Wat Arun bin “babaks belurs” 19 Jun 2015

19 Juni 2015, Jumat

Pagi ini, kami keluar dari hotel sekitar pukul 8 pagi. Rencananya…

“Kita ke china town terus makan pagi di situ yah!” kata si M (sebut saja begitu).

Tapi untunglah, semua sudah “mengganjal” perut masing-masing. Karena pada kenyataannya, kami baru tiba di china town sekitar pukul 4 sore, dalam kondisi cukup “babak-belur” akibat kepanasan dan kaki gempor…

Bagaimana tidak?

Pagi keluar dari hotel, kami menuju ke stasiun MRT terdekat, yang cukup jauh sebetulnya dari hotel kami lalu tiba di pelabuhan/dermaga, untuk menuju ke Wat Arun.

IMG-20150619-WA0111Sekeluar dari stasiun kereta, kami membeli minuman dingin dan berfoto bersama si abang penjual. Lalu berjalan menuju pelabuhan.

Ehm… kami sempat salah menyeberang dan membuang 6 Baht/orang untuk penyeberangan pulang-balik dengan perahu kecil. Anehnya, petugas yang di dalam kapal hanya “Ok, ok!” saja waktu kami tanyai apakah ini perahu yang benar. Ya sudahlah… Begitu tiba di seberang, kami langsung kembali lagi, karena memang salah tujuan.

“Na!!” kata si M. Setelah itu dia diam. Aku memandangnya dari jauh sambil sibuk mencari uang kecil untuk membayar si “engkong” penjaga jalur masuk setelah turun dari perahu.

Rupanya si M memanggil untuk memberitahu bahwa “kita salah arah!”
Tapi sudah terlambat. Aku sudah membayarnya…. x_x
Dan lalu membayar lagi 3 Baht karena harus kembali melewati lagi si engkong, beberapa detik setelah mengeluarkan 3 Baht. Haduh….

“Elu telat sih kasih tahunya. Tahu gitu kagak gua bayar dulu!” kataku ke M.

Kami tertawa-tawa saja. Lalu kembali menyeberang ke tempat semula. Baru setelah itu naik perahu yang sesungguhnya bersama para turis lain dalam satu kapal yang jauh lebih besar dari kapal pertama.

Dalam pemberhentian ke-8. Kami turun. Wat Arun. Hmm… ada apa ya di sini?

Seturun dari perahu, kami makan, karena kelaparan… lalu melanjutkan perjalanan.

IMG-20150619-WA0044Di tepian jalan, kami menemukan penjual makanan laut yang sudah dikeringkan, beberapa macam sambal, dan bumbu-bumbu tradisional. Ternyata di belakang tepi jalan ada pasar tradisional. Setelah berbelanja beberapa makanan, kami melanjutkan perjalanan.

Wat Arun+Grand Palace!

Foto-foto di bawah terik matahari memang luar biasa rasanya. Keringat terus mengucur. Kulit tersengat panasnya sang surya.

Selesai dari situ, kami menuju Grand Palace.

IMG-20150619-WA0053“Tiketnya 500 Baht loh! Mahal ya. Kita foto-foto di depannya aja. Bagus juga kok!” obrolan kami waktu itu.

Setelah berjalan beberapa ratus meter dan mulai ‘teler’ karena panas dan pegal, kami memasuki gerbang Grand Palace. Aku dan seorang teman mengenakan celana pendek. Tapi kami membawa kain. Si M memakai celana ¾ dan sendal jepit. M berjalan di depan antrian. Dan kami terkena cegatan serta usiran tolakan masuk dari petugas.

“Kenapa sih? Emang nggak boleh pakai celana ¾? Nggak boleh pakai sendal? Ribet banget ya?”
“Ya udah, jadi masuk apa enggak nih?”
“Biasa aja kan dalemnya?”
“Ya… lumayan bagus sih…”
“Tapi toh kita juga nggak masuk ke dalem. Cuma foto-foto di pelataran doang kan?”

Setelah berdiskusi singkat. Kami pun balik badan. Malas menghadapi keribetan aturan setempat.

