CINTAKU (BUKAN) DI CAUSEWAY BAY – BAB 3

Malaikat PenolongBab3

Keesokan hari aku terbangun pukul 5. Aku duduk dan berdoa. Bersyukur kepada Tuhan atas kekuatan dan penyertaanNya sehingga aku bisa melewati satu tahun lagi. Kalau dipikir-pikir, aku sudah tidak kuat. Mungkin karena berharap terlalu muluk. Pindah ke Hong Kong, menikah dengan pria tampan dan kaya raya bernama Aldi, bekerja sebagai penerjemah senior yang dihormati banyak orang di kantor, dan tentu saja punya standar penghidupan yang sangat layak. Aku merasa punya semuanya dan sangat beruntung. Tapi nyatanya seperti ini. Buru-buru aku melanjutkan kalimat syukurku dalam doa…

Sekitar pukul 8, bel berbunyi.

“Lho! Ton! Pagi amat?!” kataku setelah pintu kubuka.
“Hehehe… iya. Nggak apa-apa kan? Gua mau lebih pagi. Kali-kali bisa bantu-bantu elu packing. Gimana?”
“Hahaha… oke, oke. Nggak masalah kok. Yuk masuk!”

Aku menutup pintu lalu mendahului Anton dan menuju sofa.

“Duduk Ton! Eh, mau minum apa?”
“Air hangat aja Sa. Ada?”
“Ada, ada! Baru masak kok tadi pagi. Ngomong-ngomong, elu pagi banget bangunnya? Memang pestanya selesai jam berapa?”
“Ehm… setelah gua tutup telepon, kira-kira 15 menitan gitu gua pamitan. Nggak tahan juga. Ngantuk! Hehehe…”
“Walaahhh hahaha….”

Anton lalu membantuku melakukan packing. Lumayan. Aku sebetulnya memang membutuhkan tenaga pria. Tapi aku tidak tahu mau minta bantuan siapa.

Setelah semua rapi… Aku keceplosan…

“Elu kaya malaikat yang dikirim Tuhan buat gua Ton!”
“Hahaha…! Masa sih? Kalau butuh kenapa nggak bilang aja?”
“Yaaa enggak enak atuh, masa baru juga ketemu udah minta bantuan?”
“Enggak apa-apa dong harusnya. Kan gua temen lama..”
“Iya sih… tapi kan dulu gua gak gitu kenal elu Ton. Dulu tuh elu buat gua kaya gimanaaa… gitu.”
“Gimana, gimana? Maksudnya?”
“Aduh malu deh gua… Yaaa kayanya ketinggian buat gua…! Hahaha!”
“Hahaha! Ada-ada aja deh. Justru elu tuh yang buat gua kaya gimanaaa gitu…”
“Hah? Maksudnya?”
“Yaaa… buat gua elu tuh cewek yang susah didekati…”
“Hahaha… aduuhhh salah kaprah deh yah. Padahal gua mah nggak gitu-gitu amat..”

Ternyata oh ternyata… Pantas saja aku tidak pernah bisa berteman dekat dengan Anton jaman kuliah dulu. Ckckck…

Setelah semua beres, aku dan Anton keluar mencari makan. Seharian kami ngobrol banyak. Rupanya Anton tidak seperti yang kubayangkan. Baru hari ini aku mengerti pribadinya. Dia orang yang hangat…

Setelah makan siang dan malam, cemal-cemil, lalu memutari Causeway Bay, mampir di supermarket, tanpa terasa sudah sekitar pukul 9 malam. Anton lalu mengantarku sampai di depan pintu apartemen.

“Duh! Sayang ya nggak bisa ketemuan lagi…” kata Anton.
“Bisalah… masa nggak bisa?”
“Iya bisa, maksud gua sebelum elu balik Jakarta.”
“Ooo… iya sih. It’s ok. Keep in touch lewat HP kan bisa.. “
“Oke. Oke. Keep in touch ya Sa! Hati-hati, selamat jalan ya. Sorry nggak bisa anterin ke bandara.”
“Iya. Gak apa-apa lagi. Thanks ya Ton buat hari ini. Udah dibantuin packing. Tuuu barang gua udah rapi!” kataku sambil menunjuk koper-koper yang sudah berdiri rapi dan rumah yang sudah kosong.

Setelah itu aku menutup pintu dan menguncinya. Entah kapan bisa bertemu Anton lagi. Buatku ini seperti penghiburan sesaat saja. Lumayan…

BERSAMBUNG KE:
https://godmeandmydiary.wordpress.com/2016/01/02/cintaku-bukan-di-causeway-bay-bab-4/

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Fiksi/Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s