Rokok Coret

Cover FinalKamu tetap cantik dan menarik buatku, meski tidak merokok…

Aku kaget membaca SMS yang masuk ke HP-ku pagi itu di kantor.

“Haaah… siapa nih?” kataku dalam hati.

Hmm… aku ragu membalasnya. Takut orang iseng atau salah SMS. Tapi ada dua kebenaran yang tidak mungkin membuatku percaya bahwa itu SMS nyasar. Pertama, aku memang cantik (ehem!). Kedua, aku tidak merokok, meskipun sekelilingku para perokok.

Ya, rekan kerjaku doyan merokok. Nggak yang pria, nggak yang wanita. Sampai kadang kalau sudah selesai makan siang di kantin, aku buru-buru pamitan. Seperti kemarin…

“Ehm… sorry guys!! Ogut cabs dulu yah! You know me, I know you…! Bye2! See you in the laptop!” kataku spontan berdiri lalu berjalan cepat untuk menjauh karena satu per satu mulai menyalakan rokoknya.

“Yeeeaaahhh! Bye2 juga Monika Setiabudi Menggala!!!” kata Boy, disambut lambaian Joy, Siska, Ronny, Tonny dan Budi ke arahku sambil tertawa-tawa maklum.

Hufff!!! Aku paling tidak tahan asap rokok. Hidungku mendadak tersumbat dan nafasku sesak. Bisa pingsan aku kalau terlalu lama berada di tengah mereka. Tapi sikapku yang satu ini sangat dimaklumi oleh teman-teman. Mereka mengerti betul bahwa aku bukanlah perokok dan tidak bersedia ikut merokok sekalipun sudah pernah lebih dari sekali ditawari batang rokok.

“Nih Mon. Cobain deh. Rendah nikotin kalau yang gue punya!” kata Siska.

Belum sempat aku menjawab…
“Hahahaha Siska! Kalo sampe lo berhasil suruh Monik nyobain, lo hebat!” kata Budi.
“Yoi Sis! Gue udah pernah mencobai Momon juga, tapi gak sukses!” sahut Tonny.
“Hehehe… Thank you. Thank you. But no thank you. Gua masih sayang sama paru-paru dan emak gua!” kataku sambil tertawa-tawa.

Mereka rekan kerja yang asyik. Tapi ya itu tadi… kaya lokomotif! Aduh… nggak tahan…

SMS yang tadi jadi membawa memoriku melayang-layang. Hmm… balas ah!
“Makasih2! Sori, ini siapa ya?”

Semenit, dua menit, tiga menit… tidak ada balasan. Ya sudah. Mungkin orang iseng. Aku kembali bekerja. Banyak kertas menumpuk di atas meja. Itu menandakan pekerjaanku sedang banyak! Ehm… memang selalu banyak sih.

Menjelang pukul 11.30, telepon di mejaku berbunyi… Kriiiiinnnggg!!

“Halo…” kataku.
“Halo Monik! Nanti siang gua ke ruangan elu ya. Kita makan bareng!” katanya.
“Ehm… sori ini siapa ya?”
“Michael Mon. Michael Joseph!”
“Ooooh Michael! Ok2! Boleh2! Makan dimana? Kantin?”
“Nantilah, gua mampir ke situ ya,” katanya dan lalu pembicaraan selesai.

Michael ini anak baru di kantor. Dia masuk 6 bulan lalu. Aku kenal dia waktu itu di kantor lamanya. Tapi hanya sebentar, ehm… kurang lebih 2 mingguan, karena aku dipindahtugas untuk mengaudit di kantor lain. Tapi ternyata dia kenal dengan salah satu manajerku di sini, jadilah dia ditawari pekerjaan sebagai eksternal auditor, tapi untuk bagian audit perusahaan manufaktur, sedangkan aku perusahaan jasa.

“Mon! Yuk!” katanya.
“Eh Mike! On time amat!” sahutku melihatnya sudah berdiri di samping mejaku tepat jam 12.
“Ya dong… kalau auditor nggak on time bisa gawat… Hahaha…” katanya.
“Hahaha…. Bener juga sih” kataku ikut tertawa.
“Kita makan di luar ya, naik mobil gua aja,” katanya.
“Oh! Boleh aja. Kemana?”
“Ehm… nanti juga tahu!”
“Walah… gitu aja pake rahasia-rahasiaan.”

Sekitar 15 menit di jalan, tibalah kami di sebuah rumah makan yang terlihat sudah kuno dan tak berpapannama.

“Nih Mon tempatnya…. Makanya tadi gua juga nggak bisa jawab kemana, karena memang rumah makan ini nggak ada namanya! Hehehe…”
“Oh gitu. Hahaha… “

Ternyata itu rumah makan milik kakek buyutnya. Dekorasinya masih sama seperti berpuluh tahun lalu kata Mike. Memang sengaja, tidak terlalu banyak direnovasi. Hanya kalau ada yang rusak saja, karena supaya para pelanggan fanatik selalu bisa mengenang saat-saat mereka muda dan mampir ke situ sampai mereka tua dan mengenalkan anak cucu mereka untuk makan di situ juga.

