CINTAKU (BUKAN) DI CAUSEWAY BAY – BAB 6

HUJAN DERASBab 6

Kurang lebih 1 jam, semua barang dari koperku sudah tertata rapi sesuai tempatnya. Lalu koper-koper yang kosong dibungkus oleh Mama menggunakan kertas koran. Aku lihat betapa Mama sangat telaten menutupi seluruh badan tiap koper demi koper menggunakan kertas koran dan selotip lalu mengikatnya dengan tali rafia. Aku membantu sesuai instruksinya.

“Biar nggak debuan Sa,” kata Mama.

“Iya Ma. Setujuh deh! Mama memang hebatt! Awet deh koper kesayanganku…” sahutku.

Mama tersenyum mendengar pujianku.

“Nanti kamu kalau sudah punya rumah tangga sendiri harus bisa rapi ya. Laki-laki itu suka kalau rumahnya rapi. Walaupun dia sendiri kadang berantakan. Lihat saja Papa. Hahaha…” kata Mama.

“Hahahaha… gitu ya Ma?! Oke! Sasa catat deh. Teori dikumpulkan dulu. Nanti prakteknya semoga nggak lupa ya…”

“Lho! Ya jangan sampai lupa dong! Nanti kalau suami kamu merasa lebih nyaman di kantor karena lebih rapi bagaimana?”

“Hehe… iya Ma… ingatlah… Sa cuma becanda…”

Setelah itu Mama ke dapur untuk mulai memasak. Tidak lama kemudian hujan turun dengan deras. Aku pun membatalkan niatku untuk keluar rumah. Tadinya ingin ke supermarket di depan kompleks untuk membeli shampoo. Ya sudahlah. Dan karena Mama tidak mau kubantu…

“Istirahat saja Sa. Kan kamu baru datang semalam. Biar Mama saja. Ini gampang kok. Biasa juga Mama sendirian ngerjain ini,” kata Mama.

Maka aku masuk ke dalam kamar dan menulis diari, lalu membaca novel.

Sekitar pukul 12 kurang, aku yang sedang di dalam kamar membaca buku mendengar bunyi bel pintu. Aku mendengar Papa berbicara dengan seseorang. Mungkin temannya datang bertamu.

Tiba-tiba…

“Sa… Jangan kaget ya. Itu ada Aldi di depan…” kata Mama yang masuk ke dalam kamarku.
“Hah? Ngapaiiin Ma?”
“Dia cari kamu. Temui saja…”
“Aduh Ma… ngapain dia ke sini?”

Badanku mendadak lemas seperti tak bertulang.

“Mungkin ini waktu yang tepat setelah 2 tahun kamu dan Aldi nggak pernah saling bicara…” jawab Mama.
Aku hanya bisa berkata lirih, “Kok dia tahu aku ada di rumah…?”
“Sudah. Sana…” sahut Mama.

Aku beranjak dari depan meja belajarku, menyisir rambut di depan kaca, mengganti atasan lalu berjalan pelan keluar kamar. Jantungku terasa berdegup lebih kencang. Aku bingung dan mendadak seperti orang linglung. Selama ini aku memang sama sekali tidak mau mendengar penjelasan Aldi. Teleponnya kumatikan. SMS-nya langsung kuhapus. Dan beberapa kali dia ke apartemen, tapi aku sengaja tidak membukakannya pintu. Aku bahkan pernah mengiriminya SMS yang isinya aku akan menelepon polisi kalau ia masih juga belum beranjak dari depan pintu apartemenku. Waktu aku diberitahu resepsionis kalau Aldi berkunjung ke kantorku, aku sengaja menghindar dan menyelinap pulang dari pintu belakang. Sempat aku merasa kasihan. Tapi biarlah. Menurutku dia pantas menerima itu.

Tapi kali ini? Aku tidak bisa lari lagi. Mungkin Mama benar… ini waktu terbaik untuk saling bicara… dan menyelesaikan baik-baik permasalahan yang ada.

BERSAMBUNG KE:
https://godmeandmydiary.wordpress.com/2016/01/17/cintaku-bukan-di-causeway-bay-bab-7/

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Fiksi/Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s