Bukan Orang Baik

Cover FinalSore ini… Begitu tiba di rumah, pandangan mataku mendarat ke seberang. Tetangga depan rumah sepertinya kesulitan membuka gembok. Sambil turun dari mobil dan menurunkan beberapa barang, lalu keluar masuk rumah, karena memang bawaanku agak banyak, aku terus dan terus memandangi tetanggaku, sebut saja Nenek A. Akhirnya aku mendekatinya…

“Susah ya Nek?” tanyaku.
“Eh! Iya tumben, biasa enggak. Kadang susah kadang gampang. Bingung deh…” jawabnya
“Coba saya yang buka,” kataku. Lalu dia menyerahkan kunci gemboknya ke aku.

Ternyata memang agak “licin”, jadi kunci dengan gampang diputar, seolah-olah gembok sudah terbuka, padahal belum. Lalu aku coba memutarnya ke arah kiri dan kanan, lalu ke kanan lagi dan agak lebih ke kanan…

Nah! Terbuka!

Nenek A tertawa… sambil berkata, “Kok bisa? Bagaimana?”

Saya jawab, “Kayanya memang harus diputar terus kuncinya sampai gemboknya terbuka…”

“Oooh gitu! Makasih ya!” katanya.

Aku senang bisa membantu si nenek. Kasian. Kulihat giginya sudah semakin jarang. Kalau bicara juga agak kurang jelas. Tapi dia masih mengajar Bahasa Mandarin ke sana ke mari. Hmm… usianya kira-kira sudah hampir 80 tahun, atau bahkan lebih…

Setelah itu aku buru-buru pulang. Karena kalau terlalu lama di situ bisa-bisa kakiku agak melayang alias besar kepala sebab dikira orang baik yang suka menolong. Padahal aku tahu betul siapa diriku. Isi hati manusia kan tidak ada orang yang tahu. Aku memang suka menolong orang lain. Hidupku juga kuusahakan sedemikian rupa supaya tidak merepotkan orang lain. Tapi di sisi lain, tentu saja ada “kejahatan-kejahatan” yang kusimpan dalam hati… I am not that good.

Baru sore kemarin waktu pulang dari kantor juga, di jalanan aku tersadar…

“Duh Tuhan… bagaimana mungkin manusia tidak berdosa? Apalagi dengan kekuatan/usahanya sendiri berusaha sekeras-kerasnya tenaga supaya tidak berdosa? Pagi hari saja aku sudah mengumpat-ngumpat karena banyak kejadian mengesalkan di jalan raya. Ada seorang Pastur berkata bahwa pencobaan terbesar itu di jalanan. Dan aku setuju.

“Gila tuh orang!” atau “Bego itu mobil!” atau “Aduh!! Bisa nyetir nggak sih itu orang?!” (seolah aku paling jago mengemudikan kendaraan). Dll. Dll…. Isinya umpatan semua… x_x

Bagaimana bisa manusia betul-betul suci, kudus dan tak bercacat cela dalam perkataan, pikiran dan perbuatannya? Kalau begini caranya… Jelas tidak bisa alias gagal.

Jadi bagaimana? Apakah pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib ribuan tahun silam sia-sia begitu saja? Untuk apa DIA datang ke dunia dan dihina, diludahi, disiksa, diperlakukan seperti binatang najis, lalu dibunuh dengan cara disalib-cara paling hina pada jaman itu? Sia-siakah? Tentu tidak. Sebab IA memberikan keselamatan kekal bagi setiap orang yang percaya kepadaNYA. Kasih karunia IA berikan bagi setiap kita secara cuma-cuma. Dan oleh kasih karuniaNYA maka aku beroleh hidup yang kekal. Despite all of my weeknesses… 

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Daily Journal, Love. Bookmark the permalink.

One Response to Bukan Orang Baik

  1. Loren Sartika says:

    hehehe…gue juga suka kayak gitu tuh kalau lagi nyetir. kuesel sama yang “ngga tau mobil/motor alias ngga tahu diri ”😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s