“Btw… kenapa nggak dikasih papan nama?” tanyaku sambil menunggu pesanan steak sapiku.
“Ehm… itu dia yang gua juga nggak ngerti kenapa. Hehehe…” jawab Mike.
“Eh Mon… btw juga. Itu tadi gua lagi yang SMS…” lanjutnya.

Setelah berkata itu mendadak mukanya memerah.

“Ooohhh… elu Mike! Hahaha… thanks ya! Kenapa nggak dibalas sih SMS gua?”
“Yah, elu tahu kan audit manufaktur lebih ribet… jadi ya baru sempet ngebalas SMS sekarang ini. Langsung tatap muka aja!” katanya.

Mendadak rumah makan sunyi senyap… Aku terdiam. Begitu juga Michael.

“Ehm Mon… gua suka sama elu, karena elu nggak ngerokok. Gua salut sama elu Mon,” katanya memecah keheningan.

“Hehehe… gitu yah. Thanks Mike. Gua memang paling anti sama rokok dari dulu. Nggak ada juga keinginan untuk nyoba. Mungkin karena bokap gua meninggal karena kanker paru-paru. Dia perokok berat. Dan akhirnya meninggal waktu masih umur 53. Gua sedih banget. Bokap gua baik banget. Cuma ya itu Mike. Ngerokoknya kuat!” kataku mencoba menerangkan.

“Eh, elu sendiri ngerokok ngga? Sori loh, nggak maksud nyinggung!” lanjutku.

“Oh! Nggak tersinggung sama sekali Mon. Tenang aja. Gua dulu sempet ngerokok. Sampai akhirnya temen gua meninggal karena kanker paru-paru umur 26! Dia sahabat gua. Baik banget orangnya. Gua sedih banget. Sebelum meninggal dia sempet-sempetnya pesen ke gua untuk stop merokok. Dan gua memenuhi janji gua sama dia. Ehm… sebetulnya sih karena gua ngeri juga Mon. Liat dia badannya tinggal tulang. Entah kenapa, malam sebelum besoknya dia meninggal, gua mimpi, badan gua sekurus itu dan gua sekarat Mon. Gua sampai kebangun tengah malam. Lebih karena mimpi itu sih alasan gua stop merokok…” kata Mike sambil menerawang.

Sambil makan, kami terus mengobrol. Rupanya Mike enak diajak bicara. Dari dulu di kantor lama, dia paling ramah. Sementara rekan kerjanya yang lain seperti memusuhi aku, maklum eksternal auditor memang dianggap menyebalkan, tapi Mike beda. Dia paling kooperatif.

“Thanks ya Mike! Pake ditraktir segala deh!” kataku begitu turun dari mobilnya.
“Iya sama-sama Mon. Thanks juga buat cerita-cerita elu ya. Kapan-kapan kita makan siang lagi, kalau pas nggak ke klien,” jawabnya.

Sejak hari itu, aku jadi cukup sering mengobrol dengan Mike. Entah lewat telepon, SMS atau tatap muka waktu jam makan siang. Dia jadi tahu jadwalku kapan ke klien, aku juga tahu jadwalnya. Jadi waktu sama-sama ada di kantor, kami pasti makan siang bareng.

Hubungan pertemanan ini terus berjalan sampai sekitar 1 tahun. Dan hari itu…

“Monik. Kita udah temenan setahun ya. Ehm… bagaimana kalau kita nikah aja?” katanya enteng tanpa beban.
“Hahahaha… kocak lu!” kataku.
“Loh kok kocak. Gua serius Mon. Nggak bercanda!” jawab Mike kalem.
“Hah? Serius? Masa sih?”
“Ini tanda keseriusan gua…” katanya menyodorkan sesuatu.
“Buka aja,” lanjutnya.

Aku lalu membuka bungkusan kertas putih yang dilingkari pita warna emas.
Ternyata liontin nama dari emas putih, “Monika”.

“Pake ya!” katanya.
“Ehm…”
“Pake sekarang Mon…”
“Ehm… rantainya belum ada Mike…” kataku tersenyum-senyum bingung.
“Eeeehhh iya! Aduh lupa!! Nggak ada di bungkusan situ ya?” tanyanya.
“Ehm… enggak… “ kataku.
“Hehehe… sori3… besok deh yah,” katanya.
“Besok kan elu nggak ke kantor, kan?”
“Iya, gua ke rumah. Sekalian bilang sama nyokap elu,” katanya.
“Eee… perasaan gua belum jawab OK loh dari tadi?” kataku.
“Eh iya… hahaha…. Sori Mon… OK ngga?” tanyanya sambil tersenyum-senyum.

Dan… hari itu jadi hari yang tidak akan pernah kulupakan. Setahun kemudian kami menikah.

Souvenir yang kami bagikan adalah buku kecil yang berisi kisah tentang perjalanan hidupku dan Mike seputar rokok, berjudul “Rokok Coret”. Mengapa aku tidak pernah mencoba, sekalipun terlihat sangat menggoda, dan mengapa Mike berhenti merokok, sekalipun dia sebelumnya perokok berat.

Aku bahagia.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Fiksi/Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s