Cerita Seorang Anak

water-lilies.jpgPapa YANG HEBAT

Memiliki seorang papa yang hebat adalah impian semua orang, dan beruntungnya saya telah melewati hidup dengan salah satunya.

Papa saya adalah orang yang keras dalam sifat watak dan dalam menjalani kehidupan sehari2. Papa menginginkan semua-nya serba sempurna. Papa selalu marah dan melontarkan kata2 yang menyakitkan hati kepada saya jika saya melakukan kesalahan yang mungkin bagi saya adalah kesalahan kecil. Caci maki kemarahan, dan kerasnya cara Papa saya berbicara membuat saya menjadi kesal, karena apapun yang saya kerjakan semua selalu salah di mata Papa saya.

Beranjak dewasa di thn 2001 saya mulai memasuki dunia toko, dimana saya bekerja dibawah Papa saya. Saya selalu dirudung ketakutan kalau2 saya melakukan kesalahan, saya tidak bisa lari, karena toko Papa saya yang telah dirintis sejak thn 80-an itu hanya berukuran 20m persegi.

‘kacau balau benar hidup saya ini’ saya harus menghadapi Papa yang selalu menunjuk kesalahan saya tanpa membenarkan satupun kerjaan saya

Jika dia di dalam kantor dia selalu mengetuk kaca sekeras2nya dan memanggil saya jika saya salah dalam bertutur kata terhadap langganan. Kesal rasanya, Papa saya selalu membuat saya dongkol setiap hari. Saya melewati hari demi hari layaknya melewati jurang neraka tanpa ujung.

Hingga akhirnya thn 2007 entah mengapa Papa saya memutuskan unt mengirim saya ke Australia untuk kembali mengemban pendidikan yang mungkin Papa saya rasa….’nih anak otaknya agak kurang’

Saya diberangkatkan kesana dengan hati yang gembira krn saya pikir saya sudah bebas dari tekanan dan memasuki kolom baru dimana saya bisa hidup bebas dan terlepas dari himpitan masalah dengan Papa saya.

Namun semuanya serasa sirna ketika saya tau bahwa hidup di luar negri bukanlah perkara mudah. Melewati hari demi hari jauh lebih mengerikan ketimbang hidup di sebelah Papa saya dan family saya. Sampai2 kakak saya Lani mengirimkan saya foto keluarga, keponakan, dan kenangan indah berada di Jakarta. Saya benar2 jauh dari lugu dan lucunya keponakan saya yang gesit dan polos seperti Verrel, Lucunya Daniel dengan senyum yang membuat hati saya sangat kangen untuk bermain serta menggendongnya keliling rumah, serta genitnya Alice dengan dandanan seperti putri dalam cerita dongeng Walt Disney.

Saya disana merasa sendiri dan harus memulai hidup yang benar2 baru.

Sesekali saya menelepon mama saya, dia berpesan “kamu baik2 sekolah, kalo kurang telepon nanti kita kirimi uang”. Saya hanya berpikir ‘apa ya mungkin Papa saya yang sangat sangar itu mau mengirimi saya uang?’ dengan hanya semudah saya menelpon, walau memang tiap sejangka waktu dia selalu mengirimi saya uang untuk kebutuhan hidup, namun saya menilak hidup manja seperti demikian.

Bukan suatu kebetulan saya memiliki teman2 yang datang dari pelbagai penjuru dunia. Dan mereka rata2 setelah selesai sekolah mereka selalu bilang kalo mereka mau kerja. Bulan demi bulan saya lewati dan akhirnya saya memutuskan untuk bertekad bekerja di sebuah restaurant kecil sebagai tukang cuci piring atau yang disebut kitchen hand. Sebagai orang baru saya diperkenan menjadi tukang cuci piring…betapa kagetnya saya dimana piring yang harus saya cuci demikian banyaknya hingga sehari saya kerja…besoknya saya berhenti. Saya pikir pekerjaan-nya sungguh sangat melelahkan baik fisik maupun mental

Entah apa yang membuat saya tertegun saat saya teringat perkataan Papa saya ‘kamu itu hidup kayak pakai sandal jepit, dipakai untuk maju dan ngga bisa dipakai untuk mundur’…lalu dia juga pernah berpesan kepada saya….jangan pernah kamu kerja karena kamu ingin mengejar uang  (gaji bulanan), sebab jika itu motivasimu, maka kamu akan gagal…..tp bekerjalah dengan tekun sambil belajar, karena dengan pengetahuan yang kamu miliki kamu akan menjadi sukses!

