Lebih Baik Pergi ke Rumah Duka

Cover FinalAku tahu apa rasanya kehilangan. Pastinya sih sakit. Tapi… aku juga belajar paling banyak tentang kehidupan dan bagaimana cara menjalaninya justru ketika ada “perayaan” atau acara kehilangan. Di rumah duka, tentu. Tempat dimana orang-orang yang jarang bertemu datang. Mungkin inilah kenapa ada ayat dalam Alkitab yang berbunyi: “Lebih baik pergi ke rumah duka, daripada ke rumah pesta.”

Untuk pesta pernikahan, dibutuhkan kerepotan lebih, seperti mewarnai wajah (make-up maksudku), memilih pakaian yang pantas untuk “tampil”, memilih sepatu yang cocok, keramas-mengeringkan-lalu nge-roll rambut, dan lain-lain.

Berbeda dengan rumah duka. Make up luntur, tidak perlu ditambahi. Pakaian kantor, pilih saja yang berwarna hitam atau putih, asal rapi, sudah cukup untuk sampai malam dipakai ke rumah duka. Sepatu? Ya sepatu kerja yang dipakai sejak pagi saja. Rambut? Tidak perlu kusisir.

Dan hari itu aku datang di rumah duka. Selasa, 6 Oktober 2015. Seorang kerabat, yaitu pamanku dipanggil Tuhan. 

Pukul 10 pagi, tiba-tiba masuk pesan di grup WA. Setelah membaca, aku menangis. Spontan. Mendadak sedih. pamanku yang satu ini memang tidak terlalu banyak bicara. Sekali bicara ceplas ceplos, tanpa basa-basi. Tapi aku tahu, dia orang yang sangat lurus, dan apa adanya. Yang jelas, buatku, dia orang yang baik. Sikapnya yang keras, belakangan banyak berubah seiring perjalanan hidupnya bersama Tuhan. Dan analisaku terkonfirmasi lewat kesaksian ke-4 anaknya (1 tidak kudengar karena waktu itu aku terlambat datang, sehingga harus duduk di luar) tentang ayah mereka. 

Hari Jumat malam, aku menuju RSCM untuk menjenguknya. Di luar kamar ICU dengan kerai jendela kacanya yang sengaja dibuka, aku melihat pamanku terbaring. Dan setelah beberapa menit, dia menengok ke arah jendela, dan melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum. Bayangan itu sekarang terus melekat, tidak bisa hilang. Karena ternyata itulah senyumnya yang terakhir. Dan waktu itu aku spontan menangis. Jadi malu. Aku yang tidak bisa mengontrol emosi seolah tidak memberikan penghiburan kepada istri dan salah seorang anaknya yang waktu itu menunggui di depan ruang ICU. 

Malam itu aku menangkap kegelisahan hati tanteku. Beberapa kali dia menangis. Tidak mempedulikan kalimat penghiburan dari kerabat lain yang juga datang karena memang hari itu akan dilakukan tindakan kateter, “Mukanya seger kok!” Begitu kata kami-kami ini. Tapi dia tetap sedih. Dan aku menyesal karena mengatakan kalimat yang sama ketika Hari Selasa aku menerima pesan tadi. Seperti memberikan pengharapan kosong.

Selasa malam aku ke rumah duka. Kesedihan sangat terasa. Esoknya ketika tutup peti, kesedihan juga masih terasa. Tapi malam itu aku sempat diceritai panjang lebar oleh salah seorang anaknya (sepupuku) tentang detik-detik terakhir sebelum ayahnya dipanggil Tuhan. Intinya, ayahnya ini bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain. Mendengar itu lagi-lagi aku terkonfirmasi. Selama ibadah penghiburan, aku menangkap kesan bahwa pamanku ini orang yang tidak suka merepotkan orang lain. Entah mengapa ada kesan itu. Mungkin karena aku membayangkan begitu cepat dia pergi meninggalkan keluarga, sehingga proses perawatannya di rumah sakit tidaklah memakan waktu terlalu lama.

Rupanya ginjal dan jantungnya melemah pada waktu bersamaan. Sehingga dokter tidak dapat melakukan tindakan apapun. Anehnya, Senin malam, semua keluarga pulang ke rumah dalam kondisi hati yang tenang. Sebab dipastikan bahwa transplantasi ginjal akan sangat memungkinkan untuk dilakukan. Dan setelah itu maka masalah kesehatan pun tersolusi. Tapi ketika keesokan pagi, hari Selasa, mendadak kondisinya melemah. Dalam kondisi sudah sulit berbicara, dia mencari istrinya. Sepupuku yang datang paling pagi sudah merasa bahwa ayahnya akan “pergi”, mungkin karena melihat kondisinya tiba-tiba melemah. Dia pun mengontak semua keluarga untuk datang. Dan meminta ibunya untuk tidak menangis ketika nanti masuk ke ruang ICCU.

Pagi itu, dia diantar bertemu Tuhan dengan senandung istrinya. Mulai dari nada dengan lirik yang dikarang-karang sendiri, sampai akhirnya hanya tinggal senandung. Tidak lama, tiba-tiba semua mesin mengindikasikan titik NOL! Ruang ICCU mendadak riuh! Selama 30 menit, dokter dan suster mencoba terus memompa jantungnya dengan tangan kosong. Sampai akhirnya dokter berkata, “Bu, kalau ini diteruskan, sekalipun nanti sadar, akan ada resiko tulang (bagian dada) retak.” Dan akhirnya tanteku berkata, “Silakan…” lalu semua alat dicabut dan dimatikan. 

