Catucak+MBK 20 Jun 2015

20 Juni, Sabtu

IMG-20150621-WA0024Pagi ini kami keluar dari hotel jam 8, kami meluncur keluar dan sarapan di sebuah rumah makan Chinese. Aku memilih menu mi goreng yang disiram kuah kental dengan daging babi. Enak, hanya agak manis. Jadi aku menuangkan garam dan merica ke atasnya. Lumayan… perut jadi tenang.

Setelah itu kami naik tuktuk menuju Catucak Market. Supir tuktuk menawari kami dengan Bahasa Inggris yang luar biasa sulit dimengerti. Intinya dia menawari kami untuk ke Asiatic Market dan beberapa tempat lain yang tidak begitu jelas terdengar karena suaranya juga terombang-ambing kesana-kemari diterbangkan angin yang mbrobos masuk ke dalam tuktuknya. Kami menyetujui. Sebab katanya tidak akan lama.

Ternyata kami dibawa ke sebuah tempat penjualan madu, entah apa mereknya. Harganya cukup tinggi. Tapi dua dari kami ikut berbelanja. Kardus madu pun dititipkan ke supir tuktuk yang setelah membawa kami dari toko madu tadi ke Catucak, berjanji akan mengantarkan belanjaan kami ke hotel.

“Aman kok. Kalau nggak dianterin, telepon saya. Saya kejar. Saya kenal sama mereka,” begitu kata salesman madu.

Dan tibalah kami di Catucak setelah sekitar 1 jam berada di tempat penjualan madu.

Hawa tetap seperti kemarin. Amat sangat panassss. Aku yang bersikukuh untuk membawa tas kecil sempat mengalami insiden sebelum keluar hotel.

“Nggak mau! Gua nggak mau bawa kalau elu aja males!” kata si M.

Ya sudahlah. Aku tidak jadi menitipkan kacamata hitam seperti kemarin. Padahal maksudku supaya aku tidak terlalu ribet, jadi bisa berjaga-jaga kalau-kalau ada copet. Tapi seandainya aku sendiri sudah ribet dengan bawaanku berupa tas besar, bagaimana aku bisa mengawasi juga barang-barang/tas teman yang lain? Tapi… ya sudahlah… aku tidak memakai kacamataku. Lagipula sudah ada topi dan kain untuk melindungi diri dari sengatan matahari.

Di sini aku juga sempat hilang. Karena ke-4 temanku tanpa aba-aba meninggalkanku yang masih memilih barang di sebuah toko. Aku berjalan sampai ujung lorong dan tidak menemukan mereka. Lalu aku pun berbalik menyusuri jalan yang sama.

“Na! Lu kemana aja sih?”
“Lah! Gua pikir elu kan jalannya cepet. Jadi gua jalan lurus aja buru-buru nyariin elu,” kataku.
“Lah! Kita cuma ke toko sebelahnya! Terus liat elu lewat kok abis itu ilang!”
“Yaaa bilang dong kalau lagi ke toko sebelah. Jadi gua tahu!” sahutku lagi.

Ya sudahlah… walau sempat deg-degan. Bukan berarti takut kalau tidak bisa pulang, tapi lebih kepada takut karena tidak akan seru berbelanja pakaian sendirian. Tidak ada yang bisa dimintai pendapat.

Toh sudah ketemu. Dan ternyata cuma karena kurang komunikasi.

Jadilah hari itu kami berbelanja, lalu makan siang. Lalu menuju ke MBK.

“Gua mau pulang aja nanti kalau nggak kuat. Lu pada jalan aja berempat,” kata si M.
“Laaah yakin lu mau pulang? Emang capek banget ya?” tanyaku.

Kami memang pegal, karena kemarin seperti habis-habisan. Sudah kena panas, jalan kaki jauh pula! Tapi maksud hati mau mengirit tenaga dan biaya untuk naik MRT/BTS, ternyata malah memutari pasar 360 derajat akibat petunjuk dari orang-orang yang kami tanyai, tapi tidak begitu jelas jawabannya.

“Laaah ini kan tempat tadi?” kata si M.
“Idih iyah. Kita muter ya?”

Setelah itu, kami masih harus berjalan keluar dari pasar, dan terus… dan terus… sampai tiba di stasiun MRT.

Aku heran melihat orang begitu banyak lalu lalang di pusat perbelanjaan dan di jalan-jalan di kota ini. Rasa-rasanya di Jakarta saja mall tidak dipenuhi sedemikian ramai. MRT juga penuh kalau sore. Tapi lumayan, karena hari masih siang, waktu kereta yang akan kami tumpangi tiba, kami mendapatkan tempat duduk. Fiuh… lumayan melepas penat di kaki.

Sesampainya di MBK…

IMG-20150620-WA0005Tidak terlalu banyak barang menarik di sini. Kami lalu kembali ke daerah hotel dan mampir ke gerobak di emperan toko yang menjual sup tom yum dan padthai serta beberapa jenis makanan lain. Aku memilih membeli Padthai, walau tidak terlalu suka, setelah melihat seorang ‘bule’ memakannya dengan lahap.

“Enak nih!” kata temanku yang mencicipi Padthai.
“Eh, tomyum-nya juga enak!” kataku setelah mencicipi pesanannya.
“Besok kita makan di sini lagi ya!”

Kami sepakat untuk kembali ke sini besok!

Dan setelah makan, kami kembali ke hotel, tidak lupa mampir ke gerai 711 yang memang tersebar begitu banyak, termasuk di sebelah hotel kami. Makan es krim!

Setibanya di hotel… AC dengan fan paling pol pun dinyalakan oleh M. Setelah mandi, kami lalu tidur.

“Besok jangan terlalu pagi ya! Jam 9 aja, kan cuma main daerah sekitar sini aja.”

Sepakat!

Kami hanya akan berkeliling dekat hotel, karena ternyata ada pasar kaget di depan Platinum Mall yang rupanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Padahal kami tadinya ingin ke sana naik kereta. Rupanya sangat dekat… Untunglah kami mengetahuinya setelah diantar oleh tukang tuktuk tadi pagi melewati Mall itu.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s