Mengingat perkataan itu saya memutuskan kembali untuk bermuka genteng cap badak untuk kembali bekerja di restaurant kecil itu. Sampai akhirnya saya melihat kesempatan besar di dalam pekerjaan saya, dimana mereka membutuhkan koki alias tukang masak.

Entah Tuhan memiliki rencana apa, namun saya diberikan pengetahuan tentang ilmu memasak oleh pemilik restaurant itu hanya dengan gaji tukang cuci piring. Saya sangat senang sekali dan memberitahukan pekerjaan saya itu kepada Papa saya……dan tebak dia hanya menjawab ‘memang kamu bisa?’

Mendengar jawaban itu saya semakin terpacu untuk membuktikan saya bisa. 

Hingga akhirnya Papa dan mama saya mengunjungi saya ke Australia dikarenakan ada acara lulus2an sekolah dan beliau melihat sendiri saya memasak di depan mereka. Rasa bangga itu seketika meledak di dlm hati saya, saya bisa membuktikan bahwa saya bisa melakukan apa yang Papa saya ragukan.

Tidak hanya itu sang pemilik restaurant pun memuji saya di depan Papa mama saya atas keberhasilan saya me-manage restaurant kecil itu sendirian….benar sendirian…ngga bohong! Dr membuat bumbu, memasak, mempersiapkan sayuran, memotong daging, me-manage stock, telepon supplier, order barang yang dibutuhkan untuk operasional restaurant itu, semua saya lakukan dengan gaji seorang tukang cuci piring (hanya $8/ jam). Dan memang benar dengan tidak memiliki motivasi uang saya belajar banyak sekali tentang hal yang sebelumnya saya tidak ketahui.

Masuk di thn 2008 tepatnya bulan agustus saya mendapatkan pekerjaan kedua saya, yaitu menjadi sales salah satu perusahaan supplier alat2 kantor terbesar se-australia.

Singkat cerita dengan menerapkan apa yang dinasehatkan Papa saya, saya bekerja di tempat baru itu dengan tingkat kesulitan tinggi, oleh karena saya harus berkompetisi dengan orang lokal disana.

Namun Papa saya selalu menguatkan saya ketika saya menelepon beliau, tanpa disadari saya terkadang mampu menelefon Papa saya sambil bercerita hingga lama sekali.

Nasehat2nya membuat saya terbakar dalam perjuangan hidup. Saya seperti dituntun oleh seorang pejuang yang tidak pantang menyerah, dan tidak takut mati. Dimana ketika saya bekerja di perusahaan itu saya mampu mendapatkan 20 medali sebagai sales terbaik selama 3 thn dan mampu mengalahkan org-org lokal disana.

Karena nasehat Papa saya pulalah, saya memiliki banyak sekali pengalaman kerja seperti sebagai tukang kebun, bekerja di toko penjual perlengkapan pesta hingga coffee shop. Dan tidak lupa saya bekerja di perusahaan tekstil milik mertua saya sekembalinya dari Australia.

Oleh sebab melihat kondisi papa yang kian lama kian termakan oleh usia, saya memutuskan untuk berhenti bekerja di perusahaan dan kembali membantu Papa saya.

Disaat itulah saya baru mengerti betapa berharganya nasehat seorang Papa yang hebat, Papa yang selalu memiliki hati untuk membantu, Papa yang selalu menaruh istri diatas kepentingan dirinya sendiri, Papa yang selalu memperjuangkan seumur hidupnya demi kesuksesan anak2nya, dan Papa yang selalu memiliki sejuta nasehat, nasehat yang saya dan kakak2 saya tidak dapat lupakan

Cerita hidupnya semasa kecil, hingga pacaran sama mama, sampai pengalamannya menantang maut hidup di kota metropolitan yang begitu ganaspun tak luput dia ceritakan kepada anak2nya. Serta cerita siapa saja yang pernah mencampakkan Papa saya ketika dia baru bangkit dari kebakaran tokonya yang pertama, dan siapa yang saat itu datang menolong Papa saya dan memberi sejuta harapan.

