Gosip Seru 18 Juni 2015

IMG-20150603-WA001018 June 2015

Hari ini aku cuti dan jam 12 tepat sudah “mendarat” dengan cabin bag-ku di sebelah Bus Damri.

“Yang jam 12 sudah jalan Pak?” tanyaku ke seorang petugas.
“Sudah! Ini yang jam 1! Jam berapa pesawatnya?”
“Jam 4.”
“Oh. Masih keburu. Naik ini aja!”

Itu percakapanku dengan seorang Bapak yang kemudian naik juga di dalam Bis yang kosong melompong.

Masa penantianku sangat terbantu dengan obrolan si Bapak, walau hanya sebentar, dan juga larinya sang waktu.

Entah mengapa, akhir-akhir ini, waktu seperti seorang pelari sprint/jarak dekat. Satu jam terasa hanya beberapa menit saja. Kalau aku parkir untuk berbelanja kebutuhan rumah pun harus berlomba dengan waktu, jika biaya parkir tidak mau terhitung lebih dari 1 jam. Yah begitulah. Atas pertimbangan itu, maka aku memutuskan untuk “ngendon” saja di dalam Bis. Ketimbang harus menyeret-nyeret koper keliling Mal. (Bus-nya parkir di area lobi Mal).

Ada 2 hal kekuatiranku hari ini. Satu. Teman duduk sebelah kiri dan kananku. Semoga tidak menakutkan sosoknya (minimal akan lebih baik jika diapit 2 wanita, ketimbang diapit 2 pria tak dikenal). Dua. Ketepatan waktu terbang si pesawat yang akan kutumpangi. Mengingat aku sudah memesan taksi jemputan (shared transfer) dari bandara ke hotel, yang hanya akan menunggu maksimal 2 jam. Bisa saja aku minta tolong si “agent” untuk menginfokan kalau-kalau ada delay pesawat. Tapi akan jauh lebih baik kalau semua berjalan tepat waktu.

Teman Duduk dan Terbang “On Time”

Setibanya di Soetta, aku menuju counter “check-in”.
“Saya sudah check-in di web!” kataku.
“Ada bagasi nggak? Kalau nggak ada, langsung naik aja!” jawab petugas counter (wanita) dengan ekspresi flat, tidak sesuai yang diiklankan di TV.
“Nggak ada. Oh! Langsung naik ya. Terima kasih!”

Thank God, pesawatnya tidak tertunda. Aku pun menyeret koperku masuk, karena memang nomor 20-30 yang dipanggil lebih dulu.

Dag…dig…dug… aku penasaran. Siapaaa yang akan mengapit aku yaaa?
Ternyata dari kejauhan, di aisle aku melihat seorang wanita sekitar 30-an tahun berambut panjang sudah duduk manis.
Fiuh… lega.
Aku lalu mengangkat dan meletakkan koperku ke kompartmen atas, dan…

“Permisi..” kataku sambil tersenyum.

Tapi aku melihat ekspresi bingung. Sepertinya dia tidak mengerti bahasaku. Hmm…

Setelah duduk, aku membuka obrolan. Karena penerbangan sekitar 3,5 jam akan sangat melelahkan dan membosankan kalau tidak ada teman mengobrol.

“I thought you were Indonesian…!”
“No…” jawabnya.

Saya mulai iseng. Setelah tanya jawab, saya mendapat kesimpulan bahwa: Dia datang ke Jakarta, bukan untuk berlibur, bukan untuk bekerja. Tapi…

“My boyfriend work in Jakarta,” katanya.
Ooooohh…
“I go back to Bangkok, and he to England…”

Loohhh kok? Otakku berputar… Rasa penasaranku makin tinggi. Dan setelah beberapa pertanyaan lanjutan… akhirnya…

Dari Inggrisnya yang patah-patah dan sayup-sayup karena volume suaranya kecil, aku mengerti bahwa dia berpacaran dengan seorang bule Inggris, yang bekerja sebagai Principal di sebuah sekolah Internasional, dimana seorang kenalan juga bekerja di sana.

“What a small world!” kataku.

Aku spontan mengatakan bahwa aku juga punya teman bekerja di sana.
Sepertinya dia agak kaget. Karena tidak menyangka kalau aku “cukup tahu” kantor pacarnya.
Hmm… mungkin itu sebabnya dia langsung melesat meninggalkanku setelah penumpang diijinkan berjalan keluar dari pesawat.

Gosip seru sore hari aaah…!!

Aku tersenyum-senyum sendiri dalam hati. Lumayan… obrolanku cukup menghibur. Aku merasa seperti detektif yang berhasil menyingkapkan rahasia kasus misterius. Tapi aku sekaligus juga “kliyengan”. Sebelah kananku ternyata seorang bapak yang… entahlah, aku jadi bingung, darimana datangnya bau seperti muntahan… upsss..!! Sorry… but that’s true. Aku harus menutup hidung karena tidak tahan. Si Bapak toh terus tertidur dari pesawat take-off, sampai hampir mendarat. Cuek ajalah… daripada aku pingsan.