Suasana ruang ICCU menjadi jauh lebih riuh. Karena sepupuku yang lain menangis sejadi-jadinya. Ia juga marah dan tidak terima. Kenapa tidak diusahakan untuk bisa menghidupkan ayahnya. Tapi Tuhan berkehendak lain. 

Banyak hal berharga aku pelajari, yaitu bahwa:

  1. Hidup ini seperti permainan arisan. Setiap saat, undian bisa jatuh kepada siapa saja. Dan saat itulah hidupnya berhenti. 
  2. Selama hidup, manusia harus dan wajib hidup benar. Jujur. Tulus. Dan mengajarkan generasi penerusnya hal yang baik. Menanam benih yang baik, sehingga kelak, anak cucunya tidak lari dari jalan kebenaran dan bisa hidup mandiri, tidak merepotkan orang lain.
  3. Rasa kehilangan itu memang sakit. Tapi jangan sampai terus larut dalam kesedihan. Karena masih ada harapan, dan selalu akan ada harapan, di dalam Tuhan. Bahkan setelah kematian di dunia pun, kita masih punya pengharapan, kelak di surga nanti. Sebab keselamatan yang Tuhan janjikan itu kekal adanya. Itulah kasih karunia terbesar dari pengorbanan Tuhan Yesus Kristus bagi kita.
  4. Rencana Tuhan, bukanlah rencana manusia. Hidup ini otoritasnya bukan di tangan kita manusia, akan tetapi di tangan SANG PENCIPTA. Kapan saja DIA mau ambil, itu sepenuhnya adalah HakNYA. Dan percaya saja, semuanya mendatangkan kebaikan. Terima itu sebagai yang terbaik daripadaNYA.
  5. Setiap manusia ini punya kesusahan dan masalahnya sendiri. Tapi percayalah bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita jatuh tergeletak.

Malam demi malam, bahkan sampai di pemakaman, aku bertemu dengan beberapa orang dan mendengar beberapa cerita berharga.

Aku mendengar ada seorang teman baik dari orangtuaku yang keluarganya sedang ditimpa musibah.
Kakaknya mengalami kebakaran toko dan rumah. Semuanya ludes. Seperti sengaja dibakar, karena di dekat lokasi tokonya akan ada bangunan baru. Bahkan uang tunai dan emas yang disimpannya di brankas hilang, karena dia lupa menguncinya. Padahal toko dan rumahnya itu sudah dipasangi “garis polisi”, sehingga dia tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Tapi akibatnya fatal. Dia harus kehilangan isi brankas yang sangat berharga. Hartanya “berjudul” milyar, habis dalam semalam. Toko yang ia bangun sejak 30 tahun lalu, rata dengan tanah. Jadi sudah jatuh, masih tertimpa tangga judulnya.
Lalu kakak iparnya juga jatuh dan mengalami retak tulang bagian paha, cukup parah, sebab sudah berusia 70 tahun. Padahal anaknya akan menikah dalam waktu dekat. “Aduh, cici mah pulang kali ini bukannya hepi, malah sedih…” begitu katanya.

Aku juga mendengar cerita dari salah seorang guru bahasa Mandarin dari sepupuku. Usianya 88 tahun. Dia masih sehat. Kemana-mana naik angkutan umum. “Saya pernah jatuh 4 kali di jalanan,” katanya. 

“Aduh….” sahutku mendengar itu.
“Lao tse masih ngajar Mandarin?” tanyaku penasaran.
“Enggak. Sejak anak saya sakit kanker payudara, kan dia sendirian, kasihan. Jadi saya yang jaga setiap hari. Saya berhenti lesin. Semua habis (hartanya, maksudnya)…”

Dia hidup sebatang kara, karena kedua anaknya sudah meninggal.
“Menantunya jahat,” kata sepupuku. Jadilah dia hidup sendirian.

Tapi dia berkata, dia tidak pernah takut hidup.
“Ada penyertaan Tuhan,” katanya. Ckckck… aku terharu mendengar itu.
Matanya masih tajam untuk melihat. Telinganya juga masih tajam untuk mendengar. Aku tidak perlu berteriak-teriak untuk berbicara dengannya, padahal di ruangan juga ada orang-orang lain yang saling berbicara. Luar biasa! Hidupnya membuatku kagum… Kagum akan dirinya yang luar biasa hebat dalam menjalani hidupnya yang terlihat sangat malang, dan kagum akan penyertaan TUHAN, seperti yang ia ceritakan.

Aku juga bertemu seorang kerabat yang menceritakan kesusahan hidupnya dengan cara yang sangat santai. Seolah-olah semua sudah tersolusi. Padahal belum.

Tuhan sudah mempertemukanku dengan orang-orang yang luar biasa dalam waktu 1 minggu belakangan. Termasuk lewat kesaksian para sepupuku. Aku sangat diberkati.

Memang benar bahwa, lebih baik pergi ke rumah duka, daripada ke rumah pesta. Mungkin karena di sinilah orang bisa menjadi dirinya sendiri. Tanpa make up tebal. Tanpa perlu mengesankan orang lain dengan pakaian, sepatu, tas mewah. Tanpa tembok penampilan yang harus dijaga, orang bisa bebas bertukar cerita. Apa adanya.

Mungkin itu juga berkat yang ditinggalkan oleh pamanku. Menjadi orang yang apa adanya…
Sungguh sangat memberkati!

Thank God for everything….

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

2 Responses to Lebih Baik Pergi ke Rumah Duka

  1. Loren Sartika says:

    i am blessed reading this one

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s