31 Desember

Cover FinalHari itu tanggal 31 Desember 1988. (tahunnya agak lupa, harus aku bongkar dulu untuk bisa menemukan kartu baptisanku). Ya. Itu akhir tahun. Yang jelas, aku super bete hari itu. Karena tante memaksaku untuk dibaptis di gerejanya. Padahal aku tidak terlalu suka dengan gerejanya, karena sudah terlalu kesengsem dengan gereja dimana aku dan orangtua serta kakak-adikku pergi. Lebih kumengerti bahasanya. Begitu juga lagu-lagunya, lebih enak. Jadi dengan amat sangat terpaksa, sekitar pukul 7 malam, aku dijemput untuk dibaptis. Mood yang “so bad” tidak bisa kuubah rupanya. Aku masih terus menyimpannya. 

Sampai tiba giliranku…

Namaku disebut dan aku pun menaiki tangga lalu masuk ke sebuah kolam kecil berisi air bening. Di dalamnya ada bangku semen yang berwarna serupa dengan si kolam. Putih. Aku lalu duduk, dan setelah diminta untuk berdoa, aku mengucapkan doa seadanya. Dan…. bles…. tubuhku masuk ke dalam air yang cukup dingin, karena hari mulai malam. Sekitar pukul 8 atau 9, aku lupa.

Beberapa detik kemudian, tubuhku dibangunkan dan ini yang kurasakan….

Hatiku begitu damai…. Aneh. Aku sampai bingung. Perasaan bete yang tidak bisa kukendalikan mendadak hilang dan digantikan dengan perasaan yang tidak bisa kuungkapkan seperti apa. Yang pasti bukan karena dinginnya air dan udara malam itu. Ini beda. Dan aku tidak mengada-ada. Sejak itu, aku jadi rajin membaca Alkitab. Dalam setiap kesempatan per hari, selalu kusempatkan untuk membaca Alkitab. 

Seiring berjalannya waktu … inilah diriku. Manusia biasa yang sangat rentan akan dosa dan kesalahan. Entahkah itu yang bisa dilihat orang, atau tersembunyi. Tapi satu yang aku tahu… denominasi gereja entahkah itu yang bertepuk tangan, atau yang sunyi senyap, yang penuh liturgi atau yang bebas sebebas-bebasnya, semua sama saja.

Aku sadar bahwa aku ini manusia yang rentan dosa, agama dan liturginya tidak bisa menyelamatkan dari dosa. Tapi yang pasti adalah ini, setiap manusia termasuk aku membutuhkan TUHAN dengan seluruuuhh kemurahan kasih karuniaNYA. Supaya aku mampu menjalani hidupku ke depan, tanpa rasa sesal…

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Faith. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s