Kami pun berjalan keluar dan akhirnya…

“Five! Five can! Come!” kata seorang tukang taksi yang mungkin mengincar kami setelah menganalisa kami butuh “kaki bantuan” untuk melanjutkan perjalanan. Kami pun naik ke dalam taksi dan pergi ke Khausan Road. Katanya banyak toko pakaian dan juga snack khas Thai di sana. Supir taksi yang cerewet tadi menawari kami untuk berkeliling ke beberapa tempat wisata sebelum ke tujuan.

“Tidak harus berbelanja,” katanya. “Cukup lihat-lihat saja. Kalau tertarik, besok kontak saya untuk saya antar ke sana, begitu celotehnya. Tapi kami menolak. Sebab dari awal kami tidak simpatik. Sebelumnya sudah setuju untuk mengantarkan dengan harga 150 Baht. Ternyata setelah kami di dalam taksi dia berkata 200 Baht. Jadi tawarannya kami tolak. Takut penipuan.

“No. Just go directly to Khausan Road!” kataku.
“Ok!” Jawabnya.

Tapi di kota ini, aku tidak setakut waktu berada di Manila. Orang lokalnya jauh lebih … ehm… selain tidak ramah, mereka melihat kami seperti sasaran empuk penipuan. Di Bangkok, penduduknya lebih ramah. Walaupun beberapa terlihat “galak”.

Ehm… ngomong-ngomong soal galak…

Setelah melihat tidak ada yang sedap dipandang untuk dibeli, kami yang kelelahan mampir ke sebuah gerobak yang menjual Padthai. Untuk itu kami harus duduk di depan warung minum yang pemiliknya ajubileh alajim… Sangat sangarrrrr. Seorang wanita bertubuh besar, berkulit gelap. Dia tidak memperbolehkan kami duduk di situ kalau tidak membeli minuman atau makanan darinya.

Jadilah temanku membeli minum dan 2 porsi Padthai. Tapi aku tidak takut. Biarkan saja. Kalau sampai marah, ditinggal saja beres. Tidak ada hukumnya kok, kalau kami tidak boleh duduk di situ. Aku cuek saja. Tidak memesan makanan, dan juga minuman. Bodo amat… aku paling tidak suka diintimidasi.

Ah! Jadi ingat kejadian dulu. Waktu itu temanku si M juga pernah mengajakku makan Tom Yum Soup di Mangga Dua. Pemiliknya luar biasa tidak ramah. Karena aku tidak membeli makanannya, dia melarang kami duduk.

“Kalau nggak pesen jangan duduk di sini!” katanya.
Spontan M berkata, “Yuk Na! Kita pergi aja!”

Dan kita pun melenggang pergi. Aku masih shock dengan keganasan pemilik tempat makan tadi. Padahal pernah kucoba, supnya serasa minum Vitamin C! Jauh dari kenikmatan Tom Yum Soup yang sesungguhnya.

Setelah makan, akhirnya kami menuju ke jalan raya berniat kembali ke daerah Pratunam. Di sini, aku hanya membeli dedaunan kering yang katanya untuk memasak Tom Yum. (Ternyata setelah dimasak di rumah, seperti makan sampah…. Terlalu banyak dedaunan kering yang mengendap dalam sup Tom Yum yang dimasak oleh Beloved Kartee… Tapi tidak apa-apa. Namanya juga mencoba… kupikir enak. Ternyata tidak sama sekali. Yang ada malah jadi sibuk memilah dan membuang batang-batang serai serta dedaunan dan bumbu kering di dalamnya.)

Kami lalu mencari Bis jurusan China Town. Setelah menunggu cukup lama. Aku bertanya kepada pemilik warung pinggir jalan. Katanya nomor 53 dan harus jalan ke sebelah sana.
Sana mana?
Ternyata “sana-nya” cukup jauh. Udara juga panas luar biasa.

Setelah menunggu beberapa menit di sisi jalan, kami diberitahu oleh seorang bapak-bapak bahwa seharusnya halte yang kami tunggui adalah di seberang jalan.

