Kegagalan Agama

KejutanSelagi menyusuri jalanan kota yang tersendat, aku mulai jarang membuka HP. Belajar untuk mengurangi keseringan buka HP, karena membuat mata makin bawur (baca: kabur alias buram). Tapi entah kenapa, aku masih mengingat beberapa foto yang dibagikan para teman di “tembok FB” mereka, yang pernah kulihat dan entah kenapa juga, aku memikirkan satu hal. Yaitu ini…

Kenapa manusia jaman sekarang ini lebih menyukai “liturgi keagamaan” ketimbang menyukai PENCIPTAnya? Hal-hal yang tidak esensial seperti doktrin, liturgi, aturan agama, hukum-hukum taurat, acara-acara agama, sepertinya menghasilkan pribadi yang tidak lebih baik. Tapi, justru itulah yang disukai untuk dipegang dan dibahas enggak ada habisnya. Itu juga padahal yang sangat potensial menimbulkan konflik dalam diri ataupun antar manusia dengan sesamanya.

  • Karena agama, manusia bisa saling membunuh (pembunuhan dan penyiksaan yang dialami pemeluk agama minoritas di beberapa negara, termasuk Indonesia).
  • Karena agama, manusia bisa saling membenci, bahkan di antara orang terdekatnya (anak benci kepada orangtuanya, atau sebaliknya orangtua benci kepada anaknya).
  • Karena agama, manusia bisa jadi begitu egois dan angkuh. (Tidak peduli kepada manusia lain yang berbeda agama. Atau bahkan dengan gampang mengatakan “kafir” kepada sesamanya. Padahal tidak mengerti apa arti kafir. Kalau ditilik dari persepsi masing-masing, tentu sama-sama kafir… Lucu memang. Kafir menunjuk kepada kafir yang lain, padahal yang ditunjuk sama-sama beragama… Lalu yang kafir siapa?).
  • Karena agama, manusia bisa dengan gampang terhasut oleh isu-isu negatif dan tersulut kemarahannya yang tanpa logika (contohnya peristiwa di Papua yang baru saja terjadi). 
  • Karena agama, manusia justru melemahkan Tuhan. (mengganggap Tuhan butuh pertolongannya).
  • Karena agama, manusia lebih peduli dengan liturgi ketimbang SANG PENCIPTA. (Salah liturgi bisa mengakibatkan perselisihan tajam, lalu pemecatan, dan hukuman lain seolah melakukan dosa).
  • Karena agama, manusia lebih sibuk memikirkan hal-hal yang tidak penting, ketimbang belajar bagaimana bisa mengenal ALLAH Semesta Alam secara pribadi.
  • Karena agama, manusia justru melupakan Tuhan, dan lebih mementingkan bagaimana berdoa dengan benar, sikap doa yang benar, harus menghadap ke mana (memangnya Tuhan terbatas? Bukankah DIA omnipotent, omnipresent, Maha Kuasa, Maha Hadir), harus duduk, harus berdiri, tidak boleh tidur (bagaimana kalau sakit? Orang sakit tidak boleh berdoa?).

Aku pun berpikir… seandainya manusia ini tidak punya agama, mungkin akan jauh lebih baik. Sebab dalam hati kecil setiap manusia, selalu ada keinginan dan KEBUTUHAN untuk DEKAT dengan PENCIPTAnya. Jadi tanpa pertolongan agama pun, setiap manusia sanggup mengenal TUHAN dari persepsi yang paling benar. 

Entahlah… bingung. Harusnya agama bisa punya dampak positif bagi pemeluknya.

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s