Bangganya Papa saya bisa membahagiakan mama saya adalah hal yang selalu dia ceritakan kepada saya dan istri saya…agar kiranya saya bisa mengikuti jejaknya dalam menghormati pasangan hidup saya diatas segala2nya

Dia selalu lepas dan bebas bercerita kepada saya selepas sidang pemecahan roti di hall 26, dimana saya masih mengingat betul canda tawanya dibalik letih lesu jiwa raganya dalam melewati hari demi hari yang begitu melelahkan

Peluh dan airmatanya yang senantiasa bercucuran selama berjuang hidup tidak dia rasakan ketika anak2-nya datang serta membawa cucu2-nya yang selalu dia cintai.

Akung…Nya Ung panggilan itu pun bergaung di rumah kami, membuat senyuman kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya

Begitu hebatnya Papa saya, hingga diapun tidak berteriak minta tolong kepada anak2nya ketika dia harus menjalani proses pengobatan yang saya tau begitu rumit dan menyakitkan. Krn selama hidupnya memang dia tidak pernah mau menyulitkan org lain terutama anak istrinya.

Papa saya tidak meminta belas kasihan kepada anak2nya ketika dia harus menjalani pengobatan-nya

Namun dengan tenang dia pergi, meninggalkan segudang kebaikan yang menjadikan kami berani menantang resiko kehidupan.

Papa saya sudah mempersiapkan kami dengan bekal hidup melalui tutur kata yang membuat kami terkadang pahit hati, terkadang tidak mengerti mengapa kami selalu salah.

Pah, kami sekarang mengerti mengapa kami salah dan selalu rasanya hanya negatif terus yang ada dimata papa…..Karena papa ingin kami menjadi yg terbaik!

Pesan beliau terakhir kepada saya sebelum dirawat di rumah sakit dan meninggalkan kami semua

Beliau berkata ‘ketakutan itu membuatmu mati akal, ketakutan itu membuatmu salah arah, ketakutan itu tidak akan membawamu kepada kesuksesan, oleh karena pencobaan terberat selalu ada pada prajurit terbaik! Ingatlah dalam bekerja selalu utamakan kejujuran, krn melalui kejujuran berkatmu itu akan kian bertambah karena Tuhan melihat!

Papa sudah menjadi pahlawan kami yang dengan busur-nya dia mengarahkan setiap anak panahnya kepada sasaran yang tepat.

Suara kernyitan sandal karetnya yang selalu memenuhi lorong rumah telah tiada. Suara tivi yang biasanya menggelegar memenuhi ruangan rumah pun sudah takkan terdengar lagi. Suara lantang memanggil anggota keluarga di rumah, akan selalu saya rindukan.  

Terima kasih pa sudah keras terhadap kami, oleh karena itu kami sekarang jauh lebih kuat.
Terima kasih pa sudah mengajari kami untuk tekun dan bekerja keras untuk keluarga.
Terima kasih sudah mengajari kami untuk senantiasa setia terhadap pasangan hidup kami.
Terima kasih pa sudah mengajari kami untuk tidak lupa cinta Tuhan.
Terima kasih buat jerih lelah papa untuk kami semua.
Kami sebagai anak2mu sangat berhutang budi kepada papa hingga ajal menjemput kami suatu hari kelak.
Sampai jumpa lagi ya pa, krn banyak sekali cerita yang kami ingin ceritakan ke papa.
Selamat Jalan papa, akung, nya ung, papa mertua, teman, guru, pemimpin, pahlawan, dan sahabat sejati serta suami tercinta.

(Written by my coussin, Johan Sudjoko. Thank you for sharing. It is indeed such a blessing. God bless you!) 

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Relationship. Bookmark the permalink.

4 Responses to Cerita Seorang Anak

  1. Loren Sartika says:

    terharu gua baca kisah ini

  2. Loren Sartika says:

    ngga mudah untuk mengerti pikiran orang tua yah, Ms. Liem
    mungkin memang tugas yang muda untuk mau diajar, suka ataupun ngga suka.
    ujung-ujungnya untuk kebaikan diri kita sendiri.
    kisah yang mengharukan.

    • Inspirations says:

      iya apalagi kita dididik dengan kerazzzzz. hadeeh typically chinese, you know… tp sekarang udah dewasa ya baru ngerti bahwa they really love their children, cuma caranya aja yg ‘kurang ideal’… ya kan. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s