Ooohh… ! Dan kami pun menyeberang, menunggu lagi beberapa menit. Tidak terlalu lama datanglah 53 yang membawa kami ke China Town. Kami sempat dioper dalam perjalanan. Serasa naik bis kota di Jakarta yang suka mengoper penumpangnya…

China Town

Dan tibalah kami di sini. Ah! Ternyata tidak sebagus yang kami bayangkan. Tidak ada apapun yang menarik. Hanya penjual obat, emas, dan makanan yang menurut kami tidak menarik. Untuk apa memakan Chinese food di kota yang kaya dengan masakan khasnya?

Jadi kami hanya sempat menumpang buang air kecil… (sssttt…) di sebuah toko obat yang cukup besar, karena dua orang teman (sesama dari Jakarta) membeli pesanan orangtua mereka di toko itu.

Dengan cepat setelah itu, kami kembali ke area Pratunam menggunakan MRT/BTS. Karena lelah, kami tidak sanggup melanjutkan perjalanan ke Platinum Mall. Kami malah mampir di sebuah mall dan aku memilih untuk makan sebentar di resto cepat saji McD. (Tadi aku sama sekali tidak mencicipi Padthai, yang sebetulnya memang tidak terlalu kusukai).

Jadilah aku memakan menu baru McD, yaitu paket nasi+ayam bumbu Thai asam manis pedas+minum. Harganya 60 Baht saja. Murah meriah. Rasanya? Maknyus! Nasinya sangat pulen. Rasa bumbunya juga enak. Lumayan untuk mengganjal perut. (tidak seperti nasi yang kami makan di malam pertama di resto serba asin. “Pera” atau “kemrotok” bahasa Jawanya. Setelah dimakan serasa mengembang dalam perut dan memberi rasa kembung, kalau menurutku).

Setelah makan, kami mampir di sebuah supermarket. Aku membeli kacang koro (rasanya enak), dan bubur instan rasa ayam+babi. (Yang ayam sudah kucoba, tidak begitu enak) untuk dibawa pulang ke rumah, dan 2 bungkus snack keju untuk dimakan sama-sama.

Begitu keluar dari mall, jalanan macet total. Tuktuk yang kami tawar memasang harga tinggi. Kalau mau naik taksi pasti akan jauh lebih tinggi karena macet. Akhirnya kami mencari jalan lain. Aku dan M masuk lagi ke dalam mall dan menanyakan soal transportasi ke hotel kepada bagian informasi mall.

“If you go by taxi, will be traffic jam. If you go by tuktuk, maybe about 50 Baht…”

Padahal kami sudah ditawari supir tuktuk seharga 200 Baht, yang artinya 4 kali lipat dari harga normal.

Akhirnya kami memilih untuk naik MRT walaupun kaki sudah senat senut nggak karuan… tapi daripada senep di dalam taksi karena macet… ya sudahlah, perjalanan dilanjutkan.

“Tadi siapa tuh yang bilang kagak mau lagi naik MRT?? Hahaha….” Kata kami saling meledek.

Sesampainya di dekat hotel, si M mengajak kami makan di sebuat resto seafood tenda yang digelar di depan McD. Ramai memang. Tapi ternyata masakannya tidak terlalu enak. Di samping itu, harganya amat sangat mahal, dibanding menu-menu sebelumnya.

“Hari ini gua yang traktir deh! Udah cepetan pilih menu!” kata M dengan “gagah perkasa”. Kami hanya memesan ikan, udang, sayuran, nasi, minum dengan harga 1000 Baht lebih sedikit, yang kalau dikurs jadi empat ratus ribu Rupiah lebih! Makan malam termahal…

Begitu sampai di hotel. Dengan AC yang fan-nya paling pol, karena si M berkata, “Panas Na!!! Gedein dulu!!”

Okey lah….

Kami langsung berberes, mandi dan istirahat. Aku tidur bertiga dalam 1 kamar, tentu saja dengan additional charge dari hotel, karena ada additional person dalam kamar yang sama. Baiklah!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s