CINTAKU (BUKAN) DI CAUSEWAY BAY – BAB 7

RUNAWAY BRIDE?Bab 7-runaway bride

Demi melihat Aldi yang sedang duduk di ruang tamu, memoriku seperti terlempar beberapa tahun silam ketika aku melihatnya akhirnya datang ke rumah dan duduk di bagian sofa yang sama. Hari itu, ia mengajakku keluar untuk pertama kalinya. Dan baru kali ini aku merasa nyaman diajak keluar rumah oleh seorang pria… dan bahkan sampai dilamar.

Sebelumnya… ehm…

“Lu kok kaya runaway bride gitu sih?!!” kata Linda yang mendadak protes mendengar kalimatku.
“Duh… gua ngga sreg… gimana dong… “ ini kataku ketika bertemu Linda lalu mengajaknya bicara. Kelas waktu itu masih kosong. Kuliah masih 1 jam lagi baru akan dimulai.
“Kenapa nggak dari dulu waktu lo diajak nge-date pertama kali? Kenapa harus bilang ga sreg untuk kesekian kalinya setelah dilamar sama cowok-cowok merana mantan-mantan lo yang dulu-dulu itu? Lo beneran deh. Mirip sama Julia Roberts si Runaway Bride! Tiap dilamar lari. Dilamar lari. Gue pikir itu cuma film. Ternyata… Heloooww lo pikir gampang apa cowok bisa ngelamar cewek? Lah ini cowok gua aja maju mundur maju mundur kagak berani ngelamar gue…”
“Ehm… itu makanya elu putusin si Johny ya Lin”
“Yah iyalah! Masa pacaran terus. Mau sampai kapan… Umur udah ada. Kerjaan juga, yaaa seenggaknya udah ada kerjaan tetaplah. Tinggal nunggu setengah tahun lagi kan gua lulus. Mau tunggu apalagi? Kalau masih nggak jelas juga ya dadah babay lah… Masih banyak kali cowok di luar sana… yang… yah gitu deh… Elu tuh beruntung Sa. Banyak cowok yang jalan sama elu dan ngajak nikah! Kenapa lu selalu kaya orang ketakutan setiap diajak nikah? Aneh deh…“

Suara Linda mendadak lirih. Karena setelah putus dari Johny, belum ada lagi penggantinya.

“Iya gua aneh ya Lin… Gua juga nggak ngerti kenapa. Tiap mulai makin serius, gua malah takut…”

Lamunanku terhenti tiba-tiba mendengar suara Aldi menyapaku.

“Halo Sa. Apa kabar?” Suaranya yang khas terdengar agak bergetar.
“Halo Al. Kabar baik. Kamu bagaimana?” sahutku kurang bersemangat ditambah kikuk. Tapi aku paksakan untuk tersenyum.

Aldi adalah satu-satunya pria yang membuatku yakin dan tidak takut untuk dinikahi. Orang yang selama ini kuimpikan. Baik, ramah, pintar bergaul, enak diajak bicara, ganteng, tinggi, dan… mapan, serta tinggal di luar negeri. Ya, aku punya semacam “cita-cita” untuk bisa tinggal di luar negeri. Dan sepertinya pucuk dicinta ulam tiba, alias “dream comes true” ketika mulai berpacaran dengan Aldi.

“Kita ngobrol di teras depan aja ya…” kataku. Dan mengajaknya menjauh dari ruang tamu, lalu duduk di kursi teras. Tempat kami biasa ngobrol sebelum dan sesudah berkencan.
“Om, Tante, permisi..” kata Aldi yang dengan sopan berpamitan ke Papa dan Mama, karena akan ke depan bersamaku.

Dan perbincangan yang diawali basa-basi, sekitar 5 menit kemudian mengalir seperti ini…

“Kenapa kamu tidak menjelaskan apapun ke saya waktu itu Al?”
“Saya sudah coba jelaskan, tapi kamu selalu menghindar Sa.”
“Kamu sama sekali tidak mengejarku ketika aku berjalan menjauh dan keluar dari restoran mahal itu… Kenapa Al?”
“Saya ingin mengejarmu, tapi suami Madam Lim memintaku untuk duduk. Dia tidak sempat tahu apa yang terjadi sebelumnya. Dan saya sulit menjelaskan apa yang sudah terjadi. Tidak mungkin saya bilang bahwa tunangan saya cemburu melihat saya memeluk istrinya kan?”
“Tapi perasaan wanita tidak bisa dibohongi Al. Saya melihat ada yang salah malam itu. Beberapa kali juga saya sudah curiga…”

Sekitar 30 menit kemudian, setelah Aldi menjelaskan panjang lebar setiap apa yang kutanyakan…

“Ok. Kasih saya waktu untuk berpikir Al. Buat saya menerima kejadian malam itu tidak gampang. Semua begitu masuk akal. Apa yang kupikirkan dan kuanalisa selama bulan-bulan belakangan tentang hubungan kamu yang terlalu istimewa dengan si madam terlihat begitu benar. Dan begitu juga dengan ceritamu. Seperti ada dua kebenaran yang sama. Saya masih tidak tahu mana yang harus saya percaya. Perasaan sendiri, atau ceritamu…”

BERSAMBUNG KE:
https://godmeandmydiary.wordpress.com/2016/02/14/cintaku-bukan-di-causeway-bay-bab-7-2/

About Inspirations

Hi. I am just an ordinary person who loves to write.
This entry was posted in Fiksi/Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s