Yang tertindas vs yang sombong

Cover FinalHari itu aku melihat tayangan salah satu acara TV. Temanya G30S PKI. Dari sekian banyak orang yang ikut berbicara, aku paling terkesan sama seorang ibu tua.

Rupanya seorang anak dari Jenderal Panjaitan yang ditembak mati di depan rumahnya. Dia bercerita, ketika mendengar kata “Hormat!” dan melihat ayahnya tidak mau mengangkat tangan untuk hormat, karena tidak pantas seorang jenderal hormat lebih dulu kepada yang pangkatnya jauh lebih rendah, maka ayahnya diberondong peluru. Melihat ayahnya ambruk bersimbah darah dari teras lantai atas, ia langsung bergegas turun, tapi melihat semua sudah kosong. Hanya tersisa darah dan ceceran otak berwarna putih. Dia sengaja membalurkan cairan di lantai itu ke mukanya.

“Sebagai kata perpisahan,” katanya dengan suara bergetar. “Karena saya tahu, ayah tidak akan kembali lagi..” lanjutnya.

Setelah bercerita kronologis kejadian malam itu, pesannya satu dan sangat kuat. “Saya sudah memaafkan. Saya juga sudah dengar cerita dari anak-anak (yang orangtuanya tergabung dalam organisasi PKI, maksudnya). Kami sama-sama menderita. Mari kita bergandeng tangan menatap ke depan,” katanya.

Beberapa wajah yang sengaja di-close up kamera terlihat berkaca-kaca. Termasuk anak dari DN Aidit. Jadi di forum acara TV malam itu, ada narasumber dari anak para jenderal yang bisa hadir, anak petinggi PKI, bekas tahanan politik karena bergabung dengan organisasi PKI dan harus dipenjara tahunan, tentara jaman dulu (yang justru masih sangat emosi, padahal tidak punya keluarga kandung yang tewas/dibantai “PKI”, hanya membacakan saja entah tulisan siapa. Bacaannya tidak terlalu penting, sampai harus distop oleh anak dari Aidit. “Tidak perlu dibacakan…” katanya.

Aku juga mikir, ini kok jadi kaya mau provokasi? Apa memang keahliannya hanya disitu ya Pak? Bapak ini juga yang menuding-nuding dengan sangat emosional ke arah seorang Ibu bernama Nursjahbana dan mengatainya “Penghianat! Penghianat!” Dan ibu itupun tersinggung berat dikatai penghianat. Karena yang dia bela adalah warga negara Indonesia dan atas dasar isu “kemanusiaan”, bukan soal “ideologi”. Dia membela orang-orang, cucu-cicit dari para sesepuh yang bergabung dalam organisasi PKI-sebuah organisasi besar jaman itu di Tanah Air, yang sampai sekarang, ya, bahkan sampai sekarang, masih mengalami berbagai kesulitan untuk sekedar mendapatkan hak sebagai warga negara. Padahal partai satu itu sudah tidak ada. Bagaimana bisa ada, jutaan kabarnya dibantai secara keji oleh warga yang sudah diprovokasi. Bahkan hanya karena diisukan “PKI”, maka satu keluarga dibantai.

Ibu saya bilang, “Waktu itu sangat ngeri. Aku nengok dari atas, orang diikat dan digiring sambil disiksa… Ada mayat yang digantung di depan toko lho!” katanya.

“Kasihan. Banyak orang nggak tahu apa-apa, cuma karena dicurigai “PKI”, langsung dibunuh. Bahkan ada yang digiring dan dimasukkan ke lubang, lalu ditembaki dari atas. Jaman dulu kejam banget,” kata ayahku.

(Dalam hatiku, kasus pembantaian di Lumajang juga kejam. Dan itu terjadi di jaman sekarang….)

Ada juga narsum dari seorang tentara jaman sekarang (dengan pesan damainya), budayawan dan profesor (dengan pesan membingungkan setengah memprovokasi, yang kuabaikan, sebab mereka BUKAN saksi sejarah. Hanya analis atau mempelajari saja), dll. Jadi yang bisa kucerna sebagai kebenaran hanyalah: kesaksian dari anak 2 jenderal, bekas tahanan politik karena dituduh terlibat PKI, anak dari DN Aidit, data yang diungkap KOMNAS HAM karena didapat dari fakta dan bukan hanya cerita kosong.

Di antara mereka yang paling mengesankan adalah pesan dari Ibu itu. Catherine Panjaitan namanya, kalau nggak salah ketik. Masa itu memang kejam. Bahkan sampai sekarang masih tersisa kekejaman dalam bentuk diskriminasi untuk cucu, cicit yang katanya PKI. Siapa yang tidak akan sakit hati dan trauma, melihat ayahnya ditembak mati secara brutal, di depan rumah sendiri. Tapi si ibu sudah memutuskan untuk melakukan yang terbaik. Dan pesannya sangat kuat. Kalau dia saja bisa memaafkan, kenapa yang lain (termasuk aku) tidak? Permasalahan yang kuhadapi sejauh ini tidak seburuk yang dialaminya…. Forgive and for… give.

Kalau yang mengalami sendiri ayahnya dibunuh saja sudah mengampuni, kenapa juga yang lain masih “panas”???? Panas tentang apa? Isunya sudah bukan ideologi, tapi kemanusiaan. Coba bertukar sepatu Pak. Bapak yang jadi tahanan politik, atau anak cucu cicit dari yang dituduh PKI dan mengalami semua kesulitan untuk menerima hak sebagai WN, padahal sudah tidak terlibat apapun. Hidup juga sangat baik di tengah masyarakat, tapi masih dibedakan. What to do? Selain berjuang mendapatkan hak yang sewajarnya. Bukan begitu…?

Yang 1 berjuang karena tertindas. Yang 1 berjuang karena sombong.

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s