Arrival

Begitu langkahku menginjak Bandara DMK, aku melaju menuju Restroom.

“Duluan ya Bu…” kataku sok ramah kepada dua ibu yang tadi kutemui di ruang tunggu Soetta.

Selesai dari situ, aku melangkah keluar dan … memilih jalur yang tepat! Aku ke kanan… terus… luruss… dan melihat namaku tertulis di sebuah kertas putih.

“That’s my name!” kataku dengan senyum ramah yang dibalas dengan lebih ramah lagi.
“Oooh hallo! Come, come! Here! This way!” kata seorang ibu-ibu setengah baya yang menungguku.
“How long have you been waiting?”
“Not too long. About 40 minutes..”
(Dalam hati… “Itu sih cukup lama Bu…” kataku)
“Sorry… he is going to toilette!” katanya setelah menelepon supir penjemput.
“It’s okay,” jawabku.

Beberapa detik setelah itu aku melihat sesosok bapak-bapak. Koperku dibawakannya. Aku diantar ke mobil oleh si ibu dan disuruh masuk lebih dulu oleh si supir, lalu koperku ditaruhnya di sisi kiriku. Si ibu berpamitan, lalu pintu ditutup, dan aku pun diantar ke hotel.

Waaaahh… so nice. Pelayanannya sangat luar biasa.

Sebelumnya kubayangkan, bahwa aku akan menunggu orang lain, dan berputar-putar untuk menurunkan para penumpang lain sebelum sampai ke hotelku. Ternyata aku sendirian! Nyaman… hmm… Mantaplah!

Setibanya di hotel.

IMG-20150603-WA0016“Naaaaa!!! Aduh Naaa!! Gua hepi banget loh bisa liat elu di sini! Ternyata bisa sampai juga! Kan elu sendirian…” kata temanku yang lucu itu.
“Aaah lebay deh… ya sampai dong, masa enggak!” jawabku sambil tertawa. Dia pun tertawa juga.

Keempat temanku berangkat dengan pesawat pagi pukul 10. Transit sekitar 4 jam di Changi, dan baru tiba di Bandara Suvarnabhumi sekitar pukul 7.30 malam. Aku pukul 8 malam, di Don Muang. Beda setengah jam. Tapi mendarat di lain bandara. Sehingga aku memutuskan untuk langsung ke hotel sendirian, sesuai kesepakatan bersama.

Jadilah, begitu aku tiba di hotel, aku pun happy melihat muka-muka kelaparan yang menunggu di lobi.

“Gua laper bangeeettt!” kataku begitu bertemu muka.
“Samaaa!! Kita nungguin elu! Yuk langsung makan! Titip aja kopernya!” kata temanku.

Jadilah koperku dititip dulu di front desk hotel, supaya langsung bisa bersama-sama keluar untuk mengisi “kampung tengah”.

Keramaian jalanan Bangkok malam itu masih sangat terasa. Baru sekitar pukul 9 lewat. Setelah berjalan dan mencoba memilih rumah makan yang paling OK, kami pun masuk ke sebuah tempat makan kecil yang cukup ramai pengunjung. Kemungkinan besar menunya nikmat.

“How many people?” tanya si ibu pemilik resto.
“Five!” jawab temanku.

Dan kami pun diajak masuk untuk duduk di sebuah meja agak besar. Kami memesan Tom Yam Seafood 1 porsi besar, udang goreng-1 porsi, sayur-1 porsi, 3 mangkok nasi, dan air putih 5 botol.

Selama menunggu sup asam khas Thailand-nya disajikan, kami sempat membahas foto pemilik resto. Prianya keturunan India, wanitanya sepertinya orang Thai.

“Itu cewek asli apa enggak ya?”
“Asli!”
“Asli yah?”
“Eh, tapi kaya cowok sih…”
“Asli lagi! Itu ada anaknya kok yang dipangku. Dua lagi!”
“Eh, tapi siapa tahu itu anak angkat. Bisa juga kan…”
“Enggak…enggak. Ini asli kok…”

Begitulah pembahasan iseng kami ketika memperhatikan si ibu pemilik resto yang sangat ramah.

Karena cukup lama menunggu, maka seorang teman mengambil nasi dan beberapa lauk matang yang tersedia dalam porsi “all you can eat” yang berada tepat di belakang meja kami. Aaahh… Masing-masing langsung bersemangat mencicipi.

“Aduh… asin banget… kaya makan garam!” kataku.

Yang lain setuju. Masakannya super-duper asin ternyata.
Tom Yum-nya? Uh! Sama! Uasine poll! Udangnya juga. Sayurnya juga.

“Sebetulnya supnya juga asin nih! Cuma karena asem aja, jadi nggak terlalu berasa,” kata seorang teman. Yang, lagi-lagi, disetujui juga oleh yang lain.

Selesai makan, kami langsung kembali ke hotel. Ingin menyimpan tenaga untuk esok hari. Full day berwisata….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s