CINTAKU (BUKAN) DI CAUSEWAY BAY – BAB 5

MAMA IS THE BESTIbukuMAMA IS THE BEST

“Sa… bangun… sarapan sudah siap. Nasi uduk komplit Bu Sri favorit kamu tuh,” kata Mama yang duduk di tepi tempat tidurku sambil membelai rambutku.

Tidur pulas memang paling luar biasa. Aku tidak akan bangun kalau Mama tidak masuk ke dalam kamarku…

Aku lalu duduk, dan memeluk Mama. Hangat dan nyamaaannn rasanya.

“Ya Ma… You are the best!” kataku masih dengan nada setengah suara sambil tersenyum memandangi wajah Mama.

Aku bersyukur sangat terlahir dalam keluarga ini, walaupun Papa orang yang cukup keras, tapi menyayangi keluarga, family man banget, diimbangi dengan keibuan Mama yang top… just perfect!

“Makan bareng ya Ma… kita ngobrol-ngobrol,” lanjutku.
“Iya. Ayo!” jawab Mama.

Di meja makan, tidak sekalipun Mama menyinggung atau bertanya soal hubunganku dengan Aldi maupun rencana ke depan. Obrolan kami hanya yang ringan-ringan dan lucu.

“Pak Hadi apa kabarnya Ma? Dia jadi nikah lagi sama pembantunya?”
“Hus! Ngawur kamu. Itu gosip darimana?”
“Loh! Hahaha… bukannya waktu itu pernah heboh?”
“Aduh Sa… Itu bukan Pak Hadi. Tapi Pak Sadi…”
“Oh iya! Hahaha… haduh kasihan Pak Hadi… rusak deh namanya gara-gara Sasa ya Ma! Hahaha…”

Kami hanya membahas para tetangga yang memang agak-agak heboh. Ada saja beritanya. Sesekali aku melirik Papa. Tidak bergeming. Serius membaca koran, lalu menonton TV, acara Berita Pagi.

Selesai sarapan, aku bersegera menumpuk piring-piring kotor di atas meja makan.
“Biar Sasa yang cuci Ma… Kapan lagi Mama punya asisten RT baru. Gratis lagi!”
“Hahaha… iya. Nggak kuat deh bayar asisten kaya kamu. Jadi gratisan aja lah ya….,” sahut Mama.
“Hahaha… ART termahal sedunia ya Ma!”
“Iya betul! Cuma kuat kasih makan 3 kali sehari aja deh!”
“Hahaha….”
Kami tertawa-tawa.

Setelah mengelap meja makan, aku ikut nonton TV sama Papa dan Mama sebentar. Lalu..

“Sa mandi dulu ya,” kataku ke Papa dan Mama yang dijawab dengan anggukan Papa dan jawaban Mama.
“Iya sana. Mandi dulu deh. Nanti kalau sudah mau beres-beres isi koper kasih tahu Mama ya.”
“Sip Ma!”

Sekitar 15 menit kemudian aku memanggil Mama dan kami mulai mengeluarkan semua barang dari koperku, lalu memasuk-masukkannya ke dalam lemari. Beberapa barang kutaruh di meja belajar dalam kamar, rak-rak buku, dan Mama membantuku merapikan semuanya.

Di tengah kesibukan kami menata barang, tiba-tiba Mama bertanya dengan nada serius.
“Aldi apa kabarnya Sa?”
Mendengar itu aku seperti beku beberapa detik. Lalu mencoba menjawab dengan tenang.
“Ehm… Aldi? Sasa nggak tahu Ma.. Sejak putus udah nggak pernah lagi kontak,” jawabku sambil tetap meneruskan kegiatan rapi-rapi barang.
“Sama sekali?”
Aku menengok ke arah Mama. Dia juga tetap sibuk dengan barang-barangku.

Lalu kujawab, “Ehm. Ada beberapa kali Aldi menelepon, tapi Sasa nggak angkat. SMS juga Sa nggak balas. Langsung delete aja. Sasa juga melarang dia untuk datang ke apartemen, karena Sa nggak bakal bukain pintu.”
Mendengar itu, Mama berkomentar pendek, “Oooh gitu…”

Lalu hening… Mama diam saja dan tidak lagi melanjutkan pembicaraan. Aku jadi merasa tidak enak.

“Ehm… Sasa salah nggak sih Ma? Tapi dia benar-benar keterlaluan. Tidak pantas. Tapi… Sasa minta maaf Ma. Sa bikin malu Mama Papa ya?”

Mama diam. Aku lalu melihat ke arahnya. Ternyata Mama juga menengok ke arahku. Senyumnya mengembang. Adem rasanya melihat itu. Lalu Mama berkata…

“Enggak kok Sa… Kamu sudah dewasa. Kamu juga yang menjalani hubungan dengan Aldi kan. Bukan Papa Mama… Jadi kamu pasti lebih tahu seperti apa… Mama Papa dukung kamu kok, apapun keputusan kamu… Tenang aja Sa soal keluarga besar, tidak perlu kamu pikirkan. Kalau kamu meneruskan hubungan, dan ternyata malah nantinya bercerai, keluarga besar juga tidak bisa tolong kamu…”

Mendengar jawaban Mama, aku terharu. Kubiarkan air mataku jatuh membasahi pipi. Aku menghampiri Mama dan memeluknya. Aku sesenggukan…. Sudah lama aku ingin dipeluk Mama karena hati ini masih saja terasa perih…

Mama memelukku juga erat-erat, membelai rambutku, dan berkata, “Sudah… yang sabar ya Sa. Ini tahun baru. Biar yang lalu jadi masa lalu. Jadi pembelajaran. Tapi kamu nggak boleh takut melangkah. Masih banyak pria lain di luar sana yang pantas mendapatkan kamu. Mama percaya itu…”

Aku makin sesenggukan mendengar kalimat Mama. Lega rasanya mendapat dukungan penuh dari Mama, karena selama ini aku begitu galau. Takut. Sedih. Malu. Terlebih karena aku tidak ingin membuat malu Papa dan Mama di mata keluarga besar mereka.

Setelah beberapa detik kubiarkan mukaku terbenam di bahu Mama, aku agak tenang. Lalu aku melepaskan pelukan Mama, memandanginya dan berkata, “Terima kasih Ma. Sasa bersyukur punya Mama dan Papa yang sayang dan percaya sama Sasa. Doain Sa ya Ma. Biar bisa melupakan semua sakit hati Sasa dan menerima ini sebagai kebaikan Tuhan. Doain juga untuk pekerjaan baru. Sa belum tahu mau melamar kerja dimana… Sa betul-betul galau sebelum ini. Tapi tadi Mama bikin Sa tenang banget… dan rasanya Sa siap menghadapi tantangan ke depan…”
“Sini…” kata Mama.
Dia memelukku sekali lagi. Dan aku menangis lagi… tapi kali ini tangisan syukur…

Terima kasih Tuhan…

BERSAMBUNG KE:
https://godmeandmydiary.wordpress.com/2016/01/06/cintaku-bukan-di-causeway-bay-bab-6/

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Fiksi/Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s