My Secret Connection

Cover FinalSore ini sekitar pukul 4, aku berjalan ke sebuah mini market yang berjarak kurang lebih 200 m dari rumah. Ingin mengirimkan sejumlah uang ke seorang sahabat yang beberapa hari lalu bersama-sama berbelanja di sebuah mall. Aku menggunakan kartu kreditnya.

Setelah selesai, aku buru-buru pulang ke rumah.

Di tengah jalan, aku melihat seorang bapak tua yang mengorek-ngorek tempat sampah. Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang ia lakukan. Karena memang tidak ingin. Apa yang dia kerjakan bisa dibilang jauh dari higienis, karena mengorek dengan tangan kosong. Aku melewatinya.

Tapi mendadak, wajah bapak tua yang pipinya kempot karena sepertinya giginya sudah jarang itu mendadak melekat kuat di imajinasiku. Dan suara ini yang paling kencang terdengar dalam hati.

“Kamu kan punya uang seratus ribu, tadi baru ambil di ATM!!”

Aku memang mengambil seratus ribu tadi, terdiri dari dua lembaran lima puluh ribu, karena persediaan tunai menipis tinggal beberapa ribu.

Langkahku terhenti. Ekspresi si bapak tua yang beberapa detik lalu sempat melihatku, begitu kuat tertancap di memori.

Aku lalu berbalik badan. Kuhampiri si Bapak yang masih memungut sampah, tapi sudah dari wadah yang berbeda, yaitu tong sampah di depan rumah seseorang.

“Pak. Ini buat bapak,” kataku.
“Terima kasih,” balasnya dan langsung menggenggam uang itu.

Aku buru-buru membalikkan badan dan menjauh. Tiba-tiba aku terharu. Air mataku menggenang. Baru sekali ini aku memberi uang dalam jumlah yang cukup besar untuk seseorang. Ya, aku tadi berpikir, “Bapak itu pasti membutuhkan uangku, lebih daripada aku membutuhkannya…”

Beberapa hari lalu, aku berbincang dengan seseorang. Dia sempat membagikan mengenai kisah “bendahara yang tidak jujur” dalam Alkitab. Yang kupahami adalah ini: banyak orang terlihat murah hati, tapi sesungguhnya setiap manusia punya “secret connection” dengan uang. Maksudku, setiap orang pasti punya paradigmanya sendiri, persepsinya sendiri, pandangannya sendiri tentang uang. Sehingga ini mempengaruhi cara orang itu membelanjakan/mengeluarkan uangnya.

Ada yang selalu kuatir akan hari depan, padahal uangnya sudah lebih dari cukup. Ada yang selalu ingin punya banyak uang, sehingga harus korupsi, mungkin. Ada yang selalu ingin membelanjakan uangnya, walaupun barang sudah menumpuk di rumah. Ada yang selalu ingin menyimpan uangnya, sampai-sampai terlihat sangat pelit dalam memberi. Dan lain-lain.

Kalau aku sendiri, aku juga punya secret connection dengan uang. Salah satunya adalah selalu merasa kuatir bahwa satu saat aku akan kekurangan uang. Sehingga seringkali aku berharap uangku selalu utuh walaupun kenyataannya tidak mungkin. Pengeluaran pribadiku tidak terlalu banyak. Sudah kukurangi belakangan, karena ada kebutuhan lain yang harus kucukupi. Dan ini membuatku hanya bisa hidup dari penerimaan bulanan saja, yang nyarisss tanpa sisa. Tidak seperti dulu, yang sampai membuat teman SMA-ku terkagum-kagum, kenapa aku bisa menabung dalam persentasi yang sangat besar dibanding dia.

“Gua boros Na!” katanya.

Sekarang, walaupun aku tidak boros, aku tetap harus keluar banyak uang, dan tidak lagi bisa menabung seperti dulu. Sampai aku sempat stress. Tapi dalam kondisi tertekan, ada suara seperti ini dalam hati, “Harusnya kamu bersyukur. Karena kamu bisa memberkati orang lain. Urusan uang, serahkan sama Tuhan. Masa iya Tuhan nggak pelihara kamu? Atau sebegitu kuatirkah kamu akan hidupmu sampai kamu tidak percaya bahwa Tuhan sanggup tolong kamu?”

Dan mendadak pula aku sadar… “Benar juga.”

Selama ini ternyata aku tidak mengganggap Tuhan dan keberadaanNya. Buktinya? Aku begitu kuatir akan kekurangan uang ketika satu saat terjadi peristiwa yang membutuhkan uang dalam jumlah besar. “Bagaimana kalau tabunganku tidak cukup?” dan lain-lain kekuatiran yang kupertanyakan. Aku punya alasan untuk kekuatiranku ini. Tapi dipikir-pikir jadi mirip seperti Bangsa Israel, yang padahal setiap kali sedang butuh, selalu Tuhan cukupi. Tapi terus saja kuatir, seolah-olah akan terjadi peristiwa dimana ketika mereka butuh, Tuhan tidak mencukupi atau Tuhan berubah pikiran, atau Tuhan mendadak jadi kejam.

Hmm…. Aku bersyukur aku tersadar hari ini… semoga secret connection-ku dengan uang tidak lagi seburuk itu sampai-sampai aku tidak memercayai Tuhan… Dan satu lagi… aku mau Tuhan pakai sebagai saluran berkat dengan apa yang ada, tanpa harus berpikir bahwa satu saat aku takut kekurangan…

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s