Kebanjiran di hari pertama 2016

Cover FinalTanggal 31 Desember 2015 pagi, aku yang masih tiduran di kamar dipanggil Mama.

“Sini… bantuin…” 

Nadanya lemah. Saya shock. Dan buru-buru keluar.

Ternyata Mama sedang di teras lantai 2, dalam posisi berdiri tapi tangan bersandar di tembok, seperti orang kelelahan.

“Itu tolong dicabutin. Aku sampai mau ambruk..” katanya.

Aku melihat yang ditunjuk Mama. Akar pohon bermeter-meter yang ditutupi kotoran berwarna hitam. Rupanya ada akar pohon yang terus tumbuh di balik tembok rumah kami. Dan di tahun ini, akarnya menyumbat saluran air teras lantai 2 itu. Ketika akan kucabut, seperti ada yang nyangkut. 

“Nggak bisa Mah. Itu masih tumbuh di sela-sela talang airnya. Harus diputus pakai pisau. Kalau dicabut nanti talangnya ambrol,” kataku.

Aku lalu mengambil cutter yang masih baru, pastinya masih sangat tajam. Dan dengan sekali sabet, sumber akar yang bermeter-meter sebesar kelingking orang dewasa itu diputus Papa. Sisa akar aku siram minyak tanah. Kabarnya bakal mati dan tidak lagi tumbuh. 

Ternyata sudah bertahun-tahun akar pohon itu terus tumbuh. Bahkan bisa turun melalui retakan tembok sampai ke dapur di lantai 1. Tapi yang ke lantai 1 sudah mati karena pernah disiram minyak tanah oleh Mbakku.

Setelah semua bersih, aku membuang sisa akar yang kotor tadi, Mama menutup saluran dengan cukup rapi. Maksudnya baik. Supaya kotoran tidak ikut masuk ke dalam saluran.

Tapi ternyata oh ternyata….

Sekitar pukul 10 malam, aku mematikan TV, karena kepalaku makin terasa pusing. Entah kenapa. 

Dan sekitar pukul 1.30 dini hari, aku mendengar suara hujan yang sangat lebat di teras lantai 2. Perasaanku tidak enak. Setelah menunggu beberapa menit, aku bangun dari tempat tidur, lalu mengecek ke WC lantai 1. Biasa kalau depan rumah sudah mulai tergenang, maka saluran pembuangan WC lantai 1 juga akan mengeluarkan air. Istilahnya “gotnya sudah kewalahan”. Ternyata masih aman. 

Tapi… ketika aku menilik dapur yang gelap karena lampu sudah dimatikan, aku mendengar bunyi hujan yang sangat derassss… dan begitu ujung jari kaki aku celupkan ke lantai dapur… Waduuuuh gawat!! Ada genangan sekitar 4 cm!! 

Lalu aku melangkahkan kaki ke arah pintu luar. Maksud hati hanya ingin mengintip di balik pintu yang tertutup rapat, apakah di depan rumah sudah tergenang. Ternyata masih aman. 

“Kenapa?” tanya Mbakku yang tiba-tiba terbangun.
“Dapurnya banjir…” jawabku. 

Aku lalu naik ke atas mengambil HP-ku dan menyalakan senternya. Mbakku pun bangun dan melihat. 

“Lhooooo ini kayanya saluran atas kewalahan… ” katanya.

Lalu dia naik ke lantai 2 dan membuka semua tutup saluran yang tadi pagi “dirapikan” Mama, dengan maksud supaya kotoran tidak masuk. Dan begitu dibuka, air hujan yang menggenangi teras lantai 2, kurang lebih 10 cm, juga spontan surut. 

Tapi….

Ketika aku dan Mbak kembali turun ke lantai 1. Mendadak air kotor keluar dari bawah tangga sebelah ruang makan. Waduuuhh… jadilah, subuh itu aku berolahraga: mendorongi luapan air kotor dari bawah tangga sampai masuk ke WC lantai 1, lalu mengepel. 

“Tuhan Yesus tolong… Tuhan Yesus tolong…” kataku sambil membersihkan lantai. Tidak lama kemudian hujan deras berhenti.

Kegiatan “kebugaran” ini selesai sekitar pukul 3. Kepalaku cenat-cenut… 

“Wes! Nanti aja lanjutin lagi! Aku ngeliat kamu berdiri terus malah makin pusing!!” kataku ke Mbakku yang bersikukuh mau membereskan semuanya. Beberapa menit setelah itu, dia nurut. Aku naik ke atas. Menyuruh Mama tidur (karena malah nonton TV), lalu aku masuk ke kamar. Kepalaku sakit. Hujan deras memang sudah berhenti, tapi masih terus menetes air dari langit. Aku agak sulit terlelap. Sekitar 30 menit kemudian setelah berdoa dan pasrah kepada Tuhan, aku tertidur. 

Hhh… awal tahun 2016 yang luar biasa…. Kiranya ini jadi simbol saja. Simbol “berkat Tuhan” yang akan kami terima di 2016!! Amin!

Pagi ini, kami membicarakan kejadian subuh tadi. Ternyata Tuhan sudah mengawali “bencana kecil” ini dengan menggerakkan Mama mengecek saluran yang tersumbat akar pohon. 
“Coba kalau akarnya masih nyumbat, mungkin walaupun saringannya dibuka, tetap akan banjir ya!” kataku tersadar bahwa semua sudah diatur oleh TUHAN, sehingga “penderitaan” tanggal 1 subuh tidak terlalu parah… 

Terima kasih Tuhan… Memang selalu ada alasan untuk bersyukur ya… Yuk!

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s