak keesokan hari ketika mereka terbangun, tidak lagi bisa mengerti bahasa yang diucapkan satu sama lain. (Mungkin kecuali yang masih punya hubungan darah, baru bisa memahami).

Bisa kubayangkan ‘chaos’ alias kekacauan yang terjadi waktu mereka ingin mulai melanjutkan pembangunan. Mau minta batu bata, dikasihnya semen, dan sebaliknya. Yang ada saling emosi, dan terjadilah pertengkaran hebat, sampai akhirnya mereka porak-poranda, terserak ke seluruh belahan bumi. Dan berhentilah pembangunan si menara.

Tempat itu dinamai Babel. Karena dari situlah Tuhan mengacaukan bahasa dan menyerakkan mereka ke tempat-tempat lain. 

Pagi ini aku menonton TV dengan acara berbahasa yang sama sekali tidak bisa diolah oleh otakku. Seberapa keras aku berpikir, tetap saja “blank” alias “kosong”, tanpa arti.

Lalu memoriku pun terlempar ke beberapa tahun lalu. Ketika itu aku berada di sebuah kota di negeri China.
Selesai makan malam, ternyata seorang temanku mendadak harus pergi meninggalkan tempat makan lebih awal.
Akibatnya minuman botol berisi susu kedelai tersisa utuh.

“Minta dibungkus aja! Nanti gua minum di rumah!” pesannya, lalu buru-buru pergi.
Tinggallah aku sendirian di depan kasir. Aku bingung harus bicara apa.

Dengan segenap keberanian tanpa pengetahuan, aku pun berkata, “Ta pao. Ta pao!” Sambil menunjuk-nunjuk botol minuman yang maksudnya ingin kutuang ke dalam plastik. 

Setelah beberapa menit kebingungan terjadi, dan harus kuhadapi muka kecut si kasir. Tiba-tiba dia berbalik badan, masuk ke dalam, lalu keluar mengambil kantong kresek!! Dia pun menuangkan susu kedelai dalam botol itu ke dalam…. si kantong kresek! Ampuuuunnn… aku lemas. Mana bisa diminum lagi kalau sudah dari dalam kantong kresek? Gorengan yang masuk ke situ saja aku geli untuk memakannya. Apalagi ini cairan!! Pastinya sih “ilfil”.

Tapi karena aku tengsin, tetaplah kubawa si kresek yang sekarang berisi susu kedelai temanku. Dan sesampainya di rumah si teman.
“Nih! Di tuang ke sini! Gak ada plastik bening kali dia. Gimana? Buang aja ya?” kataku.

Alhasil… mubazirlah susu itu. Dibuang karena tidak mungkin diminum. Yang ada nanti malah keracunan.

Hmm… kekacauan yang lebih seru pasti terjadi waktu jaman pembangunan menara Babel. Bahkan sampai sekarang pun masing-masing bangsa masih menjunjung tinggi “harga diri” masing-masing yang kadang terlalu tinggi. Tidak ada yang bisa bersatu untuk mau mengakui salah satu bahasa sebagai bahasa universal, kecuali bahasa tubuh dan tangan bak Tarzan yang ada di hutan. 

Welcome to the jungle of man!!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s