Mbak Karti The Excellent!

Hasil Karyanya yang luar biasa nikmat (jangan terong+kacang)

Hasil Karyanya yang luar biasa nikmat (jangan terong+kacang)

Aku patut men-syukur-i apa yang sudah Tuhan beri dalam hidup ini, salah satunya adalah seorang pahlawan rumah tangga yang sudah merawatku sejak aku masih kecil sampai sekarang.

Aku ingat, dulu suka memandangi wajahnya yang tertidur lelap di bawah tempat tidurku. Aku tidur di ranjang tinggi, bersama kedua adik laki-lakiku, dengan dia tidur di ranjang rendah yang kalau sudah tidak dipakai bisa disorong masuk ke bawah ranjangku. Aku menatapnya… dan tiba-tiba air mataku mengalir. Entah kenapa. Mungkin ada rasa iba, sebab seusia dia sudah harus bekerja menjagai dan merawat aku dan kedua adikku. Masih lekat juga dalam ingatanku ketika setiap malam dia harus bersusah payah menyuruh setengah memaksa kami bertiga untuk gosok gigi sebelum tidur. Dia betul-betul berdedikasi untuk keluargaku. Sungguh satu pengorbanan yang luar biasa dan juga pengabdian yang lebih dari seorang pahlawan terhadap negaranya. Dia juga yang selalu repot menyuruh kami makan dan mandi tepat waktu. Masih ditambah dengan kerepotannya membantu Bulek-nya yang juga bekerja di rumah kami untuk memasak. Dan ternyata bakat memasaknya sangat menonjol. Extraordinary! Sejak itulah hasil karya tangan dinginnya masyur di antara seluruh keluarga ayah dan ibuku. 

IMG_20150707_113425

Full of love Food

Saat ini, tiap kali aku membuka tempat makanku pada jam makan siang di kantor, aku selalu terharu. Tersentuh dengan kehebatannya menyediakan yang terbaik untuk kumakan. Bahkan ketika di rumah tidak sedang tersedia apapun. Dia bisa menambahkan kerupuk atau teri goreng andalannya di samping telur mata sapi yang ia goreng untukku. Masih ditambah dengan sambal sachet yang ia selipkan.

Dia begitu mengerti apa yang kusuka. Kebutuhanku akan makan siang yang nikmat selalu tercukupi dan lebih dari cukup karena aku tahu di balik semuanya aku bisa menemukan kasih sayang yang luar biasa dari seorang ‘Embak’ yang juga luar biasa. Excellent spirit!! Itu yang dia miliki. Yang membuatku selalu “surprise” setiap membuka kota makan siangku…

“Aduh Ti… pake Tokebi kan bisa!” kataku bermaksud melarangnya mengulek sambal pakai tangan.
“Wes toh! Ora enak. Sambel lek diulek nggae ulekan karo blender ki bedo rasane!” sahutnya. (artinya: Udahlah! Nggak enak. Sambal kalau diulek pakai ulekan atau blender itu rasanya beda!)
Ya… dia memang sering ngotot-ngototan denganku untuk hal-hal melelahkan yang sampai sekarang tetap dia lakukan demi menjaga kualitas masakannya. Padahal aku tahu jelas, setiap orang menua, termasuk dirinya. Tenaganya sudah tidak lagi sama dengan dulu pastinya, yang sudah dia ‘geber’ sejak muda, sampai sekarang.

Itu sebabnya aku dulu sering sekali mengamuk di rumah, karena saudara-saudara ayahku yang terlalu sering meminta dibuatkan masakan olehnya. Bahkan ada satu saudara ayah yang meminta makan setiap hari, dan menitip belanjaan ke pasar yang nggak kira-kira beratnya (telur sekilo, tomat sekilo, dll, dll. Memangnya Mbakku hanya berbelanja untuk dia? Ya enggak dong! Belanjaan untuk rumahku saja sudah berat tanpa ditambah belanjaannya. Walaupun dengan imbalan uang. Aku tidak pernah suka melihatnya bekerja lebih sibuk untuk sesuatu hal yang sesungguhnya percuma. Karena makanan kan bisa dibeli dari tempat lain, kenapa juga harus merepotkan Mbakku dengan imbalan yang tidak setimpal dibandingkan tenaga yang sudah ia keluarkan untuk berbelanja lebih berat serta memasak makanan ekstra. Huh! Mengesalkan… (aku menarik nafas panjang menuliskan ini…). Ayahku juga termasuk rewel dalam hal makanan. Harus banyak menu tersedia di meja. Kadang membuatku emosi, karena tidak harus sebanyak itu variasi makanan yang harus tersedia di atas meja karena yang memakan toh hanya tinggal berapa orang saja sekarang-kalau di rumah).  

Tangannya memang luar biasa. Koki unggul dan sejati, tapi tidak pernah tinggi hati seperti chef2 yang berdiri dengan pongah dalam acara-acara TV audisi master chef. Padahal dedikasi mereka sebagai chef, aku yakin sangat jauh ketinggalan dibanding Mbakku yang luar biasa tadi.

Aku hanya bisa berdoa, “Tuhan berikan kemurahanMU yang tak terbatas itu untuknya. Amin”

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s