Menginstall Program Baru

Cover FinalSabtu kemarin, aku menerima undangan dadakan untuk sebuah acara kecil bertema rohani. Pembicaranya cukup membuatku menarik untuk ingin mendengar. Sebut saja A. Pembicara A ini belakangan memang sering diundang ke berbagai gereja di Jakarta (antar denominasi). Ia pernah dinominasikan untuk menerima Eagle Award dari MetroTV atas karyanya mengusahakan kesejahteraan rakyat terpencil di Papua, khususnya lewat pendidikan. Orangnya masih seperti dulu. Aroma kesederhanaan dan “apa adanya” masih jelas terlihat. 

Ehm… analisaku pertama kali melihatnya bertatap muka dalam jarak dekat adalah… 

Orangnya sederhana. Cuek. Apa adanya. Lebih cocok untuk “one on one” alias tatap muka dengan orang per orang ketimbang berada dalam kemasan acara gereja. Dan ternyata benar.

Aku memaklumi nada bicaranya yang datar sehingga bagaikan angin sepoi-sepoi yang meniup mataku untuk tertutup padahal baru 30 menit dia berbicara. Tapi tidak satu pun kalimatnya yang kulewatkan dari kepalaku meski begitu. Aku ingin mendengar apa yang ia sampaikan. Sederhana. Sesuai pengakuannya bahwa kalau ia belajar Alkitab, harus pakai “logika anak-anak”, nggak perlu terlalu ruwet, doktrin ini itu, harus begini barus begitu… 

Cara penyampaiannya yang bagaikan seorang guru sedang mengajar dan bukan pengkhotbah mimbar yang nadanya lebih bervariasi, membuat isi kepalaku berkecamuk. 

Ya. Otakku seperti sedang mencoba aplikasi baru yang masih fresh atau baru saja terinstall. Aku terus beradaptasi untuk bisa menggunakan “program” yang baru saja kupasang. Doktrin-doktrin lama bagaikan virus adware (entah apa istilahnya), yang terus “popping up” setiap kali aku mengklik dan mencoba memelajari isi program baru. Aku sibuk mengklik tanda silang atas window-window kecil si virus agar tertutup sementara menjalankan program baru. Sibuklah pokoknya. Otakku sibuk bekerja.

Akhirnya…

Hmm… aku merasa nothing special from him. Pengajarannya malam itu buatku ‘biasa” saja.

Tapi… apa yang luar biasa juga kudapatkan… yaitu bahwa:

  1. Untuk bisa mengenal Tuhan dengan seluruh pribadiNya, aku harus terus menghancurkan doktrin-doktrin yang tertancap kuat di kepalaku selama ini. Atau aku akan terus berada dalam ruang buntu tanpa pintu dan jendela serta tidak bisa menerima bahwa ternyata TUHAN tidak seperti yang selama ini diajarkan. 
  2. Si A sudah melakukan apa yang tidak dilakukan orang-orang bergelar “pendeta” yang pernah kukenal, yaitu ia mengajarkan untuk mengenal Tuhan. Ya! Pengajaran tentang TUHAN sudah sulit didapatkan dari gereja. Yang ada hanyalah pengajaran untuk bagaimana mendapatkan berkat materi, atau untuk bisa berdoa sampai “mengguncangkan surga”, atau tentang hal-hal bombastis yang harus dilakukan dan ditunjukkan orang-orang yang “katanya Kristen” kepada “orang luar” yang justru seringkali sulit dipraktekkan ketika kaki ini melangkah keluar dari kebaktian di gereja dan kembali ke dunia nyata dalam keseharian. Si A telah mengajarkan apa yang benar… yaitu hanya tentang TUHAN dan bagaimana mengenal pribadiNya secara pribadi.
  3. Dia mengajarkanku lewat kesederhanaannya bahwa menjadi orang yang dikenal banyak orang itu tidak perlu pasang birokrasi dan jarak untuk orang-orang yang tidak dekat. No. Semua bisa dekat dan datang dekat kepadanya. Bahkan setiap kali pulang dari acara, ia tidak mau diantar pulang dan memilih untuk naik taksi pulang ke tempat ia menginap. Sungguh jauh, bak langit dari bumi, dibandingkan gaya para pendeta yang sudah mulai terkenal namanya. Yang ketika ingin ditemui saja begitu sulit karena sudah punya tata cara serta birokrasi rumit bak RI 1. By the way… bahkan RI 1 (Presiden Joko Widodo) saja sudah begitu membuka diri dan melonggarkan protokoler Istana supaya bisa lebih dekat dengan rakyat (Walau Gus Dur jauh lebih hebat dalam hal ini), dan Paus Fransiskus juga sempat melakukan hal yang di luar protokoler Vatikan. Seharusnya semua orang bergelar “Pendeta” sadar diri bahwa dirinya itu cuma manusia biasa… yang nasibnya sama, terbatas oleh waktu kehidupan. Jadi tidak perlu sok berbirokrasi… sorry to say but that’s the fact… a sad fact.

Aku harus lebih giat membuang “program2 lama” yang sudah usang (baca: doktrin2 lama yang sudah tidak bermanfaat), dan meng-install program-program baru yang jauh lebih OKE!

 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s