Hadapi. Jangan Lari.

Cover FinalSelagi nonton “a night with judika ebiet” aku mendadak teringat masa dulu waktu ibuku kena gagal jantung. 

Aku sempat membelikannya sendal yang dilabeli kata “comfort” supaya bisa dipakai jalan. Kan empuk. Jadi nyaman. Aku juga sempat membelikannya tas tangan mungil di Bandara Schiphol sebelum terbang kembali ke Jakarta seusai tugas kantor. 

Belum sempat keduanya dipakai, ibu kena gagal jantung…. x_x 

Sudah beberapa minggu kondisinya memang aneh. Sering minta kerokan, susah tidur, wajah pucat, mengeluh cepat lelah, dan…. Malam itu seperti mimpi buruk.
“Mama gawat loh. Gagal jantung katanya, jadi langsung diopname di ICU (ICCU, maksudnya). Nggak boleh pulang…” kata adikku.

Aku lemas.

Malam itu semua bunyi-bunyian seperti lenyap. Senyap tak berbekas. Aku mendadak tidak mampu mendengar suara apapun.

” Berdoa aja, serahkan sama Tuhan. Istirahat,” kata ayah.
“Besok pagi jam 7 ya, berangkat ke RS,” kataku ke ayah.
“Ya!” Jawabnya.
Dan malam itu aku mengirim pesan ke atasan untuk ijin masuk siang.

Pagi jam 7 aku dan ayah meluncur ke RS. Begitu sampai dan melihat kondisi Ibuku, aku shock. Sedih. Ibu terbaring sangat lemah.

Ah… Masa2 itu benar-benar mengerikan buatku.
Kalau malam sudah menjelang, biasa suara TV masih bergema. Tapi sejak Ibu sakit, aku merasakan kesepian yang mencekam. Lampu rumah sudah dimatikan. Suasana rumah diselimuti duka yang sangat dalam. Aku sempat berpikir untuk mati saja kalau sampai ibuku tak tertolong.

Tapi Tuhan berkehendak lain. 

Lewat proses demi proses yang menakutkan, penyertaan Tuhan terasa sangat.
Di tengah keputusasaan, Tuhan memberikan pertolongan secara ajaib! Langkah demi langkah, kesulitan demi kesulitan, bahkan ketegangan dalam hubungan keluarga karena sulit mencapai kata sepakat untuk langkah medis selanjutnya ketika melihat kondisi Ibu yang melambat penyembuhannya sementara kondisi keuangan kami sekeluarga sudah kembang kempis (hal ini sudah diperingatkan akan terjadi ketika seorang anggota keluarga sakit keras. Pasti akan ada gesekan seputar pengambilan keputusan medis), semua berhasil kami lalui. Dan itu karena Tuhan Yesus Kristus semata.

Setiap proses kehidupan memang tidak bisa kita abaikan jika ingin mengenal pribadiNya dengan lebih baik.

Dan ini… Jangan lari dari proses. Hadapi.

Yang terlilit hutang, ya bayarlah. Jangan malah tetap hidup boros padahal penunjang gaya hidupnya adalah hasil berhutang. 

Yang terlilit masalah karena kesalahan sendiri, hadapi. Perbaiki diri, untuk hari esok bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik!

Beranilah untuk menghadapi  setiap proses hidup sampai proses demi proses itu selesai dengan baik.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Life. Bookmark the permalink.

One Response to Hadapi. Jangan Lari.

  1. Hidup proses!
    what a story, Ms.Liem.

    GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s