Yang Paling Besar di Antaranya Ialah Kasih

Cover FinalKeluarga kami menyayangi satu sama lain. Walaupun Bahasa Kasih yang kami pakai tidak tepat, malah bisa dibilang acakadut. 

Aku teringat waktu itu kakak pertamaku sakit keras. Bergantian kami menjenguk, kecuali adikku yang paling kecil. Dengan satu dan berbagai alasan, sampai akhir hayatnya, adikku tidak sempat menjenguk. Tapi aku tahu dia tipe “family man” alias sayang sama keluarga. (Ehem!)

Setelah itu ibuku sakit jantung. Kami bergantian setiap hari selalu ke Rumah Sakit. Tugasku dari sore sampai malam menunggu adikku yang datang untuk menginap di samping tempat tidur di ICCU dimana Mama terbaring lemah saat itu. Giliranku menginap adalah Sabtu malam sampai Minggu siang atau sore, menunggu setelah ada yang datang untuk menggantikanku berjaga di RS. 

Setahun kemudian, ayahku sakit dan harus dioperasi tyroid. Kami juga bergantian menjaga, kecuali beberapa malam sewaktu di ICU karena ayah tidak boleh sama sekali dijenguk. Jadi hanya kakak keduaku saja yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan lokasi RS, bisa menjenguk pada saat jam besuk.

Dan hari Sabtu lalu, adikku yang paling kecil sakit. Aku sudah tahu, tapi tidak terlalu mengerti kondisinya, sehingga kupikir baik-baik saja sampai tiba-tiba…. “Darurat A” (A itu nama adikku, sebut saja begitu). Aku kaget dan langsung memberitahu orangtua. Adikku yang satu lagi membuat group chat dengan judul itu.

“Ya ditelepon dong! Ditanya ada apa!” kata ayahku.

Ternyata kondisinya melemah. Istrinya berkata dia ingin ke RS tapi karena tidak bisa mengemudi, jadi bingung harus bagaimana. 

“Aku ke sana deh. Nanti aku antar ke RS. Masih tahan nggak kalau nunggu aku?” kataku.
“Tahan,” kata adikku. 

Dan aku pun langsung berganti pakaian, bersama orangtua meluncur ke rumah adikku. Hari sudah mulai gelap. Tapi puji Tuhan tidak terlalu macet, kecuali di sepanjang pintu masuk tol, karena ada 2 truk berukuran raksasa berhenti di jalur masuk pintu tol. Emosiku mulai tak terkendali.

“Sudah tenang aja. Enggak ada apa-apalah…” kata ibuku mencoba menenangkan suasana yang tegang.

Adikku yang satu lagi juga sedang meluncur dari daerah yang lebih dekat ke lokasi, tapi ternyata aku tiba lebih dulu. 

“Tunggu aku! Jangan ke RS dulu” kata kakakku di grup chat setibanya aku di rumah adikku dan memberitahu di grup bahwa aku sudah tiba. Aku lalu meneleponnya.

“Sudah sampai mana? Masih lama ngga?” tanyaku.
“Enggak, sebentar lagi. Ini udah di tol. Tunggu aku dulu. Nggak macet kok ini,” katanya.

Aku pun menutup telepon. Aku melihat ekspresi adikku seperti melihat orang yang sedang putus asa. Mukanya pucat.

“Nggak bisa tidur 3 hari. Padahal kepala udah melayang-layang,” katanya.
“Pikirannya jalan terus…” kata istrinya.

Adikku sudah siap berangkat ke RS ketika melihatku. Dia sudah menyiapkan pakaian dalam satu tas untuk dibawa sewaktu menginap nanti di RS. Dia duduk di tangga dengan muka orang stres. 

“Sini. Duduk sini dulu,” kata Ibu. Jadilah adikku pindah ke sofa. Kurang lebih 10 menit kemudian, adikku yang lain datang. Lalu sekitar 10 menit kemudian kakakku datang. Dia membawakan obat maag dan memeriksa bagian perut adikku. 

“Usus ini! Bukan lambung!” katanya.
“Udah nggak apa-apa, nggak perlu ke RS. Minum obat aja,” lanjutnya.

Dan adikku yang satu lagi, sebut saja B, membelikan obat yang direkomendasi kakakku tadi. Setelah itu adikku, si A, juga disuruh makan setelah minum obat maag. Sebelumnya dia tidak mau makan. Karena pasti muntah, katanya.

Tapi kali ini dia bisa menghabiskan semangkuk kecil bubur gandum. Wajahnya yang tadinya pucat, mendadak teraliri darah. Entah karena makan, atau karena merasa mendapatkan kasih sayang lebih.

Setelah memastikan kondisinya membaik, aku, orangtua dan kakak beserta suaminya pulang.

Adikku yang satu masih tinggal, mereka memang sangat akrab satu sama lain. Jadi dia ingin lebih yakin bahwa kondisi sudah jauh lebih baik.

Dalam perjalanan pulang, ayahku berkata, “Orang sakit itu kalau dijenguk memang beda kok. Dia merasa disayang. Dikasihi. Semua datang, kita, B, C, makanya langsung beda tadi,” kata Ayah.

“Iya,” kataku. Setuju dengan kalimat ayahku. Karena dalam perjalanan itu pula, aku juga berpikir yang sama. Adikku tentu sangat senang melihat semua saudara kandungnya datang menjenguk keadaannya. Dia merasa disayang. Dan itulah yang membuat kondisinya mendadak jadi baik malam itu.

Proses penyembuhan terus berlangsung. Bahkan ketika tulisan ini kubuat, adikku masih sakit. Hari ini dia cek ke dokter, dan didiagnosa menderita penyakit usus. Diberi 4 macam obat. Kalau kasih manusia saja bisa berdampak begitu baik, apalagi kasih Tuhan….

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

1Korintus 13:13
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s