Kekuatiran Mendatangkan Kegagalan

WorriedSudah sejak Sabtu kemarin, aku heboh mengatur penjemputan untuk Mbak-ku. Dia akan datang sendirian ke terminal Rawamangun. Masalahnya: siapa yang akan jemput karena aku tidak bisa? Dia akan datang jam berapa? Aku tidak tahu. Untuk kedua alasan itulah aku “kebakaran jenggot”.

Masalah pertama coba kusolusi dengan memutar otak untuk mencari jemputan lewat internet. Sayang gagal. Karena yang tersedia hanyalah jemputan dari dan ke Bandara Soetta. Aku mencoba mengingat-ingat, siapa teman yang bisa membantu. Dan aku pun teringat si Ve. Dengan sangat baik dia menjawab OK, bersedia membantu. Aku pun diminta untuk menghubungi supirnya yang juga sangat baik, apakah bisa. Akhirnya semua OK. Kecuali kekuatiranku, bagaimana si supir akan bertemu dengan Mbakku, karena kabarnya terminal bis satu itu sudah dirubah dan memiliki beberapa “kesalahan” menurut yang kubaca lewat internet. Kesalahan apakah itu, aku belum sempat membaca, karena memang tidak sempat. Waktu terus berjalan, dan aku mencoba berkejaran.

Malam hari aku mencoba memberitahu orangtua. Ternyata mereka kuatir, bagaimana bisa bertemu kalau Mbak-ku tidak punya HP, dan supirnya juga tidak mengenal Mbak-ku sama sekali. Padahal sudah kusiasati dengan mengirimkan foto Mbak-ku ke si A (nama dari supir Ve). Dia juga sudah OK, walau awalnya agak bingung, karena tidak tahu bagaimana bisa parkir, sebab sekarang di terminal baru, penjemput tidak boleh masuk ke dalam terminal. Tapi malam, dia berkata, “Bisa kok parkir di depan terminal”. (Rupanya kata si Ve, dia sudah sempat survey ke terminal rawamangun!!)

Seharusnya masalahku sudah selesai. Aku tidak perlu repot mengurusinya lagi. Kecuali masalah lain, yaitu nomor plat Bis dan nomor telepon supir bis yang diminta si A, belum juga kudapatkan dari teman sekampung Mbak-ku. Sampai keesokan pagi, baru kulihat ada informasi itu masuk ke WA-ku. Tapi sayang, sudah kubatalkan si A, demi mendengar nasihat Ibuku yang menyarankan untuk dijemput sendiri dengan kekuatiran, si A tidak mengenal Mbak-ku. “Nanti malah cari-carian dan nggak ketemu,” katanya.

Pagi hari, masalah baru yang membuat kepalaku kembali pusing kejadian. Ibuku menelepon dan berkata bahwa di rumah tidak ada mobil.

“Oh ya udah kalau gitu, nanti aku bilangin biar naik taksi aja,” kataku dalam galau.

Buru-buru aku menghubungi si A dan meminta pertolongan yang sudah kubatalkan semalam. Tapi si A harus mengambil mobil di rumah si Ve. Sementara Ve aku hubungi tidak bisa. HP-nya tidak diangkat, WA juga tidak dibalas. Aduh, aku makin pusing.

Kurang lebih 15-30 menit kemudian, barulah semua OK. Tapi masalahnya adalah, aku lebih memercayai kenek bis yang mengatakan bahwa bis sudah akan tiba di terminal pukul 9.30. Padahal kemarin aku memberitahu Mbak-ku bahwa akan dijemput pukul 11. Aku pikir sudah tersolusi, toh, Mbak-ku akan dijemput orangtuaku. Eeee ternyata tidak ada kendaraan untuk menjemput! Haduuuhh! Akhirnya, aku batalkan lagi si A, dengan alasan “tidak akan keburu untuk bisa ke terminal 9.30, sementara pukul 8.30 dia masih di rumahnya yang lokasinya cukup jauh dari rumah si Ve”.

Aduuuhhh aku bingung! Akhirnya nekat ku-sms kenek genit yang sebelumnya sempat SMS-an dan Telponan denganku (walaupun suaranya sama sekali tidak kedengaran, karena HP-nya mungkin rusak, selalu krek-krek-krek-krek seperti radio bujat!).

“Pak, tolong beritahu untuk naik taksi aja deh. Nggak ada yang jemput. Makasih.” Itu SMS-ku, yang tidak lagi dia balas.

Salahnya, aku lebih percaya sama si kenek, dan berharap dia akan memberitahu Mbak-ku.

Padahal…

Begitu bis tiba 9.30 di terminal rawamangun, Mbakku menunggu sampai jam 11! Karena dia sudah diinfo bahwa akan dijemput jam 11 oleh si A.

Rencana sudah kuacak-acak nggak karuan. Betapa bodohnya aku… karena kekuatiran yang terus kutumpuk, akhirnya Mission Impossible-ku bersama A dan Ve GATOT alias gagal total!

Kejadian selanjutnya adalah ini…

Pukul 11.30, aku telepon ke rumah. Ternyata Mbak-ku belum datang! Dengan panik aku menghubungi si A dan Ve. Tidak lama Ve menelepon dan berkata bahwa si A sudah ada di rumahnya. Kalau memang mau dimintain bantuan, biar dia ke Rawamangun saja, untuk mencari Mbak-ku. Siapa tahu Mbak-ku masih menunggu di situ, karena kan belum tiba di rumahku.

Sampai sekitar pukul 12 lewat, si A kok belum juga memberitahu keberadaan Mbak-ku. Aku meneleponnya. “Tadi katanya ada ibu-ibu. Tapi sekarang udah nggak ada…” begitu jawab si A. Mungkin dia melancarkan aksinya dengan memperlihatkan foto Mbak-ku ke orang-orang di terminal, dan itu jawaban mereka.

“Ok2! Saya telepon rumah dulu ya!” kataku.

Ternyata….

“Sudah datang…” kata si penjawab telepon di rumah.

Ya ampun…. Benar-benar GATOT!! Si A pun aku info bahwa Mbak-ku sudah tiba di rumahku. Dan aku pun berterima kasih kepadanya. Aku juga amat sangat berterima kasih kepada si Ve yang sudah meminjamkan mobil dan supirnya.

Ternyata Mbak-ku berdiri kurang lebih 2 jam menunggu sambil menahan kencing. Aduuuhh kasihan. Aku memang keterlaluan! Hanya gara-gara kekuatiran yang tidak beralasan, aku mengacaukan semua rencana.

GATOT judulnya…. Gagal total!!

Kekuatiran memang faktor utama KEGAGALAN! Kekuatiran itu mendatangkan kegagalan. Itu sebabnya Alkitab mengajarkan setiap manusia agar TIDAK PERLU KUATIR!

Matius 6:27
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s