CINTAKU (BUKAN) DI CAUSEWAY BAY (BAB 1)

MALAM TAHUN BARU

Bab1

Di tengah keramaian jalanan kota Hong Kong, tiba-tiba saja aku menangkap sesosok pria yang pernah kukenal belasan tahun lalu. Aku pun berhenti melangkah dan dengan segera membalikkan badan. Kedua bola mataku lekat-lekat mengamati gerak-geriknya, sampai akhirnya ia memiringkan badannya dan terlihatlah sebagian sisi wajahnya. Aku pun berteriak spontan, “Anton!!”

“Hai! Teresa??” jawabnya.
“Iya! Gue Teresa! Lupa ya?” kataku.
“Inget dong! Halo Teresa! Apa kabar nih?”
Kami pun bersalaman sambil aku menjawab, “Baik, baik, baik! Lo apa kabar?”

Mataku berbinar-binar dan bagian pipi agak sedikit memerah sepertinya karena terasa hangat…Entah kenapa, mendadak memoriku terlempar ke saat dimana aku pertama kali melihatnya di ruang kelas pada hari pertama masuk kuliah.  Anton masih sama seperti dulu. Hanya saja dia terlihat lebih … ehm… lebih…

“Yuk! Jangan di sini. Rame banget!” katanya memutus lamunan dadakanku.

Ah! Untung suhu sore itu begitu dingin. Sehingga Anton tidak mungkin melihat mukaku yang berubah warna.

“Mau sampai tengah malam di sini?” tanyanya sambil kami berjalan bersebelahan.
“Enggaklah! Buat apa. Parah pasti ramenya. Lagipula, nggak tahan gue Ton. Pasti jam 10 juga udah ngantuk!” jawabku dengan volume lebih keras. Anton tertawa.
“Kaya bayi aja!” sahutnya, sama-sama keras.
“Kita ke kafe kecil di ujung jalan itu aja ya Sa! Sepi! Jadi bisa ngobrol nggak pake triak-triak!”
“Sip!”

Ternyata Anton sudah tinggal di Hong Kong sekitar 2 bulan. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai staf senior KBRI bagian visa. Aku betul-betul tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya setelah 16 tahun lalu berpisah. Herannya, masih saja jantungku berdebar-debar setiap kali melihatnya.

Hmm… Anton. Teman kuliah yang dulu sempat kutaksir. Hari pertama masuk, namanyalah yang disebut oleh Ibu Tuti, dosen kami waktu itu, untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Mungkin itu cinta pada pandangan pertama… tapi sayang bertepuk sebelah tangan. Aku cuma berani mengaguminya dari jauh.

Anton punya teman-temannya sendiri, aku juga. Kami jarang ngobrol kecuali benar-benar penting.

Sore itu obrolan kami hanya sekitar 30 menit, karena Anton harus pergi ke rumah temannya.
“Diundang makan-makan Sa. Ikut yuk!” katanya.
“Ih! Enggak mau ah. Nggak kenal. Malu atuh…” jawabku.
“Hehehe, ya udah, besok kita ketemuan lagi bisa?”
“Ehm… oh! Bisa, bisa! Kan besok baru tanggal 1 ya…”
“Memang kenapa?”
“Tanggal 2 gua mau pamitan sama temen-temen dulu. Lalu tanggal 3 gua balik Jakarta Ton. Mau pulang for good… “
“Yaaahh sayang banget. Gua baru dua bulan di sini. Elu udah mau balik aja! Kesepian gua nih di sini. Belum banyak temennya!”
“Lah itu temen … yang ngundang makan bukan temen?”
“Ya bisa dibilang temen sih. Cuma nggak seumur Sa. Itu temennya bokap.”
“Ooo… hehehe. Oke, oke. Sampai besok ya! Nanti teleponan aja ya, atau SMS.”
“Sip Sa! Sampai ketemu ya!”

Aku memandangi Anton yang berjalan terburu-buru ke arah stasiun kereta. Setelah sekitar 5 meter ia menjauh, mendadak dia membalikkan badan dan melambai ke arahku. Aku membalas lambaiannya.

“Sampai besok!!” katanya. Senyumnya yang khas… mengembang lebar-lebar ke arahku.
“Iyaaa… hahaha…” jawabku dengan suara keras. Lucu saja melihat Anton bertingkah seperti anak kecil. Padahal dulu aku mengagumi karena dia terlihat sangat berkharisma.

Hmm… hatiku berbunga-bunga. Tapi… sekaligus sedih. Ini malam tahun baru. Aku sendirian. Tapi memang ini pilihanku untuk sendiri saja. Aku ingin mencoba berefleksi malam ini sebelum tidur. Setidaknya aku ingin mengingat-ingat apa saja kejadian yang pernah kualami. Itu sebabnya aku menolak ajakan teman-teman untuk berkumpul merayakan pergantian tahun. Ah hari makin gelap! Aku pun buru-buru beranjak dari tempatku duduk. Mengucapkan terima kasih kepada seorang pelayan perempuan yang berada di dekatku, dan bergegas melangkahkan kaki menuju apartemenku yang berjarak kurang lebih 300 meter dari kafe itu. Udara makin dingin. Aku memasukkan kedua telapak tanganku yang sudah dibungkus sarung berbahan wol tebal. Masih saja seperti ditusuk-tusuk…. Anginnya kurang bersahabat… Jalanan semakin penuh dengan manusia sebab kendaraan bermotor sudah tidak lagi boleh melintas.

Setibanya di rumah, buru-buru aku memanasi bubur instan, membuat susu coklat instan, dan semangkuk mi instan. Hhh…. Aku malas membeli makanan. Mau menghabiskan saja stok makanan instan yang sudah tersisa beberapa. Pas jumlahnya sampai aku pulang ke Jakarta nanti. Setelah makan dan merasa mulai hangat, aku membersihkan muka, mengelap sekujur badan dengan handuk hangat, lalu menonton TV sebentar.

BERSAMBUNG KE:
https://godmeandmydiary.wordpress.com/2016/01/01/cintaku-bukan-di-causeway-bay-bab-2/

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Fiksi/Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s